
Di mana hati yang memilih di sanalah kata-kata yang berarti akan membuka hatinya, hal inilah menghantui pikirannya. Hujan sangat deras sulit baginya pergi dari sana, ingin masuk ke dalam makam. Tapi dia pasti mengetahui siapa dirinya, Gres melihat kelas kosong di sebelah makam. Menggandeng tangannya, memegang pinggangnya, sekuat tenaga memapah cowok itu masuk ke dalam kelas.
'Bertahanlah, jangan lemah, lo pasti bisa.' Kata-kata itu terlintas dipikirannya begitu saja.
Masuk ke dalam kelas melihat ada 2 bangku, ia membaringkannya di sana mengambil 3 bangku lagi. Menyusun agar dapat merebahkan tubuh MB dengan benar, mengangkat kembali badan cowok itu dengan gegabah karena sangat mencemaskannya. Ia terpleset jatuh terbaring di atas badan cowok yang tak sadarkan diri itu, menatapnya dengan tatapan sedih tidak dapat mengatakan tentang siapa ia sebenarnya.
Tiba-tiba dia membuka matanya langsung membulat menatap Gres yang sedang berada di atas tubuhnya, gadis itu salting secepat mungkin berdiri namun sangat disayangkan kalungnya tersangkut pada kerah cowok itu. Dengan sekuat tenaga berdiri dari sana, merasakan ada sesuatu yang lepas tapi ia tidak peduli. Ingin cepat-cepat pergi dari sana. Berdiri berbalik badan, MB ikut berdiri meski masih merasa pusing mendengar suara petir menyambar membuat gadis itu. Kembali memeluk erat cowok yang sedari tadi menatapnya kebingungan.
Mendongak ke atas, dia tersenyum padanya secepatnya melepas kedua tangannya, dan tiga langkah menjauh dari dia.
"Gue ... Tadi, cuma ... "
"Gak apa-apa, lagian lo udah nolongin gue. Terima kasih," ia mendekati Gres, "gue gak nyangka ternyata gadis yang berlari dari kejauhan itu lo. Gue kira Kris, tapi kalau gak ada lo mungkin gue udah terkapar di depan makam,"
Tersenyum mendengar ucapannya, namun hatinya juga sakit saat mendengar kalau dirinya bukanlah Kris.
"Ya lagian, segala nungguin Kris. Kamu kan tahu dia itu udah gak ada, kenapa sih kamu masih peduli. Sama orang yang udah lama pergi dari kehidupan kamu?"
Menarik lengan Gres kasar. "Lo kira dengan lo ngomong kaya gitu bakal bikin gue nyerah,"
Gadis itu mulai merasa sakit.
"Terserah! Lo mau bicara apa! Tapi gue yakin, Kris gue bakal kembali, dia gak akan ninggalin gue," melepas tangannya sampai memerah. "Selamanya, gue akan tetap nunggu dia, karena hanyalah dia gadis yang gue ... Sayang."
Tidak dapat menahan tangis lari dari sana. Takut jika MB menyadari akan kesedihannya, tanpa sadar gadis itu menerobos hujan yang sangat deras, tak mampu berbuat apa-apa.
MB sangat merasa bersalah atas perbuatannya barusan, saat dia lari darinya ingin mengejar namun kakinya terasa berat. Mendengar perkataan yang membuat dirinya terasa hancur, saat hendak duduk di kursi tak sengaja melihat kalung berbentuk bintang berada di lantai.
Mengambil kalung itu melihatnya ia terkejut, ternyata kalung yang sedang ditatapnya tidak lain adalah kalung Kris. Gadis yang sangat dicintainya, teringat perkataan Sarah saat detik-detik terakhirnya. Bahwa selama ini gadis itu ada disampingnya, tapi ia tidak menyadari keberadaannya. Lari mengejar Gres, sampai ditengah-tengah lapangan melihat ke kanan dan ke kiri mencarinya.
Gadis itu terus berlari keluar dari gerbang depan sekolah, memegang sesak dadanya. Merasakan kalungnya yang tidak ada dilehernya, panik ia kembali lari masuk ke dalam dari kejauhan melihat seseorang. Berdiri ditengah lapangan membuatnya menghentikan langkahnya.
Gres menatapnya, kini mereka berdua saling bertatapan satu sama lain hujan mulai mereda. MB melangkah pelan, lalu lari langsung memeluknya.
__ADS_1
"Maafin gue Kris ... " satu kata terucap dari bibirnya yang bergetar.
"Haki ... Gue bukan Kr-is, gue Gr-es," mencoba melepaskan pelukan cowok itu. Dia belum boleh tahu, belum saatnya.
Semakin erat memeluknya. "Gue gak tahu kenapa lo harus berbohong, tapi gue bahagia banget ... Lo baik-baik aja, gak ada yang bisa gantiin posisi lo dihati gue, cuma lo yang bisa membuat gue tersenyum. Cuma lo,"
Tangisannya tidak dapat lagi ia tahan, membalas pelukannya sembari melihat dari kejauhan, melihat sahabatnya tersenyum menatapnya. Memakaikan kalung bintang padanya, menyatukan kalung yang mereka pakai mencium kening Gres dihadapan teman-temannya sembari menutup mata.
Terkejut matanya melotot, hidungnya mengembang dan mulutnya terbuka lebar namun ia menerimanya lalu menutup matanya.
Semua orang yang melihat kejadian itu ikut terkejut, ada yang pingsan, ada yang nangis dan juga ada yang pegang lilin. Kalian pasti tahu lah siapa yang pegang lilin di saat seperti ini, Latus menengok ke arah Teri.
"Lo ngapain bawa lilin? Belum juga malam jum'at, ntar aja apa? Suruh Si Tino yang nyari duit. Lo yang jagain lilin, bereskan?" ucap Latus tanpa mempedulikan perasaan orang yang sedang dibicarakan.
Tino yang saat ini sedang menatapnya kesal. "Lo kira gue mau jadi babi ngepet!" Cela Tino mendekati mereka berdua.
"Terus apalagi?" tanya Latus mengangkat tangannya sambil bergurau.
Teri merangkul Latus tepat dihadapan Tino. "Lo emang cewek idaman gue,"
Dari atas genteng, Tumpahan sisa air hujan terjun ke bawah.
"Lepas Tino! Liat baju gue jadi basah, lo harus tanggung jawab?! " Latus menatapnya kesal.
Kedua lutut kakinya menyentuh tanah, memegang tangannya. Latus menahan napas sedetik, ingin tahu apa yang sebenarnya membuat sahabat bodohnya ini berprilaku tidak seperti biasanya, jadi mudah baper.
Karena Kris sudah ditemukan, namanya akan tetap menjadi Krisnalia Putri. Melihat kejadian itu Kris dan MB tersenyum, mendekati mereka yang sedang jadi tontonan banyak orang.
"Gue suka sama lo? udah lama, lo mau kan jadi ... Pacar gue?" tanya Tino penuh harap menatapnya.
"Udah terima aja, biar hari ini jadi kita sama," ucap Kris tersenyum menatapnya.
Mengangguk. "I-iya, gue mau jadi pacar lo,"
__ADS_1
Bangkit memeluk Latus, semua orang bertepuk tangan. Tapi pada saat semuanya merasa bahagia Ibu Sarah datang, semua yang berada di sana terdiam. Dia tiba-tiba bertepuk tangan menatap Kris lalu menatap MB.
Mendekati mereka, tiga meter menatap ke arah MB.
"Hebat sekali, Kris masih hidup. Anak muda kamu pasti bahagia, tapi putriku Sarah. Dia meninggal dengan sia-sia, lihat dirimu. Tidak merasa bersalah sama sekali, menangis pun tidak!" Teriak Ibu Sarah mengambil pistol dari tasnya.
Semua orang terkejut melihatnya.
"Kris, LARIII!" Teriak MB menyuruh Kris untuk lari.
Namun apa yang dilakukan gadis itu, ia melangkah mendekati lelaki yang menyuruhnya lari.
"Apa yang kau lakukan? Lari Kris, jangan mendekat. Berhenti, KUBILANG BERHENTI!"
Tidak mempedulikan perkataannya, ia tetap mendekatinya lalu memegang tangannya yang saat itu bergemetaran.
'Sebenarnya kamu ketakutan, kan? Aku tahu itu. Aku mengenalmu lebih dari siapa pun.' Batin Kris.
Sepertinya percuma menghentikan niat Kris, yang bisa MB lakukan hanyalah menerima keputusannya.
Mereka berdua bertatapan lalu bersamaan menatap Ibu Sarah. Tangannya sudah tidak bergemetaran, karena gadis yang MB cintai berada disampingnya. Dan memegang tangannya, mereka tersenyum bersama melawan rasa takut.
"Jika ingin menembak, tembaklah kami. Jangan pisahkan kami, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi Ibu Tiri," ungkap Kris memanggilnya.
"Dia benar, jika harus ada yang mati di antara kami, sangatlah tidak mungkin, karena jika hal itu sampai terjadi. Aku tidak bisa hidup tanpanya, dia bagian dari semangat hidupku," MB mengatakannya dengan lantang, mereka saling bertatapan kembali.
Teman-teman yang berada di sana ingin segera melapor pada pihak berwajib, namun Ibu Sarah mengetahui tindakan mereka. Mengancam siapa pun yang melapor maka akan terjadi sesuatu pada orang tersebut. Mengangkat tangan kanannya memegang pistol bersiap-siap akan menebak, mereka berdua menutup mata saling berpegangan tangan sangat erat.
DOR!
Author :
Tebak siapa yang ditembak duluan, kalian pasti tahu. Mungkin Kris gadis yang sangat ingin dia bunuh bertahun-tahun lamanya, atau kah MB yang sangat dia benci karena membuat putrinya meninggal dunia?
__ADS_1
Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡