
Duduk di atas wc meratapi apa yang baru saja terlintas di dalam pikirannya, Esa tidak mengerti sahabatnya sendiri. Selalu saja mencari perhatian di depan Hafis cowok bermata sipit, berkulit putih, rambut hitam, gaya keren itu.
Awalnya Esa menyangkal cinta pandangan pertama itu ada, hanya takhayul, tak pernah ada, hayalannya menepis semua itu. Benar-benar jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, sama halnya dikejar zombie saat di dalam kereta, ingin rasanya dia terbang seperti burung.
Ting Tong!
Suara pesan masuk berbunyi.
...Cantik, save no aku ya? Jangan lupa untuk selalu tersenyum....
...By: Kokoh (Hafis St)....
Mata Esa membulat hampir lepas dari tempatnya, mulutnya ternganga-nganga dan dengan satu kedipan mata. "WAAAAAH, KOKOH CHAT GUE!"
Satu teriakan yang mengglegar ke semua penjuru sudut ruangan toilet, dia mendengar dan melihat Latus memanggilnya dengan keras.
"ESA! LO DI SINI LAGI!" Teriak Latus menghela napas berat. Mendobrak pintu dengan kasar, "Gres lagi murung, buruan bujuk dia,"
Esa bangkit dari WC memeluknya.
"Lo kenapa?" tanya Latus sedikit penasaran.
"Gue lagi bahagia, Kokoh chat gue," menyodorkan handphonenya ke depan Latus, "gue gak percaya, dia diam-diam punya no gue," makin bersemangat.
"Wah! Gue juga gak percaya jangan-jangan dari Gres, bisa jadikan?" mengkedipkan sebelah mata kirinya.
"Tino di mana? Ko gue gak liat dia," tanya Esa mengalihkan topik, sedikit malas bila membahas tentang Gres.
"Tumben banget nanya Si Tino, kita kan lagi di toilet cewek. Masa iya dia mau ngikut, ntar kalau sampe disangka ngintip sama para cewek," menyipitkan matanya, "bisa-bisa ditimpuk gayung, terus pingsan. Pasti kita-kita juga yang repot,"
"Yaudah, gue mau ke kelas aja deh," Latus mengikuti Esa dari belakang.
Ting tong!
Pesan masuk, Esa membaca pesan itu.
"Tus, lo ke kelas duluan aja. Gue kebelet pipis nih, gak usah dianter!"
"Pergi lagi tuh anak, beser banget. Baru juga keluar, eeh masuk lagi."
Terpaksa berbohong pada sahabatnya. Padahal Esa ingin bertemu dengan Hafis secara pribadi, agar dia dapat leluasa bicara apa saja tanpa gangguan sedikit pun terlebih dari Tino. Cowok yang paling berisik, bicara panjang lebar dan suka dijuluki KATA PEPATAH.
Melangkah ke arah taman belakang sekolah, Esa mulai melihat Hafis berdiri di bawah pohon. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat Gres menghampiri Hafis, Esa hanya menatap mereka dari kejauhan, cowok itu memegang tangan Gres dengan lembut.
__ADS_1
Tersenyum menatap kedua bola mata Gres yang hampir copot, seketika pipinya memerah dengan seribu pertanyaan. Esa mulai geram memandang pemandangan yang tidak dapat membuat senyuman terukir di wajahnya. Tetapi hanyalah rasa sakit, Hafis melirik ke arah gadis itu dari kejauhan. Esa mulai meneteskan air mata, Gres mengikuti arah tatapan Hafis.
Betapa terkejutnya ia saat melihat Esa menjatuhkan air matanya, secepat mungkin Gres melepaskan tangannya dari cengkraman Hafis. Namun gagal atas apa yang dia lakukan. Tenaganya tidak cukup melawan cowok yang satu ini, sedangkan Esa lari dari sana sambil memegang dadanya yang semakin terasa sesak.
Saat Esa sudah jauh pergi barulah Hafis melepaskan tangannya secara kasar, ingin rasanya Gres menampar cowok yang berada di hadapannya. Tetapi penting baginya menjelaskan yang sebenarnya pada Esa, yang secara tiba-tiba meninggalkannya.
Mencari sahabat alias keluarga kedua baginya. Dia yakin sekali, Esa salah paham padanya.
"ESAAA!" Teriak Gres terus mencari keberadaan Esa.
Ternyata di depan kelas Lailatus mencoba menenangkan Esa yang tak henti-hentinya menangis, Latus semakin erat memeluk sahabatnya.
Sedangkan Tino menarik tangan Gres menjauh dari kelasnya.
"Tino, ada apa? Aku menyakiti Esa, apakah aku benar-benar membuatnya membenciku? Apa dia gak anggep aku sahabat lagi, apa, apa ... "
"Gres, dengerin saran gue. Lo harus tenangin diri lo sendiri, dan jelaskan sama Esa apa yang sebenarnya terjadi antara lo dan cowok itu,"
Gres menundukkan kepalanya berat. "Baiklah, aku akan menunggu sampai dia merasa jauh lebih baik."
***
Hari demi hari Esa semakin membenci Gres merasa muak jika melihat wajahnya, semakin menjauh dari keseharian Gres dan menghindar di setiap berbincang-bincang dengannya. Kebencian gadis ini semakin membuat Gres merasa bersalah. Terlebih jika dijelaskan Esa tidak mau mendengarnya.
Dibelakang taman sekolah dekat dengan makam cinta pertama MB, Gres menemui Hafis mereka mulai saling tatap geram.
"Kenapa, lo pasti mau nyari solusinya," ujar Hafis membelakangi Gres, "jika gak jawab gue, cabut." Dia hampir melangkahkan kaki kanannya.
Wajah Gres yang tadi murung kini berubah, terukir senyuman manis pada mulutnya. "Plisss! Tolongin aku, dia bener-bener salah paham. Apa pun aku jabanin deh, yang penting kamu kasih penjelasan sama Esa,"
Terus merengek meminta Hafis membantunya.
"Baiklah, tetapi dengan satu syarat,"
"Apa pun, katakanlah," jawab Gres bersemangat.
"Pindah ke kelas MB, besok gue tunggu di depan gerbang sekolah."
Semangatnya layu seketika mendengar kata-kata Hafis barusan, tetapi apa boleh buat. Gres benar-benar tidak memiliki pilihan lain, selain meminta bantuan padanya.
'Sesuai rencana.' Batin Hafis yang merasakan tak enak hati pada gadis yang dia lukai.
Tanpa menunggu jawaban 'iya' dari Gres, cowok itu pergi meninggalkannya menuju kelas Esa. Di depan semua orang yang di dalam kelas itu, terang-terangan Hafis meminta maaf pada Esa. Meski dia rela dipeluknya.
__ADS_1
Esa tak henti-hentinya menangis sambil memeluk Hafis erat. Tino melongo memandang ke arah Latus, sedangkan Gres menatap ke depan memegang kepalanya.
Satu kata pusing.
Belum jam istirahat MB keluar dari kelas karena bosan, berdiri di depan pintu makam. Menekan tombol-tombol pembuka kunci sandi, membutuhkan waktu sedikit lebih lama pintu terbuka otomatis.
Masuk ke dalam duduk di bangku taman dekat makam, membayangkan pertama kali dia bertemu cinta pertamanya.
Flashback On
Ke-tiga anak bandel itu mengganggu. Sedang mengganggu gadis cantik, yang sedang duduk di bangku taman. Mereka menarik rambut gadis manis itu dihadapan MB, ia terus menangis tetapi mereka tertawa tanpa memedulikan tangisannya.
Lari mendekati anak cowok yang menarik rambut gadis kecil, memegang tangan anak itu melemparkannya dengan sekuat tenaga. Hingga badan anak cowok itu ikut terbawa. Dia sangat marah, berdiri lalu menonjok MB tanpa ampun.
Setelah puas memukuli MB mereka pergi dari sana dengan kemenangan, bersorak gembira.
Sedangkan MB tergeletak di tanah, gadis kecil itu duduk di atas sebelah kiri kepalanya. Memegang dan memindahkan kepala MB ke pangkuannya, tes air mata baru saja menetes ke pipi anak cowok itu.
Mencoba menenangkannya MB berusaha mengangkat tangannya, memegang pipi kiri gadis itu. "Ku mohon jangan menangis, aku baik-baik saja,"
Membulatkan kedua matanya. "Kau bohong! Wajahmu babak belur seperti itu, tapi kau bilang ... "
"Muhammad Baehaki, itulah namaku," ucap MB terengah-engah, "panggilah aku dengan nama yang berbeda,"
"Krisnalia, akan aku ingat selalu kejadian hari ini, Haki," Kris tersenyum.
"Baiklah, Kris aku akan selalu mengingatmu."
Flashback Off
"Tempat ini, akan selalu menjadi tempat pertama kali kita bertemu. Gue harap lo datang dan menemui gue, di tempat yang sama saat pertama kali kita bertemu," ucap MB memandang batu nisan, "tetapi, itu gak mungkin bisa terjadi kita di alam yang berbeda."
Setiap kali ia merindukan cinta pertamanya, maka ia akan menyempatkan diri datang ke tempat itu.
Cinta pertama memanglah sangat sulit untuk dilupakan, terlebih MB yang sangat mencintainya.
Author :
Lagi ribut Virus Corona nih, doain aja ya lekas diangkat dari muka bumi ...
Beri penulis semangat! Like, saran dan Komentar. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡
__ADS_1