Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Aku Ingin Dicintaimu


__ADS_3

Sampai di depan gerbang sekolah, MB masih memegang tangannya bahkan semakin erat. Namun Gres sadar diri, jika Kris melihat mereka. Akan ada kesalahpahaman antara mereka, perlahan gadis itu melepaskan tangannya dari genggamannya. Seketika membuat cowok yang disebelahnya memperhatikannya sesaat.


Latus, Tino, dan Esa, lari lalu memeluk sahabatnya.


Hafis mendekati MB yang merasa bahagia, ketika melihat mereka saling berpelukan setidaknya mengurangi rasa bersalahnya.


Latus tidak henti-hentinya menangis dan terus memegang lengan Gres agar tak pergi lagi darinya.


"Sudah-sudah, aku kira kalian akan kecewa padaku. Karena telah menyembunyikan tentang rumahku yang kalian dekor- " kata Gres terpotong.


"Itu gak penting, yang penting tuh keselamatan lo," tangkas Esa kembali memeluknya.


Gres tersenyum.


Pelajaran Pak Selamet dimulai.


"Kalian akan segera ujian, dan Bapak ingin menceritakan kejadian yang tidak dapat terlupakan," Pak Selamet menatap serius ke arah muridnya. "Dihari itu Bapak masih seumuran kalian,"


...Flashback On...


Pak Selamet saat itu sedang mencoba menembak seorang gadis.


"Rina, maukah kau menjadi pujaan hatiku?"


Tetapi Rina memilih cowok yang disebelahnya, membawa motor ninja, gadis itu naik motornya lalu pergi. Hanya ada satu kata NYESEK.


Malam hari seorang gadis cantik duduk di taman.


"Sayangku, Rara maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?" ucap Pak Selamet membawa motor ninja.


Akan tetapi Rara di jemput kekasihnya yang mengendarai mobil Pajero Spot, ia dengan bahagianya menolak cinta. Pak selamet sedih, hanya ada satu kata, NYESEK.


...Flashback Off...


"Begitulah cerita cinta Bapak, menyedihkan bukan?" kata Pak Selamet meneteskan air mata.


Kedua siswa yang sangat ia benci memeluknya, dengan penuh perasaan.


"Sabar ya Pak? Apapun yang terjadi hanyalah masa lalu. Bapak pasti bisa menemukan yang terbaik," kata Tino ikut menangis.


"Saya janji gak akan pasang lem cap gajah lagi, di bangku Bapak," Teri berkata demikian lalu menangis tersedu-sedu.


"Tino, Teri. Nilai kalian bapak A kan, terima kasih sudah mengerti Bapak." Pak Selamet memeluk dan membalas pelukan mereka.


Tino mengkedipkan mata sebelah kiri, membuat rencana Teri dan Tino berjalan lancar. Karena saat seperti ini lah, mereka dapat keuntungan dan memperbaiki nilai.


Esa, Latus saling pandang menggelengkan kepala bersamaan sambil melotot.


Istirahat ...


MB menggenggam tangan Kris membawanya ke suatu tempat, mereka memasuki tempat rahasia. Makam Kris, cowok yang menggenggam tangannya melepaskan pegangannnya.


"Duduklah," MB mengangkat ringan bahunya.


Kris sibuk memandangi betapa indahnya tempat itu.


"Apa kamu, pernah ke tempat ini?" tanya MB.


"Bukankah, ini pertama kalinya kamu membawaku ke tempat ini?" kata Kris berbalik bertanya tersenyum menatap MB.


"Tapi ... Tempat ini, tempat pertama kita bertemu. Kamu benar-benar tidak mengingatnya,"

__ADS_1


"Mungkin karena kita sudah lama berpisah, aku jadi lupa."


'Gue yakin, Kris gak mungkin lupa sama tempat ini. Gue merasa lo bukan Kris, tapi ... Kenapa lo terlihat bahagia?' pikir MB.


"Hmm, aku ingin kau bersamaku ... Selamanya," Kris memegang tangannya.


"Baiklah." Membalas memegang tangannya.


Berjalan sendirian di samping kelas, Will mendekati Gres yang sedang asyik menatap bunga taman. Cowok itu membawa es krim untuknya, menarik tangan gadis yang dihadapannya memberi es krim.


"Makanlah," ucap Will.


"Hmm, Will aku duduk ya?" tanya Gres sedikit kikuk.


"Kenapa pake nanya, duduk ya duduk aja,"


"I-iya."


Lama mereka berbincang-bincang es krim menempel di hidung Gres, Will mencoba memberi petunjuk namun gadis itu tidak mengerti. Will mengusap bekas es krim yang ada di hidungnya, saat itu pun MB dan Kris melihat mereka sedang berduaan.


"Sos wet banget ya, mereka," ucap Kris memegang lengan MB.


Terlihat sangat jelas wajah MB merah menahan amarah, yang bergejolak dihatinya. Cowok yang sedang merasa cemburu itu pergi begitu saja, membuat Kris bertanya-tanya.


Gres meminta Will pergi duluan ke kelas, setelah Will benar-benar meninggalkan tempat itu. Kris mendekatinya.


"Lagi nyari apa lo?" seru Kris.


"Aku nyari foto kecil aku, bersama Kakek Darman ... Duh di mana ya?" ungkap Gres mencari ke sana ke mari.


Melihat foto berada di bawah selengkangan Gres, Kris mengambilnya.


"Coba gue liat, lucu juga ya?"


"Iya, nih simpan baik-baik kenangan bersama keluarga,"


"Iya, ayo masuk kekelas,"


"Oke!"


***


Cery memberi tahu semua yang bersangkutan dengan saudara tirinya, awalnya Ibu Cery tak terima jika Kris harus kembali. Namun setelah beberapa lama Cery mencoba membujuk Ibunya, akhirnya berhasil dan menerima kehadirannya kembali.


Namun saat kembali ke rumah itu. Kris meminta izin agar bisa ikut tinggal bersamanya. Tentu saja Ibu Cery berteriak hampir mengusirnya, karena kemurahan hati Cery Ibunya mengikuti semua keinginannya.


Ibunya mengatakan 'Terserah' Cery mempersilahkan Kris masuk untuk memilih sendiri kamar mana yang akan di tempati. Terdapat 21 kamar di sana.


"Bibi nanti tolong temani Kris dulu, serta tunjukan kamar mana yang ingin dia tempati," suruh Cery pada pembantunya.


"Baiklah, non," jawab pembantunya.


Ibunya ingin dibelikan makanan luar. Cery pergi keluar mengikuti keinginannya.


"Aku baru pindah ke rumah ini. Kamarku di sebelah mana?" tanya Kris.


"Di sana, mari saya antar." Membawa barang-barang miliknya.


Mereka memasuki kamar Kris, melihat-lihat foto semasa kecil pemilik kamar itu. Diliriknya ia menatap dengan sangat serius lalu bertanya pada pembantunya.


"Foto ini?"

__ADS_1


"Oh, itu foto kecil Non Kris,"


Kedua matanya membulat, mulutnya ternganga tidak percaya.


"Jadi Gadis itu ... "


"Apa maksud kamu, sudah jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu. Besok harus dateng ke rumah sakit ... Cuci darah, jangan sampai ada orang yang tahu." Pangkas Ibunya masuk ke dalam kamar.


Benar! Ibunya Cery adalah Ibu kanduPangka Tadi marah hanya pura-pura saja.


Keesokan harinya setelah pulang sekolah Kris diantar Ibunya ke rumah sakit, tidak sengaja Gres melihatnya.


Ia menaiki taxsi mengikuti gadis itu dari belakang, betapa terkejutnya ia saat melihat rumah sakit khusus pengobatan kanker dan tumor.


Beberapa saat Ibunya Kris keluar, dia harus pergi karena ada urusan mendadak. Gadis itu memasuki sebuah ruangan, suster keluar dari ruangan itu membasuh transfusi darah.


Karena begitu banyak pertanyaan dipikirannya, Gres menghentikan Suster itu.


"Suster, gadis yang berada diruangan itu ... Sakit apa?" tanya Gres.


"Kanker darah stadium akhir, maaf saya tidak bisa berlama-lama di sini." Suster itu pergi dari sana.


Merasa tidak percaya dengan apa yang Gres dengar tadi, memasuki ruangan itu dokter sedang tidak ada di sana. Melihat sebuah catatan tentang data pribadi pasien yang berada di sana, ia mencari-cari nama Kris namun tidak diketemukan. Gadis yang sedang terbaring lemah itu membuka matanya, terkejut melihat Gres berada dihadapannya.


"Gres ... " kata Kris terkejut bukan main.


"Jadi namamu, bukan Kris tapi ... Sarah Sintiabela," Gres langsung menyebutkan nama aslinya. "Hah, ini ... aku tidak percaya,"


"Gu- " Sarah ingin bicara.


"Kamu membohongi kami semua termasuk Haki, selama ini mempermainkan perasaan, Haki?!"


"Ini bukan yang seperti lo pikirin, gue tulus sayang sama MB. Gak ada cara lain buat dapetin dia, jadi gue lakukan semua ini karena gak mau kehilangan dia ... Gue sungguh sangat menyukainya,"


"Tapi, dengan cara kamu yang seperti ini. Akan membuatnya semakin terluka, aku juga memiliki perasaan yang sama sepertimu untuknya. Tapi, aku relakan Haki untuk mendapatkan kebahagiannya yang aku inginkan hanyalah melihatnya bahagia, meski harus dengan orang lain. Bukan aku, jadi- "


Mereka berdua menangis bersama.


"Gue hidup gak lama lagi ... Gue mohon, biarkan dia menemani gue, disisi gue. Disaat terakhir, gue pengen melihat dia menatap gue pada saat napas terakhir ingin selalu mengingatnya mencintai gue."


Gres hanya bisa pasrah mendengar ucapan Sarah.


Pulang dari rumah sakit, Gres pulang ke kontrakannya. Berbaring di tempat tidurnya, meneteskan air mata beberapa kali. Orang yang ingin dilihatnya tersenyum bahagia, dalam waktu dekat akan bersedih dan hancur.


"Ya Allah, aku sudah mulai merelakan dia. Jadi, aku mohon biarkan orang yang aku cintai ... Tersenyum bahagia." Gres mengatakannya sembari meneteskan air matanya beberapa kali.


Pagi-pagi sekali Gres berangkat ke sekolah, ia melihat mobil berwarna hitam di depannya. Beberapa pria keluar dari sana, menyeret Gadis itu masuk ke dalam mobil. Mereka membiusnya sampai pingsan, di tengah perjalanan handphone Gres bergetar ia setengah sadar lalu mengangkat telponnya.


"To-long!" Cakap Gres lalu pingsan.


Pria itu membuang handphonenya ke jalan.


Betapa terkejutnya Latus saat mendengar suaranya terdengar lemah, dia segera memberi tahu MB tentang hal ini. Semua orang yang berada di kelas mengkhawatirkan Gres, secepatnya cowok yang diberi tahu temannya lari keluar kelas. Kris menghentikan langkahnya, mereka saling bertatapan.


Author :


Gimana ceritanya hayo?


Maaf ya, kalau ceritanya sedikit ngawur.


Yaudah cuma mau bilang gitu aja, selamat membaca dan beraktivitas kembali hehehe.

__ADS_1


See you, next part ➡


__ADS_2