
Karena suasana menjadi canggung saat itu juga, MB menatap dengan tatapan kosong ke depan memikirkan cara, Gres berputar meninggalkan MB. Namun lelaki itu memegang tangannya, melanjutkan berputar-putar.
Sehingga membuat yang lain melanjutkan pestanya, kedua bola mata teman-temanya membulat. Beberapa menit kemudian. Dokter menengok pasiennya, terkejut refleks dokter sampai menjatuhkan catatan medisnya.
"Kalian semua berhenti!" Teriak dokter.
Semua orang yang di dalam ruangan berhenti berjoget, berbaris dengan rapi. Tino terbangun dari pingsan kepuraannya, menarik dokter itu dengan sigap mengajaknya berputar-putar. Hanya dengan beberapa putaran saja, sang dokter ambruk ke lantai. Dia hampir pingsan karena pusing.
Suster secepatnya memapahnya pergi dari sana, Tino naik ke atas kasur kembali.
"Lanjut!" Teriaknya menatap ke arah Hafis.
"Siaap!" Jerit Hafis melanjutkan kembali DJ semongko.
Lelah dengan keadaannya sendiri, MB keluar dari sana. Di depan lift menunggu pintu lift terbuka, mengambil handphonenya dari saku celana, menatap jam di handphone. Menunjukkan sudah pukul 21.00, Pintu lift terbuka. Ia masuk ke dalam, Gres terlihat lari mengejarnya.
MB menahan pintu lift menggunakan kakinya ke pintu, Gres langsung masuk ke dalam.
"Gue inget pas lo nangis, tiba-tiba peluk gue gitu aja," ucap MB berwajah datar menatap layar ponselnya.
Gres seakan-akan menahan napasnya, tak bisa bernapas saat MB mengatakannya. Bukannya ia yang memancing lelaki itu mengingat kembali, tetapi sungguh ia sangat merasa malu.
"Alasannya kenapa?" tanya MB tetap menatap layar ponselnya.
"Entahlah, soalnya ada yang memberi tahuku. Kamu dirawat diruang itu yang ternyata sudah dinyatakan meninggal, aku sangat khawatir sampai tak bisa menahan tangis. Aku sungguh takut kehilanganmu, apalagi semua itu terjadi karena diriku," kata Gres menatapnya segan.
MB langsung menoleh ke arahnya, wajahnya berada didepan wajah gadis itu, sangat dekat sampai Gres sulit bernafas. Gadis itu sudah tak tahan lagi, ia membuang wajahnya ke samping.
GRRR! Lift tiba-tiba bergetar, seketika lampu di dalam lift padam. Tak terlihat apa pun di sana, dada Gres sesak, kedua kakinya tak terasa, tak mampu menahan berat tubuhnya, lalu Gres terjatuh. Ia mulai mengingat saat masih di dalam got, rasanya seperti saat itu.
Gelap, gelap gulita, tak terlihat apapun.
"Buka! Buka! Aku mau bertemu Haki, buka Haki!" Teriak Kris di dalam got.
"Buka! Buka! Aku gak bisa napas, Haki, aku ingin bertemu Haki!" Teriak Gres berteriak menggedor-gedorkan tangannya kepintu lift.
"Tenanglah Gres, tenanglah!" MB mengatakan hal itu sedikit membentaknya mencoba menenangkannya.
"Sesak, sesak aku harus keluar," ucap Gres sambil menarik kerahnya sendiri.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita pasti keluar," ucap MB duduk dihadapannya.
Gadis itu tak bisa tenang, Gres memeluknya. MB hanya terdiam, membiarkan tubuhnya dipeluk gadis itu.
Meski MB tidak menyukainya, entah mengapa, saat Gres yang memeluknya. Tubuhnya menjadi hangat, bukan hanya tubuhnya saja, tetapi juga hatinya terasa hangat. Tubuh gadis itu sudah tak memberontak, terdiam begitu saja, bahkan ia semakin erat memeluknya.
MB melepaskan pelukannya, ternyata Gres pingsan. Ia sangat khawatir menekan tombol lift meminta bantuan beberapa kali, akan tetapi tidak ada jawaban. Satu jam berlalu, ia semakin tak mampu membuka matanya karena kehabisan napas.
Dadanya semakin lama semakin sesak, ia menggeser tubuhnya dengan gadis itu. MB memangku kepalanya, menunggu petugas penyelamat datang. Tak lama kemudian kepalanya hampir tumbang ke bawah wajahnya Gres, langsung menahan agar tak menimpa gadis itu, dekat sekali dengan wajahnya.
Gres membuka matanya, ia memegang pelan pipi sebelah kanan lelaki itu. "Haki, apa aku sedang bermimpi? Kamu ada di sini?"
Tentu saja MB sangat terkejut dengan gadis itu yang baru saja sadar. Tiba-tiba menyentuh pipinya, Gres mendongak ke atas menatapnya. MB tak bisa bergerak, tatapan gadis itu membuatnya sedikit merasakan hangat.
MB menangkap tangannya yang berada di pipinya.
"Iya, ini aku Gres," kata MB menutup matanya.
'Aku lupa, aku ini Gres. Semoga Haki nggak menyadari apa yang aku katakan, sebelumnya.' Pikir gadis itu di dalam hati.
Terdengar suara teriakan dari luar lift.
"Seseorang, ada yang bisa jawab saya? Apa kalian baik-baik saja?!" Teriak petugas penyelamat.
"Kami baik-baik saja, tolong secepatnya keluarkan kami dari sini!" MB berteriak dengan setengah tenaganya.
"Baik! Tolong menjauh dari pintu lift." Teriak petugas.
"Tunggu sebentar Pak!" Sahut MB dengan setengah suaranya masih mampu berteriak.
Ia menatap ke arah Gres.
"Apa kamu bisa berdiri?" tanya MB masih dalam keadaan memangku kepala gadis itu.
"Akan aku coba," kata Gres mencoba duduk.
Sekuat tenaga Gres terduduk, MB berdiri terlebih dahulu. Ia mengulurkan tangannya, agar dapat diraih olehnya. Mencoba membantu berdiri wanita itu, akhirnya Gres meraih tangannya berdiri disampingnya. Saat MB akan melepaskan tangannya.
"Jangan, aku mohon, aku masih takut. Kali ini saja, tolong jangan lepaskan tanganku," Gres memohon padanya dengan suara sedikit serak.
__ADS_1
"Baiklah," MB menggenggam tangannya semakin erat.
Mengetahui gadis yang berada disampingnya memiliki penyakit phobia, membuat MB semakin kasihan dan pengertian padanya. Selang beberapa waktu berlalu, akhirnya mereka diselamatkan bisa keluar dari sana.
MB dan Gres masih berpegangan tangan. Meskipun mereka sudah keluar dari sana, Gres pingsan kembali karena kehabisan napas. Saat MB akan menangkap tubuhnya, ia pun ikut ambruk.
Will, Teri dan Cery tiba di sana. Mendapati Gres dan MB pingsan mereka berlari ke arahnya, Will memegang tangan Gres sangat dingin. Ia begitu panik sampai menggendongnya lalu menemaninya, sudah sampai di depan ruang pemeriksaan, dia terpaksa menunggu diluar.
Cery menyusul MB. Dia sangat mengkhawatirkan keadaannya, bagaimana pun juga dia masih memendam perasaan padanya. Dokter yang memeriksa Gres keluar, Will langsung menghampirinya.
"Dok, gimana keadaannya?" lontar Will bertanya karena sangat panik.
"Dia baik-baik saja sekarang, dia hanya hampir kehabisan napas. Tapi untunglah petugas penyelamat membawanya tepat waktu, jika tidak akan sangat fatal sekali keadaannya. Disarankan untuk tidak mengganggu keadaan pasien, biarkan dia istirahat untuk sementara waktu." Jawab dokter menjelaskan keadaannya lalu pergi dari sana.
"Baik dok," kata Will masuk ke dalam ruangan.
Kedua alisnya tertekuk, matanya begitu mendalam saat menatap Gres yang berbaring lemah tak berdaya di sana. Will duduk disampingnya, memegang tangannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kamu bisa terkunci di dalam lift bersama MB? Seharusnya jangan pergi bersamanya, kau akan baik-baik saja bila bersamaku. Kenapa bukan bersamaku? Kenapa harus orang itu?" Will bicara sendiri dengan berbagai pertanyannya.
Cery duduk di sebelah MB, dia hanya ingin menatapnya lebih dekat. Baru pertama kalinya dia melihat wajahnya sedekat itu, rasanya seperti sedang adu tatapan. Dia memegang tangannya, lalu meneteskan air mata.
"MB, meskipun aku gak bisa mendapatkan hatimu. Itu gak jadi masalah buatku, yang penting kamu bahagia itu saja sudah cukup bagiku." Cakap Cery mengatakannya dengan tulus.
Ternyata MB belum kehilangan kesadaran sepenuhnya, biasanya saat gadis lain menyentuh tangannya. Dengan sangat kasar ia akan secepatnya menepis tangan itu, tetapi kali ini berbeda. Ia membiarkan Cery memegang tangannya, karena mendengar perkataannya barusan.
Tapi alasannya bukan sekadar itu saja, ia merasa dipegang atau berpegangan tangan kini terasa biasa saja. Tidak seperti dahulu sebelum kenal dengan Gres, ia akan sangat senang menepis tangan itu.
Mungkin Gres sudah membawa dampak yang besar bagi dirinya, meski ia belum menyadari sepenuhnya.
'Apa gue sejahat itu ya sama cewek ini?' pikir MB di dalam hatinya masih dalam keadaan menutup mata.
Di dalam ruang rawat inap, berisikan orang sakit siapa lagi kalau bukan rombongan teman Gres. Tino ingin sekali pipis sudah tak tahan, pergi ke toilet sendirian tapi takut. Tak ada yang mau mengantarnya, Tino bergerak menarik tangannya, memaksa Esa untuk menemaninya.
Tapi Esa menggigit tangannya.
Author :
Duh mereka semakin soswet, tapi tunggu Esa gigit tangan Tino kok bisa?
__ADS_1
Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡