Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Rahasia Dibalik Nomor Tak Dikenal


__ADS_3

"Kenapa diem aja, biasanya nyerocos terus sampe sukses?" MB terkekeh kecil.


Diam hanya itu yang bisa gadis berambut panjang hitam ini lakukan, membuang wajahnya malas menatap cowok itu, kini ia melangkah pergi menelpon ibunya MB.


Tidak lama kemudian beberapa orang menjemput MB yang terdiam di tempat, menengok keberbagai arah mencari keberadaan Gres.


Sebelum itu Gres sudah meninggalkan tempat itu, tanpa berpamitan padanya.


Tiba di rumah MB. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur, sembari memikirkan cowok itu. Jika dibiarkan mungkin dia akan melakukan sesuatu yang lebih buruk daripada dipukuli, ia tidak bisa tinggal diam dengan memeriksa tanggal kejadian insiden kecelakaan itu. Yang menewaskan cinta pertama MB.


Ia pergi ke kantor polisi dan menanyakan semua kejadian itu secara rinci, awalnya polisi mempersulit. Karena bagaimana pun ini kasus yang sudah lama ditutup, tapi dengan tegas. Gres menjelaskan bahwa dirinya adalah salah satu keluarga gadis itu.


"Saya hanya ingin tahu kasusnya, karena selama ini saya jauh dari keluarga. Jadi saya mohon Pak, sakit hati saya mengetahui dia sudah tiada," pinta Gres dengan sejuta alasannya menatap Pak Polisi.


"Baiklah, kalau begitu saya akan jelaskan secara rinci. Setiap kali saya jelaskan, tidak akan saya ulangi lagi. Maka dengarkan baik-baik, jadi seperti ini," kata Pak Polisi menjelaskannya.


Setelah cukup lama dan sangat cukup mendapatkan informasi itu, ia pergi ke TKP (Tempat Kejadian Perkara). Tempatnya berada di bawah puncak, yang berada di Bogor. Memasuki sebuah rumah kosong, saat ia sedang mencari sesuatu bukti atau semacamnya. Seseorang dari kejauhan mendekati Gres, ia pun bersembunyi dibalik tong berisi air bersih. Orang itu menghentikan langkahnya, mendekati gadis yang sedang ketakutan itu.


"Gres, gue kira siapa," kata Hafis membantu Gres berdiri.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Gres.


"Seharusnya gue yang tanya, gue lagi mau ninggalin jejak,"


"Jejak? Maksudnya?"


"Iya, gue lagi mencari petunjuk. Tentang kecelakaan itu, gue rasa Kris masih hidup. Soalnya mayatnya gak ketemu, sedikit lagi gue akan tahu siapa dia. Ibu gue kecelakaan, terus ada yang kirim pesan nomor gak dikenal mengancam hidup keluarga gue, jadi, gue mau tinggalin petunjuk aja,"


"Berikan petunjuk itu dan ceritakan serinci mungkin, agar aku bisa menemukan Kris. Aku tidak bisa membiarkan Haki dalam keadaan seperti itu, satu-satunya cara aku harus menemukan gadis itu," pinta Gres memohon padanya.


"Tapi, terlalu berbahaya," Hafis terkejut bukan kepalang mendengar permintaannya.


"Kalau aku yang cari, gak ada yang akan mengancam atau semacamnya. Karena aku tidak memiliki keluarga, aku hidup sebatang kara," tetap ingin membuat Hafis mengerti dirinya, dan mengikuti keinginannya.


Hafis memegang kedua pundaknya, menatapnya serius. "Jangan bilang lo, mau mempertaruhkan hidup lo, cuma buat menemukan gadis itu. Lo sadar gak? Jika lo dapat menemukan gadis itu, maka- "


"Aku harus mengakhiri perasaanku padanya, itukan yang mau kamu katakan. Kita tidak punya banyak waktu, berikan nomor itu padaku," permintaan Hafis tetap tidak digubris sedikit pun.


Mempercayai keputusan gadis itu, Hafis memberikan petunjuk keberadaan Kris.


"Katanya ada seseorang yang mencurigakan, tapi aku yakin kejadian itu seperti sudah direncanakan. Aku harus pergi kepuncak, itu satu-satunya cara menemukan Kris,"


"Gue ikut," tegas Hafis menatap dalam ke matanya.


"Gak usah Fis, kamu jaga Esa dan Haki aja,"


"Tapi ini terlalu berbahaya,"

__ADS_1


"Aku mohon, jangan beri tahu siapa pun." Gres memegang tangannya sambil menatap serius ke dalam matanya.


Hafis mengangguk. Semoga saja keputusan yang Gres buat tidak akan menempatkan dirinya dalam bahaya, jika hal itu sampai terjadi entah apa yang akan dilakukannya.


Gadis itu pergi ke puncak, seseorang mengawasinya dari kejauhan. Sesampainya ia di sana, baru terlintas dibenaknya tempat ini adalah tempat tinggalnya dulu bersama sang kakek. Para warga yang tinggal di sana, diwawancarai satu persatu. Akhirnya ia mendapatkan informasi yang mengejutkan dari salah satu warga, bahwa dia melihat seorang gadis seumuran dengannya pergi tempat serupa dengannya.


Semua teka-teki ini mulai ia pecahkan satu demi satu, langkah berikutnya menuju tempat yang ditunjukan warga yang mengatakan melihat gadis itu. Di sana terdapat sebuah gudang besar bekas tempat minyak tanah, seseorang menghubunginya. Nomornya sama persis dengan nomor yang meneror Hafis, menghela napas lalu mengangkat telponnya.


"Hallo," jawabnya mengangkat telepon dengan bibir bergetar hebat.


"Kau memang gadis pemberani, tapi sayangnya kau masuk ke dalam jebakanku. Dalam hitungan ke tiga, kamu akan menyesalinya."


Teleponnya tiba-tiba terputus.


"Hallo, halo!"


Gadis itu merasa ketakutan, benar saja tong besar menggelinding ke arahnya. Belum sempat berlari, ia terpeleset. Tong itu terhenti, betapa terkejutnya Gres saat melihat siapa yang membantunya.


"Haki ... " seru Gres memegang kakinya yang terkilir.


Sekuat tenaga MB mendorongnya kembali ke arah yang berlawanan, ternyata seseorang yang mengawasi Gres adalah MB.


"Lo nekat banget si, yang dapet sms bukan cuma Hafis tapi gue, gue juga dapet,"


"Haki, terus kenapa kamu gak cari tahu," Gres langsung bertanya padanya.


"TOLOOONG! TOLONG!" Teriak seorang gadis dari dalam.


Cowok itu segera lari menuju asal suara itu, tapi niatnya terhenti saat melihat keadaan Gres.


"Pergilah, jangan pedulikan aku. Aku yakin suara itu ... suara itu pasti orang yang kita cari,"


"Maaf Gres, gue harus pergi." MB berlari ke arah suara gadis itu.


Sampai di sana ia melihat seseorang memakai topeng berada di sana, sedang membawa jarum ingin menyuntikan sesuatu pada gadis itu. MB lari ke arahnya, orang itu kabur melewati jendela kayu.


MB mendekati gadis yang terbaring lemah, ia akan mencoba menggendong gadis itu tiba-tiba.


"MB, apa kau tak ingat aku?" kata gadis itu bertanya padanya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Gue gak kenal, siapa lo," katanya secepatnya membawa gadis itu keluar.


"Kita pernah berjanji, untuk memasuki gerbang SMA BUBIN bersama bukan, saling melentangkan kedua tangan. Saling berpegangan, lalu berjalan bersama,"


Mendengar perkataannya, MB terpaku di tempat. "Apa lo Kris?"


Gadis itu mengangguk.

__ADS_1


Mencoba berdiri namun terjatuh kembali, Will datang membantunya berdiri. Ia mengikuti Gres dari belakang, karena menganggap akan terjadi sesuatu padanya. Cowok itu ingin menanyakan tentang keadaannya, akan tetapi secepatnya mengajak dia menemui MB. Terpaksa menyetujuinya, sesampainya di sana.


Langkahnya yang susah payah memaksakan diri melihat keadaan MB, ternyata dia sedang berpelukan dengan gadis itu. Di depan matanya sendiri, air mata pun tak sanggup ia bendung. Membalikan badannya, Will menarik tangannya dan memeluknya saat itu juga. Terkejut namun apa yang bisa gadis itu lakukan, terpaksa tidak bertanya dan membalas pelukan cowok itu sembari terus menangis.


Membuka matanya, MB terkejut melihat Will yang memeluk Gres. Mereka saling bertatapan sangat tajam, tapi cowok itu mencoba membiarkannya. Yang terpenting baginya Kris telah ditemukan dalam keadaan sehat, meski sangat tertekan ia memeluknya semakin erat.


***


Pagi-pagi sekali MB datang bersama Kris, membuat Cery kesal mendekati mereka. Dihadapan semua orang cowok itu menggenggam tangan gadis yang berada disebelahnya.


Gres datang bersama Will terkejut melihat perilaku cowok yang ia sukai.


"Dihadapan semua orang, gue memutuskan membatalkan pertunangan dengan Cery. Karena Kris, masih hidup," ucap MB tersenyum memandang Kris.


"Gak bisa gini! MB gue mati-matian dapetin lo, tapi ... " ucap Cery pergi sembari menangis.


Entah mengapa saat melihat Cery sedih, Gres ikut merasakan kesedihannya. Ia mengikuti gadis itu secara diam-diam, ternyata cewek itu sedang duduk dibangku taman sembari menangis terisak-isak. Duduk disebelah gadis yang beru saja diputuskan tunangannya, menatapnya sangat sedih membuat Gres memeluk Cery.


"Semua akan baik-baik saja, keluarkanlah semua air matamu. Setelah itu tersenyumlah, tapi jangan lupakan kejadian hari ini," ucap Gres.


Saat Cery melihat siapa yang memeluknya, ia terkejut dan mendorong Gres hampir terjatuh.


"Lo gak usah so peduli sama gue, lo pasti lagi bahagia liat gue kaya gini! Iya kan? Lo seneng, kan?" teriak Cery memaki Gres.


"Kamu salah jika berpikir seperti itu, aku juga sedih. Tapi apa boleh buat, Haki telah menemukan cinta pertamanya. Kita harus tetap melanjutkan hidup, jika kau mencintainya biarkanlah dia bahagia,"


Cery menjatuhkan dirinya ke tanah, Gres jongkok dan memeluknya.


"Menangislah, tidak apa-apa," Gres menepuk-nepuk pundaknya pelan.


"Apa lo gak benci sama, gue?" tanya Cery.


"Gak ko, aku tahu. Kamu melakukan semua ini karena takut kehilangan dia, jadi ... Aku mengerti,"


"Makasih, gue selama ini salah nilai lo. Ternyata lo baik, gak kaya gue- "


"Mari intropeksi diri, dan memperbaiki kesalahan jadi kebaikan."


Mereka saling tatap dan tersenyum bersama, Cery dan Gres mulai menjadi teman baik.


Author :


Maaf ya ceritanya gak seperti yang kamu harapkan, semoga kamu tetap bertahan sama cerita ini.


Cery sekarang menjadi teman Gres, lantas siapakah yang akan menjadi pemeran antagonis di dalam cerita ini? Mau tahu, jangan lewatkan part selanjutnya...


See you, Next Part ➡

__ADS_1


__ADS_2