Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Jelaskan Padanya Cepat!


__ADS_3

Mereka berdua saling tatapan ingin saling membunuh, sedangkan Ibunya sudah tak ada di tempat. Fajar menengok kebelakang mengunci pintunya, lalu duduk disebelah Kakanya dengan tenang.


"Udah aman?" tanya MB padanya.


"Udah Kak," kata Fajar mengedipkan mata kirinya.


Betul sekali! Membuat ibunya pergi dari sana adalah rencana Adik Kaka ini, jika ibunya tahu MB pergi dari rumah sakit. Maka tidak akan diizinkan, lalu dikurung di dalam ruangan tersebut. Hanya dengan berpura-pura berkelahi ibunya akan pergi karena berisik dan rencananya barulah bisa diluncurkan.


"Terus kita ngapain lagi?" tanya Fajar bingung.


Tanpa menjawab, MB hanya menatap Adiknya dengan senyuman licik. Fajar hanya berpikir hal-hal yang mengerikan akan terjadi padanya, jika Kakanya yang membuat rencana pasti akan terjadi suatu hal yang buruk untuknya alias tertimpa sial, akibat membohongi ibunya sendiri.


Tentu saja, Fajar harus berpura-pura sakit, menggantikan posisinya dirawat. Mereka berganti baju, Adiknya pasrah dibuatnya.


"Selalu saja diriku yang menjadi korban, dari kenaifan Kakakku yang super dingin." kata Fajar ngedumel sendiri, sedikit mengeluh dengan rencana Kakanya.


MB memakai topi. Baru saja keluar dari ruangan itu, seseorang menepuk pundaknya dari samping. Siapa? Apakah orang itu akan segera mengakhiri rencananya atau ibunya memergokinya? dia hanya berdiam seperti patung.


Menengok secara perlahan.


"Hafis, gue kira siapa? Bikin kaget aja," kata MB menghela napas lega.


"Bukannya lo lagi sakit?" kata Hafis bertanya padanya.


"Udahlah, nanti aja. Gue mau ke suatu tempat, mending lo balik lagi keruang perawatan. Bentar lagi kan akan ada pemeriksaan jadwal intensif, jangan bilang kesiapa-siapa ya?" kata MB menitip pesan padanya pergi dari sana.


"Iya, mau ke mana sih dia?" kata Hafis kembali lagi keruangannya.


Diruangan lain Tino mengajak Latus dan Esa ikut bersamanya menjenguk sahabatnya, dipersulit? Tentu saja. Tino inikan terkenal dengan raja jail dan tukang bohong, dan paling parah kata Pepatah. Kedua temannya berbaring kembali.


"Kalian gak peduli dengan Gres, setelah apa yang kita lakukan bersama. Bahkan dijam yang sama, dia masih perhatian sama kita, jenguk kita, gue serius gak bohong. Yaudah gue sendiri aja yang nengok, ketika Gres bertanya di mana kedua sahabatnya yang lain. Gue bakal bilang, MENINGGAL." kata Tino melangkahkan kakinya dengan sangat lebar pergi dari sana menuju ruangan Gres.


"Gak biasanya Si Bodoh itu bersikap tegas dan serius begitu, jangan-jangan Gres memang sedang dirawat lagi," tegas Esa sedikit khawatir.


"Mending kita ikutan aja yok!" Latus mengajak Esa bergabung dengannya.


Diruang lain. MB mendekati ruang rawat inap gadis itu, saat ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam pintu. Mendapati Gres keluar dari sana dengan berpakaian masih menggunakan pakaian rumah sakit, hanya memakai switer berwarna hitam di sana.


Gerak-geriknya terlihat mencurigakan, MB mengikutinya dari belakang secara diam-diam. Gadis itu memanggil taxsi yang sedang berjalan, MB secepatnya memanggil tukang ojek.


"Pak ikutin mobil itu ya?" kata MB menunjuk ke arah mobilnya.

__ADS_1


"Baik tuan." Jawab Abang ojek itu.


Semakin mengikutinya, arah jalannya seperti tidak asing bagi MB. Ia hanya terdiam mengikuti hembusan angin yang menyapu pipinya, taxsi itu berhenti tepat di depan rumah sakit jiwa. Tempat di mana ibu Kris dirawat, sebenarnya ada hubungan apa? Kenapa Gres berada disitu? Apa mungkin permintaannya waktu itu sebenarnya dipenuhi olehnya?


Gres melangkahkan kakinya ke dalam salah satu ruangan, ia langsung memeluk ibunya.


Kedua mata MB melotot tidak mempercayai hal itu, Gres memeluk ibu Kris? Siapa sebenarnya Gres ini siapa? Setahunya Kris tidak memiliki saudara. Dia hanyalah anak tunggal dari keluarga Pak Sumarno, tetapi kedekatan Gres dengan ibu Kris seperti seorang ibu dan anak.


"Ib- " kata Gres.


Ibunya membekap mulut putrinya, memeluknya kembali lalu membisikinya.


"Nak, sepertinya MB mengikutimu, dia ada di belakangmu sekarang," terang Ibunya, lalu melepaskan peluknya.


Seorang suster tak sengaja menabrak MB yang sedang berdiri di sana. Sampai membuatnya hampir terjatuh, secepat mungkin Gres pergi dari ruangan itu, setelah membantu suster itu membereskan dokumen yang dibawanya. MB kehilangan jejak Gres, diruang itu hanya ada Ibu Kris sedang tersenyum menatap tembok.


Masuk ke dalam ruangan Ibu Kris, tiada siapa pun di sana. Hanya ada Ibu Kris yang sedang tertawa menatap tembok, MB memutuskan kembali ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, MB ingin memastikan sesuatu. Ia berlari keruang Gres, terkejut bukan main. Gadis itu sedang berbincang-bincang dengan Latus, Esa juga Si Bodoh Tino. Kurang yakin dengan apa yang ia lihat, lelaki itu menghampirinya tanpa mengetuk pintu atau pun mengucapkan salam.


"Selain gue dan Gres, yang lain diharapkan keluar!" Sergah MB berteriak.


Sampai membuat Tino lari terbirit-birit, sedangkan Latus dan Esa melangkah dengan kaki yang bergemataran.


"Eh tungg- " kata Esa mengangkat tangannya.


"Kenapa? Latus, Esa harus tetap di sini," Gres mencoba bicara.


Latus, dan Esa menghentikan langkahnya menatapnya.


"Kalau kamu mau bicara, ya tinggal bicara saja," lanjutnya menatap lelaki itu.


"Gue bilang, KELUAR!" Teriak MB mengangkat tangannya, menunjuk ke arah pintu keluar.


"Baik!" Sahut Latus dan Esa bersamaan dengan nada suara semut.


Mereka berdua lari dari ruangan itu mengejar Tino, yang sudah melesat entah ke mana.


Lelaki itu berdiri disampingnya, wajah MB terlihat sedang tidak baik-baik saja. Hawa membunuh seperti Gres rasakan, jika ia salah menjawab pasti akan fatal akibatnya.


"Jawab dengan jujur, lo tadi ke rumah sakit jiwa, kan?" tanya MB tanpa menatap wajahnya.

__ADS_1


"Aku dari tadi ada di sini, ak- " jawab Gres. Belum selesai dengan penjelasannya, MB memegang kedua pundaknya.


"Tolong jujur sama gue, jangan bohongi gue, siapa lo sebenarnya?" tanya MB menundukkan kepalanya kembali didengarnya.


"Aku tetap Gresnalia Putri, gak akan ada yang berubah," tegas Gres dengan jawabannya.


Tetap diposisinya, sebenarnya tubuh Gres hampir bergetar, sebenarnya bibirnya tak mampu berkata saat dibentak seperti itu olehnya. Ia bisa saja pergi dari sana, akan tetapi sifat MB yang sangat dikenalinya. Menahannya tetap berada disisinya, ia takut jika lelaki itu akan melampiaskan amarahnya pada orang lain atau pada fasilitas yang ada di ruangannya.


Sungguh Gres rela jika harus dimarahinya, ia sangat mengerti kenapa lelaki itu semarah ini padanya.


"Kenapa? Kenapa gue merasa lo seseorang yang selama ini gue cari, jangan bohong katakan yang sebenarnya," MB masih tetap pada pertanyaannya.


Gres hanya diam saja, membeku di tempat.


"Jawab!" MB berteriak kembali.


"Ak- aku sudah menjawab jujur, jika kamu nggak percaya. Ter-terserah padamu, aku ... " kata Gres mengeluarkan air matanya.


Merasakan ditelapak tangannya, pundaknya bahkan tubuh gadis itu bergetar dengan hebatnya. Setetes air membasahi tangannya, MB mengangkat wajahnya. Mendapati Gres yang sedang menangis di sana, entah kenapa hatinya terasa sakit.


Mendengar MB sedang marah, Will menghampiri ruang Gres. dari belakang menarik pundak MB dengan sangat kasar, sampai lelaki itu hampir terjatuh. Gres mengusap air matanya, terkejut melihat Will tiba-tiba datang.


Will melayangkan satu pukulan pada perut MB.


"Tidak! Jangan lakukan hal itu, bagaimana pun juga dia masih saudaramu," teriak Gres menghampiri keduanya.


Akhirnya Will menghentikan niatnya, demi menghargai perkataan wanita yang dicintainya. Sedangkan MB hanya menatap tajam ke arah Will dan Gres.


"Mending lo pergi dari sini, lo gak sadar. Kalau Gres itu sedang sakit, jangan bikin dia tambah sakit. Kalau tetap di sini, gue gak akan mikir dua kali buat kasih pelajaran. Paham Lo!" kata Will meneriaki MB.


Tanpa berkata sepatah kata pun, MB pergi dari sana. Karena sudah mengerti akan sifat Will jika bicara seperti itu. Artinya dia benar-benar sedang marah padanya, jadi akan percuma saja jika dijelaskan sekalipun.


Yang bisa ia lakukan hanyalah menenangkan dirinya, dari situasi yang dihadapinya.


Author :


Waduh, gimana nih? MB benar-benar curiga serta marah. Lalu gimana selanjutnya, apa yang akan terjadi?


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.


See you, next part ➡

__ADS_1


__ADS_2