Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Sehari Jadi Pacarnya


__ADS_3

Sampai di depan ruang rawat, Will tampak tersenyum sendiri. Ketika membayangkan gadis yang disukainya melahap makanan yang dia belikan, donat madu dengan berbagai warna yang menggoda lidah, ingin secepatnya untuk mencoba bersamanya.


Baru saja memegang gagang pintu, Will mendengar Gres sedang mengobrol dengan seseorang. Dia mengintipnya, ternyata orang itu adalah MB. Dia tetap diam di sana, meski sakit, ingin mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.


Cuplikan.


"Ma-maaf, gak sengaja," kata Gres menutup wajahnya kembali.


"Seharusnya gue yang minta maaf, lo maafin gue, kan?" tanya MB.


Seketika Gres menurunkan tangannya menatapnya sebentar, lalu memalingkan wajahnya. "Iya, tapi ada syaratnya,"


"Apa?"


Will begitu serius mendengarkan percakapan mereka berdua, ingin mengetahui apa yang sebenarnya Gres harapkan dari orang yang dibencinya itu.


Ini kesempatan baginya, untuk memperbaiki hubungannya. Gres harus berani mengatakannya, menghirup napas dari hidung dikeluarkan dari mulut.


"Jadilah pacarku seharian,"


"Apa?!" MB terkejut mendengar hal itu darinya.


Hancur sudah perasaan Will, tanpa dia sadari telah menjatuhkan sesuatu. Secepat pergi dari sana dengan sangat tergesa-gesa, dia juga sempat menabrak Tino. Sampai orang yang ditabraknya tersungkur di lantai.


"Wadaw!" Teriak Tino. "Jalan pake mata woeey!" Tino kembali berteriak sambil mengelus-elus pantatnya.


PLETAK!


Satu sentuhan manis dari tangan kanan Esa, memukul kepalanya.


"Lo juga salah, jalan tuh pake kaki. Mana ada pake mata, yang ada buta lo," kata Esa menyombongkan pengetahuan otaknya yang dia anggap encer jaya.


"Lo!" Teriak Tino. Tuuut, sambil kentut gak tahu malu, tanpa meminta maaf, dan tak merasa adanya dosa.


PLAK! Latus menggeplak jidatnya.


"Aduh!" Tino kembali berteriak.


"Lanjut Sa," ajak Latus melangkah pergi bersama.


"Apa kalian bisa disebut sebagai seorang wanita, bisanya nyiksa mulu, gak pantes jadi cewek! Jadi waria (Wanita Pria) aja sana!" Celetuk Tino berteriak.


Seketika menghentikan langkah kaki Latus dan Esa. Mereka berdua membalikan badannya, dengan tatapan melotot, alis ditekuk, mulut sedikit ditarik ke bawah. Tino melambaikan tangannya, dia malah berjoget ria di sana.


PLETAK, BUGH, PLAK! selesai dengan urusan mereka berdua.


"Mari kita lanjutkan perjalanan," ajak Latus.


"Baik, kita lanjut jalan." Sahut Esa berjalan.


Latus dan Esa kembali menuju ruang sahabatnya. Sedangkan Tino telah terkapar di sana, tetap bangkit lari menuju ruang Gres secepatnya mau melaporkan keadaannya pada gadis itu.

__ADS_1


"Gak ada syarat yang lain?" ucap MB mencoba menawarkan permintaan yang lainnya.


Gres menggelengkan kepalanya. Tetap tegas dengan permintaannya, menatap segan ke arahnya.


"Mulai kapan?"


"Sekarang, tunggu aku di sini, mau ganti baju dulu," sosor Gres pergi ke kamar mandi sambil membawa baju ganti.


"Astaga, situasi macam apa ini? Apa gue kabur aja kali ya? Tapi ... " ungkap MB terus ngedumel sendiri.


Tanpa ia sadari, Gres berada disampingnya memakai baju warna biru. Roknya warna putih selutut, rambutnya terurai memakai bando warna putih. MB hanya melongo menatapnya, baru sadar jika wanita yang dihadapannya bersungguh-sungguh ingin berkencan dengannya.


"Lalu kita mau ke mana?" kata MB bertanya padanya.


"Ke taman," kata Gres.


Mereka berdua berjalan bersama disepanjang jalan, terlihat seorang nenek sedang menyebrang jalan. Namun dia selalu saja mundur kembali, Gres tidak bisa tinggal diam. Ia memegang nenek itu, membantunya menyebrang.


MB hanya bisa mengikutinya dari belakang, takjub melihatnya melakukan hal itu. Setelah sampai di sebrang jalan, angin sedikit kencang karena laku mobil cukup cepat menerjang hampir membuka rok Gres. Lelaki itu langsung memeluknya, nenek terkejut dan menitipkan sebuah pesan.


"Kalian adalah anak yang baik, suatu saat nanti. Akan ada cobaan yang paling terberat, jangan takut, jangan gentar, kalian pasti bisa menghadapinya jika bersama." Kata nenek itu pergi meninggalkan mereka.


Gres dan MB tidak menyadari bahwa sang Nenek sudah pergi dari sana.


"Terima kasih, hampir saja," kata Gres menarik roknya kebawah sedikit memanjang.


"Nenek yang tadi ke mana?" lanjutnya bertanya.


Sampai membuat lelaki itu memegang tangannya, mereka berjalan bersama dengan tersenyum. Tiba di taman ternyata sedang diadakan pasar malam, MB berpikir pantas saja gadis ini dengan tegas meminta ke taman.


"Hehe, sebentar lagi acaranya akan dimulai. Sepertinya kita kecepatan yah," kata Gres malu karena salah jam.


"Ada tempat lain yang ingin lo kunjungi?" kata MB bertanya padanya tanpa marah.


"Gak tahu, harapanku cuma pasar malam," seloroh Gres menengok ke taman yang sedang direnovasi.


"Ikut!" Ajak MB tegas.


Hanya mengangguk patuh, bagaimana pun juga ini kesalahan gadis itu. MB mengajaknya bermain game disalah satu mall di jakarta, pertama Gres mencoba memainkannya dengan sangat lincah.


Lelaki itu tersenyum saat mengetahui Gres suka bermain game, lelah. Bergantian dengannya, MB tak kalah hebatnya dengannya.


Ia menembak dengan sangat jitu. Para gadis yang melihat aksinya berkumpul di sana, mereka semua membawa handphone memotret, merekamnya, disimpan di galeri masing-masing atau di-posting disosial media.


"Woaah, hebat!" Teriak dari salah satu pengunjung.


"Sejak kapan mall ini kedatangan pangeran?!" Teriak dari sudut kiri.


'Mengenaskan, pacaran seharianku mereka goda, salah kaprah milih tempat ini.' Pikir Gres di dalam hati menundukkan kepalanya.


Seseorang memegang tangannya, belum sempat ia mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Ayo kita pergi dari sini," MB memegang tangannya pergi dari sana.


Terdengar kembali berbagai teriakan dari sudut kesudut, ada yang mengatakan 'I love you full' ada yang mengatakan 'Jagain dulu jodoh gue, nanti nikahnya ama gue!' Sangat berisik sekali.


Para gadis itu menjadi sangat ganas, bahkan ada seorang gadis yang meninggalkan lipstik merahnya dipipi kiri MB. Keluar dari sana dengan susah payahnya, karena dikerumuni banyak sekali gadis di sana.


"Kasihan sekali yang menjadi kekasihmu kelak, dia harus bersabar sangat, bahkan lebih dari kata sabar," pekik Gres sambil mengikuti langkahnya.


"Lo sedang membicarakan masa depan?" tanya MB berhenti sejenak disamping mall.


Belum sempat menjawab, gadis itu terdiam saat ditatapnya pipi MB terdapat bentuk bibir di sana, gadis itu langsung bad mood seketika. Ia memilih berjalan sendiri menuju taman, lelaki itu sempat bingung dengan sikapnya.


"Tunggu! Nggak mau kalau gue, jadi pacar harian lo lagi?" tanya MB berhenti dihadapannya.


"Coba lihat baik-baik wajahmu, dan satu hal lagi. Panggil aku, kamu. Jangan lo, gue. Kita berasa kaya temen biasa tahu," keluh Gres masih marah berjalan sendirian.


Setelah cukup lama MB mengamati dengan ponselnya, ia terkejut ada sebuah kecupan di sana. Terlebih berwarna merah, itu membuatnya muak menghapus secepat mungkin.


"Kamu marah?" tanya MB memegang tangannya.


"Menurutmu?" kata Gres pertanyaannya dikembalikan lagi padanya.


"Cemburu?" tanya MB kembali terdengar ditelinganya.


"Eng-nggak, mana ada cemburu," resah Gres terlihat pipinya sedikit memerah.


Lelaki itu memegang kedua tangannya.


"Tatap wajahku?" ucap MB sedang memperhatikan ekspresi wajahnya. "Kalau kamu gak tatap aku, yaudah aku pergi," lanjutnya mencoba menggoda gadis itu.


"Tunggu!" Gres sedikit berteriak memberanikan diri menatap wajahnya.


"Setelah sekian lama, aku baru melakukan hal ini. Kau tahu, aku sedikit canggung terhadapmu saat ini. Bisa dikatakan, aku belum sanggup melakukannya. Maaf ya?"


Ekspresi wajah Gres sedikit khawatir dengan ucapannya. "Tidak apa, lagi pula kita belum benar melakukannya. Bagaimana kalau mulai dari sekarang, kamu buang semua rasa canggung itu. Dan benar-benar menganggapku sebagai kekasihmu, anggap saja latihan untuk hubungan kamu nantinya."


"Baiklah, aku mengerti,"


'Latihan ya? Naif sekali gadis ini.' Pikir MB di dalam hatinya


Namun di dalam hati MB yang paling terdalam, ia merasa sangat senang. Meskipun mengetahui kalau Gres hanya sedang mencoba mengontrol dan menyembunyikan perasaan terhadapnya, tapi ia juga sadar betul bahwa tidak pantas baginya berharap pada gadis itu.


Karena Kris masih belum ditemukan. Ia tetap keras kepala bahwa suatu saat pasti gadis yang di akan segera ditemukan.


Author :


Sad boy jangan nih? atau sad girl? Pilih mana?


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.


See you, next part ➡

__ADS_1


__ADS_2