Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Jangan Sakit, Hal Itu Menyakitiku!


__ADS_3

Mungkin ini adalah keputusan terbaik bagi Gres dan MB. Hafis hanya bisa menyetujuinya, setelah menceritakan segala hal padanya. MB pergi dari sana.


Wajah Hafis terlihat murung. Setelah mendengar ucapan sahabatnya, Tino memanggilnya dari kejauhan.


"Haf- "


Hafis menoleh.


BRUGH! Tino menabrak Ibu parubaya berbadan tinggi, plus gendut. Badannya 3 kali lipat dari bentuk tubuh Tino. Kebayangkan sebesar apa?


"Ma ... " ucapan Tino terpotong, saat Ibu parubaya itu menarik baju Tino.


Sampai tubuhnya terangkat. Tino meringis ketakutan, Hafis hanya diam memperhatikan.


Mendekatkan wajahnya, ke wajah Tino. Mendengus.


'Buset, ini napas baunya. Kaya bau naga. Si Hafis diem aja, tolongin gue doong!' jerit Tino di dalam hati.


Keringat didahinya mulai bermunculan. Sampai meluncur, menetes kebawah.


"Kamu ikut saya, harus bisa menghibur saya. Saya butuh hiburan," kata Ibu parubaya membawanya pergi.


Tino melirik ke arah Hafis, dengan wajah memelasnya. Yang ditatap terdiam, sambil cekikikan kecil menunjuk-nunjuk ke wajahnya dengan jari telunjuknya.


Di dalam ruangan Gres.


"Duh yayang gue ko lama banget." Desis Esa sedikit khawatir.


"Tenang aja, gak bakal terjadi hal yang buruk. Lagian kita ini lagi di rumah sakit, gak jauh pula dari jangkauan," ungkap Latus sedikit menghela napas.


"Lebay kan dia Tus," celetuk Tino nyengir dengan keadaan baju serta rambutnya acak-acakan.


"Lo kenapa? Kok penampilan lo seperti itu?" tanya Latus penasaran.


"Ini semua gara-gara pacarnya Esa, si Kokoh. Masa gue dibiarin gitu aja, dianiaya sama ibu-ibu gendut lagi." Keluh kesal Tino meluap keluar.


Mendengar hal itu, secara terang-terangan dihadapannya sendiri. Nama pacarnya telah dicemooh, dinodai oleh si bodoh Tino. "Emang lo ya, dikasih hati mintanya jantung. Sini lo!" Esa segera mengepalkan tangannya.


Latus menangis, Esa langsung berhenti dan Tino memeluknya.


"Lo kenapa? Ada masalah?" tanya Tino memandang wajah Latus begitu mengkhawatirkan pacarnya.


Siapa yang menyatakan cinta duluan, tentu saja Latus. Karena waktu itu Tino terus saja menggoda Bu Riska guru matematika, Latus membanting kursi. Dengan sigap Tino melangkah ke arahnya, tetapi Latus kabur.


Apakah Tino mengejar? Tentu saja, sampai tangannya ditangkap oleh Tino.


"Lo kenapa? Marah sama gue?" tanya Tino dengan polosnya.


"Gak ada," sentak Latus tak menatapnya.


"Yaudah, gue pergi dul- "


"Gue sayang sama lo! Tapi kenapa lo malah godain Bu Riska terus, lo gak liat gue ... "


Tino langsung memeluknya, pada akhirnya mereka jadian.


"Enggak ko, aku cuma- " perkataan Latus terpotong.


Ketika Hafis menghampiri Esa. "Ayaaang!"

__ADS_1


Langsung memeluk Hafis.


"Malu sayang," kata Hafis menarik hidungnya yang pesek.


"Duuh, sakit tahu. Kebiasaan deh," ungkap Esa mengelus-elus hidungnya.


"Biar mancung."


Hanya terdiam. Pasti sedih saat lulus SMA nanti, temannya akan masuk kuliah. Sedangkan dia disuruh pulang kampung, karena tiadanya biaya.


Sebenarnya dia ingin menceritakan hal ini pada Tino. Tapi ia sangat yakin, kalau Tino orang yang dicintainya akan melarangnya pergi. Mangkannya ia hanya bisa terdiam.


Seketika Gres memperhatikan Latus. Wajah sahabatnya tampak terlihat murung, aneh rasanya lain kali saja ia akan bertanya. Ia sangat mengerti Latus, jika terdiam seperti itu ada masalah yang dia sembunyikan.


Pastinya tidak ingin ada orang lain yang tahu, tentang masalahnya itu.


"Kalian gak mau pulang, udah sore pasti belum pada mandi kan?" tanya Gres menunjuk.


"Iya juga, pulang yok," ajak Tino ke Latus.


"Tino, biarin aja Latus di sini. Aku mau minta tolong," kata Gres menjelaskan menahan Latus pulang.


"Yaudah, sehat-sehat lo." Esa menarik tangan Hafis.


"Kita pulang dulu Gres," ucap Hafis tersenyum.


"Makasih dah pada jenguk."


"Iya, wajib tahu." Jawab mereka.


Mereka semua pergi meninggalkan ruangan itu. Kecuali Latus yang terdiam menatap Gres, yang ditatapnya menyuruhnya duduk.


Latus menggelengkan kepalanya.


"Kamu itu sahabat aku, jadi kalau kamu mau menyembunyikan wajahmu seperti itu. Aku tahu, kamu lagi ada masalah,"


"Gue cuma gak mau, lo yang lagi sakit ikut menanggung beban gue,"


"Latus, sahabat itu harus saling berbagi penderitaan. Kamu jangan pikirin aku, insyaallah aku baik-baik aja,"


"Gue bingung, mesti cerita dari mana," kata Latus matanya mulai memerah.


"Pelan-pelan aja, aku yakin kamu bisa,"


"Sebenarnya setelah lulus SMA, gue gak tahu harus ngomong apaan sama Tino dan yang lainnya. Kalau gue bakal pulang kampung, gue gak tahu Gres mesti gimana?"


Jadi ini yang telah disembunyikan Latus dari yang lain. Gres mengerti, kenapa dia begitu berat menceritakannya.


"Aku yakin, apa pun keputusan yang kamu ambil. Itu adalah yang terbaik, jadi apa pun yang terjadi ... Kamu harus percaya. Kami akan selalu jadi sahabat kamu, jangan berpikir setelah kamu pergi persahabatan kita jadi terputus. Jarak tidak akan memutuskan suatu persahabatan."


"Gres makasih, beban gue jadi berkurang ... "


Mereka berdua berpelukan. Setelah beberapa saat Latus pulang, Gres sendiri lagi di rumah sakit.


Dring, dring, dring.


Hp berdering disampingnya. Ia mengambil hpnya, mengangkat telepon yang ternyata dari Ibunya.


"Hallo,"

__ADS_1


"Sayang, Mama ada urusan sama temen kerja Mama mau memulai usaha yang sudah lama tertinggal. Malam ini kamu gak apa kan, di rumah sakit sendirian?"


"Iya gak apa, aku akan baik-baik aja ko mah,"


"Yaudah Mama tutup telponnya ya?"


"Iya Mah."


Menaruh hpnya kesamping, menghembuskan napas berat. Sebenarnya ia takut sendirian diruangannya itu terlebih rumah sakit, mau bagaimana lagi. Ia harus mengerti ibunya.


Kepalanya kembali pusing, sekarang pandangannya semakin berat. Ia tertidur.


Menengok dari balik jendela ruangan Gres. Tak ada siapa pun di sana, MB merasa kasihan padanya. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan, memperhatikan wajahnya.


Awalnya ia hanya sebentar lalu pergi. Tapi ia mengurungkan niatnya, karena rasa rindunya pada gadis itu. Menarik bangku duduk disebelahnya.


Ingin sekali memegang tangannya, apa daya. Ia hanya bisa memandangi wajahnya, wajah Gres mengernyit. Wajahnya terlihat pucat, keringat terus menetes dari dahinya.


Menyentuh kening Gres dengan telapak tangannya, matanya membulat. Panas, wajahnya juga sangat pucat.


MB sangat khawatir. Ia lebih baik memanggil dokter untuk mengecek keadaannya, melangkah pergi menurunkan tangannya.


"Jangan ... Jangan pergi, aku kangen kamu ... Haki," kata Gres masih dalam keadaan menutup mata. Menahan rasa sakit, memegang tangannya.


Betapa terenyuhnya MB, saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Gres. Seakan kesedihannya tertendang keluar dari penderitaannya, ia kembali duduk sambil memegang tangannya.


Lalu mengapa Gres memutuskan hubungan secara sepihak. Namun pada kenyataannya, gadis yang ia cintai masih mencintainya.


Berpikir dengan keras. Setelah Kevin hadir di antara kehidupan mereka, mendadak sifat Gres berubah drastis. Kini MB yakin, yang mampu menjawab semua pertanyaannya hanyalah Kevin.


"Gres, beberapa minggu lagi adalah hari kelulusan. Tapi kamu malah terbaring sakit seperti ini ... "


Hanya bicara sendirian, ia berharap Gres dapat mendengarnya.


"Gue dateng dihari kelulusan, cuma sementara. Habis itu gue bakal langsung pergi kebandara, tekat gue udah bulet. Mau melanjutkan usaha keluarga ... "


Mendekatkan wajahnya dengan Gres. Mencium keningnya, setelah itu ia duduk kembali. Tanpa ingin pergi dari sisinya, terlebih ia tahu kalau ibunya tak bisa menemaninya di rumah sakit.


Keesokan harinya.


Mencoba membuka matanya. Tapi sangat sulit baginya, memaksakan diri. Kelopak matanya mulai terbuka, ia melihat seseorang duduk disebelahnya.


Mengucek-ucek matanya, pandangannya mulai terlihat jelas. Gres terkejut bukan kepalang, Kevin sedang duduk disampingnya sambil memegang tangannya.


Meskipun ia yakin betul. Ada seseorang yang terus menemaninya, ia juga merasa orang itu menggenggam tangannya. Jadi ternyata dia adalah Kevin, apa yang ia harapkan?


"Lo baik-baik aja kan?" ucap Kevin bertanya dengan tatapan khawatir.


"Iya, makasih udah nemenin aku semalaman. Jujur aku ketakutan berkat kamu, aku jadi gak takut," seru Gres menjelaskan sambil tersenyum-senyum manis.


Masih di sana berdiri dari balik jendela. MB sangat tidak menyangka, Gres sama sekali tak menyadari kehadirannya.


'Aku merasa kamu sudah tak perduli padaku lagi.' Batin MB pergi dari sana dengan wajah sedih.


Author :


Waduh, MB dan Will pergi secara bersamaan? Lalu bagaimana dengan Gres, apakah dia akan baik-baik saja?


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.

__ADS_1


See you, next part ➡


__ADS_2