
Beberapa saat kemudian, wajah MB memandangnya dengan kedua tatapan serius. Gres merasa malu, menutup mata, menahan napas, dan mencoba mencari cara agar cowok yang sedang menatapnya berhenti melakukan hal itu.
Semakin mendekatkan wajah MB ke arah wajah Gres, mengangkat tangannya membuka telapak tangan dan menempelkan didahi cewek yang terdiam tanpa bicara sepatah kata pun.
Mata Gres langsung terbuka sembari melotot menatap MB, ternyata tidak sesuai dugaannya. Barulah cowok itu sadar, sejak ia mendekatkan wajah ke arahnya ternyata dia tidak bernapas.
"Ck," desis MB menjauh dari Gres. "Gue pikir lo mati mematung, nahan napas," ia berdiri menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lo kira lagi di dalam air, gue gak suka lo! Liatin gue lama kaya tadi. Apalagi cewek kaya lo, males," lirihnya memutar bola matanya.
"Apa! Siapa? Aku?" seru Gres mendengus kesal. "Gak usah ke GR an deh, lagian kamu sendiri yang buat aku liat kamu. Tadinya aku pikir kamu cuma pakai handuk, mangkannya aku- "
Bertepuk tangan tiga kali membuat Gres diam tanpa bicara. "Hmm, pemikiran lo dewasa. Jadi lo pengen godain gue, mangkannya bikin surat,"
"Iiih! Susah jelasin ke kamu, udah kaya jelasin ke bocah PAUD. Tahu gak sih, udah aku mau lanjut kerja lagi," sentaknya ingin cepat-cepat pergi dari sana.
MB tersenyum datar, memegang tangan dia dan memberikan pulpen beserta kertas yang dia pegang. Alhasil Gres kebingungan melihatnya, ingin bertanya tapi ragu akan jawaban tuan muda.
"Lo dan gue, mulai sekarang teman. Jadi, perlakukan gue sebagai selayaknya teman." MB duduk di bangku meja belajar. Ia mulai memakan sarapannya.
Sedangkan Gres tersenyum menatapnya, tidak percaya apa yang barusan saja dia katakan. Ia keluar dari sana tanpa berhenti tersenyum, Kepala Pelayan memanggilnya beberapa kali pun tak digubris.
Tiba di kamar bergegas bersiap-siap berangkat sekolah, keluar dari kamarnya dengan semangat berdiri di depan gerbang rumah MB.
Menaiki angkot, sampai di depan gerbang Gres merasa pagi ini membuatnya merasa lebih baik, ia masuk ke kelasnya lalu duduk. Melanjutkan senyumannya yang tertinggal diangkot, Latus merasa hawa gila menyelimuti sahabatnya. Esa baru datang dari balik pintu, mendekati Latus yang sedari tadi menatap curiga pada Gres.
Teri merencanakan sesuatu yang konyol untuk memberikan kejutan pada kawan lamanya, tidak lain adalah Tino. Ia tipe cowok yang ingin selalu tahu kepribadian seseorang yang menjadi target dari kejailannya, sembunyi dibalik pintu menunggu kedatangan mangsanya.
Kemudian datanglah seorang Tino, membuka pintu kelas secara perlahan.
'Aman, gak ada jebakan.' Batin Tino.
Baru saja Tino merasa aman.
BRUGH! Ternyata jebakan Teri bukan di pintu tapi di lantai, ia sengaja memasang tali putih yang tipis agar tidak terlihat korbannya. Sikap siswa yang berada di sana tertawa terbahak-bahak, Latus dan Esa ikut tertawa sedangkan Gres masih belum berhenti tersenyum sendiri. Maklumin aja ini kebiasaan kita bukannya cepat-cepat ditolongin malah diketawain dulu, maafin aja.
Pintu tertutup saat Tino mencoba berdiri, terlihat sosok cowok yang aneh sedang menatapnya.
"Hahaha, kena jebakan ya? Pasti yang jebak lo adalah ... Cowok paling tertampan didunia," ucap Teri lalu memperkenalkan diri. "Perkenalkan Alvaro Monoir, hobi jailin orang lemah dan gak bakal gue lepasin kalau udah tertarik sama korban. Mungkin kaya lo gini, panggil gue- "
__ADS_1
"TERIIII!" teriak Tino bangkit mengejarnya.
"Iya?" tanyanya tanpa dosa.
Terjadilah kejar-kejaran antara mereka, Latus dan Esa melupakan Tino. Lalu kembali menatap serius Gres.
Saat itu pun MB datang semua gadis hanya memperhatikannya, khayalan Gres terhenti saat melihat cowok itu.
"Gres!" Sapa MB.
Gres terlonjak kaget, baru saja sampai di dalam kelas Cery hendak menyapa MB. Sesaat suaranya terhenti merasa hatinya akan segera memanas, disusul Hana dan Andre dibelakangnya.
"I-iya," ucap Gres kikuk ditatap banyak gadis.
"Istirahat nanti tetap di sini," MB memandangnya dengan kedua tatapan biasa saja.
Gres mengangguk menahan malu hanya bisa tersenyum lepas, MB duduk dibangkunya mulai membuka buku novelnya yang berjudul Harry Potter. Cery mulai geram menatap Gres, bagaimana tidak selama ini cowok idaman semua cewek yang di sana tak sekali pun belum pernah, menyebutkan nama seorang wanita.
Padahal Cery teman kecilnya saja belum pernah di panggil MB dengan namanya, mengetahui hal itu dia cemburu dan marah ingin sekali membuat gadis itu hancur.
Dua pelajaran sudah selesai, siswa-siswi yang berada di dalam kelas berhamburan pergi ke kantin. Latus dan Esa menarik Tino secepatnya pergi dari sana tanpa Gres, karena mereka tahu si Tino orangnya seperti apa. Mereka juga tidak lupa menyeret Teri ikut bersama mereka ke kantin, Hafis ikut membantu hasilnya akan segera diketahui jika Gres berhasil berduaan dengan MB.
Mereka tiba di lantai atas lantai 3, yang masih direnovasi. MB melepas tangan Gres saat dilihat orang lain, ia duduk di lantai diikuti gadis yang sedari tadi mencoba menstabilkan pikiran juga pernapasan.
"Krisnalia Putri, dia adalan cinta pertama di dalam kehidupan gue. Lo pasti bertanya-tanya saat gue demam malam itu, gak sengaja liat CCTV dan lo bicara mengerti kenapa gue seperti ini," kata MB menatapnya serius, "tapi, lo gak mengerti apa pun tentang gue,"
Menahan air matanya yang hampir terjatuh Gres mencoba bicara. "Kamu mengajakku kemari hanya untuk mengatakan hal itu?"
Berdiri memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya, MB herdiri membelakangi Gres. "Gue cuma ingin, gak dipedulikan. Apalagi sama gadis kaya lo, gue gak butuh,"
"Iih, GR banget sih kamu. Anak siapa tahu? Dengar ya! Aku gak pernah peduli sama kamu apalagi sam- " ucapannya terpotong saat MB mendekatinya. Ia ingin mundur tapi tertahan tembok, cowok itu jongkok di depannya.
"Diam, kan lo." Ia tersenyum miring tanpa berhenti menatap Gres.
Wajah Gres semakin memerah, ia secepatnya menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Sedikit mengintip membuka telunjuk jari, terkejut memandang MB wajah mereka begitu dekat. Cowok itu sengaja menggodanya, melakukannya lagi. Pipi gadis itu semakin memerah kaya ciluk baa, berulang kali pipinya terus memerah tiap kali MB menatapnya.
***
__ADS_1
'Haki baik juga, liat aja aku akan buktiin sama dia. Kalau aku cewek pengertian, aku harus cari info tentang Kris.' Batin Gres lalu beberapa saat terhenti.
"Oh tidak, sepertinya aku benar-benar gila," ucap Gres di atas teras mengacak-acak rambutnya sendiri. "Akhir-akhir ini aku selalu kepikiran terus sama Haki, apa aku benar-benar menyukainya?"
"Tidaaak! Aku pasti mimpi, berhanusilasi," teriak Gres mencubit pipinya yang tembem. "AAAW! Sakit."
Pelayan yang lain mendengar suara Gres teriak-teriak sendiri dan bicara sendiri, ia tidak jadi ke atas teras. Temannya yang akan menuju ke sana, ditariknya lalu membisikinya. Jangan ke sana, ada orang gila. Ntar menular jadi zombie, udah ayo pergi.
Sore hari di dalam rumah yang amat mewah, Cery datang ditemani Ibu dan Ayahnya. Mereka disambut manis oleh keluarga MB, duduk secara pribadi diruang tamu membicarakan hal yang sangat penting. Gadis itu tampil secantik mungkin dan sangat hati-hati dalam berbicara, ayah dan Ibu MB berada di sana ditemani putra sulung mereka.
"Baik saya yang akan memulai pembicaraan, begini. Kris sudah tiada dan sesuai kesepakatan, jika terjadi sesuatu dengannya maka yang akan menggantikan posisinya putri saya," ucap Ibu Cery.
"Maksud anda, posisi Kris akan digantikan oleh Cery?" tanya Ibu MB.
"Bukankah kalian masih ingat dengan kesepakatan kita, jika terjadi sesuatu dengan Kris maka yang akan menggantikannya ya ... Cery, kita harus tetap menepati janji bukan?" ucap Ibu Cery mengingatkan.
"Kami sangat kehilangan dia dan hanya Cery putri yang saya miliki sekarang, jadi saya percaya pada kalian akan membahagiakan putri saya satu-satunya. Kami ingin segera menyatukan putri kami dengan putra kalian, secepatnya bertunangan," permintaan Ayah Cery.
"Kami mengerti, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, beri kami waktu untuk membicarakannya," ucap Ibu MB.
"Aku, akan melakukannya... " kata MB sedikit lebih lama.
Membawa nampan berisi minuman dengan sedikit perasaan jeruk nipis, Gres melangkah dengan semangat menuju ruang tamu.
"Untuk melakukan pertunangan dengan Cery." MB melanjutkan perkataannya.
CRANG!
Nampan dari genggaman Gres tiba-tiba terlepas dari tangannya begitu saja, membuat semua orang yang berada di ruang tamu melirik ke arahnya. Senyuman di wajah Cery menghilang, lebih terkejut saat melihat gadis yang dia benci berada di sana.
Mata Gres memerah menahan tangis.
Author :
Terima kasih sudah membaca part ini, semoga kamu terhibur dan dibikin baper sama Gres dan MB.
Makin bosen apa makin penasaran, kamu bisa kasih aku saran ko. Terlebih jika kalian Like, dan masukin ke favorit, duuh bahagianya.
__ADS_1
Yaudah sampai sini aja dulu, nanti kita lanjutin lagi ngobrol nya, eh ceritanya maksudnya.
See you, Next part➡