Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Mencoba Menyesuaikan


__ADS_3

Keluarga yang sudah membantu Gres ternyata selama ini diam-diam menyembunyikan kekayaannya, mereka pindah ke rumah sederhana. Namun keinginan kepala rumah tangga yaitu suaminya pemilik rumah ini, menginginkan keluarganya pindah kerumah yang amat megah dan mewah bagaikan di istana.


Saat itu MB sedang ke atas balkon rumahnya, memandang ke bawah samping kamar lain sekilas melihat wanita berambut panjang hitam muncul. Mengkedipkan kedua matanya sekali, ternyata cewek itu menghilang membuatnya sedikit keanehan.


MB turun dari kamarnya, sudah waktunya makan malam dia merasa haus dan mengambil segelas air. Kebetulan saat dia turun dari tangga belok kiri, lurus terus pintu menuju ke dapur.


Tali sepatu MB lepas, dia menurunkan tangannya, jongkok, menunduk melihat kakinya sembari mengikat tali sepatunya.


CKLEK!


Pintu terbuka seseorang berambut panjang baru saja masuk memakai baju belang hitam, celana jeans dan rambutnya terurai. MB mengikutinya dari belakang, tiba-tiba gadis itu menghilang.


Brugh!


Pintu belakang dapur tertutup dengan sendirinya, membuat MB sedikit terkejut. Dia segera mengambil gelas, membuka kulkas, mengambil botol air, menuangkannya ke gelas, meneguknya secepat kilat, keluar dari sana tergesa-gesa.


"Kaka kenapa lari, tumben?" tanya Fajar merasa keheranan.


MB tetap diam tanpa menjawab pertanyaan Adiknya itu, dia duduk di bangku meja makan. Mengunyah makanannya secepat mungkin, setelah selesai dia naik ke atas tangga menuju kamarnya. Ibu dan Fajar saling tatap-menatap, merasa aneh dengan sikapnya.


Pagi harinya pukul enam pagi MB ingin menghirup udara segar, dia menuju ke atas balkon rumahnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat banyak jemuran, pakaian dalam cewek. Ada beha, ada ****** *****, baju dan masih banyak lagi di sana. Merasa muak ia turun dari sana, bersiap-siap pergi ke sekolah.


Merasa pusing Gres meminjam telepon rumah, menghubungi Latus. Dia tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah, Latus manggut-manggut setuju. Memberi tahu Hafis, tentunya Esa yang siap bertugas agar bisa bertemu sang pujaan hatinya.


Masih penasaran dengan apa yang MB lihat, mulai dari cewek berambut panjang, secara tiba-tiba menghilang tepat di hadapannya, dan banyak jemuran di atas balkon. Dia memutuskan menyelidikinya secara mendetail, males bertanya pada ibunya terlebih adiknya yang suka nyerocos tanpa titik koma.


Merasa tak enak hati numpang di rumah semewah ini, tanpa melakukan apa pun pula, membuatnya bosan. Akhirnya dia memutuskan menemui bunda yang telah membantunya.


Gres mendekatinya. "Nyonya, maksudku Bunda," ucap Gres sedikit tegang mengucapkannya.


"Aku gak enak tinggal di sini tanpa membantu apa pun, Bun. Aku mau jadi salah satu pelayan di sini. Setidaknya aku membantu, dan mungkin layak tinggal di sini," lanjutnya sambil meminta pekerjaan


"Kamu serius?" ucap Bunda bertanya memandang Gres.


Dia mengangguk menandakan jawabannya iya.


"Baiklah, tetapi jika membutuhkan sesuatu bilang saja pada kepala pelayan,"

__ADS_1


"Baik Bunda." Gres sumbringah.


Gres mulai memakai pakaian pelayan.


Mendekati Kepala Pelayan, Gres mulai diajari menyiapkan makanan, membuat teh secara benar, dan melihat jadwal pagi, siang dan malam. Apa saja yang harus dilakukan, mulai dari pagi sampai malam.


"Kamu harus melayani tuan muda, secara hati-hati." Tegas kepala pelayan berjalan menuju kamar tuan muda.


Gres mengikutinya dari belakang, banyak pelayan lainnya berkumpul di sana. Baru saja Gres memandang depan pintu kamar itu.


PRANG!


CRANG!


GEDEBUK!


BRUGH!


Suara itu mulai terdengar, salah satu pelayan keluar dari sana sambil menangis. Piring dilempar, gelas, dan terakhir nampan. Keributan ini sudah biasa terjadi,  dikarenakan tuan muda mereka tidak mau makan. Alasannya dikarenakan setiap pagi pada saat hari minggu, dia diwajibkan ikut. Namun ia enggan ikut pemotretan, tetapi itulah kegiatan rutin yang dilakukan keluarganya.


Betapa Syoknya Gres melihat pemandangan yang jarang dilihat itu, bagaimana tidak? Semuanya pecah, hancur berantakan. Terlebih membuat pelayan menangis, terakhir kali Gres membela orang lain dia yang akan mendapatkan masalah. Kali ini memilih akan diam saja, takut kehilangan pekerjaan dan tempat tinggalnya.


"Aku jadi takut saat giliranku tiba nanti, apa aku akan keluar dari kamarnya hidup-hidup ya?" Gres membayangkan kematian RIP. "Aaah tidak! Jangan sampai aku masuk ke sana."


Jam tujuh malam, MB merasa merindukan cinta pertamanya. Tanpa berpikir panjang dia naik ke atas balkon yang begitu luas, sampainya di atas melihat jemuran kain putih. Terpasang rapi di sana, dia juga tidak sengaja melihat cewek berambut panjang berdiri ditengah-tengah jemuran itu.


Angin terus bertiup, membuat jemuran itu beterbangan di tempat. Sedikit demi sedikit wajah gadis berambut panjang yang membuat MB penasaran mulai terlihat. Tanpa sadar kakinya melangkah dengan sendirinya, mendekati sosok gadis itu. Tangannya memegang kain yang satunya menempel ke wajahnya, menyingkirkan kain itu dari wajahnya dia mulai melihat jelas gadis itu.


Mereka saling bertatapan satu sama lain, kain menutupi wajah Gres. Membuatnya kesulitan menatap dengan jelas, siapakah seseorang yang sedang berdiri dihadapannya. Saat dia membuka kain putih itu, matanya membulat, mulutnya ternganga dan detak jantungnya berhenti sedetik. Wajahnya dan wajah pria itu sangat dekat, ternyata dia MB sedang menatapnya serius.


"Apa yang sedang lo, lakukan di sini?" ucap MB melangkah semakin mendekatinya.


"Bagaimana kamu tahu, aku tinggal di sini?"


Terpaksa karena terpojok Gres melangkah mundur, terdiam hal yang paling mudah ia lakukan saat ini. Mencoba mengatur pernapasannya secara perlahan, MB malah melangkah maju mendekatinya.


"Jangan mendekat," ucap Gres menutup matanya sembari mengangkat kedua telapak tangannya berisyaratkan stop.

__ADS_1


"Terlalu lama lo menjawab pertanyaan gue, maka semakin lama juga lo tertahan di sini," ucap MB mencoba menggodanya.


Gres tersenyum menahan rasa malunya. "Akhirnya, kau tetap menunggu gak ninggalin aku. Seperti yang kamu lakukan sebelumnya, kini kau akan pergi setelah aku memberi jawaban,"


"Kalau begitu, katakanlah,"


"Aku bekerja di sini, sebagai pelayan. Jika tidak percaya tanyakan saja pada bunda, dia pasti akan memberimu jawaban. Tetapi, sebelum itu ... akan aku panggil tuan muda, karena kau menerobos masuk tanpa izin,"


Berani-beraninya dia panggil ibunya bunda, mau lapor sama tuan muda lagi?


MB tersenyum datar. "Panggilah, gue mau tahu dia dateng apa gak?!"


"Denger ya? Dia itu pria yang kejam," Gres menyimpulkan semua itu pada saat hari pertamanya melihat pelayan keluar, sampai menangis dari kamar tuan muda.


"Kau pasti akan menyesal." Ketus Gres dengan semangat.


Beberapa detik kemudian Kepala Pelayan naik ke atas menyusul tuan muda, dengan percaya diri Gres memanggil tuan muda itu. Meskipun dia sendiri tidak tahu namanya, tetapi dia tetap berusaha meyakinkan pria yang berada dihadapannya.


Baru saja beberapa langkah menaiki tangga seseorang memanggil.


"Tuan muda, nyonya menyuruhmu turun," kata Kepala Pelayan turun ke bawah sembari menatap Gres, mengkedipkan mata kirinya memberi isyarat cepat turun ke bawah.


Mendengar pernyataan itu, Gres syok berat. Kepala pelayan sudah duluan ke bawah, dia menunggu tuan mudanya turun ke bawah.


'Jadi, MB adalah tuan muda yang kejam itu. Alamat sudah, masa depanku suram.' Batin Gres menelan ludah susah payah.


"Urusan kita belum selesai." MB turun dari sana disusul Gres dibelakangnya.


'Apa, dia sedang mengancamku sekarang?' batin Gres memanyunkan mulutnya sembari menunduk.


Secara tiba-tiba MB berhenti mendadak saat menuruni tangga, Gres yang tidak menyadari hal itu. Tubuhnya menabrak, tubuh belakang MB, kaki MB tergelincir saat mereka akan segera tumbang. Refleks tanpa sadar cowok itu memeluknya, mereka terguling jatuh ke bawah bersamaan. Gres dan MB pingsan, semua orang berteriak bergegas menyelamatkan mereka.


Author:


Baru dimulai nih ...


Rasa simpatik antara mereka, atau kebencian?

__ADS_1


See you, next part ➡


__ADS_2