Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Keputusan Yang Membuat Luka


__ADS_3

Para teman Gres hanya bisa saling tatap, dengan wajah tablonya. Karena tidak tahan Tino langsung menarik tangan Latus dan mengajukan beberapa pertanyaan, wajar saja dia ini kan termasuk raja kepo.


"Tus, ini gimana?" bisik Tino.


"Jangan banyak tanya!" Sentak Latus pelan.


"Huust, mending berdoa aja supaya hubungan mereka baik-baik aja," desis Esa mencoba menghentikan mereka yang hampir menimbulkan kegaduhan.


Mereka bertiga kembali melotot ke arah MB. Dia benar, MB masih berdiri membelakangi Gres.


Mendekat ke arah Gres. Membisikinya membuat gadis itu tak enak hati, seperti pesan yang akan ia sampaikan membuatnya terluka. "Temui gue di atap," bisik MB ditelinga nya.


Diam yang saat ini masih berpelukan dengan Kevin. Gres melepaskan pelukannya, memberi tahu Kevin bahwa ia langsung setuju dengan tawaran yang diajukan padanya. Dengan apa yang telah ditawarkan sebelumnya.


Melangkah ke atas atap. Di sana sudah ada MB. Berdiri dihadapannya, Gres melangkah memegang pagar atap. Entah apa yang akan disampaikan MB, ia hanya tidak ingin melihat wajahnya.


Takut. Jika wajahnya terlihat lalu menaruh harapan palsu kembali dan membuatnya goyah, akan keputusan yang telah diambilnya.


"Kenapa kamu membelakangiku, Gres?" kata MB bertanya padanya.


"Aku hanya ingin melihat pemandangan dari atas sini," ucap Gres beralasan, padahal jauh di dalam hatinya ia ingin sekali dapat menatap wajah lelaki itu.


"Begini, hubungan kita seperti apa menurutmu?"


"Oh, aku kira mau bahas apa? Baiklah. Kamu gak pernah anggap aku sebagai wanita, lambat laun aku juga gak bisa terus menunggu seseorang yang gak akan pernah bisa menganggap aku ada dalam hidupnya. Sepertinya aku telah mencintai orang lain, dia mungkin pernah ada di kehidupanku,"


Gres sudah siap mendengar jawaban MB, karena baginya inilah yang terbaik.


"Dari setelah apa yang kita lewati bersama, kamu baru mengatakan hal yang paling mengejutkan," mencoba melangkah mendekati.


"Tetap di sana, MB. Aku harap kamu dapat mengerti maksud dari perkataanku,"


Tak mengerti. Dalam sekejap gadis yang mulai MB cintai, mendadak berubah. Mendadak menjadi orang lain.


"Jangan seperti ini Gres ... Dengar, kita masih bisa memperbaiki semuanya-"


"Pergilah dari sini, kurasa kita sudah tak sejalan. Cukup sampai di sini, aku gak mau membohongi perasaanku padamu,"


"Gres ... " MB ingin mendekat.


"Pergilah!" Teriak Gres.


Tentu saja membuat MB terkejut. Tanpa sadar kedua kakinya meninggalkan tempat itu, meninggalkan Gres sendirian di sana.


Meskipun sebenarnya, hatinya ingin tetap berada di sana.


"Ma ... Maaf," ucap Gres memegang dadanya.


Terjatuh di lantai. Ia kira dengan menangis, bisa meredakan rasa sakitnya. Namun semakin ia menangis, semakin dadanya terasa sesak, sempit, sehingga membuatnya sulit bernafas sampai memegangi kerahnya sendiri.


Bahkan hujan turun. Langit ikut merasakan sakit hatinya, pandangan Gres semakin lama semakin kabur. Kepalanya terasa berat, kelopak matanya tak mampu membuka.


BRUGH!


Sakit rasanya, perasaan yang tulus untuk Gres yang mulai tumbuh. Harus berakhir dengan tangisan, harus berakhir dengan rasa sakit.

__ADS_1


"Hujan turun, sepertinya Gres masih berada di atas." Lirih MB lari ke atas.


Sesampainya di sana. Betapa terkejutnya MB. Saat melihat Gres tergelatak pingsan di sana, ia lari mengangkat gadis itu.


Mencoba membangunkannya, menepuk-nepuk pipinya pelan.


"Gres, bangun! Bangun Gres!" Teriak MB mencoba membangunkannya namun gagal.


Secepatnya mengangkat Gres. Membawanya keruang uks. Menidurkannya di atas ranjang UKS, menyelimutinya dengan selimut yang sudah tersedia.


Beberapa saat kemudian. Gres tersadar dari pingsannya, ia terkejut. Ketika melihat MB duduk dan tertidur disampingnya, sambil memegang tangannya.


Diluar masih hujan. Gres terus menatap MB tanpa bosan, ia meneteskan air matanya. Bagaimana mungkin seorang MB jadi selemah ini karena seorang perempuan. Tidak lain adalah dirinya sendiri.


'Aku takut sekali, saat kamu membuka matamu lalu menatapku. Jika kamu memilih mempertahankan, aku takut gak akan bisa menolakmu.' Gres duduk, mencoba memindahkan tangan MB dari genggamannya.


"Kamu masih tetap pada keputusanmu?" tanya MB masih menunduk.


"Iya," kata Gres menarik tangannya pergi dari sana.


MB masih menunduk, memegang dadanya yang terasa sakit. "Apakah aku benar-benar mencintaimu? Rasanya sangat sakit."


Keluar dari sana, padahal masih hujan lebat. Tapi Gres tidak mempedulikan hal itu, yang ia tahu adalah. Ia sudah melakukan kesalahan, ia sudah membuat lelaki yang dicintainya terluka.


Ditengah lapangan. Gres terjatuh, ia terduduk di tempat. Hujan semakin merasuk ke dalam dirinya, begitu pun dengan hatinya yang terasa sakit. Yang MB inginkan tetap bersamanya, lalu apa status mereka sebenarnya?


Seseorang membawa payung. Orang itu mendekat ke arah Gres, dan berbagi payung dengannya. Ia mendongak ke atas, orang itu adalah Kevin.


"Kevin ... " kata Gres memasang ekspresi yang membuat Kevin sedikit kasihan padanya.


Sedangkan MB hanya mampu berdiri dan memperhatikannya, dari kejauhan. Tino mendekatinya.


"MB, cewek lo digondol kucing. Eh, orang noh. Kenapa gak dikejar?" ucap Tino bertanya. Seperti biasa dengan wajah polos dan bodohnya.


"Nanti nyesel lho," lanjut Tino.


Saat itu pun MB melirik ke dalam matanya. Tino terkejut bukan kepalang, matanya terbelalak. Lari dari sana mencari Esa dan Latus.


Di dalam kelas. Tino akhirnya menemukan Latus dan Esa. Langsung bergegas mendekati mereka, yang sedari tadi asyik mengobrol.


"Eh cuy, masa Si Gres diambil orang. Si MB diem aja, cowok macam apa dia?" sambar Tino langsung menghentikan mereka yang sedang berbincang, kini ngerocos tanpa titik koma.


Latus segera menggaplak kepalanya.


"Duh, diem dulu apa? Nah terus MB malah natap gue kek ... " ucapan Tino terhenti. Saat Esa menatapnya tajam, sama dengan tatapan MB barusan padanya.


Bersembunyi dibalik tubuh Latus. "Nah itu, kaya dia. Sa jangan gitu, serem tahu,"


BRAKH! Esa menggebrak meja.


"Eh copot, copot," kata Latus sangat latah, mengelus dada.


"Sorry tus," Esa tersenyum.


"Denger ya Tino, maksud gue. Bodoh! Lo mending diem aja, lo gak tahu masalah apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua. Akan lebih baik lo duduk manis, makan permen manis dan jangan bikin keributan!" Perkataan Esa suaranya terdengar menakutkan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Teri sedikit penasaran bila mengenai Tino.


Tidak ada yang menjawab. Latus pergi bersama Esa karena sebenarnya sudah dari tadi tercium bau aneh, sedikit pesing, merasuk ke dalam hidung, tanpa sepatah kata pun malas menjelaskan.


Akhirnya Teri merangkul sahabatnya. "Tino ada apa sih? Ko mereka terlihat mencurigakan?"


Tino hanya terdiam.


"Lo ngompol? Ih jijik kali aku sama kau!" Teri bergeridik merinding.


"Gak pada pengertian emang, padahal gue bukan pipis di celana. Tadi gua dah ke toilet, celana gue kena air pipis, dikit ko dikit. Gak banyak-banyak ... "


"Sama aja ngompol dicelana Bambang,"


"Beda lah, gue kan cuma kepercikan air suci,"


"Pala lu air suci!" Teri pergi meninggalkan Tino.


***


"Makasih banyak ya, udah nganterin aku pulang?" kata Gres berterima kasih.


"Gak apa kali, gue kan udah janji sama lo," ucap Kevin tersenyum hangat.


"Yaudah gue masuk dulu, lo mau masuk?" ajak Gres.


"Gak, nanti aja. Gue pasti main ko, tapi gak sekarang. Gue masih ada urusan di sekolah, jadi gue duluan ya?"


"Ah iya, ini kan masih jam sekolah. Yaudah, tolong bilangin sama ketua kelas. Kalau gue izin sakit,"


"Tenang aja, yaudah dah." Kevin pergi sambil melambaikan tangannya.


Gres sedikit tersenyum ikut melambaikan tangannya. Masuk ke dalam rumah, Ibunya terkejut melihat putrinya basah kuyup.


"Kamu kenapa?" tanya Ibunya sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya.


Mengambil handuk. Memakaikannya ke tubuh Gres.


"Lebih baik kamu mandi dulu. Ganti baju, terus turun ke bawah. Ibu bikinin bubur buat kamu," suruh Ibunya bergegas.


Sebelum Ibunya pergi. Gres memeluk Ibunya dari belakang, sungguh ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Di depan Ibunya, ia hanya ingin memeluk Ibunya.


"Sayang lebih baik kamu ganti baju dulu, Ibu gak mau kamu sakit ... "


Belum lama ibunya bicara, Gres terjatuh pingsan. Ibunya panik lalu berteriak.


"Kris!"


Author :


Will ke mana ya? Next bab akan dijelaskan dia pergi ke mana.


Beri penulis semangat! Subscribe, Hadiah dan Komentar. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.


See you, next part ➡

__ADS_1


__ADS_2