
"Haha." Gres langsung tertawa.
Membuat MB terkejut, menghilangkan pandangannya pada gadis itu.
"Saya dari kecil tinggal di kampung Bang, baru kali ini aja pindah ke kota karena sekolah," lanjut Gres mengarahkan senyuman padanya.
"Oh begitu, tapi kalau si tampan ini gimana?" tanya Abang bakso.
MB menundukkan kepalanya.
"Iya memang saya, tapi gadis kecil yang disamping saya waktu itu. Bukanlah dia, namanya Kris. Dia sudah tiada," kata MB masih dalam keadaan menundukkan kepalanya.
Sungguh melihat lelaki yang dicintainya patah semangat seperti itu membuatnya begitu sedih, seandainya saja tidak ada bahaya. Pasti Gres akan mengungkapkan identitas yang sebenarnya, ia juga ingin berteriak bahwa Kris ada disampingnya saat ini.
Menahannya untuk sesaat, Gres izin pergi sebentar ke taman yang berada di sana. Ia duduk di sana sendirian, hanya merenung.
Aneh dengan sikap Gres yang secara tiba-tiba meninggalkannya, MB pergi menyusulnya. Gadis itu sekarang sedang menatap kosong ke atas langit sambil mengeluarkan air mata. Tes, setetes air mata turun dari pipinya. Hal yang aneh terjadi lagi pada MB, jika melihatnya menangis entah kenapa ia juga ikut menangis.
Sinar matahari yang menyilaukan, Gres sempat mengedipkan matanya beberapa kali, mengerutkan keningnya, dengan telapak tangannya ia menghalangi sinar matahari yang membuat wajahnya silau.
Tiba-tiba seperti ada bayangan di atas kepalanya, membuatnya menurunkan tangannya takut mendung. Terkejut bukan main, saat ditatapnya MB ada dihadapannya sedang menatapnya.
Secepat mungkin Gres menghapus air matanya. Ia sibuk menghapus air matanya sendiri, sedangkan MB menjatuhkan air matanya didahadapannya. Sontak membuatnya terkejut kembali, berdiri kedua kakinya maju selangkah dihadapannya.
Gres melentangkan kedua tangannya, lalu mendekap tubuh MB sangat erat.
Lelaki itu sempat terkejut, namun entah mengapa ia tak mampu mendorong Gres menjauh darinya. Apa mungkin ia juga membutuhkan sebuah pelukan, menenangkan dirinya sesaat.
"Kamu pasti sangat merindukan Kris, sampai menangis dihadapan ku. Jujur pertama kalinya aku melihatmu menangis seperti ini, Haki, aku mohon lupakanlah Kris. Tak usah terburu-buru, secara perlahan aja. Kamu harus menemukan penggantinya, aku gak bisa melihatmu serapuh ini. Aku ... Aku- " kata Gres melepaskan pelukannya.
MB menarik tubuhnya pada posisi semula, ia membalas pelukannya sambil menangis.
Gres hanya bisa menepuk-nepuk pundaknya pelan, suara bel sekolah terdengar dari sana. Menghancurkan lamunan mereka berduka, secepatnya MB menarik tangannya pergi dari sana. Mengingat belum bayar, ia kembali ke sana.
"Bang jadi berapa semuanya?" tanya MB.
"Kamu mau ngapain, aku ada uang ko. Gak usah repot-repot, aku bayar sendiri," kata Gres dengan tegasnya.
"Gak, biar aku yang bayar. Aku kan belum pernah traktir kamu!" Tegas MB sampai berteriak.
Mereka malah mau adu mulut gegara siapa yang bayar, dan traktir.
"Haha, kalian lucu sekali. Bakso hari ini gratis, dan terima kasih atas kunjungan kalian," kata Abang bakso.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kita seperti melupakan sesuatu," ungkap Gres mencoba mengingat.
"Sekolah!" Sontak secara bersamaan mengatakannya.
Mereka berdua terus berlari sampai di depan sekolah. Aneh sekali biasanya ada penjaga gerbang di sana, tak ada siapa pun. Menelusuri jalan, seseorang muncur secara tiba-tiba membawa penggaris panjang kecoklatan, kepala botak, badan besar tinggi. Dia adalah ...
"Pak Selamat!" Jerit Gres dan MB bersamaan.
"Kenal juga sama guru kalian, ikut saya!" Kata gurunya membentak mereka berdua.
Kedua orang itu mengikuti gurunya yang berada dilapangan, Pak Selamat menyuruh mereka menghadap, hormat ketiang bendera.
"Ini adalah hukuman bagi kalian, siswa yang suka keluyuran keluar dari sekolah. Tanpa seizin dari guru, saya akan awasi kalian dari kelas. BAY!" Suaranya memekik gurunya meninggalkan mereka di sana.
"Kamu bilang akan datang tepat waktu," MB bertanya sambil sedikit menyindirnya.
"Siapa suruh Abang bakso cerita, tentang masa kecil kamu," kata Gres memanyunkan bibirnya.
"Tapi kamu kepo, kan?" pangkas MB bertanya kembali lalu menggodanya.
"I- iya sih, tapi kamu juga sedih. Ya aku ikut sedih, aku sangat mengerti perasaanmu. Sangat, memahami perasaanmu," Gres bicara apa yang ada di dalam hatinya, ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
Setelah mendengar gadis itu mengatakan yang sejujurnya, MB merasa bahagia lalu tersenyum.
"Hmmm, sudah kukatakan. Jika melihatmu sedih aku juga ikut bersedih, aku hanya merasa, aku dapat mengerti kamu," ucap Gres menundukkan kepalanya karena kepanasan.
Berjalan selangkah maju ke depan, MB kini tepat berdiri dihadapannya. Gres mendongak ke atas, mereka kini saling bertatapan susana semakin tegang saat MB bertanya padanya.
"Mengerti perasaanku? Tahu apa kamu?!" Sontak MB sedikit menaikan suaranya.
Gadis itu hanya terdiam tanpa menjawab.
"Kamu gak akan bisa memahami perasaanku, dan gak akan pernah bisa memahami diriku, mengerti!?" Bentak MB padanya dengan wajah marah.
"Aku sungguh mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan seseorang, yang sangat kita cintai. Karena aku juga pernah ada diposisi itu, aku- aku,"
"Begitukah, siapa orang yang sudah meninggalkanmu?" memotong perkataan Gres menatapnya.
'Jika aku bisa menjawab jujur, aku pasti akan berteriak. Lalu mengatakan nama lengkapmu, dihadapanmu sambil berteriak.' Batin Gres di dalam hatinya.
"Sudahlah itu gak penting, mungkin memang benar. Aku enggak mengerti dan memahami apa yang kamu rasakan," Gres mulai pasrah, tidak ingin melanjutkan perdebatan dengannya.
Karena percuma jika berdebat dengan MB. Gres hanya akan kalah telak, ia paham betul sifat seseorang yang sangat dicintainya.
__ADS_1
"Siapa kamu sebenarnya, akan lebih baik jika kamu jujur padaku?!"
"Tentu saja aku ini teman sekelasmu, namaku Gresnalia Putri,"
Lelaki itu akan mengajukan pertanyaan kembali padanya, Tino berteriak minta tolong. Mengejutkan mereka berdua yang sedang berdebat, bahkan bukan hanya cuma Tino. Tetapi semua orang yang berada di sekolah itu, teriak minta tolong.
Gres dan MB saling bertatapan. Mereka lari bersama melihat sekitar, keadaan di sana sangat mengerikan. Beberapa diantaranya ada yang sampai muntah, beberapa menit kemudian puluhan mobil ambulans tiba.
"Latus, ya ampun apa yang terjadi?" tanya Gres padanya.
"Gak tah- " kata Latus pingsan.
"Tus," kata Gres panik lalu melihat Esa terkapar disamping Tino. "Esa, Tino! Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" Gres menangis memeluk sahabatnya.
Panik bukan main, mereka semua tergeletak di sana. Bahkan ada salah satu guru yang ikut tergeletak, Pak Joko. Kami semua yang berada di sana bingung harus bagaimana, cara mengangkat dan dipindahkan ke mobil ambulans. Percayalah tubuhnya sangat bulat, sehingga membuat kerepotan semua petugas. Mereka bekerja sama untuk dapat mengangkutnya, di bawah tubuhnyanya terdapat sebuah papan roda pendek.
Pada akhirnya diangkut secara paksa dengan mobil derek, mereka bersorak begitu bahagia setelah mencoba mencari cara satu jam lamanya. Akhirnya berhasil.
Para orang ambulans mulai mengangkat mereka, MB ikut dan Will juga ikut membantu di sana. Perlahan mereka semua dievakuasi, Gres mengepalkan kedua tangannya dengan tubuh bergetar.
MB yang melihat hal itu tak tega, ia mendekat. Namun Will langsung memeluk gadis itu di sana, mencoba menenangkannya.
'Kak Will, apakah kau benar-benar menyukai Gres?' Batin MB bertanya.
Polisi datang di tempat kejadian perkara, beberapa polisi berpencar memasang garis polisi di kantin dan beberapa kelas.
Sekolah mungkin akan diliburkan beberapa hari ke depan, beberapa orang yang selamat di sana diintrogasi satu persatu, termasuk kepala sekolah di bawa ke kantor polisi.
Gres, MB, Teri, Ceri, Will dan beberapa orang guru ikut di bawa ke kantor polisi. Diperjalanan Gres tak henti-hentinya menangis, MB dan Will akan duduk disebelahnya. Keduluan oleh Cery yang berusaha menenangkannya.
"Kita cuma ditanyain beberapa pertanyaan kok, lo gak usah khawatir," ucap Cery memegang tangannya.
Sontak membuat MB dan Will terkejut melihat prilaku Cery, karena kejadian kemarin yang pernah terjadi di antara mereka.
"Bukan itu yang aku khawatirkan Cer, tapi ketiga sahabatku sedang berusaha melawan sakit. Aku gak bisa tenang, sebelum mengetahui keadaan mereka," jelas Gres tetap menangis.
Author :
Cery benar-benar baik? Serius? atau hanya sebagai akal-akalannya saja yang licik?
Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡
__ADS_1