
'Males pergi ke sekolah, di atas tempat tidur berbaring.' Di dalam hatinya.
Kring, kring, kring.
Wajahnya tertutup bantal, dering alarm terus berbunyi dan mengganggunya. Gres terpaksa bangun dengan ekspresi sebelnya, berharap Hafis melupakan rencananya yang kemarin. Tak mampu baginya satu kelas dengan orang yang paling cuek, terlebih MB, belum lagi Cery yang terus mengawasinya secara diam-diam.
Sampai di depan gerbang Gres bersembunyi dibalik tembok, melirik ke sana kemari dengan kedua mata yang melotot. Dia menghela napas lega, akhirnya cowok yang menerornya tak terlihat. Baru saja dia mengelus-elus dada, seseorang menarik tasnya dari belakang menengok secara perlahan.
"Kamu!" Teriak Gres tersentak kaget.
"Iya ini gue, ikut!" Sentak Hafis menarik tasnya dari belakang membuat Gres berjalan mundur mengikuti langkahnya.
'Kalau tahu begini, ngapain aku berangkat siang. Seharusnya aku lebih cekatan lagi.' Batin Gres.
Teeet, teeet, teeet.
Suara bel terdengar. Ratusan anak memasuki kelas mereka masing-masing, keheningan mulai menyelimuti luar sekolah. Beberapa langkah lagi mereka akan segera memasuki kelas MB, tetapi Gres ingin lari lupakan! Tenaganya tidak akan mampu melebihi cowok yang terus menyeretnya.
Sampai harus berjalan mundur seperti harimau yang sedang dalam keadaan terancam, di dalam kelas tadinya cewek-cewek menggosip, ada yang lagi sibuk bikin jebakan. Sengaja menumpahkan lem power kebangku guru, katanya guru killer pelajaran MTK yang amat sangat membosankan.
Saling tuduh-menuduh maling pulpen padahal seharga 2 ribu rupiah, tetapi hampir tonjok-menonjok, suasana di sana terdiam bagaikan patung tanpa ada yang berisik sama sekali. Mereka terpaku melirik Hafis memasuki kelas, ternyata dia ketua kelasnya.
Menarik tas Gres ke depan, tatapan mereka berubah menjadi sangat tajam memandangnya.
"Dia gak asing bagi kalian," Hafis memandang Cery yang terlihat geram, "mulai sekarang dia satu kelas dengan kita,"
Semua orang bergeming membicarakan Gres.
"Jangan ada yang mengganggu dia, menjaili, memotong roknya dan menguncinya di kamar mandi." Melanjutkan perkataannya.
Tidak bisa bersabar lebih lama lagi Cery melangkah ke depan menatap geram ke arah Gres, melihatnya seperti itu Hafis segera menyembunyikan badan Gres dibelakangnya. Memiliki firasat buruk tentang hal itu.
"Lo ngapain sih! Bawa cewek sinting ini kemari! Gak layak ditempatin sama dia. Ngerti!" Jerit Cery keberatan atas keputusan ketua kelas.
"Gue tahu, dia satu-satu yang melawan karena keberaniannya. Maka dari itu gue hargain dia dan memasukannya kemari, jadi lo diam aja," timpal Hafis menghadapi Cery.
Suasana semakin memanas tiba-tiba.
CKLEK!
Seorang pria tampan membuka pintu, mereka terdiam lagi saat melihat MB memasuki ruangan. Gres menengok ke belakang tersentak kaget, dirinya dengan MB begitu dekat.
MB melangkah setelah menatap Gres serius. Gadis itu hanya bisa menunduk saat ditatapnya.
Duduk dengan santai membuka lembaran buku novelnya, semua orang yang di dalam kelas terdiam duduk di bangku masing-masing. Mereka mengerti kalau MB tidak bertanya berarti dia setuju dengan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Tak tahan lagi, Cery ingin rencananya untuk menghancurkan kehidupan Gres. Kini semakin berambisi.
Hafis menarik tangan Gres, mereka duduk bersampingan. Dia melakukannya supaya mereka tak mengganggu gadis malang ini, sepanjang hari Gres tak sanggup mengangkat kepalanya. Masih terasa asing tentang keberadaannya di kelas itu.
Pak Selamet guru Mtk tidak dapat masuk dikarenakan sakit, seperti namanya Selamet mangkannya selalu selamat dari kejailan muridnya. Bangku itu dipindahkan ke belakang.
Katanya guru yang cantik dan sexy akan memasuki kelas, penyambutan yang sederhana baginya siapakah anak jail ini kita panggil dia Teri. Kenapa? Karena kejailannya sudah menjadi bagian dari hidupnya, namanya Alvaro Monoir. Kerenkan namanya, tapi panggilannya disesuaikan dengan amal dan perbuatannya.
***
Setiap kali pulang dari sekolah Gres melanjutkan aktivitasnya, memasuki lestoran Happy tempat kerjanya. Baru saja dia ingin mengganti pakaian tetapi dipanggil bosnya, betapa terkejutnya dia melihat Cery tersenyum licik.
"Dia orangnya!" Teriak Cery, sampai semua orang yang di dalam lestoran memperhatikannya.
"Gres, kamu Bapak pecat!" Teriak Pak Bos.
Mata Gres membulat, alisnya ditekuk dan matanya memerah hampir menangis.
"Tapi Pak, apa salah saya?" tanya Gres dengan sebaris kernyitan dikening menahan tangis.
Pak Bos menatap Cery, diikuti Gres.
"Pak, apa pun yang dikatakannya. Jangan percaya, dia berboh- "
"Saya tidak akan memecat kamu tanpa bukti dan alasan," Pak Bos menyodorkan hapenya terlihat foto saat Gres menampar MB, "ini buktinya, dan alasannya kamu tidak layak bekerja di sini. Dengan sikap kamu yang seperti itu tak bisa ditoleransi lagi, ini gaji terakhirmu. Silakan pergi dari sini!"
Melangkah mengambil gaji terakhirnya. Pergi menahan tangis namun tidak dapat terbendung lagi, hanya itulah yang dapat membiayai hidupnya. Berjalan menyebrangi jalan tanpa melihat ke kanan ke kiri lagi. Mobil melaju pelan mendekat ke arahnya.
Gres berteriak. "AAAA!" Dia tertabrak lalu pingsan.
Semua orang yang melihat kejadian itu berlarian mendekatinya, penumpangnya menyuruh mereka mengangkat dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil. Kepalanya berbaring di atas pangkuan seorang wanita parubaya, belum sampai rumah sakit Gres sadar memegang kepalanya.
"Syukurlah, mari Ibu bantu," ucapnya sembari membantu Gres duduk.
"Saya ada, di mana?" tanya Gres menatapnya.
"Di dalam mobil, kita sedang menuju rumah sakit," jawabnya dengan lemah lembut.
"Rumah sakit, gak usah nyonya. Tolong turunkan saya di sini, saya mau pulang," pinta Gres, beralasan karena sangat merepotkan.
Wanita parubaya itu mencoba menenangkannya karena pelipisnya mengeluarkan darah.
"Ibu anter ya? Jangan menolak ini sebagai bentuk perminta maaf saya,"
Setelah menimba-nimba sesaat, akhirnya setuju lalu Gres hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
"Di mana, rumahmu?"
Gres menunjukkan arahnya, ke Pak Sopir tidak lama kemudian mereka sampai.
"Nyonya mari ikut saya, nyonya akan terkejut melihat dekorasi rumah saya. Teman saya yang membuat rumah ini layak di tempati, dan sangat nyam- "
Ucapannya terhenti saat melihat rumahnya sedang dihancurkan dengan Excavator, terkejut melihat kenyataan ini dia menangis sembari terjatuh di tanah. Syok berat, baru saja setengah jam yang lalu dipecat dan belum sempat menerima kenyataannya. Kini rumahnya yang secara tiba-tiba dihancurkan.
"TIDAAAK!" Teriak Gres hampir mendekati mesin penghancur itu, namun dihalangi oleh Pak Sopir, Ibu parubaya tersebut.
Tanpa pemberi tahuan sama sekali, mereka tega melakukan hal ini kepadanya. Gres mulai hilang kesadaran untuk yang kesekian kalinya dia lelah tiba-tiba jatuh pingsan, tidak sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian dia tersadar matanya mulai berkedip-kedip. Mengucek-ucek matanya beberapa kali, barang-barangnya tertata rapi disebuah kamar yang besar dan juga mewah.
Terbangun mengelilingi kamarnya yang super mewah. "Aku belum pernah liat kamar yang seperti ini," mulai kebingungan sendiri, "tunggu dulu, bukannya tadi aku pingsan. Iya! Terus kehilangan pekerjaan paruh waktu, rumah! Aku inget sekarang,"
Seketika wajah Gres ditekuk langsung berubah murung. "Bagaimana mungkin, rumah yang telah dihancurkan jadi semegah dan semewah ini," Gres mendengus pasrah. "Aku pasti hanya mimpi."
Seseorang masuk ke dalam kamarnya tanpa dia sadari, karena masih pusing dengan keadaan sekitar.
"Ini semua nyata sayang," seru wanita parubaya itu mendekatinya.
"Nyonya, jadi saya berada di rumah nyonya?" tanya Gres menatapnya.
"Iya benar." Jawabnya sambil tersenyum.
"Terima kasih, saya akan segera pergi dari sini. Saya pasti sudah banyak menyusahkan, dan barang-barang saya- "
"Kamu tinggal di sini,"
Gres terlonjak kaget.
"Bunda gak ingin dengar alasan apa pun dari kamu, anti penolakan, jangan panggil saya Nyonya tetapi Bunda, dan jika butuh sesuatu katakanlah pada ketua pelayan di sini," menarik napas pelan, "mengerti!"
"Mengerti." Dia melihat ke arah kepala pelayan yang berada disamping pemilik rumah.
Bunda pergi meninggalkan Gres keluar kamarnya, dia mulai pusing dengan keadaannya yang sekarang. Sedikit-sedikit tiduran, duduk, berbaring, dan terakhir membuka pintu jendela. Menjulurkan lehernya keluar sebelah kamarnya.
"AAAA!" Teriak Gres menampar pipinya sendiri, "bukan mimpi?" dia meringis kesakitan sambil memegang pipinya yang baru saja dia tampar.
Pemandangan dari luar sana begitu indah, dia berada di lantai paling atas dari rumah itu.
Author :
Besar harapan saya bisa ketemu dia, karena chat saya baru dibales.
__ADS_1
Eeeh, malah curhat ....
See you, next part ➡