
PLAK! Tino menggeplak kepala Esa dengan sekuat tenaga, sampai membuat gadis itu tak sadarkan diri. Tergeletak di lantai, Tino ikut tergeletak di lantai bersamaan dengan Esa. Dengan wajah bodohnya, sehingga penduduk yang berada di ruangan tersebut bingung siapa pelakunya.
Itulah cara cerdik Tino untuk mengelabui semuanya, akhirnya Hafis turun tangan mengangkat Esa. Sedangkan Latus bingung harus mengangkat Tino bagaimana caranya, akhirnya dia memutuskan memegang kerah Tino ditarik ke atas dengan kepalanya terangkat sedikit. Sedikit demi sedikit badan Tino mulai tergeser, diseretlah Tino dekat dengan tempat tidurnya.
Lama-kelaamaan Latus semakin erat memegang kerah Tino. Sehingga membuat si bodoh itu tercekik, ngek! Susah bernafas, akhirnya berakhir sudah kepura-puraannya. Mata Tino melotot, kedua pipi membulat berisi seperti bola.
"Latus! Cukup gue gak bisa napas," kata Tino berteriak padanya, dengan suara desahan napasnya.
GLUDAK! Latus dengan kasar membanting kepala Tino, maklum refleks ucapnya. Tiba-tiba kepala cowok itu benjol seketika, dia lari langsung berbaring di tempat peristirahatan terakhirnya, maksudnya rawat inap .
"Ya elah, benjol ini kepala orang tertampan didunia, yang belum diakui di dunia," kata Tino ngedumel sendiri.
Rasa ingin pipis sudah tak tertahankan, Tino bergegas pergi ke kamar mandi. Baru saja membuka pintu, terdengar suara seseorang sedang bernyanyi. Dia secepatnya mengeluarkan butiran air itu, selesai dengan masalah panggilan alamnya, dia lari dari sana.
Tak sengaja melihat Cery dan Will duduk bersebelahan didepan ruang yang mungkin dia anggap salah, bisa jadi salah jenguk orang. Pikir otak dangkal Tino.
Tino mendekat ke arah mereka sambil membawa infusannya, berdiri dihadapan mereka.
"Kalian beruntung, karena ketemu gue. Yuk ikut?" kata Tino mengajak mereka berdua.
"Apaan sih, gak jelas!" Bentak Will menatap tajam matanya.
"Sudahlah Will, mungkin Tino gak tahu apa yang terjadi pada Gres dan MB," kata Cery mencoba memberi tahunya dengan bijak.
"Nani, eh apa? apa yang terjadi pada mereka berdua, Cer?" tanya Tino kedua matanya melotot bertanya padanya.
"Mereka berdua sepertinya terjebak dalam lift, mungkin sudah kehabisan oksigen. Jadi- " kata Cery.
"Meninggal?" celetuk Tino memotong pembicaraannya.
Malah Cery yang terkejut dengan ucapannya.
"Belum juga 2 jam mereka pergi meninggalkan ruangan kami. Dan mengetahui hal ini, membuat pangeran ganteng ini tersiksa," kata Tino ngedumel sendiri.
"Mereka baik-baik saja, cuma butuh waktu buat istirahat." Sambung Cery mencoba melanjutkan pembicaraannya.
"Begitu ya, yasudah gue mau kasih tahu yang lain dulu," Tino mengusap dadanya pergi dari sana.
'Tumben Si buah Cery mau diajak ngobrol, imut juga dia.' Pikir Tino di dalam hati.
Sesaat setelah orang berotak dangkal itu pergi, datanglah Ibu MB berlari dengan Fajar. Adik MB mendekat kearah mereka. Sebelum mereka menengok ke arah Will dan Cery. Will secepatnya bergegas pergi dari sana, tanpa memberi tahu temannya yang saat ini ikut menunggu.
Ibu MB langsung mencari dokter menanyakan keadaan putranya, namun dokter saat ini sedang istirahat di rumah. Dia mendekati Cery, bertanya padanya tentang keadaan putranya.
"Kamu sedari tadi menemaninya di sini?" tanya Ibu MB khawatir menatapnya.
__ADS_1
"Iya Tante," jawab Cery tersenyum ramah.
"Bagaimana keadaannya, putra Tante?" tanya Ibu MB kembali sedikit panik.
"Dia baik-baik saja, hanya butuh istirahat,"
"Apa kamu bisa ceritakan apa yang terjadi, padanya,"
"Sepertinya MB dan Gres terjebak didalam lift, sehingga mengakibatkan mereka berdua kehabisan oksigen."
"Apa kamu bilang, Gres? Gres juga dirawat?!"
"Iya Tante."
"Ya ampun kedua anak itu, hampir saja celaka." Lirih Ibu MB menarik nafasnya sedikit lega, mengetahui mereka baik-baik saja.
'Sepertinya ibu MB udah mengenal Gres, ada hubungan apa ya mereka berdua? Gue harus cari tahu. Will pasti tahu sesuatu.' Pikir Cery tanpa meminta izin atau pun berpamitan pergi dari sana.
Ibu MB dan Fajar masuk ke dalam ruangan. MB sedang berbaring di sana, lalu Fajar bertanya pada Ibunya.
"Bu, sepertinya Kaka dan kak Gres sudah semakin dekat saja, apa Bunda yang merencanakan kedekatan mereka?" tanya Fajar bertanya karena penasaran.
Sebenarnya MB sudah sadar sepenuhnya, tapi ia berpura-pura belum sadarkan diri. Mengingat Fajar bertanya hal seperti itu pada Ibunya, ia ngin mengetahui jawaban dari Ibunya, telinganya dilebarkan siap untuk menguping.
"Mana ada, mungkin mereka dekat sendiri. Tapi jika itu terjadi, baguslah MB bisa melupakan Kris dan bisa menjalani hidupnya dengan normal seperti dulu lagi. Kamu sudah bisa melihat perbedaannya kan? Kaka mu akhir-akhir ini jarang marah atau pun membanting barang-barang dirumah," kata Ibunya berbalik bertanya.
Seseorang menarik telinga Fajar dari samping.
"Jadi selama ini kamu pikir Kaka gak normal, begitu?" bentak MB terduduk menarik telinga adiknya.
"Lalu apa? selama ini Kaka selalu saja marah-marah, bahkan menyukai seseorang saja harus dipendam, gak mau diungkapkan!" Jerit Fajar kabur dibelakang Ibunya.
"Dasar anak ini!" Tangkas MB hampir marah.
"Sudahlah, sehari saja kalian gak bertengkar. Bunda pasti bangga pada kalian, Bunda pusing sekali melihat tingkah kalian," kata Ibu mereka berdua terlihat sedih di sana.
Terbangun dari pingsannya, Gres langsung mencari keberadaan MB. Ia lari walau pun dengan sangat lemah, walau pun ia sendiri sadar kakinya masih terasa lemas, masih terasa berat. Tiba di sana tanpa melihat keadaan sekitar, Gres tersandung lalu terjatuh dilantai.
Semua orang yang berada diruang itu terkejut, termasuk MB. Ia langsung bangkit jongkok dihadapannya, mengulurkan tangannya. Gres hanya bisa mengangkat wajahnya, memperhatikan seseorang yang berharga baginya. Setelah lama dilihat-lihat tak ada luka di sana, gadis itu berdiri pergi dari sana.
MB, Ibunya beserta adiknya melongo, belum juga Ibunya bertanya. Gres malah pergi dari sana, Fajar mengejar gadis itu.
"Gres! Tunggu!" Teriak Fajar dari belakangnya.
Berhenti sejenak, memandang Fajar yang sedang berlari kecil menghampirinya. "Ada apa?" kata Gres bertanya.
__ADS_1
"Kenapa lo pergi, di dalam ada Bunda kan?" papar Fajar bertanya kembali.
"Aku harus pergi ke ruang perawatan, aku juga seorang pasien tahu," jawab Gres dengan santai menjelaskan.
"Itu memang benar,"
"Tentu saja."
Setelah berbincang sebentar dengan Fajar, sebelum Gres benar-benar meninggalkan tempat itu. Fajar bertanya tentang satu hal padanya.
"Apa lo sangat mengkhawatirkan, kaka?" tanya Fajar sedikit berteriak karena jarak mereka semakin jauh.
Gres menengok kebelakang menatapnya, ia hanya mengangguk tanpa memberi alasan atau pun penjelasan apa pun padanya.
"Gue yakin, Kaka pasti akan bahagia bila bisa bersama lo." Teriak kecil Fajar melangkah meninggalkan tempat itu.
Gres masih mendengar suara kecilnya, ia hanya tersenyum manis sambil berjalan menuju ruang rawatnya kembali. Entah apa harus loncat sekarang karena bahagia, mengurungkan niatnya saat dilihatnya infusan ditangannya.
Dengan bangga Fajar kembali keruang Kakanya dirawat, Ibunya langsung bertanya diruang berapa Gres dirawat. Fajar langsung menepuk jidatnya. Belum sempat menjawab pertanyaan Ibunya, dia lari kembali menyusul Gres. Terlambat sudah, gadis itu sudah tidak ada di tempat.
Kini wajah Fajar dipenuhi bayangan hitam, Ibunya kembali bertanya hal yang sama.
"Aku lupa, jadi kita lupakan masalah ini," kata Fajar muram duduk disebelah Kakanya.
"Astaga Fajar!" Protes Ibunya menepuk jidatnya sendiri pelan.
"Ibu salah jika mengandalkannya, bukan Fajar namanya jika bisa melakukan apa pun dengan benar," MB menggoda Adiknya yang muram itu.
"Apa!" Teriak Fajar menatap Kakanya dengan segenap jiwa ingin membunuh.
Fajar berteriak mengatai Kakanya sendiri. "Kaka jelek, pokoknya apapun yang terjadi Kaka nggal boleh pinjam apapun dariku lagi." Ancam Fajar menggerutu.
"Tapi kapan Kaka pernah meminjam milikmu?" tanya MB dengan wajah datarnya.
Seingat Fajar 2 tahun yang lalu MB pernah pinjam kaus kaki, karena kaus kakinya dibuang olehnya. Kakanya paling bisa mengunci mulutnya seketika.
"Pokoknya jangan pinjam."
Ibunya pasrah, lelah untuk mendengar perdebatan kedua putranya itu. Dia meninggalkan mereka berdua.
Author :
Adik Kaka ini memang patut diacungi jempol kaki.
Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
__ADS_1
See you, next part ➡