
Sangat menyenangkan semua orang berdansa dengan senyuman, dua orang pemuda memasuki pintu. Semua tertuju pada mereka, ternyata dia adalah Tino dan Teri. Latus menatapnya kagum.
Esa ternganga-nganga. Sedangkan Hafis menarik tangannya dan berdansa, Tino mendekati Latus lalu mereka berdansa.
Sedangkan Teri menuju keberbagai macam makanan, ia mencicipi satu demi satu makanan yang dihidangkan di sana.
Acara yang dinantikan semua orang pun di mulai. Ceri dan MB berdiri dipertengahan tamu undangan yang berada di sana, dari kejauhan Gres menatap mereka yang saling pandang, memasangkan cincin pertunangan kejari manis satu sama lain.
Menuju kolam berenang, menatap air yang jernih itu.
'Aku tetap gak bisa merasakan apa itu cinta?' pikir Gres.
BRUSH! Gadis itu tak sengaja menjeburkan dirinya ke kolam berenang,
Tino yang sedang asyik berdansa melihat seseorang terjatuh ke dalam kolam berenang, dia berteriak. "Ada orang kejebur di kolam berenang, itu orangnya masuk ke dalam air!"
Semua orang termasuk MB berlarian ke kolam berenang untuk memastikannya.
Dengan sangat kepanikan, MB lari dan menjeburkan dirinya menyelamatkan Gres. Di dalam air, cowok itu berenang kearahnya.
'Apa aku melakukan hal bodoh, membuktikan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.' Batin Gres mulai kesulitan bernapas.
Matanya sedikit terbuka melihat kalung yang dipakai seseorang yang memegang dan menarik tangannya, mereka naik kepermukaan. Semua orang terdiam menatap kolam berenang, Latus dan Esa terkejut melihat siapa yang terjebur ke kolam berenang. MB menekan-nekan dadanya, agar bisa bernapas kembali.
Beberapa saat kemudian, Gres membuka matanya. Ia tidak menyangka siapa yang sedang mencoba menyelamatkannya, ia menatapnya tanpa berkedip.
Tes air mata jatuh membasahi pipinya, Latus memahami perasaan sahabatnya saat ini sedang terpukul menahan sakit. Cowok itu meninggalkan gadis yang telah ia selamatkan, sembari berpikir apa yang sebenarnya terjadi mengapa ia harus repot-repot mengkhawatirkannya.
Karena tanpa sadar, langkah kaki panjangnya tiba-tiba lari ke sana. Saat tahu gadis yang memakai gaun yang ia berikan berada di dalam kolam berenang, tanpa meminta izin pada pemiliknya, kakinya berlari ke arah gadis itu.
"Gres kamu gak, apa-apa?" ucap Will memegang kedua pundaknya.
"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Gres menatap ke arah MB yang semakin mejauh darinya.
Melepas jasnya dan memakaikannya ke gadis yang malang itu, Will menggendongnya dihadapan semua orang. Membuat mereka bergeming membicarakan yang baru saja terjadi, Gres menatapnya bingung. MB memandang mereka yang sedang berjalan keluar dari sana, saat melewatinya Gres meneteskan air mata lalu kembali membuat MB beberapa kali merasa bersalah padanya.
Mereka pergi ke Mall membeli beberapa pakaian, Gres ingin bertanya namun setiap kali ia ingin mengatakan sesuatu Will menghindarinya. Mencari alasan apa pun, sampai pada akhirnya ia memakai gaun yang indah berwarna biru dan merah muda. Gadis itu menarik tangan Will, mereka saling pandang.
"Kenapa kamu begitu baik, padaku?" tanya Gres setengah bingung.
"Gue juga gak ngerti, kenapa gue peduli sama lo," ucap Will sebenarnya sedikit kesal, gadis itu melupakan hal yang terjadi di antara mereka.
Saat itu Will melamun sambil berjalan dipinggir jalan, menyebrang tanpa melihat lampu lalu lintas. Belum berwarna biru untuk pejalan kaki, ia malah lewat begitu saja.
Gres yang saat itu membawa belanjaan, lari ke arahnya, mendorong dirinya bersama dengan dirinya sendiri. Mereka saling bertatapan cukup lama, dia selalu mengingat wajah gadis itu. Wajah gadis yang telah menyelamatkan hidupnya.
Menggandeng tangan Gres. Mereka pergi dari sana, menuju ke pesta kembali.
__ADS_1
'Dia siapa? Mengapa harus peduli padaku?' Gres hanya bisa membatin di dalam hatinya.
Saat diperjalanan mereka tidak banyak bicara, terlebih Gres yang memegang dadanya sesak. Will diam-diam memperhatikannya, mobil yang dikendarai cowok itu tiba-tiba menginjak rem secara mendadak. Membuat gadis itu terlonjak kaget, tubuhnya sedikit terdorong ke depan dan menatapnya, dia turun dari mobil diikuti Gres.
Berdiri memandang badan jalan yang dilewati mobil yang berlalu-lalang, pertanyaan dibenak Gres semakin menumpuk melihat Will seperti itu. Tangannya ditarik kini mereka berdiri dibahu jalan, cowok itu menatapnya serius.
"Lo pengen bunuh diri, loncat, lah," pekik Will menatapnya.
Gres hanya bisa terperanjat lalu membalas tatapannya.
"Kenapa diam? Kalau begitu jangan menangis. Lo akan terlihat lemah didepannya, masuk kita akan selesaikan ini," lanjutnya menyuruh Gres masuk ke dalam mobil kembali.
Memegang tangan Will, sampai menghentikan langkahnya.
"Aku tidak akan menyerah, apalagi membuat keributan. Jadi ... tidak perlu mengkhawatirkanku, pikirkan saja dirimu sendiri terima kasih atas tumpangannya." Gres dengan seculas senyuman manis.
Menghentikan Taxsi, Gres masuk kedalamnya. Sedangkan Will terdiam mencari jawaban dari tindakannya, akhirnya pergi dari sana.
***
Matanya lembap, kantung matanya membesar kehitaman, dan hidungnya memerah, berdiri di atas teras rumah memikirkan hal bodoh yang barusan ia lakukan. Meski pukul jam 12 malam, ia tetap tenang berdiri di sana.
MB ingin mengetahui tentang keadaan gadis yang baru saja ia tolong, memeriksa kamarnya tidak ada di sana. Akhirnya mencoba menuju ke atas teras, mungkin saja dia ada di sana, benar saja! Gres sedang berada di sana.
Melangkah pelan mendekatinya, tes air mata Gres menetes. Memegang bahu kiri gadis itu, ia menengok ke arahnya.
"Aku sudah memikirkannya, beberapa kali ... dan menyadari sesuatu," ucap Gres menatap MB. "Tidak sepantasnya aku seperti ini," memegang tangan MB.
"Aku menyukaimu," lanjutnya menutup matanya sebentar.
MB terperanjat, matanya membulat, alisnya terangkat, sampai bahunya sedikit terangkat. Ia ingin angkat bicara, namun Gres melanjutkan perkataannya.
"Aku ... akan mencoba melupakanmu, tapi aku tidak bisa jauh darimu. Aku akan tetap memegang tanganmu, meski kau akan melepaskan ... tapi, aku akan selalu berada disampingmu," Gres menurunkan tangannya, melepaskan genggamannya.
Mengangkat tangannya dan mengusap air mata Gres yang terus mengalir.
"Lo tenang aja, gue ... gak akan benci lo karena ini. Jadi akan lebih baik, jika lo ... lupain gue." MB pergi dari sana.
Gres hanya mampu terdiam.
Keesokan harinya pergi ke sekolah, saat Gres berjalan banyak yang memandangnya sinis. Ia duduk di bangkunya, Latus memandangnya dengan kedua alisnya ditekuk. Esa melakukan hal yang sama, Tino dan Teri menggoda Latus.
"Jika kau kecewa dan bersedih karena dilukai ucapanku, izinkan ku hadir merawat lukamu ... karna aku ... " ucap Teri.
Semua yang berada disisi Gres menatapnya penasaran.
"JUAL PLESTER Rp 500/Biji MAU BELI???"
__ADS_1
"Hahaha." Esa tertawa sendiri.
Sedangkan Latus memanyunkan mulutnya, Gres tersenyum datar.
"Sabar ya, Sopo," ucap Tino menepuk keras pundaknya.
"Bodoh lo!" Teriak Latus ketus.
"Ada badai menghadang? Gempa mengguncang? Halilintar menyambar? Tsunami menyerang? Sebelum semuanya terlambat ... Aku mau bilang sesuatu sama kamu ... " lanjut Tino menatap Latus.
Pipinya memerah, dan yang lain menebak Tino akan menembaknya.
"Aku mau bilang? Lari bodoh?" Tino segera menceletuk.
"Huahaaaaa." Kembali terdengar tawa Esa mengglegar keseluruh kelas.
"Sue lo Tino, Teri," ucap Latus kesal. " gue juga bisa kali,"
"Latus mau apa?" tanya Gres angkat bicara.
"Dalam sayur ada kaldu ... Relung hatiku tersirat rindu. Bukan Maksudku Tuk Bilang I Miss You ... Ataupun bilang I Love You ... Aku cuman mau bilang sebelum tidur pipis dulu ... " ucap Latus menggoda Tino.
Kini senyuman terukir kembali di wajah Gres, sahabat memanglah yang paling terbaik saat duka maupun bahagia. Mereka akan selalu memberi semangat dan menggantikan kesedihan menjadi candaan, tertawa bersama dan membagi derita bersama.
MB ikut tersenyum memandangnya, setidaknya ia tidak terus-menerus melihat gadis itu bersedih.
Memegang lengan MB sembari menatap mereka terutama melirik ke arah Gres, dengan senyuman licik. Cery berhasil membuat senyuman di wajah gadis itu berubah menjadi kekecewaan, Latus memegang tangannya. Mencoba membuatnya bersabar, menatapnya dengan senyuman.
Mengangguk hanya itu yang dapat dilakukan Gres saat ini, Tino mulai mengosip membicarakan Teri yang saat itu mengambil tahu bulat kesukaannya. Esa dan Latus menatapnya dengan satu kata, dan satu makna.
"Yang sabar ya ... Bos," ucap Latus dan Esa penuh makna belas kasih.
"Eeet dah, sekarang Sopo nya ada dua," kata Tino mengangkat tangannya. Ia membuka kedua jarinya, sehingga terlihat bentuk plis tapi bukan itu tujuannya.
"Sarjini isi duaaa," lanjutnya.
"Lho, bukan sarjini tapi ... Sarini bodoh," kata Teri menggeplak kepala Tino.
"Lo juga salah PA," Esa menggeplak kepala Teri.
"Lo kira Sarini bisa jadi dua, nanti kalau si Reno bingung gimana? ... Yang bener tuh SARIMI." Ketus Esa tertawa.
Mereka semua tertawa geli.
MB duduk di bangkunya memutar malas saat Cery tersenyum padanya.
Author :
__ADS_1
Di mana ada kata di sanalah terdapat peri bahasa, dan pengen bilang I miss you buat yang baca ini. hehe ... Jangan lupa komen beri pendapat pada cerita ini.
See you, next part ➡