Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Sifat Asli Mereka


__ADS_3

Di jam istirahat, berkumpul di bangku taman. Ada yang sedang berdiri, bahkan jongkok karena tidak kebagian tempat duduk. Di sana ada Tino, Teri, Latus, Esa, Hafis, Gres dan sedangkan MB dipaksa oleh Teri dan Tino.


Bagaimana caranya? Tentu saja dengan diiming-imingi harus menjaga Gres, karena itu adalah kesalahannya.


"Gue ingin bahas tentang kejujuran sifat masing-masing, dengan permainan putar botol plastik. Peraturan mainnya, setelah ditunjuk dan menunjuk orang itu akan menjawab tentang sifat aslinya sendiri ... contoh dimulai dari gue menunjuk Esa," ucap Hafis.


Pipi Esa merah merona.


"Lalu dia akan membahas tentang dirinya, setelah selesai dengan jawabannya. Ia akan menunjuk orang lain yang belum ditunjuk oleh siapa pun, mengerti?" lanjutnya.


"Ngerti kok ... " ucap Esa tersipuh malu.


"Permainan macam apa ini? Kalau gitu bisa-bisa kartu AS gue ke bongkar," celetuk Tino.


"Bohong aja," balas Teri santai.


"Bego lo! Inikan permainan kejujuran. Kalau lo bohong bakal gue tabok," gerutu Esa menakutinya dengan mengangkat sebelah tangannya.


"Emangnya gue baru lahir ditabok, biar nangis," balas Teri menyeringai.


"Hahaha." Semua teman-temannya tertawa.


"Tapi tunggu, gue gak ada botol bekas," Hafis menatap ke arah teman-temannya.


Tino melirik Latus yang sedang meminum air minumnya, tanpa berpikir panjang. Dia merebut botol minum itu, lalu meneguknya hingga habis tak tersisa.


Latus meliriknya dengan tatapan serius, Tino mengusap mulutnya.


'Aduh, berarti Tino sama gue satu tempat minum dong?!' Batin Latus sedikit menyembunyikan wajahnya dari yang lain.


"Nih bereskan!" Tino melempar botolnya ke arah Hafis sampai terjatuh mengenai wajahnya.


Crang! Yang lain geram menatapnya, Hafis menginjak botol itu karena marah.


"Sabar Koh," kata Latus merasa bersalah karena tindakan bodoh Tino.


"Gue tunjuk lo," Hafis menunjuk Esa dengan sedikit meredakan amarahnya.


"Gue, ramah, baik, jujur ... " kata Esa santai menundukkan kepalanya. "Ce-rewet, suka foto-foto,"


"Betul, suka foto di mana aja, kapan pun. Sebelum tidur aja foto, terus bikin status," timpal Tino tertawa terpingkal-pingkal.


Esa mulai geram sambil menahan amarah, dia menunjuk Tino dengan jari manisnya. Senyuman di wajah gadis itu pun memudar, mulai menggerutu sendiri di dalam hatinya.


"Gue, ganteng," ucap Tino percaya diri yang luar biasa.


Satu cubitan dari Latus.


"Gue imut,"


Esa menggeplak kepalanya.


"Stop!" Teriaknya. "Katanya jujur, gue udah jujur tadi. Kenapa malah dapat penyiksaan,"

__ADS_1


Latus dan Esa menatapnya tajam, Hafis dan MB terdiam menatap tingkah konyol mereka.


"Baik, gue suka bicara panjang lebar, ceroboh tapi ngangenin," tambah Tino sambil mendekapkan kedua tangannya menyilang ketubuhnya sendiri, memeluk diri sendiri.


"Oeeee," pekik Teri merasa jijik padanya.


Hampir tertawa Tino langsung menunjuk Teri, tawanya pun direm seketika.


"Urak-urakan, suka jailin guru, dan korban kesayangan gue ... T-i-n-o." Sangat percaya diri Teri menatapnya santai, namun artinya dalam.


Mendengar hal itu membuat teman-temannya tertawa, kecuali Gres yang sedari tadi terdiam dengan tatapan kosong ke depan. Amarah Tino hampir membludak, tapi berhenti seketika saat Latus memegang tangannya. Sadar akan hal itu gadis yang memegang tangannya terkejut, melepaskan pegangannya.


"Ciyeee ... Ciyeee." Sorak teman-temannya.


Melihat Gres yang terdiam membuat Teri penasaran, dia menunjuk gadis itu. Tatapannya beralih ke Teri yang menunjuknya, cowok itu mendadak panas dingin saat ditatap dengan tatapan tajam dari gadis itu.


Berdiri, menatap semua yang ada di sana. "Gue, gak suka kalian deket-deket gue, apalagi kumpul kaya gini ... GAK BERGUNA!" Teriak Gres memutar bola matanya malas.


Mendengar hal itu semua teman-temannya terkejut termasuk MB.


"Pasti ada kesalahpahaman, lo canda kan Gres?" tanya Latus sembari tertawa kecil.


"Menurut lo, sifat kalian itu ... Kekanak-kanakan," lanjutnya tersenyum sombong.


Merasa direndahkan Esa tidak terima, hampir mendorong Gres dihalangi Hafis.


"Jaga mulut lo!" Teriak Esa. "Kita selalu ada buat lo, lo anggep apa kita, selama ini?"


Tanpa menjawab pertanyaan dari sahabatnya, Gres pergi begitu saja disusul MB mengejarnya. Memegang tangannya, mencoba menenangkannya.


"Lepas!" Teriak Gres melepaskan tangan MB dengan kasar. "Urus aja, urusan lo sendiri!"


"Tapi Gres- "


Gadis itu pergi meninggalkan MB. Berjalan tergesa-gesa, namun sebenarnya. Hatinya hancur melakukan hal itu, tapi semua yang ia lakukan demi kebaikan teman-temannya dan demi MB.


***


Mengetahui segalanya tentang dirinya, Gres merasa gelisah tentang keputusannya. Ia pergi menemui Bibi Alisyah, saat berada di depan rumahnya. Tidak ada satu orang pun di sana, tetangga sebelah rumahnya memberi tahu bahwa orangnya sedang pergi ke rumah sakit dekat sini. Ia meminta alamat rumah sakit itu, menunggunya di depan pintu masuk rumah sakit.


Tiga jam berlalu Gres terus menunggu, orang yang ia tunggu muncul.


"Bibi Alisyah!" Panggil Gres berlari kecil ke arahnya.


Tapi Bibinya pura-pura tidak mendengarnya dan terus berjalan sembari menunduk memegang erat tas dompetnya.


"Bibi Alisyah, aku ingat semuanya ... " ucap Gres.


Bibinya pun menghentikan langkahnya meski gemetaran, menatap Gres.


Memegang kedua tangan Bibinya. "Bi, bagaimana mungkin ... Bibi merahasiakan ini dariku. Sejak aku ditemukan di dalam got, mengapa tak memberi tahuku?"


"Mari ikut Bibi," ajaknya.

__ADS_1


Mereka berdua pergi ke dalam rumah sakit, menuju salah satu ruang paling ujung pojok rumah sakit. Gres ingin bertanya, namun saat melihat Bibi tampak serius ingin menunjukkan sesuatu. Hanya bisa terdiam dan mengikuti setiap langkah, yang ditunjukkan Bibinya. Saat masuk ke dalam ruangan itu, tiba-tiba gadis itu bergemetaran tanpa sebab.


Seorang pria berumur empat puluh tahunan terbaring lemah diruangan itu, di atas mulutnya terpasang alat bantu oksigen.


"Pa-paman ... " air mata pun tak sanggup lagi terbendung. "Paman!"


Memeluk erat paman kesayangannya, menangis tanpa henti, melihat keadaan penyemangat dalam kehidupannya terbaring lemah.


"Ini alasannya ... kenapa Bibi tidak memberi tahumu yang sebenarnya," mendekati Gres. Dia memegang tanganya, menangis dihadapannya. "Pamanmu koma saat kejadian itu, kata dokter kecil kemungkinan dia akan sadar kembali ... Tapi, Bibi yakin dia akan membuka matanya kembali,"


"Siapa yang menyebabkan semua ini, mengapa harus keluarga kita yang menjadi korban Bi, mengapa?"


"Waktu itu Bibi diculik, dan disekap disebuah gudang. Dia mengancam akan membunuh Bibi, jika pamanmu tidak membunuhmu. Saat itu pamanmu kesulitan untuk memilih kamu atau Bibi, pilihannya jatuh untuk menyelamatkanmu," menangis tidak sanggup lagi menceritakannya.


"Lalu apa yang terjadi setelahnya ... " kedua alis matanya ditekuk memperhatikan Bibinya serius.


"Apa kamu ingat? Saat kecelakaan itu terjadi. Mobil dari arah berlawanan tiba-tiba muncul, dan membuat mobil yang kamu tumpangi terjun ke dalam jurang,"


"Iya, saat itu aku akan pergi kepuncak untuk pemotretan,"


"Yang mengendarai mobil itu, pamanmu sendiri. Karena melihat Bibi babak-belur, berdarah. Pamanmu terpaksa melakukannya, dia sengaja terjun ke dalam jurang untuk mengakhiri hidupnya. Karena merasa bersalah padamu, Bibi yang telah memindahkanmu ke dalam got ... Agar kamu selamat, dari kejaran penjahat itu,"


"Siapa pelaku dibalik semua kejahatan, ini ..." Gres menjatuhkan dirinya ke lantai. "Siapa pun itu, dia akan mendapatkan balasan yang setimpal."


"Tidak ada yang tahu, hanya saja Bibi waktu itu tak sengaja memotretnya. Tapi, wajahnya tertutup tudung jaket warna hitam," Bibi Alisyah memberikan fotonya ke Gres.


"Inikan ... Dia aku ingat Bi, dia pernah menculikku sampai aku tertabrak. Dia berkata ingin membalas atas perbuatanku yang melukai perasaan putrinya yang bernama Sarah Sintiabela,"


Nama itu terasa tidak asing bagi Gres. Ia mencoba mengingat-ingat sesuatu.


"Kamu yakin, jika benar dia adalah ... Wulan Sintiabela. Istri kedua ayahmu, ibu tirimu,"


Gadis yang mengaku sebagai dirinya, dan juga ibunya adalah orang yang telah menculiknya. "Aku akan memasukkan dia ke penjara!"


Gadis itu akan segera pergi, tapi Bibinya menghalangi.


"Bibi mengerti, tapi kau tidak memiliki cukup bukti. Akan percuma saja, kau harus bersabar,"


"Bi, aku ingin menemui mama. Aku rindu padanya, ingin memeluknya,"


"Pergilah, katakan padanya kau sudah mengingat semuanya."


Gadis itu pun pergi ke rumah sakit jiwa setelah memeluk Paman dan Bibinya, sampai di sana Ibunya sedang duduk di atas tempat tidurnya. Dari luar jendela, tidak tahan menahan rindunya terlalu lama Gres membuka pintu memeluk erat Ibunya dari belakang.


"Mama!" Gres memeluknya semakin erat.


"Kris ... " ucap Ibunya.


Kedua pupil matanya membesar, hidungnya mengembang, gadis itu terkejut mendengar perkataan seseorang yang sangat ia rindukan. Ibunya memegang tangannya, meneteskan air mata.


Author :


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.

__ADS_1


See you, next part ➡


__ADS_2