
Menatap MB sangat serius, Gres membalikan badannya saat cowok angkuh itu menatapnya, ia jongkok membereskan pecahan kaca secara tergesa-gesa membuat jari telunjuk kanannya tergores.
"Maafkan saya nyonya, Pak, Tuan Muda dan para tamu. Saya, akan bekerja lebih baik lagi." Suara Gres terdengar serak.
Tanpa ada yang menjawab perkataan Gres, mereka sibuk memperhatikannya.
Tak lama kemudian ibu jari tangannya tiba-tiba tergores, tanpa sadar darah bercucuran mengotori lantai dan pecah-pecahan yang berserakan di mana-mana. Baginya saat ini luka yang berada ditangannya tidak sebanding dengan luka yang tergores dihatinya.
Merasa kasihan melihat gadis itu MB ingin melangkah membantunya. Tapi Cery mencekal tangannya, saat ia memandangnya gadis ini menggeleng-gelengkan kepalanya. Langkahnya tertahan, tapi rasa kasihan pada gadis pelayan itu tak tertahankan. MB ingin melangkah mendekatinya, membantu menaruh pecahan kaca itu ke dalam nampan tiba-tiba Kepala Pelayan lari ke arah Gres.
Secepatnya membantu gadis yang sedang terluka itu, karena kejadian itu banyak hal yang mereka bicarakan dan rencanakan, tentang persiapan pertunangan putra dan putri mereka. Sampai saatnya makan malam tiba, mereka terus membicarakannya.
Sedangkan Gres duduk di atas bangku meja teras, duduk sendiri tidak kuat menahan rasa sakit yang dihatinya. Ia sama sekali tidak memedulikan luka di tangannya, darahnya sampai mengering, air mata terus berjatuhan, dan kini hanya lamunan yang bisa dilakukannya sembari memegang hansaplas berwarna biru. Bagaimana tidak? Ia baru pertama kali memiliki perasaan yang begitu dalam pada seorang cowok.
Melihat kejadian tadi di CCTV membuat, Fajar tak sengaja melihat salah satu pelayan wanita duduk di atas bangku meja teras rumah. Ia mematikan kamera pengawas CCTV dibagian atas balkon, pergi menghampiri Gres.
Menatap kasihan padanya dia duduk disebelahnya, tapi gadis itu malah meneteskan air matanya.
Tanpa merasakan kehadiran Fajar sama sekali, merebut hansaplas dari tangan Gres. Membuat gadis itu menatapnya terkejut, memegang tangannya, menempelkan hansaplas disetiap luka yang tergores ditangannya itu.
"Seharusnya biar aku saja, aku jadi menyusahkan Tuan Muda," ucap Gres terdengar serak lalu air mata terus berjatuhan. "Maaf, mataku sedi-kit sak-it jad- "
"Jadi apa? Udahlah lo gak usah bohong, jangan panggil gue Tuan Muda saat hanya ada kita. Ceritakan aja, gue pinter jaga rahasia," ucap Fajar menatapnya serius.
Menatap ke arah kamera pengawas, Gres merasa ketakutan.
"Tenang aja, udah gue matiin. Sekarang cerita sama gue, kenapa lo nangis?" tanyanya sangat penasaran.
"Gak ko, aku baik-baik aja," Gres menundukkan kepalanya. Ia hanya ingin merahasiakan semuanya, anggapannya ini adalah beban hidupnya sendiri tanpa ada hubungannya dengan orang lain.
"Nanya ke apa ke, gue tahu lo suka sama kaka gue," Fajar berdiri memicingkan matanya.
Gres diam seribu bahasa, tapi terlintas dipikirannya. Ia ingin menanyakan tentang Kris, cinta pertama MB. Namun ia sedikit ragu akan hal itu, terlebih saat cowok itu hendak meninggalkannya karena kesal, mencoba mengusap air matanya, menguatkan dirinya dan menatap Fajar serius.
"Anu ... Kris, hmm. Tidak, aku tidak berhak bertanya tentangnya," ucap Gres menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menunduk.
Langkahnya terhenti, mendekati gadis itu Fajar duduk disebelahnya kembali sambil menghembuskan napas sedikit berat.
__ADS_1
"Biasa aja kita se-umuran kali, tentang Kris ... Akan gue ceritakan,"
"Iya, tapi beda 3 tahun," balasnya dengan sedikut bergurau.
"Baiklah ... Waktu itu, gue dan kaka lagi seneng banget. Karena dihari itu, pemotretan Kris dengannya," Fajar menguatkan dirinya. "Berjanji mengikuti pemotretan kaka dan Kris berjanji akan bertemu di tempat yang telah direncanakan, puncak dekat villa milik keluarga Kris. Gue dan kaka naik mobil yang sama," Fajar menceritakan setiap detail kejadian itu dengan hati-hati.
...Flashback On...
Mengikuti Kris dari belakang yang saat itu menaiki mobil berwarna biru, MB senyum-senyum sendiri. Sedangkan Fajar asyik bermain video gamenya, menaiki mobil berwarna silver.
Saling memegang dan menatapi kalung secara bersamaan meski di dalam mobil yang berbeda dan gadis kecil itu tidak tahu bahwa ia sedang diikuti MB, kalung yang berbentuk bintang milik Kris sedangkan milik MB berbentuk bulan. Mereka akan memakai kalung itu saat pemotretan berlangsung, disamping kalung mereka terdapat butiran magnet yang kecil sampai sulit terlihat dan elegan.
Ketika kalung mereka disatukan maka akan terlihat bintang dan bulan yang indah, dibalik kalung itu ada inisial nama mereka. Kalung Kris berinisialkan M nama depan MB, begitu pun sebaliknya dengan milik MB berinsialkan K.
Saat Kris memandang ke depan, tiba-tiba. Mobil berlawanan arah melintas ke arah mobil yang sedang ditumpanginya, Sopir membanting setir ke kiri meluncur turun masuk ke dalam jurang.
"AAAA!" Kris berteriak. Belum sempat ia terkejut, tetapi mobil itu sudah terpelosok ke dalam jurang.
Mobil yang ditumpangi MB dan Fajar berhenti secara mendadak hampir menabrak mobil hitam yang melintas berlawanan arah itu.
Saat MB membuka mata melihat ke samping jurang, mobil Kris meledak, hancur berkeping-keping di depan matanya.
Air mata MB berjatuhan.
"Kris!" Teriaknya kembali terdengar serak. Tak lama kemudian ia jatuh berlutut, tangannya dipegang Fajar, lalu kedua telapak tangannya menyentuh badan jalan.
Menundukkan kepalanya tiba-tiba MB jatuh pingsan, Adiknya ikut menangis. Terpaksa Pak Sopir memutuskan kembali dan menuju rumah sakit, sedangkan mobil hitam yang menyebabkan kecelakaan mobil Kris telah menghilang pergi. Meninggalkan tempat kejadian itu.
...Flashback Off...
"Mayatnya nggak ditemukan! Setelah itu, kaka mengurung diri di dalam kamarnya. Saat ia keluar dari sana, sifat kaka tiba-tiba berubah sampai gue menganggap dia sebagai orang lain," Fajar memejamkan matanya, "bukan kaka yang hangat, peduli, pengertian dan sangat baik hati. Tapi sifatnya yang sekarang, dingin, cuek, kejam dan hal buruk sering terjadi padanya ... membuat gue, muak!"
Menundukkan kepalanya hampir menangis, Gres mengangkat tangan sebelah kirinya, memegang pundak cowok itu sembari menepuk-nepuk pelan pundaknya. Gadis itu baru menyadari penderitaan yang sangat berat di alami MB dan juga Adiknya.
Kini Gres telah mengetahui semuanya.
***
__ADS_1
Tiap kali memikirkan cerita Fajar membuat Gres diam tanpa bicara sepatah kata pun, sampai Teri mencoba membuat lelucon yang lucu. Membuat seisi kelas tertawa tapi tidak didengar oleh gadis yang sedang melamun itu, surat undangan mulai disebarkan ke semua kelas termasuk kelasnya.
Ketua kelas membagikan undangan itu secara perlahan dan tenang. Tidak berlaku bagi si jail Teri dan si penggosip Tino, menyerobot merebut surat undangan dari tangan Hafis. Hingga berserakan di lantai, ketua kelas hampir marah tapi dia tahan demi ketenangan kelas bersama.
"Asyiik, makan-makan. Di hotel berbintang lima lagi!" Teriak Tino bersemangat.
"Wow! Pertunangan MB dan Cery," teriak Teri antusias.
"Apa!" Satu kelas serempak mengatakannya.
Mereka lari berebut kartu undangan, membuat Hafis terdorong ke sana ke mari. Hingga hampir terjatuh, ditangkap Esa lalu mereka saling tatapan. Teri dan Tino kejar-kejaran, menabrak mereka, terjatuh bersama.
Wajah Gres menyuram menahan matanya yang mulai berair, Latus tak sengaja memperhatikannya.
"Sialan! Bokong gue sakit banget lagi. Bukannya ketenangan malah kegaduhan, ini kartu undangan lo Tus," kata Hafis memberikannya. "Yang ini punya lo Gres,"
Menatap Hafis sulit sangat sulit menerimanya, Hafis sedikit keheranan menatap wajah gadis itu. Dia memutuskan akan bertanya padanya secara langsung.
"Sini biar gue aja," ucap Latus merebut kartu undangan itu secara halus.
"Baiklah." Tangan Hafis mengusap-usap bokongnya kembali sambil berjalan.
"Bokong sexy gue juga sakit, sialan! Awas aja gue bikin Teri sama Tino menderita," kata Esa kesal menatap mereka yang masih kejar-kejaran.
"Sabar," ucap Hafis mengelus-elus pundaknya lembut.
Pipi Esa memerah seketika. "I-iya."
Karena Esa sedang sibuk dengan Hafis, Latus menarik tangan Gres. Belum sempat bertanya, sahabat karibnya itu berdiri melangkah pergi ikut bersamanya.
Hanya bisa terdiam mengikuti langkahnya, lagi pula ia juga sedang tak ada tenaga untuk menolak ajakannya.
Author :
Hay ketemu lagi kita, apa kabar kamu. Semoga sehat selalu amiin. Oh iya, cerita aku gimana nih? Ada kemajuan apa kemunduran? hehehe ...
Please like, saran dan pendapat kamu tentang cerita aku. Yaudah dadah.
__ADS_1
See you, next part ➡