Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Penggabungan Kelas


__ADS_3

Ibu MB mengetahui putranya satu sekolahan dengan Gres, dia memiliki sebuah rencana mengetahui berbagai aktivitas putra kesayangannya ini. Memanggil Gres mereka bicara empat mata ingin mengatakannya dengan serius, merasa ketakutan dipanggil secara tiba-tiba membuat Gres berpikir tak karuan.


Gres menundukkan kepalanya duduk di lantai, memegang pergelangan kaki Ibu MB sembari menahan tangis.


"Maaf, Nyonya. Karena saya putra anda hampir celaka, tolong maafkan saya, jangan pecat saya ... " ucap Gres memohon padanya.


Ibu MB memegang pundaknya, membantunya berdiri langsung menatap wajahnya.


"Kesalahan dia juga, Bunda cuma ingin kamu awasin apa saja kegiatan MB. Semua kejadian sekecil apa pun, ceritakan sama Bunda," Ibu MB memicingkan matanya.


Gres tersenyum menahan sedih, memeluk Ibu MB erat.


"Sudah-sudah, Bunda nggak menyalahkanmu atas kejadian yang menimpa kalian berdua," ucapnya dengan menepuk-nepuk pundak Gres pelan.


"Terima kasih, Bun," kata Gres mengangkat ringan bahunya.


"Iya." Jawabnya tersenyum.


Berangkat ke sekolah, setelah izin dari sakitnya


Bahagianya Gres diberi kesempatan tinggal di rumah yang amat megah dan mewah itu, menggendong tasnya dengan gembira berjalan loncat pelan. Melewati gerbang masuk dia terkejut, melihat siswa-siswi berhamburan kepapan pengumuman. Mereka saling bertatapan satu sama lain, bergumam malas melihat pengumuman itu yang secara tiba-tiba.


Ternyata ada perubahan kelas baru, seluruh siswa yang di cap kelas buruk. Mereka akan dipindahkan ke kelas MB, sejak dari awal harusnya begitu. Semua siswa bertanya-tanya siapa yang mampu melakukannya, Cery merasa risih tanpa berkomentar apa pun dia masuk ke dalam kelas.


Seseorang naik ke atas panggung, tidak lain adalah Ibu MB memegang toa.


"Perhatiannya para siswa, tidak ada lagi yang membedakan kelas lagi. Kalian semua sama, anak dari sekolah SMA BUBIN!" ucap Ibu MB turun dari sana.


"YEEEE!" Mereka bersorak gembira.


Hafis mendekati Gres. "Terima kasih, gue bangga jadi temen lo,"


"Udahlah Fis, bukan apa-apa kok. Sama sekali gak lakuin apa-apa, memang sudah seharusnya seperti ini, tidak ada yang saling membedakan. Tujuan kita yaitu sama-sama ingin lulus dengan nilai terbaik," jawabnya dengan seculas senyuman manis.


Latus mendekati mereka. "Kita satu kelas sama mereka, apa akan baik-baik aja?"


Tino merangkul leher Latus, hampir tercekik.


"Ngik!" Pekik Latus.


"Tenang aja, kan ada gue disamping lo," lanjut Tino.


Esa menjewer telinga sebelah kanan si rusuh itu, Tino meringis kesakitan.


"Gres, gue udah salah paham sama lo. Kita tetap jadi sahabat, kan?" seru Esa tak enak hati.

__ADS_1


Sudah salah mengenai Gres, dia menunduk sedih.


"Hmmm," Gres pura-pura berpikir sedikit lebih lama. "Tentu." Dia memeluk Esa dengan bahagia.


Mereka semua tersenyum melihat Esa yang dipeluk Gres sambil menangis.


MB melewati mereka Gres menarik tasnya dari belakang, membuat MB meliriknya sambil mengangkat alisnya. Dia tahu jika MB tidak suka disentuh, berjalan di depannya mengatakan. "Terima kasih, dan maaf sudah membuatmu celaka," ucap Gres menunduk sedih.


"Hmm, tersenyumlah," kata MB pergi meninggalkan mereka.


Mata Gres melotot, mulutnya membulat begitu pun yang lainnya lalu ia tersenyum.


"Wow! Tumben seorang MB mau diajak bicara. Gue harus bikin status nih difb, ig, wa dan twitter. Pasti banyak yang like tapi lebih banyak yang don't like, komentar negatif ting-ting kata pepatah ... Bla, bla, bla," Tino bergumam sendiri sampai girang menekan-nekan hpnya sembari bicara panjang kali lebar udah kaya rumus matematika.


Latus mendengus kesal, mengajak semua temannya pergi dari sana. Kecuali Tino cowok yang suka bicara kata pepatah tanpa titik koma, saat Tino menyadari tak terdengar satu napas orang pun, menengok.


"Sue, gue ditinggal sendirian. Orang lagi kasih masukan tuh dengerin, pahamin! Lah, ini ditinggalin." Lanjutnya tetap ngedumel sendiri.


Mereka yang meninggalkan Tino berada di kelas barunya, tadinya Gres duduk di sebelah Hafis. Melihat Esa hampir murung, Gres secepatnya pindah di sampingnya Latus. Memahami sahabat adalah hal yang diutamakan dalam dunia berteman, tanpa memahami mereka kita akan kesulitan bergaul alias mendapatkan sahabat. Benar atau tidak?


Masalahnya sudah selesai Tino datang dengan sejuta kata pepatah, terhenti saat yang lainnya sudah kebagian tempat duduk. Sedangkan dia masih mencari memandang ke sana kemari tangannya diangkat ditempelkan didahinya seperti sung gokong (kera sakti) mencari, pencariannya selesai saat menatap ketengah ada dua bangku kosong.


Duduk di sana tak lama kemudian MB datang, semuanya diam mematung. Saat dia mendekati tempat duduknya, Gres terus menatapnya. Begitu pun MB, cewek itu pun dibuat salting olehnya. Pura-pura bertanya pada sahabatnya tentang kasus maling pulpen, cowok angkuh itu pun duduk di sebelah si tukang gosip.


"Masyaallah, lo duduk di sini? Kenalin gue Tino," salam kenal tujuannya.


Namun MB buang muka lalu duduk.


"Kacang mahal, mahaaaal!" Jerit Tino keseluruh kelas.


Seorang cewek melempar kertas ke muka Tino, ternyata kertas itu berisikan brosur harga kacang saat ini. Harganya mulai menurun, dia menghembuskan napas berat. Menggenggam kertas sampai menjadi bulat, melemparnya ke arah pintu tanpa melirik karena kesal.


PLUK!


Kertas yang dilempar Tino mendarat tepat dikepala Pak Selamet. Guru mtk, yang dikenal sebagai guru yang paling killer, di antara guru yang lain. Tadinya Pak Selamet bersemangat mengajar, baru sembuh dari sakitnya. Tetapi, disambut dengan kertas yang menimpuk kepala botaknya, kertasnya sampai terpleset.


"SIAPA YANG MELEMPAR, KERTAS INI? MAJU SEKARANG JUGA, JIKA TIDAK ... KALIAN SEMUANYA BAPAK JEMUR DITENGAH LAPANGAN!" Suara Pak Selamet mengglegar keseluruh sudut penjuru kelas.


Semua yang berada di dalam kelas bergumam.


"DALAM HITUNGAN KE TIGA- "


Ucapannya terpotong, Latus berdiri. "Maafkan kami Pak,"


'Latus, dari awal perkataannya aja udah menandakan bantuin gue.' Batin Tino tersenyum lebar menatap Latus.

__ADS_1


"Tetapi, daripada Bapak repot-repot hukum kami semua. Lebih baik Bapak hukum dia, karena dia pelakunya." Latus menghakimi menunjuk ke arah Tino dengan segan.


Tino terkejut bukan main, wajahnya yang tadi tersenyum kini berubah menjadi nyengir tanpa sebab, saat dilirik oleh gurunya.


"Karena kamu masih baru di kelas ini, Bapak maafkan. Tetapi lain kali jangan harap, bisa lolos dari Bapak," Pak Selamet berdecak heran.


"I-i-iya Pak!" Berbicara terbata-bata.


Hobi MB membaca novel atau buku pelajaran, dengan membaca dapat menyibukkan dirinya untuk tidak terlalu memikirkan cinta pertamanya. Duduk di bangku taman dekat makam, membuka lembar demi lembar menemukan sepucuk surat. Dia mengambil dan membacanya dengan teliti, surat cinta dari Cery merasa malas melanjutkan kembali membaca novel.


Flashback On


"Apa yang lo baca?" tanya MB.


"Novel," ucap Kris. Mereka duduk di taman saat pertama kali mereka bertemu, MB ingin membaca buku yang di baca Kris.


Kris menutup bukunya, MB memandangnya dengan alis diangkat, pandangan tajam dan bibir dikerucutkan.


"Pelit!"


Kris menjulurkan lidahnya, menutup matanya lucu. MB menggelitikinya, mereka berdua kejar-kejaran.


BRUGH!


Kris terjatuh, MB membantunya lalu menggendongnya kembali duduk dibangku taman. Dia terluka lutut kirinya tergores sedikit berdarah, dia menahan tangis cowok itu meniup-niup kakinya pelan.


Memeluk Kris dengan hangat. "Maaf ya? udah bikin lo terluka,"


"Hmmm, hangat."


Melepaskan pelukannya, malah MB yang pipinya merah merona. Bukanlah Kris, mereka tertawa bersama.


Flashback off


"Sekarang gue gak bisa, liat lo tersenyum lagi. Jujur gue kangen banget, liat senyuman lo." Ungkap MB bicara sendiri sambil kepalanya bersandar dibangku.


Tersenyum sendiri menahan sedih lagi, untuk yang kesekian kalinya. MB merindukkan saat-saat bersama dengan Kris.


Author :


Cinta pertama memanglah sulit untuk dilupakan, tapi jangan sampai membuat hatimu tertutup untuk yang lainnya.


Ada kenangan lainnya yang belum terungkap ...


See you, next part ➡

__ADS_1


__ADS_2