
Sudah tiga hari berlalu, tetapi Gres belum masuk sekolah. Ia izin pergi keluar kota, pada hal gadis ini sedang memeluk boneka Doraemonnya sembari menangis.
Latus sangat sedih dengan menghilangnya sahabatnya, Esa meneruskan untuk mendekati Hafis. Saat Latus sedih, diam-diam Tino memperhatikannya. Saat sahabatnya yang lain sibuk sendiri, Tino menggenggam tangannya pergi ke taman.
"Latus jangan sedih, gue merasa gak tenang liat lo kaya gini," kata Tino langsung memeluknya.
Matanya membulat, mulutnya melebar.
"Apa yang lo lakukan, Tino?" tanya Latus terkejut.
"Jika ingin lepas dari pelukan gue, jangan nangis lagi ... Ngerti," Tino menatapnya serius.
"Baiklah, gue ngerti ... Jadi lepas kalau ada yang liat gimana?"
"Biarin, biarin aja mereka tahu. Biar lo malu, terus gak nangis lagi,"
Mereka berdua mulai bersimpatik.
Kris mendekati MB. Menatapnya beberapa kali, lalu mengambil kesimpulan.
"Gue liat dari tadi ... " ucap Kris.
"Kris, gue gak mau kehilangan lo ... Apa pun akan gue lakukan, yang penting lo tetap di samping gue," ucap MB memegang tangan Kris hampir meneteskan air mata.
Gadis yang sedang menatapnya mengangguk.
'Kris memanglah gadis yang beruntung, pada hal MB tidak tahu wajah gadis itu ... Tapi dia sangat tulus mencintaiku, tanpa penilaian sedikit pun. Apa yang aku lakukan ini, benar?' batin Kris.
Satu minggu pencarian demi pencarian dilakukan oleh banyak orang-orang yang perduli padanya, malam hari samping taman sekolah MB melihat seorang gadis berjalan sempoyongan. Membuatnya penasaran, mendekatinya memastikan sesuatu. Gadis itu akan menjatuhkan dirinya ke tanah, dengan sigap cowok yang memperhatikannya menangkap tubuhnya.
Saat memandang siapa yang ia tangkap, betapa terkejutnya MB. Ternyata gadis itu orang yang selama ini ia cari, Gres memandangnya hampir menangis. Satu dekapan terasa hangat ditubuh gadis yang sedang dipeluknya, ingin membalas pelukannya namun karena terkejut membuatnya berhenti sejenak.
"Aku merindukanmu ... " satu kata terucap dari mulut MB.
"Kenapa? Kenapa ... Aku hanya sedikit lelah, dan ingin secepatnya melupakanmu ... Tapi semakin aku menghindarimu, maka aku semakin merindukanmu. Tapi, kenapa kamu harus katakan hal itu, sekarang?"
MB melepas pelukannya, membuat Gres sedikit terkejut.
"Jangan Gres, aku mohon ... Tetaplah disisiku, aku ingin memastikan sesuatu. Kenapa aku merasa Kris bukanlah Kris, dia sangat berbeda jadi ... Sebelum aku memastikannya tetaplah bersamaku."
Satu tetes air mata meluncur melewati kedua pipinya, Gres hampir tumbang. MB membawanya ke dalam mobilnya, mereka pulang ke rumah. Sampainya di rumah, cowok yang sangat mengkhawatirkan gadis yang sedang pingsan. Ia menggendongnya, banyak pelayan yang merasa iri pada gadis yang digendongnya. Membawa Gres naik ke atas tangga, menuju kamarnya.
Merebahkan Gres di atas tempat tidurnya, lalu teringat saat gadis itu tak sengaja mencium pipinya. Ia terus memandangi wajah Gres, memperhatikannya.
CUP!
Satu kecupan manis mendarat di jidat gadis yang masih menutup matanya, Fajar tak sengaja melihat kejadian itu. Saat MB menciumnya, Adiknya membuka pintu tanpa mengetuk. Secepatnya menutup pintu, dengan perlahan agar Kakanya tidak menyadari kedatangannya. Melangkah mundur, berbalik sambil menahan tawa lari keluar dari kamar Kakanya.
"Kali ini pasti Kaka akan malu, jika Gres tahu dia diam-diam dia menciumnya." Lanjut Fajar mengumpat. "Wah! Ini akan menjadi senjataku yang paling ampuh, lihat saja nanti Kak."
Tertawa kembali.
***
__ADS_1
Terbangun dari pingsannya semalaman, ia belum membuka matanya mendengus dan memeluk bantal yang empuk itu.
"Kenapa aku merasa, tidur di rumah orang kaya ... " kata Gres. Ia membuka matanya, menatap kaget isi ruangan itu. "Astagfirullah aladzim, aku ada di mana? Perasaan tadi malem aku pake baju warna hitam ... Ko sekarang baju tidur?!"
Asyik dengan khayalannya yang hampir negatif.
Tok ... Tok ... Tok.
Seseorang mengetuk pintu, Gres membukanya.
"Nona silakan mandi dan ganti pakaian anda dengan seragam sekolah," ucap Kepala Pelayan memberinya peralatan mandi dan seragam sekolah.
"Tapi ini aneh ... " ucap Gres sedangkan kepala pelayan pergi dari sana.
Turun dari tangga sangat berhati-hati, ia melihat meja makan di depannya. Gres merasa bingung, akhirnya ia mengetahui sedang berada di mana. MB menatapnya, ia menatapnya memutar bola matanya memandang bangku kosong yang ada di depannya. Gadis yang sangat kebingungan itu, duduk disebelah Fajar.
Awalnya mereka makan dengan tenang tapi saat Fajar angkat bicara, semuanya menjadi malu.
"Ehmm," Fajar mendehem. "Tadi malam Kaka tidur, di mana? Apa Kaka tidur satu kamar dengan Gres?"
"Oho, oho." Gres batuk pipinya memerah.
MB mengambilkannya minum.
"Kau tidak apa-apa?" tanya MB.
"Iya, aku baik-baik saja," jawab Gres tak berani menatap wajahnya.
Satu tebasan telapak tangan melayang ke atas kepala Fajar.
"Aduh! Sakit Kak!" Jerit Fajar mendengus kesal.
"Tadi malam Kaka tidur disebelahmu, kau tidak menyadarinya ... Kau mendorong Kaka beberapa kali hingga terjatuh, dengan kedua kakimu itu," MB sangat kesal kepadanya, mencoba mengalihkan objek yang telah dibuat Adiknya.
Gadis yang duduk bersama mereka tertawa tanpa henti.
"Bukan hanya itu saja, kau tidur sambil mendengkur ... Kaka benar-benar tidak bisa tidur karenamu, lihat kantong mata Kaka menghitam bukan," lanjutnya sambil menunjukan kantong matanya yang tampak menghitam.
'Sialan! Aku kalah telak, tapi lain kali Kaka akan menerima kekalahannya liat saja nanti!' Batin Fajar pergi meninggalkan meja makan.
"Haki, apa dia akan baik-baik saja? Dia sampai meninggalkan meja makan, bahkan dia belum menghabiskan makanannya," ucap Gres merasa MB telah kelewatan terhadapnya.
"Tenanglah, anak itu memang suka baper ... Nanti jika merasa lapar secara diam-diam akan segera kemari."
Baru saja mereka membicarakannya, Fajar kembali duduk dan makan dengan santai. Melupakan dosa juga masalahnya tadi.
"Percayakan?" tanya MB.
"Hmmm." Gres tersenyum kecil.
"Apa? Kalian membicarakan apa? Aku ini gak mudah marah, tenang aja," kata Fajar melanjutkan makan.
'Aku merasa sedang makan bersama keluargaku, Gres apa yang kamu pikirkan! Berhentilah, jangan kebanyakan mimpi.' Pikir Gres di dalam hati.
__ADS_1
Setelah selesai makan, MB membukakan pintu mobil untuk Gres. Ia masuk ke dalam mobil, cowok itu mengendarai mobil. Bukannya pergi ke sekolah, tapi mereka pergi ke rumah sakit jiwa. Seribu pertanyaan membludak di kepala Gres, kalau mau ke tempat lain. Kenapa harus memakai seragam sekolah? Ingin rasanya menggeplak kepala cowok angkuh yang sedang memparkirkan mobilnya.
Sekarang cowok itu memasuki pintu depan, terpaksa Gres hanya bisa mengikutinya dari belakang. MB berhenti di depan salah satu pasien di sana, suster keluar dari sana. Menanyakan bisa membesuk atau tidak, suster itu mengizinkan mereka masuk.
"Ibu, aku datang ... Bagaimana keadaanmu?" tanya MB memegang tangannya.
"Kris!" Panggil wanita setengah parubaya. Ia memeluk Gres, sembari menangis.
"Haki, apa yang ... " ucapan Gres terpotong.
"Dia Ibu Kris," ucap MB.
Kedua mata Gres membulat, menatapnya.
"Biarkan dia memelukmu, dia sangat merindukan putri yang sangat dia sayangi," lanjutnya.
Gres membalas pelukan Ibu Kris, menepuk-nepuk pundaknya pelan.
"Putriku sudah kembali, bagaimana kau menemukan putriku?" tanya Ibu Kris.
"Aku hanya menelusuri jalan lalu menemukannya," MB mencoba menjawabnya sambil bergurau.
"Memangnya, aku ini anak hilang?" kata Gres kembali dibuat kesal.
"Husst." MB mendesis menatapnya.
Mereka keluar dari sana.
"Apa dia selalu memeluk dan menganggap semua gadis sebayaku lalu menganggapnya sebagai putrinya?"
"Tidak, ini baru pertama kalinya ia bersikap seperti itu."
"Apa Kris sudah menemuinya?"
"Sudah, tapi tidak ada reaksi apa pun, aku curiga dia bukan Kris. Karena bagaimana pun juga, seorang Ibu yang merindukan anaknya. Enggak akan salah, saat mengenali putrinya dan aku ingin ... Kamu mengunjunginya, beberapa kali dalam satu bulan,"
"Pendapatmu ada benarnya, tapi ... Apa hubunganku dengan Ibunya Kris, mengapa dia memelukku sangat erat. Bahkan aku sampai menangis, karenanya?"
"Itu tidak penting, yang penting sekarang, kita harus pergi ke sekolah,"
"Iya, aku sudah melewatkan pelajaran beberapa hari. Aku pasti tertinggal banyak,"
"Ayo."
MB memegang tangan Gres.
'Ini sangat melelahkan, namun menyenangkan.' Batin Gres.
Author :
Gak bisa bicara panjang lebar nih, cuma mau bilang makasih banyak karena udah mau baca ceritanya ...
See you, next part ➡
__ADS_1