
Setelah menatap MB yang sudah pergi dari ruangan itu. Will memegang tangan Gres, dia langsung bertanya tentang keadaannya. Karena salah satu petugas menemukan gas beracun di dalam lift, saat Gres dan MB terjebak.
Pantas saja, Gres dan MB sampai dirawat di rumah sakit. Tapi siapa yang tega melakukannya? Apakah ada seseorang yang menginginkan mereka celaka?
"Gres, kamu gak apa-apa kan? Ada yang sakit? Apa dia melukaimu?" ucap Will bertanya menatap wajahnya sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja," Gres mengusap air matanya.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu?" Will mengajukan pertanyaan kembali padanya.
"Maafkan aku Will, tapi bisakah kamu juga keluar. Aku benar-benar lelah, ingin istirahat sebentar," ucap Gres terdengar serak.
Tanpa berpikir panjang Will langsung menatapnya, dia berusaha untuk menahan diri ketika melihat Gres masih ingin menangis. Lagi pula dia juga tidak akan mampu, bila harus berada disamping wanita yang dicintainya sedang terluka.
"Baiklah, kamu istirahat yang cukup. Aku akan kembali lagi besok," ucap Will meninggalkan tempat itu.
Gres menengok ke arah pintu ruangan, setelah memastikan Will keluar dari sana. Ia kembali menangis.
"Maafkan aku Haki, aku nggak bisa kasih tahu kamu tentang siapa aku yang sebenarnya." Gres berbicara sendiri menarik selimutnya membekap mulutnya sendiri sambil menangis.
MB menarik infusan yang berada ditangannya secara paksa, langsung membuangnya ke tong sampah. Darah ditangannya mengalir, ia tak rasakan sakit? Memutuskan pulang, tiba di depan rumah. Seperti biasa ia langsung masuk ke dalam kamar, tanpa mempedulikan pertanyaan dari Ibu dan Adiknya yang sedang duduk diruang meja makan.
Tentu saja mereka terkejut, seharusnya dia masih dirawat dan menghabiskan sisa infusannya terlebih dahulu.
"Sepertinya kaka sedang bad mood deh, Bun?" ucap Fajar mengiris stick daging sapinya.
"Memang kakamu itu sulit ditebak, yasudah kita lanjut makan saja," jawab Ibunya meminum segelas air putih.
MB duduk di atas kasur sejenak, berdiri mengambil foto kecilnya saat bersama dengan Kris.
"Kris, aku sungguh merindukanmu. Apa kamu tidak merindukanku?" MB merebahkan dirinya di atas kasur lalu tertidur pulas di sana.
Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali MB sudah bersiap-siap pergi ke rumah sakit, ia bergegas pergi dari sana.
"MB, sarapan dulu sini. Kalau gak, Bunda gak akan ijinkan kamu keluar rumah," tegas Ibunya tegas.
"Baiklah Bun," celetuk MB menghela napas berat.
"Kamu ini ada-ada saja, kamu sedang sakit malah keluyuran keluar. Pulang lagi ke rumah, harusnya balik lagi ke rumah sakit," bentak Ibunya mencoba memarahinya.
"Bunda tahu dari mana, kalau aku keluar dari rumah sakit?" tanya MB menatap Ibunya segan.
"Oho!" Seketika Fajar batuk, secepatnya meminum segelas air putih, mendengar pertanyaan Kakanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Ibunya, MB langsung tahu siapa pelakunya.
__ADS_1
"Adik macam apa? Yang gak bisa menyimpan rahasia Kakanya?" tanya MB memarahi Adiknya.
"Habisnya Bunda nawarin hp i-phone 11 pro, ya mau bagaimana lagi," ungkap Fajar dengan santainya memakan sarapannya, tanpa merasa bersalah maupun berdosa.
"Disuap sedikit saja, sudah lambaikan tangan," lanjut MB menatap Adiknya segan.
Lelaki itu sudah tak nafsu makan. MB pergi dari sana menuju ke toko kue, baru saja tiba melangkahkan kakinya di sana. Para gadis dan karyawan yang berada di sana melotot menatapnya, bahkan sampai ada yang menabrak tembok sampai jidatnya benjol.
MB mencari kue yang sekiranya disukai gadis itu, namun ini baru pertama kalinya. Para gadis berpura-pura memilih kue, yang saat ini ingin tetap berada disampingnya. Ia berdiri di depan kue selama 5 menit, akhirnya memutuskan bertanya pada karyawan di sana.
Ia menghampiri salah satu karyawan, lalu bertanya meminta pendapat. "Ada tidak, kue yang tidak terlalu manis, banyak kejunya dan sedikit ditambahkan blueberry? Kalau bisa yang sudah jadi, saya buru-buru," kata MB bertanya pada salah satu karyawan ditoko itu.
Gadis itu hanya menatapnya dengan tatapan tersanjung, makhluk Tuhan yang paling sempurna kini berada dihadapannya.
"Mba, Mba!" Panggil MB sambil melambaikan tangannya.
Manajer toko melihat itu, langsung menyenggol bokong karyawan itu sampai tersungkur di lantai.
"Maaf ya, atas ketidak sopanan karyawan saya. Mau kue yang seperti apa?" tanya menejer toko yang ternyata wanita.
Malas mengulang perkataannya lelaki itu memutuskan cari toko kue di tempat lain. Manajer memegang lengannya, semua gadis yang berada di sana melotot kesatu arah. Merasa iri dapat berpegangan tangan dengan lelaki pujaan hatinya.
"Anu, saya sudah bertanya padanya. Tetapi saya menyarankan kue tart yang sangat enak, tidak terlalu manis dan dipercaya meningkatkan mood yang buruk menjadi baik," tawar manajer toko itu
Daripada bingung, tanpa ambil pusing MB membeli kue tart itu. Setelah beres membayar, Manajer toko itu meminta tanda tangan darinya.
Sedangkan para gadis yang berada di sana, terenyuh dengan suaranya.
***
Didepan ruang rawat inap, MB mengangkat tangannya ingin meraih gagang pintu itu. Pintunya sedikit terbuka, di sana Gres sedang berbincang-bincang dengan Will.
MB mengurungkan niatnya, sebelum menengok. Terdengar suara Gres yang sedang tak nafsu makan, Will menyarankan membeli makanan diluar.
"Apa aku gak terlalu merepotkan?" kata Gres bertanya merasa tak enak padanya.
"Kamu ini kaya sama siapa aja, santai aja. Yaudah kamu tunggu dulu di sini sebentar, biar aku yang cari makan," kata Will bersemangat.
Gres mengangguk sambil tersenyum datar. Will pergi dari sana, MB berlari kecil kebelakang tembok. Setelah Will pergi cukup jauh, ia memutuskan masuk ke dalam. Suara pintu terbuka kembali terdengar oleh gadis itu.
"Wah cepat sekal- " kata Gres yang menatap seseorang dihadapannya.
Gadis itu terdiam seketika. MB melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya, duduk disampingnya, menatapnya. Menaruh kue dipangkuan Gres, gadis itu hanya menatap kue tart yang sangat lezat di sana.
"Nggak seharusnya gue berteriak, gue juga gak bermaksud bikin lo nangis. Saat itu gue benar-benar hilang kendali, melihat lo memeluk Ibunya Kris. Gue- " MB menatap wajah gadis itu yang terus saja menatap ke arah kuenya.
__ADS_1
Ia mengangkat kue itu, mencoba memindahkannya ke kiri. Bola mata Gres mengikuti, ke arah kanan. Bola mata Gres dengan tegas mengikuti arah kue itu.
'Sial! Pada hal gue udah siap mental ingin meminta maaf padanya, tapi kenapa yang dia tatap cuma kue.' Pikir MB didalam hatinya sedikit kesal.
Mengeluarkan kue itu dari tempatnya, MB membuka plastik yang membungkus sendok kecil. Ia memakan kue itu sendirian, sambil menatap gadis itu. Memotong kue itu dengan sendok kecil, saat akan masuk ke dalam mulutnya. Gres menyambar kue itu, langsung memakannya.
"Oho, oho!" MB batuk-batuk seketika.
"Hmmm, enak banget. Beli di mana?" kata Gres.
Wajah keduanya sangat dekat. Gres menyadari wajah mereka begitu dekat, ia langsung mundur satu langkah menjauh darinya. Ia jongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, memikirkan hal yang membuatnya malu.
"Udah banyak tuh, pindah sana," kata MB santai meledeknya.
"Hmm, di..ssssssss." Gres mengeluarkan suara yang terdengar berdesis.
Tentu saja suaranya tidak jelas, ia benar adanya membekap wajah beserta mulutnya.
"Gue gak denger, lo ngomong apaan?" MB ikut jongkok mendekatkan telinganya ke depan wajah gadis itu.
"Hi...busssss."
Terus saja suaranya tak jelas, lelah dengan hal itu akhirnya Gres menurunkan tangannya hampir berteriak. Direm seketika saat ia tak sengaja mencium telinga lelaki itu. Kedua matanya membulat, mulutnya ternganga.
Terkejut bukan main MB mundur sampai terduduk di lantai.
"Ma-maaf, gak sengaja," kata Gres menutup wajahnya kembali.
"Seharusnya gue yang minta maaf, lo maafin gue, kan?" tanya MB mengalihkan suasana canggung di antara mereka.
Seketika Gres menurunkan tangannya menatapnya sebentar, lalu memalingkan wajahnya.
"Iya, tapi ada syaratnya,"
"Apa?"
Ini kesempatan baginya, Gres harus dengan sangat berani harus mengatakannya.
"Jadilah pacarku seharian!"
"Apa?!" MB terkejut.
Author :
Kok bisa ya Gres meminta hal seperti itu, apakah MB akan menerima tawarannya atau menolaknya?
__ADS_1
Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡