Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Menjadi Dua Wanita


__ADS_3

Seperti biasanya Tery mengerjai guru mtk paling killer, dikarenakan hari ini ulangan harian. Terlebih dia belum belajar sama sekali, lalu janjinya yang kemarin tak ingin mengganggu pak Selamet lagi ke mana? Tentu saja sudah dilupakan oleh otak udangnya.


Menaburi lem pelekat cap gajah. Kebayangkan sekuat apa? Teman sekelasnya mendukung perbuatannya, siapa lagi kalau bukan Tino sama gilanya. Sejak kapan mereka akur? Ternyata Tino telah dipengaruhi oleh kegilaan dan keberanian dari seorang Teri. Pak Selamet datang memakai kacamata min, berkumis tebal duduk dengan santai. Pembagian ulangan harian mtk, Hafis mulai membagikannya ke seluruh siswa yang di dalam kelas.


Saling melempar kertas ketika sang Guru tak memperhatikan, Tino dan Teri berbagi jawaban konyol. Bukan contekan, melainkan tentang sesuatu yang akan terjadi pada bokong kesayangan gurunya, Tino menggambar pantatnya bulat membesar cenat-cenut.


Teri cekikikan membacanya, membalas dengan gambar bokongnya dua kali lebih besar dan celananya robek-robek sampai keliatan ****** ********, yang berharap berwarna pink. Pada hal suasana di sana sangat hening, siswa yang lain serius mengerjakan ulangan harian.


Suara cekikikan mereka terdengar hingga masuk ke dalam gendang telinga Sang Guru. Tidak bisa tinggal diam melihat prilaku muridnya, Pak Selamet bangkit beserta bangkunya yang ikut bangkit, tersangkut melekat di celana bagian bokongnya.


"HAHAHAHA!" Tawa semua yang berada di dalam kelas pecah seketika.


Ruangan yang tadinya hening, kini sangat berisik dengan tawaan. Pipi Pak Selamet memerah karena marah, lalu menatap ke arah Teri dan Tino. Mereka berdua terdiam seketika, saling tatap hendak berlari kecil tiba-tiba.


"TERIII! TINOOO!" Teriak Pak Selamet. "Mau ke mana, kalian?" mendekati mereka.


Tatapan tajam dari Pak Selamat berhasil membuat anak jail itu ketakutan setengah mati, di dalam kelas mulai tegang. Banyak siswa yang mengeluarkan hp tak ingin tertinggal momen spesial ini, akan menjadi berita besar bagi mereka.


Tok, tok.


Bukan suara ketukan pintu, tapi suara itu berasal dari gurunya sendiri. Terhalang oleh bangku yang menempel di bokongnya, membuat guru yang dipenuhi amarah ini tidak bisa melewati bangku dan meja disekitarnya. Semua orang tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Tino dan Teri cekikikkan tanpa dosa.


Tanpa sadar Will menatap Gres, tapi tidak dengannya. Gadis itu menatap MB, saat cowok itu membalas tatapannya.


Gres malah menatap Will, cowok itu tersenyum padanya. Gadis yang curi-curi pandang membalas senyumannya. Sehingga pikiran MB dipenuhi kesalah-pahaman, menengok kembali ke arah depan. Will merasa Gres menyimpan sesuatu, ia ingin mencari tahu tentangnya.


Cery hanya memperhatikan sikap aneh yang diperlihatkan mereka, namun dia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwasannya dia masih mencintai MB.


Melihat sikap Gres yang semakin menjadi, Latus khawatir akan terjadi sesuatu jika dibiarkan. Dengan paksa menarik tangan sahabatnya, mengajaknya ke atas lantai 3. Will tak sengaja melihat mereka, dia juga ingin bertanya pada Gres lalu mengikuti mereka.


"Lepasin gak, gue bilang lepas!" teriak Gres.

__ADS_1


"Lo kenapa sih? Gak jujur sama gue, gue khawatir sama lo. Tapi lo ... "


"Khawatir, gue gak kenal sama lo. Ngapain juga lo harus khawatir sama gue, gak ada gunanya," bantah Gres tak ingin bicara dengannya.


"Bagaimana mungkin gue gak kenal sama lo, kalau gak ada lo ... Gue udah gak ada lagi di Dunia ini, gue gak akan berdiri dihadapan lo," mata Latus berkaca-kaca. "Lo udah beri gue semangat buat tetap hidup, gue janji sama diri sendiri. Gue akan ada di saat lo dalam kesulitan, jadi ... " memegang kedua tangan Gres. "Gimana caranya, gue lupa dan gak kenal sama lo?"


Setetes air mata terjatuh di atas tangan Latus, terkejut menatapnya yang sedang menangis.


"Maaf, tapi tetap gue gak kenal sama lo," Gres melepaskan pegangan tangannya walau pun ia sebenarnya ingin memeluk sahabatnya.


"Lalu foto dan air mata itu apa? Gue tahu, lo ingat semuanya. Bahkan masa lalu lo, dihari itu kami curiga Kris masih hidup. Karena dia masuk ke dalam ruang pribadi MB, di saat itu terjadi gue berfoto-foto dengan kupu-kupu. Dan gak sengaja gadis bertudung hitam itu ... Ikut terfoto," Latus memperlihatkan fotonya.


Terkejut memandang dirinya berada difoto itu. Ia langsung bertanya. "Apa MB tahu, tentang hal ini?"


Menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gak ada yang tahu, karena gue yakin lo punya alasan yang gak bisa lo kasih tahu sama kita,"


"Syukurlah, Tus ... Maafin aku, tapi aku gak bisa cerita sekarang. Tapi jika tiba saatnya nanti, kamu akan tahu kenapa aku lakuin ini,"


Terkejut mendengar percakapan antara Gres dan Latus, Will pergi dari sana dengan kekecewaan. Gadis yang mulai mencuri perhatiannya, kini akan pergi darinya. Duduk menyendiri, Cery duduk disebelahnya. Tanpa mereka sadari, saat ini sedang bersebelahan memikirkan cinta yang tidak akan pernah mereka dapatkan.


Tiba-tiba pandangan Will teralihkan padanya saat gadis itu menangis sampai terisak-isak. "Cery?"


"Will," Cery mencoba menghapus air matanya.


Tanpa banyak bicara Cery meninggalkannya sendirian. Dia malu terlihat menyedihkan di depan orang lain.


***


Turun ke bawah mendekati tempat pribadi MB, pemakaman Kris kini dipenuhi berbagai macam bunga di depan pintu masuk makam. Banyak siswa yang peduli dengan peringatan kematiannya, terlihat begitu indah. Menghentikan langkahnya, Latus menunjuk ke arah cowok yang sedang berdiri di depan pintu makam itu, Gres terkejut melihat MB menunggu seseorang di sana.

__ADS_1


"Gue yakin, alasan lo ada kaitannya dengan MB dan semuanya. Tapi dengan cara lo kaya gini, sama aja lo udah bikin mereka menderita tanpa lo sadari," ucap Latus menatap Gres. "Jadilah Gres disaat MB dan teman-teman membutuhkannya, dan jadilah Kris disaat lo merindukan kelurga lo. Dengan begitu membuat semua orang yang lo sayangi bahagia,"


"Tapi ... Dengan dua nama yang berbeda ini, dan sifat mereka yang hampir tidak sama. Apa gue sanggup, melakukannya?"


Memegang pundak Gres tersenyum muram sedikit sedih. "Gue percaya sama lo, gak akan bikin gue dan yang lain kecewa. Bagaimana pun juga, lo pernah menjadi keduanya. Gres dan Kris memanglah dua nama yang berbeda, tapi mereka adalah orang yang sama yaitu lo ... Lo pasti bisa!"


Dua nama yang berbeda menjadikan Gres atau Kris ini menyadari sesuatu, tidak semua hal yang harus dihindari demi melindungi. Namun ia juga memahami satu hal yang pasti, pengorbanan tak akan sia-sia saat ia percaya dibalik itu semua terdapat hikmah yang menyebabkan gadis itu semakin mempercayai dirinya. Dapat melakukan hal yang tidak dapat dilakukan oleh sebagian besar orang lainnya, tapi mengurangi beban yang selama ini ditanggungnya sendirian.


Dengan adanya sahabat disamping kita, maka kesedihan akan berubah menjadi sebuah senyuman kebahagiaan yang indah. Jadi masih adakan seseorang yang meragukan sahabatnya? Itu semua kembali pada dirimu sendiri.


Hujan mulai turun.


Gres mengkhawatirkan MB kembali menuju tempat itu sembari membawa payung berwarna biru.


Hujan semakin deras, gadis itu berlarian menuju tempat di mana seseorang sedang menunggu kedatangannya. Dari kejauhan Gres melihat MB duduk di depan pintu makam, terlihat seragamnya basah kuyup. Ia segera mendekatinya, hujan semakin lebat.


Menyodorkan payung ke atas kepala MB membuatnya menatap Gres.


Cowok itu berdiri dihadapannya, kini mereka saling bertatapan satu sama lain.


'Mengapa yang muncul Gres, bukan Kris saja.' Batin MB masih menatap gadis yang berada dihadapannya.


Angin berhembus kencang, membuat Gres menggigil kedinginan. Ia tetap bertahan demi menemani seseorang yang berarti baginya, pandangannya tidak bisa lepas darinya. Wajah MB pucat, bibirnya membiru. Gres tersenyum, namun dia terlihat serius menatapnya.


Ingin sekali bertanya pada MB, namun ia ingin mengerti akan dirinya. Masih merasa bersalah karena telah mengabaikannya beberapa hari yang lalu, hampir tidak memiliki keberanian.


Senyuman di wajah gadis itu menghilang, saat melihat wajah MB benar-benar terlihat tidak dalam keadaan baik-baik saja. Saat ia ingin bertanya, cowok itu tumbang. Jatuh dipelukan Gres, matanya membulat, mulutnya ternganga.


Author :


Menjadi dua orang yang berbeda? Apakah Gres sanggup?

__ADS_1


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.


See you, next part ➡


__ADS_2