
Dari kejauhan MB melirik ke arah Gres, saat Latus dan Esa membayar.
Seseorang mendekati mereka, dan menyerahkan plastik besar berwarna biru yang ia bawa kepada Gres. Sempat ia menolak tapi Esa merebutnya, sehingga Latus dan Gres saling bertatapan bersamaan menggeleng-gelengkan kepala.
Mereka semua pulang ke rumah masing-masing, saat itu Esa yang membawa mobil. Saat Latus menawarkan Gres mengantarnya pulang. Gadis itu menolak dengan keras, mengapa? Jika kedua sahabatnya mengetahui rumah yang mereka renovasi bersama telah hancur. Maka apa yang akan mereka pikirkan? Ia berpikir akan lebih baik mereka tak mengetahuinya sama sekali, ia termasuk tipe cewek yang tak bisa membagi penderitaannya dengan orang lain.
Akhirnya Gres diturunkan disamping jalan, mereka terpisah dengan senyuman. Ia sampai di depan rumah MB, dibelakang seseorang yang mengendarai mobil turun. Ditatapnya sosok berbadan tinggi, tubuh yang kekar, matanya hitam kecoklatan, berdiri dihadapannya.
"Kenapa gak masuk?" tanya seseorang itu.
"Aku, sedang menunggu seseorang," ucap Gres bertanya-tanya di dalam hati siapakah orang itu.
Cowok itu ingin melangkah masuk ke dalam gerbang namun langkahnya terhenti, terdiam sejenak memandang rumah itu. Gres hanya menatapnya kebingungan, orang itu pun melangkah pergi masuk ke dalam mobil kembali lalu pergi dari sana.
'Aneh, kenapa gak masuk? Biarin aja deh. Tapi, siapa ya dia?' batin Gres.
Bergerak cepat masuk ke dalam rumah itu, ia duduk di dalam kamar khusus pelayan. Membuka plastik keresek itu, terdapat dua kotak kecil dan besar. Gres membuka kotak besar terlebih dahulu, matanya melotot, mulutnya ternganga-nganga.
"Bagus banget, siapa yang mengirimkan gaun seindah ini, ya?" jeritnya tersenyum sendiri.
Saat ia asyik memeluk gaun itu sepucuk surat terjatuh ke lantai, Gres mengambilnya lalu membacanya dengan teliti.
"Hadirilah pertunangan cinta pertamamu, buat dirinya terkagum-kagum dan ungkapkan perasaanmu padanya," Gres membolak-balikan kertas itu mencari nama pengirimnya. "Tidak ada nama pengirimnya, siapa ya? Mungkin rezeki aku kali. Dia baik banget, tapi aku belum memutuskan menghadiri acara itu atau tidak?" bingung sendiri.
Senyuman di wajah gadis itu hanya sementara, saat sesuatu melintas dibenaknya. Memikirkan saat MB memakaikan cincin dijari manis Cery, apakah perasaan itu benar-benar menyiksanya?
***
Siswa-siswi berkumpul di tengah lapangan, menatap sosok cowok yang tidak kalah tampannya dengan MB. Yap, dia adalah Will William saudara tiri dari pemilik sekolahan itu, Gres ikut berada di sana. Ia melirik ke arahnya, gadis itu teringat sesuatu ternyata seseorang yang dipertanyakan dibenaknya sekarang berada dihadapannya lagi.
'Aku baru ingat, dia itu, kan orang yang waktu itu gak jadi masuk ke dalam rumah. Siapa ya dia?' Batin Gres.
Siswa-siswi bergeming sembari senyum-senyum sendiri tidak jelas, saat menatap cowok itu. MB datang, dan mereka yang menghalangi jalannya menyingkir secara perlahan. Mereka saling menepuk pundak, agar sadar jika seorang MB berada dibelakangnya dan membuka jalan untuk cowok cool itu.
Teri dan Tino kejar-kejaran tak sengaja menabrak punggung Gres hingga tubuhnya terseret hampir terjatuh, MB dan Will memegang lengannya secara bersamaan. semua yang berada di sana terkejut, termasuk Esa dan Latus.
"Kita bertemu lagi," ucap Will tersenyum memandangnya.
Mereka tatapan, MB melepaskan tangan Will dari Gres. Tersentak kaget, mereka menatapnya.
Gadis itu hanya bisa terdiam, berada ditengah-tengah antara Will dan MB.
__ADS_1
"Akhirnya lo kembali, bagaimana keadaan lo, di sana?" tanya MB mentapnya.
"Harus gue jawab pertanyaan dari, lo?" ucap Will tersenyum mengejek.
Diliriknya ke kanan terdapat MB, cowok yang diliriknya membalas tatapannya. Menengok ke kiri, Will pun membalasnya dengan senyuman.
'Apa yang sebenarnya terjadi, di antara mereka? Terus, apa hubungannya denganku? Aku harus segera pergi.' Pikir Gres.
"Tunggu!" Teriak MB dan Will memegang lengan Gres bersamaan.
Tatapan tajam di antara Will dan MB semakin memanas, sedangkan Gres semakin ketakutan menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergemataran beserta lengannya, MB dan Will merasakan getaran itu. Mereka melepaskan lengan gadis itu secara bersamaan, secepatnya ia pergi dari sana.
Tidak tanggung-tanggung Gres lari menuju kelasnya, disusul Esa dan Latus. Diikuti Teri dan Tino dibelakangnya, pertemuan sengit itu pun berakhir.
MB dan Will tersenyum melihat tingkahnya. Mereka saling berjalan membelakangi satu sama lain, semua siswa-siswi yang melihat kejadian itu perlahan meninggalkan tempat itu.
"Gres, lo gak apa-apa?" tanya Latus.
"Iya," menghela napas. "Semua ini gara-gara Teri dan kamu, Tino!" Seru Gres menunjuk satu persatu wajah konyol Teri dan si bodoh Tino.
"Sabar Gres, sabar," ucap Latus menepuk-nepuk pelan pundaknya.
"Mampus lo, Tino, Teri. Bentar lagi Gres pasti jadi Hulk, dan ... " ucap Esa terhenti saat melihat tingkah kedua orang itu.
Brugh! Mereka menabrak perut Pak Joko yang berbadan tinggi nan gendut, hingga terpental terkapar di lantai. Saking terlalu empuknya perut yang mereka tabrak.
Semuanya tertawa. "Hahahaha."
Guru kimia itu tidak merasakan apa pun, sedangkan Tino dan Teri kesakitan mengelus-elus pantatnya sambil berdiri kembali ke tempat duduk.
Mereka segera kembali dan duduk dengan manis, memulai pelajaran dengan saksama, menjelaskannya perlahan, lembut dan berperasaan hingga semua siswa tertidur pulas.
***
Semua orang yang berada di sana menghadiri pesta pertunangan Cery dan MB, mereka memakai topeng yang sangat cantik. Mengapa mereka harus memakai topeng? Inilah salah satu tradisi dari pihak keluarga MB, maksudnya agar ia tidak salah memilih meski memakai topeng dan harus bisa menebak sang kekasih.
Pestanya segera dimulai, tapi Gres masih dikamarnya bingung harus bagaimana. Ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya, berinisiatif tidak akan datang ke pesta pertunangan itu.
Esa dan Latus sangat cantik memakai gaun yang tidak kalah indahnya dengan yang lain, Tino dan Teri memakai jas hitam terlihat tampan nan menawan.
Para tamu undangan menghitung mundur 10 sampai 1, pada hitungan terakhir sosok gadis memakai gaun biru muda, rambut terurai dan memakai topeng. Semua tamu hanya menatap kagum ke arah gadis itu, ia menarik napas dan menghembuskannya. Berjalan dengan tenang ke dalam pesta, mereka bergeming membicarakan siapa gadis itu.
__ADS_1
Alunan musik klasik diputar, menenangkan pikiran gadis itu. Banyak yang ingin berdansa dengannya, tiba-tiba seseorang menarik tangan dan pinggangnya mendekati tubuhnya. Mereka pun berdansa bersama, cukup lama berdansa cowok itu menariknya pergi dari keramaian menuju kolam berenang.
Sampai disamping kolam berenang, cowok itu melepaskan topengnya, Gres terkejut menatapnya. MB membukakan topeng gadis itu, mereka saling pandang.
"Gue udah pernah bilang! Pakai gaun itu. Disaat pertunangannya berlangsung, katakan, apa dia bertunangan hari ini?" tanya MB berdiri tepat dihadapannya.
Gres mengangguk. "Jadi lo yang udah kasih gaun ini?"
"Itu gak penting, yang penting sekarang di mana lelaki itu? Yang sudah membingungkan perasaan lo,"
Gres terdiam.
"Di mana?" lanjutnya bertanya, menatap serius ke dalam matanya.
"Di sini, dia akan bertunangan di tempat ini," Gres menatapnya menahan tangis.
"Apa maksud lo? Di tempat ini, keluarga besar gue gak akan mengizinkan siapa pun menempati tempat ini. Apalagi sampai berbagi tempat, saat acara gue berlangsung. Lo pasti salah hari, lo haru- " tiba-tiba ucapan MB terhenti saat teringat kata-kata yang ia lontarkan pada Gres.
Dihari itu, ketika Gres bertanya apa itu cinta. MB mendekatinya mencekal tangannya erat, gadis itu menatapnya.
"Gue, apa gue orangnya. Yang cowok aneh, bodoh, payah, gak peka! apa itu gue?" menatap Gres dengan segan. Ia memegang kedua pundaknya, sampai gadis itu merasa sakit. "Jawab Gres!"
"I-iya."
MB menurunkan tangannya dari pundak Gres.
Tes setetes air mata jatuh melintasi pipinya, Gres menguatkan dirinya.
"Jika aku memohon, apa kau akan membatal- " ia mencoba bertanya sampai bibirnya bergetar. Namun ucapannya dipotong.
"Gue akan tetap bertunagan, dan jangan pernah menyukai gue." Sentak MB meninggalkan Gres begitu saja.
Sedangkan Gres memegang dadanya yang terasa sakit dan sesak, kedua kakinya tidak mampu berdiri. Ia menjatuhkan dirinya ke lantai, terus menangis dan menangis tanpa henti. Bagaimana tidak? Ia baru saja merasakan cinta, terlebih MB adalah cinta pertamanya.
Author :
Kawan ketemu lagi, jangan bosen ya?
Pendapatnya nih, ceritanya udah sejauh ini.
Takut ada yang tidak suka, terus dijiblak jelek. Aduuh gak banget kan, yaudah lanjut aja hehehe.
__ADS_1
See you, next part ➡