Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Sehari Jadi Pacarnya Part 2


__ADS_3

Mungkin gadis itu merasa kalau dirinya begitu naif, akan tetapi demi membuat lelaki yang dicintainya membalas perasaannya. Ia harus melakukan hal itu, saat berpikir demikian akankah lelaki itu membalas perasaannya sebagai Gres?


Berjalan beberapa menit. Mereka sampai di pasar malam, Gres melihat permainan tembak-tembakan. MB memperhatikan arah matanya, ternyata gadis itu menginginkan permainannya.


"Mau mencoba?" kata MB bertanya padanya.


"Eh, anu. Tetapi antriannya begitu panjang, aku gak mau bikin kamu nunggu," kata Gres sedikit kecewa.


"Hadiahnya cukup menarik, bagaimana kalau aku membeli boneka biru itu untukmu," tanya MB menawarkan.


"Nggak, aku mau mendapatkan boneka beruang itu dengan usaha dan caraku sendiri," kata Gres bersemangat.


"Kalau begitu jangan dipikirkan, kita gak akan tahu kalau belum mencobanya, ayo coba," MB memegang tangannya bersemangat.


Gres hanya sedikit terkejut. Baru kali ini seorang MB bersikap sangat halus padanya, rasanya begitu hangat, sangat menyenangkan.


Seorang gadis yang sedang mengantri berteriak secara mendadak, histeris sampai semua yang berbaris menengok.


"WAAAH, GANTENG BANGET!" Teriak salah satu gadis menengok ke arahnya.


"Sepertinya ini akan menjadi sangat merepotkan, jika kita tetap diam di sini," celetuk Gres menelan ludahnya susah payah.


"Kalau begitu- " kata MB menarik tangannya berlari dari sana.


Para gadis itu berlarian mengejar mereka, ada pembatas tembok di sana. Tempatnya cukup untuk mereka berdua bersembunyi, sangat sempit sekali, mereka saling berhadapan. Begitu sangat dekat, deg, deg, merasa jantung keduanya berdetak dengan sangat cepat.


Gres begitu gugup, ia memegang dadanya.


"Kamu mau menggodaku?" kata MB bertanya padanya. Karena gadis itu bersikap aneh.


"A-apa yang kamu katakan? Aku hanya memberi jarak, kau terlalu dekat," jawab Gres tak berani menatap wajahnya karena malu.


"Oh begitu ya ... " MB mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis itu.


"Aku mau cari tempat yang lebih terjaga dari para cewek," kata Gres menutup wajahnya.


"Cuma ada satu tempat," MB langsung menarik tangannya.


Mereka berdua kini berada didepan tempatnya.


"Hah, rumah hantu? Gak salah? Ngapain? Pilih tempat lain aja yuk?" ajak Gres mengernyitkan keningnya.


"Takut?" MB kini mulai menggodanya.


"Siapa bilang?! Berani ko," tegas Gres melangkah masuk ke dalam rumah hantu.


Baru saja ia melangkahkan kakinya, Gres langsung berteriak. "Aaaa!" Gres memeluknya.


"Benar aja apa kataku, kamu takut. Yasudah pegang lenganku, dengan erat kita akan berlari," kata MB mencoba menekan rasa takutnya.


"Baiklah." Mereka saling tatapan.

__ADS_1


MB melihat kuntilanak bergelantungan di atas, dengan kepala terbalik, sungguh sangat menyeramkan. Semakin erat memegang tangannya, saat kuntilanak itu tertawa. Ia jadi ingat tawa Gres yang hampir mirip dengan makhluk yang satu ini.


Pocong mulai menakuti, tiba-tiba muncul dihadapan mereka berdua. Pada saat itulah MB menggunakan kaki panjangnya menendangnya, tetap berjalan lurus bersama gadis itu.


Dalam beberapa menit saja mereka berdua sudah keluar dari tempat itu, meski dipenuhi dengan rasa takut yang mendalam.


"Hahah, aku gak menyangka kamu juga takut," kata Gres menepuk-nepuk pundak MB pelan, sampai sedikit terdorong ke depan sambil tertawa kembali mirip kuntilanak.


"Ya dia hampir cium aku, takut dong," MB sedikit kecewa, dengan perkataan gadis itu.


"Emang serba salah ya, memiliki wajah di atas rata-rata," ucap Gres sedikit berpikir.


"Jadi, maksud kamu, aku ini tampan?" tanya MB menatapnya hampir tersenyum.


"Jangan meledekku deh, semua cewek juga tahu akan hal itu, udah biasa."


"Tapi kalau kamu yang bilang berbeda."


"Apanya yang beda, sama aja kok sama,"


"Kamu lupa ya, kamu inikan sedang menjadi pacarku?"


Gres terkejut, apa ia yang salah dengar? Ternyata MB juga ikut menikmati kencan sehariannya itu, ia pikir hanya diri sendiri yang mencoba menikmatinya. Bahagia mendengar hal itu dari mulutnya secara langsung.


"Iya, iya pacarku ini adalah pacar yang paling tampan," ungkap Gres menatapnya dengan senyuman.


'Sial, kenapa dia begitu imut.' Kata MB di dalam hatinya membelakangi gadis itu.


Kruyuk, kruyuk. Bunyi suara perut Gres tak tertahankan, MB menatapnya seketika lalu menertawainya.


"Hahah, kamu lapar?" tanya MB masih tertawa.


"Sepertinya begitu, hehe." Cengir Gres sedikit malu bicara dengannya.


Melihat-lihat sekeliling untuk memastikan makanan yang sekiranya enak, kenyang diperut dan tidak membosankan. MB menemukan salah satu kedai makanan yang sedikit sekali pembelinya, sedangkan Gres menginginkan makanan yang dipilihnya.


Tenaga Gres tentu saja tidak sebanding dengan tenaga lelaki itu, ia merasa jalannya telah diseret. Akhirnya pasrah sambil memasang ekspresi tak bahagia, kencan yang ia anggap akan menjadi kencan yang sangat romantis, ternyata malah kebalikannya.


"Ke mana penjualnya?" kata MB bertanya padanya.


"Mana saya tahu, sayakan ikan," jawab Gres dengan santainya.


"Yaudah kita gak usah makan," ucap MB mengatakannya dengan tegas.


"Ya kali aku tahu, aku kan dari ujung keujung bareng sama kamu," mengatakannya Gres tak kalah tegasnya.


Perdebatan di antara mereka berhenti, ketika perut Gres berbunyi beberapa kali. Gadis itu ingin makan burger, tetapi kata MB makanan tidak sehat.


"Terus aku harus nahan lapar gitu? Apakah itu sehat?" rengek Gres dengan nada kesal.


"Kalau begitu hanya ada satu cara, untuk membuatmu sehat." MB masuk kedalam toko kecil itu.

__ADS_1


"Mau ngapain? Masak?" kata Gres bertanya karena penasaran.


"Nggak usah kebanyakan nanya, diam aja."


Mengambil penggorengan, MB mengiris bawang merah, putih dan bahan lainnya. Mengeluarkan daging sapi, Gres menawarkan ingin membantunya tetapi ia menolaknya dengan keras. Menyuruh Gres duduk dengan manis, biar ia bisa konsentrasi.


Keadaan Gres kali ini hanya memasang wajah cemberut, ngedumel sendiri, sambil menahan lapar. Beberapa saat kemudian, para gadis menengok ke arah MB. Antrian pun menjadi sangat panjang, karena mengira lelaki tampan itu penjualnya.


"WOEEEY, ada cogan (cowok ganteng). Dia lagi masak stick, kayanya enak!" Teriak salah satu gadis yang sedang berlari menunggu dibelakang Gres.


Tercium bau aroma yang sangat enak, dan wangi. Seketika itulah pemilik toko datang, Gres cukup terkejut melihatnya.


"Tino!" Pekik Gres terkejut.


"Gres, nah loh. Dan lo bisa masak juga ternyata," kata Tino menepuk pundak lelaki yang sedang serius memasak.


Tatapan MB begitu tajam menatapnya, lalu Gres berteriak. "Jangan ganggu atau kamu akan mati."


"Sadis banget, eh tapi yang ngantri banyak juga ya?" tanya Tino kegirangan sambil membayangkan mandi uang. "Penyebabnya pasti cowok tampan yang lagi masak ini." Lanjutnya mengelus-elus dagunya merencanakan sesuatu yang sangat licik.


Selesai memasak MB membawa masakannya lalu pergi bersama Gres. Mengetahui hal itu para gadis yang sedang berkumpul pergi meninggalkan toko, Tino bergegas meluncurkan rencananya.


"Nona, nona. Jika kalian meninggalkan tempat ini, maka kalian tidak akan mendapatkan kesempatan mengetahui nomor lelaki itu!" Tino berteriak mulai meluncurkan rencananya.


Alhasil mereka percaya dan membeli banyak stik. Dengan sabar menunggu, dengan diberi embel-embel dikasih nomor telepon MB. Padahal aslinya Tino tak memiliki nomor teleponnya, yang dia kasih nomor telepon emaknya.


Waraskan dia?


"Mau ke mana? Jauh banget." kata Gres.


Setelah sampai di atap sekolah.


"Di tempat ini lebih aman, udah makan aja, nih," tawar MB memberikan makanannya.


Tanpa menolak Gres makan dengan lahapnya. Ia tak menyangka jika MB pandai dalam memasak, tapi kenapa dia tidak suka makan?


"Boleh aku meminta satu hal lagi, karena sebentar lagi masa pacaran kita akan berakhir," kata Gres menatapnya.


"Jangan yang aneh-ane- " kata MB terpotong ketika menyadari gadis itu memeluknya.


"Sebenarnya aku gak ingin hubungan ini berakhir, tetapi rasanya juga gak mungkin aku memaksakan kehendakku sendiri. Tanpa memikirkan perasaanmu," Gres menangis dalam pelukannya.


MB memegang pundaknya, angin berhembus cukup kencang. Mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis itu, apa ia akan menciumnya di sana? Tetapi itu adalah ciuman pertamanya bukan? Yang seharusnya bersama Kris?


Author:


Jadi gimana? Gimana? Apa mereka akan mengakhiri pacar seharian dengan ciuman perpisahan?


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.


See you, next part ➡

__ADS_1


__ADS_2