
Kedua bola mata Gres melotot, mulutnya terbuka lebar, alis terangkat.
"Kamu kenapa?" kata MB menatapnya.
Ucapannya terpotong saat wanita itu menutup matanya, tak sadarkan diri. MB menggendongnya, membawanya ke kamarnya. Semua pelayan yang melihat kejadian itu saling berbisik, mereka membicarakan hubungan terlarang antara tuan dan pelayan pribadinya.
Tak sampai disitu saja, bahkan Fajar melongo menatap Kakanya yang begitu penuh kasih sayang padanya. Apakah Gres bisa membuat Kakanya sehangat dulu, sebelum cinta pertamanya Kris tiada. Dia sangat berharap pada gadis itu, karena dia tahu selama ini sejak kejadian tragis yang menimpa Kakanya.
Dia sama sekali belum pernah sekalipun berhubungan dengan perempuan mana pun. Fajar sangat berharap padanya, semoga saja harapan dia dan ibunya dapat diwujudkan melalui gadis itu. Yang saat ini digendong Kakanya. Dia melangkah ke kamarnya.
"Tapi tunggu, Kaka mau bawa Gres ke mana?" kata Fajar tiba-tiba berhenti menghentikan niatnya pergi ke kamarnya.
Karena Fajar tahu betul, Kakanya membawa gadis itu bukan ke kamar pelayan. Melainkan kekamarnya? What's?
"Apa-apaan Kaka ini, astaga. Jadi dia sengaja melakukannya, biar bunda saja yang urus. Haha." Lanjutnya pergi ke kamar Ibunya.
Tiba di dalam kamar. MB membaringkan gadis itu dikasurnya, ia memandangnya dengan tatapan sendu. Ternyata selama ini ia memakan masakannya yang membuat nafsu makannya meningkat, bukan hanya itu saja. Gres rela bergadang semalaman, hanya untuk menyalin pelajaran kebukunya.
"Gadis yang aneh." Decih MB menjauhkan wajahnya darinya.
Ia langsung menelpon dokter pribadinya, siap siaga dokter pun diberi tempat tinggal disamping rumahnya. Hanya memerlukan beberapa menit, dokter sudah ada di sana. Tetapi dokter itu merasa bingung, sepertinya gadis yang sedang berbaring dikasurnya. Bukanlah anggota keluarga, lalu kenapa harus repot-repot memanggil dokter pribadinya?
Dokter itu hanya berdiri diam di sana, sambil mencoba mengingat gadis cantik nan manis berbaring di atas kasur.
"Dok, kenapa tidak diperiksa?" tanya MB memperhatikan dokter yang terdiam.
"Begini, menurut peraturan dikeluarga M. Saya selaku dokter pribadi tidak boleh ikut campur, dalam masalah orang yang tidak ada kaitannya dengan keluarga. Apakah dia pacarmu?" ucap Dokter bertanya padanya.
"Bukan," kata MB menjawabnya dengan santai.
"Kalau begitu saya tidak bis- " protes dokter.
"Tapi, dia akan menjadi pacarku," potong MB menatap gadis itu.
"Apa?!" Teriak Ibu dan Adiknya secara bersamaan, yang berada di pintu.
"Dokter bagaimana keadaan calon menantu saya?" kata Ibu MB berlari duduk disebelah gadis itu.
Kedua bola mata MB melotot, menatap Ibunya yang bertingkah konyol.
"Saya akan segera memeriksanya, tolong semuanya keluar dari ruangan." kata Dokter.
"Baiklah," kata Ibu MB.
Mereka bertiga keluar dari kamar MB.
"Kaka ini hebat sekali ya? Bisa mendapatkan gadis yang begitu cantik dan imut," beber Fajar menggodanya.
__ADS_1
"Bunda sudah mengira ini akan terjadi, pokoknya Bunda akan merencanakan pernikahan yang indah buat kalian," timpal Ibunya mengetik-ngetik handphone nya mencari gaun pengantin.
MB merebut handphone Ibunya, lalu mematikan handphone nya.
"Dia belum menjadi pacarku, belum tentu juga dia akan menjadi pacarku," celoteh MB menjawab dengan santai.
"Jangan bilang Kaka ingin memberi harapan palsu padanya?" hardik Adiknya Fajar.
Karena jika hal itu sampai terjadi, Fajar tidak akan memaafkan Kakanya. Bagaimana pun juga, Gres adalah satu-satunya wanita yang dapat mengubah sifat Kakanya jauh lebih baik, secara perlahan.
Ibunya langsung menatap MB serius.
"Kaka bukan cowok rendahan seperti itu,"
"Lalu apa?" tanya Ibunya.
Dijawab satu kali. Serangan ribuan pertanyaan bertubi-tubi yang akan didapat, MB hanya terdiam menatap tajam ke arah Ibunya dan Adiknya. Mereka langsung terdiam ketakutan, dokter tiba-tiba keluar dari balik pintu mengejutkan Ibu dan Adiknya.
"Yaampun dokter, kalau mau keluar kasih sinyal dulu. Untung aja jantung saya gak copot." Tegur Fajar mengelus-elus dadanya.
"Gimana keadaannya dok?" kata MB langsung bertanya karena khawatir.
"Dia baik-baik saja, hanya kurang istirahat. Dia juga memiliki darah rendah, mungkin dia juga telat makan. Saya sudah menyuntikan vitamin, obatnya saya sudah taruh di meja," kata dokter menjelaskan keadaannya.
"Syukurlah," kata Ibu MB mengelus dadanya.
Dokter masih cekikikan saat keluar dari rumah itu, sampai pelayan menghibahkan kalau dia itu gila.
Tentu saja pipi lelaki itu sedikit memerah. Ibunya langsung memeluk Putranya, sedangkan Fajar bengong tidak mengerti apa yang dokter bicarakan. MB dan Ibunya langsung masuk ke dalam, tapi tidak dengan Fajar masih di depan pintu.
"Sekali tusuk? Dede bayi? Apa maksudnya? Apa dede bayi ditusuk? Jangan-jangan Gres tertusuk?" kata Fajar berlari ke dalam.
Pantas saja dokter begitu lama memeriksa di dalam, ternyata seluruh tubuh gadis itu benar-benar diperiksa. Tak lama kemudian Gres membuka matanya, menatap ke arah MB yang sedang dipeluk Ibunya.
"Bunda, Haki," panggil Gres dengan suara yang cukup lemah.
"Sayang kamu sudah bangun? Siapa itu Haki?" kata Ibu MB duduk disebelahnya.
Gres mencoba duduk, belum sanggup mencerna perkataan Bunda terhadapnya. Tapi Ibu MB menahannya di sana.
"Maksud saya Tuan MB."
"Oh kirain siapa, keadaan kamu masih lemah, lebih baik kamu istirahat saja yang cukup," lanjutnya membantu Gres berbaring kembali.
"Tapi, saya sudah merasa jauh lebih baik- "
"Fajar suruh pelayan buatkan bubur, sesuai dengan aturan orang sakit ya?" kata Ibunya menyuruh Fajar menyampaikan pada salah satu pelayan.
__ADS_1
"Baik Bun," kata Fajar berlari kecil keluar kamar.
Hanya dengan beberapa menit saja Fajar membawakan pelayan dan buburnya. Pelayan itu cemberut, padahal dia sudah capek-capek bikin bubur spesial yang dia kira untuk MB.
"Diharapkan semuanya keluar dari kamar ini, kecuali MB dan Gres," ucap Ibu MB menyuruh semua orang keluar.
"Tapi Bun, aku mau liat keadaan Gres," tangkas Fajar sedikit membantah perkataan Ibunya.
"MB berikan buburnya pada Gres, bila perlu suapi ya?" kata Ibunya menarik kerah Fajar hingga terseret keluar kamar.
"Gres, tidak, Gres!" Teriak Fajar yang diseret Ibunya keluar.
Saat ini tinggal mereka berdua, MB membawa bubur menaruhnya dipangkuan Gres yang saat ini malu-malu menatapnya. Gadis itu bukannya memakan bubur tapi hanya terdiam di sana, terpaksa ia mengambil sendok menyodorka bubur kemulutnya.
Mulut Gres perlahan terbuka. Ia mengunyah buburnya, rasanya semakin nikmat bila menatap wajahnya. Sangat sulit sekali melihatnya, tiba-tiba tangan MB mendekat kemulutnya, jari telunjuknya mengusap sisa makanan dibibirnya.
Termenganga dengan sikapnya, Gres batuk-batuk. Dengan sigap MB mengambilkan air minum, ia menyodorkan padanya. Gadis itu meminumnya, pipinya semakin memerah.
"Kamu ini, tinggal makan aja susah," kata MB ngedumel padanya setelah beberapa waktu lalu terdiam.
Merasa tidak terima dikatakan seperti itu, Gres langsung bicara. "Itulah yang kamu lakukan pada kami, setiap hari Minggu. Membuatmu makan, sangatlah susah sekali, bahkan banyak yang keluar masuk karenamu," sergah Gres menegaskan sifat yang sebenarnya.
MB menaruh buburnya, ia dengan sangat nekat duduk di atas kasur. Kedua tangannya ditaruh disebelah tubuh gadis itu, wajahnya mendekat ke wajah gadis itu.
"Apa yang kamu mau lakukan?" tanya Gres bertanya dengan bibir sedikit bergetar.
"Boleh aku cium?" tanya MB menatapnya tidak perduli dengan keadaan gadis itu yang sedang ketakutan.
"Ap-apa? Kamu jangan macam-macam," Gres ketakutan.
Tatapan MB semakin tajam menatapnya, beberapa detik kemudian ia tertawa melihat ekspresi gadis itu.
"Haha, lucu sekali," MB mengatakannya sambil tertawa.
"Apanya yang lucu, bikin kesel aja." Decih Gres cemberut.
"Sudah jam 7 ternyata, menurutmu apa aku harus masuk ke sekolah?" kata MB bertanya dengan pertanyaan bodoh padanya.
"Pertanyaan konyol macam apa itu? Sana sekolah, sudah berapa hari gak masuk juga," protes Gres menyuruhnya sekolah.
"Tapi aku ingin tetap di sini menemanimu."
Author :
MB makin lama, makin pinter ya bikin jantung gak bisa tenang. Ada yang setuju, coba komen ...
Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
__ADS_1
See you, next part ➡