
Mencoba menahan napas lebih lama saat MB sedang mengelap dahinya, pipinya berisi angin sehingga membulat, semakin memerah tidak sanggup lagi. Cowok itu menaruh sapu tangannya dipangkuan Gres, berdiri menengok sekeliling tempat itu.
Secepat mungkin cewek yang sedari tadi melotot, dan menahan napas kini. Menghembuskan napas lelahnya, mengelus dadanya mencoba menenangkan diri.
Saat diliriknya cowok yang berada di hadapan Gres membelakanginya, kini menengok ke arahnya.
Jleb!
'Mati deh, aku.' Batin Gres dengan cepat menunduk.
Kembali melangkah mendekati Gres, jongkok disampingnya dengan sigap MB mengangkat gadis itu dengan kedua tangannya. Ia tak dapat langsung bertanya padanya saking syoknya.
Deg ... Deg ... Deg!
Mereka saling bertatapan satu sama lain sangat dekat, kemudian menggendongnya berjalan ke bangku meja yang terletak diujung pojok kanan balkon.
"Kamu sedang apa? Sedikit-sedikit kasar, tapi gak jarang juga perhatia- " ucapan Gres terhenti saat MB menurunkannya dengan kasar duduk di atas bangku meja.
"Aaaw!" Teriak Gres. "Kasar banget sih, jadi cowok!" Seru Gres emosinya membludak sembari mengelus-elus bokongnya, "aku cuma mau tahu apa alasannya, jangan bilang kamu mulai suk- "
Jongkok sembari menarik kaki kiri Gres, melihat bagian yang terluka. MB mengambil kotak P3K yang berada disampingnya, membuka tutup botol antiseptic membersihkan lukanya dengan kapas. Gres merasa sedikit perih, tanpa sengaja memegang pundak cowok yang berada dihadapannya.
Cowok itu hanya menengok ke sebelah pundak yang dipegangnya, secara perlahan Gres melepaskan pegangannya.
"Tahan aja, bentar lagi selesai," suaranya terdengar lembut.
Gres hanya bisa diam seribu bahasa, tapi beberapa pertanyaan terus-menerus berdatangan dibenaknya. 'Ini cowok maunya apa sih? Pertanyaan aku gak ada yang dijawab satu pun.'
Setelah selesai memasang perban dipergelangan lutut Gres dan membereskan bekas kotak P3K, MB berdiri hendak melangkah pergi tanpa bicara sepatah kata pun.
"Tunggu!" Seru Gres.
Menghentikan langkah kaki panjangnya, berdiri membelakangi Gres.
Dengan kikuk turun dari tempat duduknya lalu berdiri. "Terima kasih,"
Tanpa menengok ke belakang MB melangkah pergi dari sana, setelah jauh dari pandangannya, menuruni tangga. Ia tersenyum.
Gres terus merasa keanehan sendiri dengan sikap cowok itu. Ia berdiri diujung balkon memandang ke atas langit yang dipenuhi bintang, tiba-tiba teringat Alm. Kakek Darman.
__ADS_1
Baru saja MB turun dari tangga masih dalam keadaan tersenyum, ia lupa membawa kotak P3K. Menaiki tangga kembali ke atas balkon, langkahnya terhenti saat melihat Gres berdiri membelakanginya. Begitu pun dengan senyumannya ikut terhenti.
"Kakek, apa kabar? Aku di sini baik-baik saja," ucap Gres mengusap air matanya. "Aku baru tahu dari surat yang kakek tinggalkan, kakek bukanlah keluarga kandungku," air matanya menetes. "Lalu siapa kek, kenapa kakek tidak memberi tahuku? Sekarang aku harus bertanya, pada siapa?" suaranya mulai terdengar serak.
Mengusap air matanya lagi. "Kakek udah gak disampingku lagi, kenapa, kenapa, kenapa?!" Ia berteriak.
"Harus ak- u." Lanjutnya menjatuhkan dirinya ke lantai sembari memegang pagar balkon.
Tanpa sadar MB meneteskan air matanya, mengalir begitu saja. Ia mengusap air matanya, memandang tangannya yang terkena air mata. Terasa basah, ia terkejut bukan kepalang.
'Gue nangis, apa yang terjadi?' batin MB tidak percaya.
Karena selama ini MB anti banget sama yang namanya nangis lebih memilih diam, jika mengenai urusan orang lain. Tidak jauh berbeda dengan Gres, mereka menyembunyikan rahasia, dan juga kesedihan. Dihadapan semua orang mereka terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya mereka sakit dan rapuh.
***
Di hari minggu semua pelayan termasuk Gres berkumpul di dalam ruangan perekaman, mereka berdiri di depan layar CCTV. Saling berbisik satu sama lain, datang kepala pelayan, Fajar dan nyonya besar.
Disusul MB dari belakang, Fajar duduk lalu memutar video CCTV. Semua orang yang berada di sana terkejut, kecuali MB dan Fajar saat menonton video itu.
"Seperti yang kalian lihat, pelayan yang bernama Elsa telah berbuat kotor. Demi mendapatkan perhatian, dia menjebak orang lain. Hanya untuk kesenangannya dan yang menjadi korbannya salah satu pelayan di antara kalian," ucap MB menatap tajam Elsa. "Pertama dia berpura-pura menolongku saat aku sakit, kedua dia menjebak seseorang dan ketiga dia mengotori balkon- "
"Maafkan saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi," ucap Elsa jongkok sembari memohon dan memegang kaki MB.
Tuan muda itu hanya diam menahan amarah, Gres memegang pundak Elsa.
"Maafkan dia, beri dia satu kali lagi kesempatan. Aku percaya, tidak ada satu orang pun yang tidak pernah khilaf, dia berhak memiliki kesempatan kedua," ucap Gres ikut memohon.
Belum sempat menjawab MB akan meninggalkan ruangan itu, baru sampai dipertengahan pintu keluar. Terdengar suara Gres dari spiker suara layar monitor, gadis itu terlonjak kaget. Gambarnya saat bersama cowok angkuh itu muncul, karena Fajar lupa mematikan monitornya.
Gres segera menutupi layar itu sembari tersenyum datar, sedangkan MB mematikan semua monitor yang berada di sana. Gres dan MB tersipuh malu bersamaan. Ibunya mendekati mereka berdua, menatap Gres lalu MB.
"Kamu pasti mendapatkan keseruannya," ucap Ibu MB menyindir.
Pipi Gres memerah, MB menjelaskan kejadiannya.
"Itulah yang terjadi Bunda, kaka hanya membuat sedikit kebaikan," kata Fajar bicara yang sebenarnya. Namun sedikit cekikikan.
"Bunda percaya kok sama kamu, dan Gres lebih berhati-hatilah," memutar bola matanya sedikit malas, dengan kurangnya penjelasan yang mereka buat.
__ADS_1
"Ba-ik nyonya maksudku Bunda," umpat Gres menatap tajam MB.
"Baik, Elsa karena kamu sudah banyak melakukan kesalahan yang tidak wajar. Saya memutuskan hubungan di antara kita, pergilah dari sini." Ibu MB pergi dari ruangan itu sembari sedikit tersenyum. Melihat tingkah putranya yang lucu.
Menangis menyesali perbuatannya Elsa keluar dari pintu depan dengan berat hati, tidak ada yang mengucapkan selamat tinggal. Tapi di sana hanya ada Gres menatapnya sedih, tiba-tiba dia memeluk gadis yang menatapnya.
"Maafkan aku, kamu tidak pernah membenciku tapi ak- "
Gres membalas pelukannya erat.
"Jangan sedih, tidak apa. Jadikanlah ini sebuah pembelajaran, jangan mengulanginya lagi terhadap orang lain."
Mereka saling tersenyum, melambaikan tangannya dan mengucapkan selamat tinggal.
MB diam-diam memperhatikan Gres, di sana pun ada Ayah MB merasa khawatir dengan putranya. Baginya antara pelayan dengan putra pertamanya tidak sebanding, terlebih pelayan itu masih sangat asing baginya. Ayah MB pergi dari sana, dengan kedua alisnya ditekuk.
Karena kejadian itu MB dibebaskan foto bersama keluarga, yap! Rutinitas wajibnya selain sholat 5 waktu. Foto bersama keluarga setiap hari minggu. Meski demikian, ia tidak pernah sekali pun hadir dalam pemotretan.
Kepala Pelayan memerintahkan Gres mengantar makanan ke kamar tuan muda, dan jangan kembali jika tuan muda tidak makan. Ia membawa nampan dipenuhi makanan yang lezat dan minumannya, mengetahui hal tersebut ia melakukan hal seperti biasa, agar MB mau memakan makanannya.
Mengetuk-ngetuk pintu tidak ada jawaban, Gres masuk begitu saja. Gadis ini mulai mencari buku dan pulpen di meja belajar MB, ia mulai menyusun kata demi kata yang membuat hati tuannya luluh.
CKLEK!
Pintu kamar mandi terbuka, tanpa sadar Gres kikuk terlambat baginya menyadari, tak dapat menggerakan kepalanya untuk menoleh.
"Jadi lo, yang nyobek buku gue," kata MB jongkok disebelahnya, "nulis apaan lo?" ia mengambil kertas dari tangan Gres. "Yang terhormat, gini aja kata-katanya? Kenapa gak sekalian aja ditulis kepada Yth yang terhormat bapak atau ibu di tempat," ucapnya sedikit bergurau mempermainkannya.
'Dia baru keluar dari kamar mandi, mana mungkin aku melihatnya memakai handuk doang.' Batin Gres tertekan.
Sejak dari tadi MB memperhatikan Gres sulit bergerak bagaikan patung pancuran, ke mana hilangnya semangat bicaranya yang membuat telinga MB hampir meledak, dan mungkin dia tidak bernapas, merasa aneh melihat tingkahnya tuan muda itu merencanakan sesuatu.
Author :
Waduh rencana apa ya? Coba tebak?
Beri penulis semangat! Tambahkan favorit, dan Komentar. Agar cerita ini bisa terus berlanjut... Terima kasih.
See you, next part ➡
__ADS_1