
Tak mengerti kenapa MB menatapnya dengan tatapan, seperti dia tak rela jika ia berdekatan dengan lelaki lain. Ia merasa tak enak sendiri, tiba-tiba saja tangan Will menggenggam tangannya yang berada di atas kepalanya.
"Memangnya kenapa? Kamu harus berhenti, apa kamu ragu?" Will bertanya padanya.
"Gak kok, aku berhenti hanya sedikit bingung. Apa aku boleh menyentuh kepalamu atau gak," ungkap Gres mencari alasan.
"Tentu saja boleh," papar Will menurunkan tangannya.
Gres akhirnya mulai menyentuh kepalanya, mengelus-elus kepalanya dengan sangat pelan. MB masih berdiri di sana, Gres menatapnya lalu menundukkan kepalanya.
"Nyaman, berada didekatmu. Memang sangatlah nyaman, jika saja kamu bisa terus berada didekatku mungkin, aku gak akan merasa kesepian lagi,"
"Aku akan selalu ada ko, kitakan sahabatan,"
Ternyata Gres hanya menganggap Will sebagai sahabat.
"Tapi aku ingin lebih, bukan hanya sekadar sahabat," terang Will duduk tegak, mengalihkan pandangannya pada gadis itu. "Aku ingin menjadi kekasihmu, Gres- "
"Maaf Will, sepertinya Latus dan Esa sedang mencariku karena aku menghilang secara tiba-tiba. Kita lanjutkan nanti saja, aku harus bergegas!" Gres meninggalkannya di sana.
Will memegang tangannya. "Jangan pergi,"
"Will maaf, aku benar-benar harus bergegas." Gres menarik tangannya pergi dari sana.
"Sepertinya kamu sedang menghindariku, sampai kapan Gres?" kata Will menundukkan kepalanya.
Bukannya mencari temannya, Gres menaiki tangga. Ia ingin menemui MB di sana, tinggal beberapa anak tangga lagi ia akan bisa menuju balkon. Belum sampai di sana, MB sedang berdiri tepat di depan wajahnya.
Kedua matanya melotot, alis terangkat, mulut sedikit ternganga. Keseimbangan kaki dan tubuhnya mulai goyah, ia terjatuh. MB menangkap lengannya sebelum gadis itu benar-benar terjatuh, mereka saling bertatapan.
Ternyata secara diam-diam Will mengikutinya, sakit sekali rasanya melihat MB dan Gres saling bertatapan seperti itu. Mundur satu langkah menyaksikannya.
Lelaki itu menuntun dan membuat Gres berjalan ke arahnya secara perlahan. Entah mengapa ia hanya ingin mengikuti kata hatinya, kakinya tersandung. Dengan cepat MB menarik lengannya dengan kencang, sampai tubuhnya ikut tertarik. Tertahan dengan tubuh lelaki itu, ia memeluknya dengan sangat erat.
'Gue benci lo, MB.' Pekik Will di dalam hatinya meninggalkan tempat itu.
'Gue yakin, lo sama gadis ini kan Kak?' kata MB di dalam hatinya menatap punggung Will yang berjalan pergi dari pandangannya.
Perlahan mulai melonggarkan tangannya.
"Mau sampai kapan kau menatapku seperti, itu?" kata MB bertanya padanya dengan santai.
Gadis itu langsung menjauh darinya.
"Aku cuma kaget, tadi hampir terjatuh," ungkap Gres dengan menutupi kedua pipinya yang sedikit memerah.
"Kamu gak makan?" tanya MB berjalan memegang pagar balkon.
Merasa sedang diperhatikan Gres hanya bisa tersenyum sedari tadi. "Lagi diet, males makan juga," jawabnya sedikit ragu dan malu membicarakan alasannya tidak makan.
__ADS_1
Semoga alasannya dapat diterima. Karena wajah MB hanya menatap ke depan.
"Kamu sendiri kenapa ada di sini?" lanjutnya bertanya.
"Sedang melihat pemandangan,"
"Hmm, gak makan?"
"Males makan di kantin, yang ada cewek di sana minta foto bareng lagi,"
Kini perkataan MB sedikit lebih panjang tidak seperti biasanya. Lelaki itu juga sudah mulai terbiasa dengan obrolan yang santai, merasa nyaman hanya itu yang ia dapat rasakan.
"Begitu ya, gimana kalau kita makan bakso dipinggir jalan seperti kemarin," tawar Gres mengajaknya.
"Kamu suka sekali makan bakso?" kata MB bertanya padanya.
"Ya mau gimana lagi, makanan favoritku bakso,"
"Kamu sendiri saja, aku sedang gak mood," katanya mempersingkat keinginannya.
"Aku belum makan, kamu juga belum makan, kan? Lagi pula yaudah gas ken aja," kata Gres menarik tangan lelaki itu.
MB hanya menatapnya bingung, hal ini pernah terjadi sebelumnya. Ia berhenti di depan gerbang, bicara sesuatu.
"Istirahat kan cuma satu jam, memangnya keburu?" tanya MB bertanya padanya.
"Tenang aja, pasti kembali tepat waktu kok." Gres menarik tangannya dengan semangat.
Gres merasa bahagia sekali, ia kira MB akan benar-benar melepaskan tangannya. Ternyata tak disangka, orang itu malah berbalik menggandengnya. Semoga saja detak jantungnya baik-baik, semoga saja bisa diajak kompromi.
Sampai di depan gerobak Abang bakso. Belum mereka memesan bakso, Abang itu langsung menyuruh mereka duduk. Langsung membuatkan bakso, tanpa menunggu kedua orang itu memesan.
MB dan Gres hanya saling pandang kebingungan, dengan sikap Abang bakso. Beberapa menit kemudian baksonya sudah siap tersedia untuk mereka.
"Boleh saya duduk di sini?" kata Abang bakso bertanya.
"Bo- boleh kok Pak," kata Gres tersenyum sedikit gugup.
"Saat melihat kalian berdua, saya teringat pada masa lalu," kata Abang bakso membayangkan sambil menceritakan kejadian di masa lalu.
...... Flashback on ......
Abang bakso sedang menunggu pelanggan, karena sangat sepi. Tapi dia harus tetap berjualan, dikarenakan biaya sekolah anaknya yang beberapa kali menunggak.
Tak lama kemudian, datanglah kedua anak kecil. Mereka berdua cakep semua, memesan bakso.
"Pesen bakso?" kata pedagang bakso.
"Iya, aku pesen baksonya aja ditambah taoge. Makan di sini, kamu sendiri?" kata gadis kecil bertanya padanya.
__ADS_1
"Oh, aku pesen yang sama aja," kata lelaki kecil tersenyum padanya.
"Oke tunggu!" Teriak Abang bakso mulai menyiapkan pesenan mereka.
Ketika baksonya sudah siap, awalnya mereka biasa-biasa saja memakan baksonya. anak lelaki itu terdiam mengeluarkan keringat dari dahinya.
"Kamu kenapa?" tanya gadis kecil sangat khawatir.
Belum sempat anak lelaki itu menjawab, Abang bakso memperhatikannya.
"Baksonya gak enak?" gadis kecil kembali bertanya padanya.
Abang bakso semakin menatapnya.
"Apa kepedesan?" lanjutnya bertanya.
Secepatnya gadis kecil memakan baksonya. "Enak kok. Kalau gak tukeran aja,"
Gadis kecil itu menukar bakso mereka, anak lelaki itu tetap diam.
"Oke aku suapin, aaa," kata gadis kecil menyodorkan bakso kemulutnya, sedangkan mulutnya ikut terbuka.
Abang tukang bakso melotot seketika, mulutnya menganga, kedua alis terangkat.
"Nasib, nasib, nasib jomblo! Kalah gue sama bocil. Haduuh," kata Abang bakso ngedumel sendiri.
...... Flashback off ......
"Terus, terus, saya sangat berterima kasih pada kedua anak kecil itu. Meskipun telah membuat hati saya sakit, serta iri karena baru saja ditinggalkan istri. Tetapi karena mereka saya sangat bersyukur, setelah mereka pergi, bakso saya jadi laris manis. Anak saya juga ikut ujian dan mendapatkan peringkat pertama, langsung diberi beasiswa pula," kata Abang bakso menceritakannya secara panjang lebar sampai menangis sendiri.
"Kenapa bisa laris manis gara-gara anak kecil itu?" tanya Gres karena memang tidak mengetahui yang terjadi.
"Setelah melihat anak lelaki yang tampan, banyak gadis kecil yang datang kemari. Meminta nomor handphone nya, saya kasihlah dengan nomor saya. Bahkan ada yang sampai datang setiap hari menunggu di sini, sekalian makan bakso, hahah." Abang tukang bakso yang lagi menangis langsung tertawa.
Gres dan MB mencoba menahan tawa karena melihat Abang baksonya, yang awalnya menangis kini tertawa terbahak-bahak. Kan jadi nular Bang, kasian mereka bingung sendiri, antara nangis apa ikut ketawa?
"Saya turut senang dan berduka, kejadiannya sudah lama kah bang?" tanya Gres sedikit penasaran.
"Yahaha, sudah 6 tahun yang lalu. Tapi kalau dipikir-pikir, kamu mirip dengan anak lelaki itu," kata Abang bakso menunjuk ke arah MB. "Kamu juga mirip dengan gadis kecil itu, jangan-jangan kalian berdua dikirim tuhan untuk bertemu kembali dengan saya," kata Abang bakso menunjuknya.
Ketika itu pun Gres yang gantian mengeluarkan bintik-bintik keringat kecil dari dahinya, takut sekali jika MB menyadari sesuatu tentangnya. Ternyata benar apa yang dikatakan Latus, cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga.
Namun, hal itu tidak boleh terjadi. Karena semuanya belum jelas, semuanya masih diselidiki. Hanya ada satu cara, yaitu menunggu pamannya tersadar dari komanya.
Gres dan MB saling bertatapan secara bersamaan.
Author :
Kok bisa ya, Abang tukang bakso setajam itu matanya. Sehingga dapat mengenali mereka? Lalu apa yang akan terjadi?
__ADS_1
Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡