Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Satu Hari Jauh Darimu


__ADS_3

Dalam sesaat semua harapan Gres hilang bersamaan dengan kembalinya Kris, ke dalam kehidupan MB. Penderitaannya kini semakin bertambah saat tak sengaja melihat seseorang yang sangat ia cintai, tersenyum, memandang gadis yang sedang memainkan piano. Cery mulai menganggap dirinya tak pantas mendapatkannya, lalu menghapus air matanya beranjak pergi menemui teman barunya.


Di dalam kelas, Gres dan Cery tidak dapat berhenti memandang ke arah pasangan yang dimabuk kasmaran itu. Sedangkan Latus dan Esa ikut bersedih, Andre dan Hana memilih membiarkan mereka menenangkan diri untuk sementara waktu. Tino dan Teri tidak bisa tinggal diam melihat temannya bersedih, mereka mencari cara untuk menghibur.


Tino memeriksa sesuatu di dalam tasnya.


"Waaah!" teriak Tino membuat teman-temannya terkejut menatapnya. "Teri, gue gak nyangka lo mencuri,"


"Kalau ngomong ... Suka bener, canda. Gak lah! Gue juga punya," kata Teri.


"Mana tas lo, gue mau periksa," Tino menarik tasnya.


"Sialan! Tuh liat. Buku gue berhamburan di lantai, tanggung jawab lo," Teri menarik kerah Tino.


"Lo maling pulpen gue, kan? Jadi, ngapain gue harus repot-repot tanggung jawab," Tino membalas menarik kerahnya.


Tiga detik kemudian mereka saling tonjok, Hafis secepatnya menghentikan mereka. Dibantu Latus dan Esa, begini nih mereka niatnya menghibur, malah terkubur oleh masalahnya sendiri. Perkelahian sengit pun dapat dihentikan, setelah Pak Selamet menjewer telinga mereka dengan penuh tenaga, sampai mereka bersujud memohon ampun.


Teman sekelasnya tertawa tanpa henti, cuma gara-gara pulpen standar harga dua ribu. Mereka sampai adu jotos, mereka dihukum membersihkan toilet. Tahu kan aroma baunya toilet umum itu kaya apa, kadang kambing aja kalah kali aromanya.


"Gara-gara lo, gue jadi babu kaya gini," ucap Tino marah-marah.


"Mangkannya jangan asal nuduh, nih buat lo," Teri mencolek kan busa ke wajah Tino.


"Anjiiir!" Tino membalasnya.


Sampai pada akhirnya wajah mereka dipenuhi busa, seperti kumisnya Santa Claus. Di waktu istirahat mereka kejar-kejaran, saling memegangi sikat. Teman sekelasnya baru saja keluar dari sana, melihat kedua pria konyol itu membuat mereka tertawa. Hafis meneriaki mereka, dua orang bodoh itu pun terhenti kejar-kejaran.


"Kalian berdua lagi ngapain, yang disikat itu wcnya bukan muka kalian," Hafis tertawa sebentar melihat wajah mereka dipenuhi busa. "Kawan! Mari kita sikat muka mereka!" teriak Hafis semangat, "cepat, cari sikat!"


"Serbuuu!" teriak semuanya.


"Tidaaak!" teriak Tino dan Teri lari. Entah ke mana, mereka berdua melesat entah ke mana? Mungkin keplanet lain kali.


Yaudah kita bahas yang lain aja, males bahas mereka.


Mendapatkan teman baru, Kris sibuk mengobrol dengan mereka. MB memandangnya, memanggilnya beberapa kali. Tapi gadis itu sama sekali tidak meliriknya, cowok yang sedang memegang bunga ditangannya kini melangkah pergi darinya. Duduk di bangku taman, memikirkannya. Gres tak sengaja duduk di sampingnya, hansaplas yang di dahi cowok itu hampir terlepas.


Memegang hansaplas dan memperbaikinya, MB meliriknya.


"Terima kasih, gue kira Kris ternyata lo," ucap MB memandang kedepan.

__ADS_1


Senyuman di wajah Gres hilang sepenuhnya.


"Iya, kenapa tidak bersama Kris?" tanya Gres.


"Dia harus beradaptasi, jadi ... Gue biarin dia mengenal teman barunya."


"Oh begitu."


Mereka saling bertatapan sembari tersenyum, Kris melihatnya dan merasa cemburu.


***


Makan malam bersama membicarakan pertunangan MB dengan Kris, ditemani keluarga besar dari Cery namun Cery tidak hadir. Di samping kolam berenang, Kris menyampaikan agar MB menjauhi Gres. Atau ia yang akan menjauh, saat itu pun cowok itu menggenggam kedua tangannya lalu mengangguk.


Setelah makan malam berakhir, MB menemui Gres di atas teras. Gadis itu pun tersenyum sekian lama ia menunggu saat-saat ini, cowok itu menatapnya.


"Jauhin gue," kata MB.


Senyuman di wajahnya menghilang.


"Gue gak mau, Kris salah paham ... Jadi mulai sekarang, jangan dekati gue lagi." MB pergi meninggalkan Gres.


Gadis itu menjatuhkan dirinya ke lantai, kedua kakinya bergemataran tak kuat menahan sakit. Rasa sakitnya bertubi-tubi menyerang hatinya, air mata tidak bisa dihentikan. Saat itu pun MB menengok ke arahnya, melihatnya menangis seperti itu membuatnya merasa bersalah.


Setiap kali di antar pulang Gres selalu menolak di antar sampai rumah, penasaran Tino, Teri, Latus dan Esa pergi ke rumahnya. Betapa terkejutnya mereka, saat melihat rumah yang mereka renovasi bersama kini menjadi kedai makanan, Latus mulai berpikir masuk akal saat gadis itu menolak untuk diantar.


Pergi ke sekolah tanpa membawa tasnya, saat sadar Gres sudah sampai di sekolah. Berdiri disamping pintu kelas hendak minta tolong diantar, langkahnya terhenti saat mendengar pembicaraan teman-temannya. Dirinya menjadi topik utama, bahkan Tino berencana mewawancarainya. Sedangkan Latus mencoba menenangkan Esa yang sedang marah, karena tidak diberi tahu tentang hal itu.


Terpaksa Gres harus menghindari mereka untuk beberapa waktu, kembali menuju rumah MB. Membereskan pakaiannya, menulis surat lalu pergi dari sana tanpa sepengetahuan siapa pun.


Jam pelajaran masuk sekolah pun dimulai, Pak Selamet mulai mengabsen.


"Fanka," kata Pak Selamet.


"Hadir." Teriak Fanka.


"Gres," tak ada yang menyahut ia menengok ke bangku siswanya. "Di mana Gres? Apa dia sakit?" tanya Pak Selamet melirik ke semua murid.


Semua sahabatnya menengok ke arah bangku kosong itu, termasuk MB merasa khawatir padanya.


Duduk sendirian di tempat busway, memandangi mobil yang berlalu-lalang. Gres mencari kontrakan, akhirnya ia menemukan kontrakan yang sesuai dengan bajetnya. Bahkan pemiliknya menawarkan sebuah pekerjaan paruh waktu disebuah lestoran sederhana, dekat dengan tempat tinggalnya yang sekarang. Dengan senang hati, gadis yang banyak memiliki beban itu mengangguk setuju.

__ADS_1


"Hari ini, hari yang terjadi hanya untukku. Satu hari, yang membuatku melepaskanmu." Gres tertekan sampai memegang dadanya terasa semakin sesak. Saat mengingat perkataan, MB pada malam itu.


Sudah larut malam MB menunggu kedatangannya, saat itu pun ia masuk ke dalam kamar Gres. Semuanya tertata rapi, cowok itu pun menahan amarahnya.


BRAGH!


Ia menggebrak meja, tak sengaja melihat sepucuk surat.


Aku minta maaf, tapi ... Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Jangan merasa bersalah atas keputusanmu, aku tidak menyalahkanmu dan jangan pernah cari aku. Jangan khawatir aku akan baik-baik saja, selamat tinggal Haki.


Gresnalia Putri


Setelah membaca surat itu, MB bergegas mencari Gres. Sampai ia tidak pedulikan Kris yang memanggilnya, masuk ke dalam mobil menancap gas pergi dari sana. Ia sangat khawatir, terjadi sesuatu padanya. Mencarinya keberbagai tempat, tetap saja hasilnya nihil. Jam tiga pagi ia baru pulang ke rumah, Ibunya sempat memarahinya tapi putranya tak mendengarkan masuk ke dalam kamar.


Menyentuh pundak Ibunya, Fajar menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat Ibunya mengerti, ia mengetuk-ngetuk kamar kakanya beberapa kali tetap saja tak ada jawaban.


MB keluar dari kamarnya, meminta maaf lalu pergi ke atas teras disusul adiknya.


"Kak, jangan bohongi perasaan sendiri ... Aku yakin Kaka menyukainya," kata Fajar.


"Entahlah, Kris sudah kembali. Apa lagi yang Kaka harapkan, hanya dia ... " kata MB.


"Hanya siapa Kak? Kris ...  atau Gres? Kris memang sudah kembali, tapi dengan berjalannya waktu. Apa perasaanmu masih sama? Apa perasaanmu bisa kembali padanya? Perasaanmu sudah hilang ditelan rasa sakit yang kau derita selama in- "


"Cukup, Kaka tidak bisa mendengar perkataan mu lagi," MB akan meninggalkan Fajar.


"Gres menyukaimu Kak, dia memahamimu lebih dari siapa pun. Bahkan aku mengira dia Kris untuk sesaat, tapi setelah aku tahu dia bukan Kris ... Tapi tetap saja dia sangat berharga dimataku dan bukankah Kaka yang mengatakan. Kamu tersenyum saat memikirkan dia, kamu merindukan dia saat dia tidak bersamamu,"


"Bagaimana kau tahu ... "


"Aku yang memaksanya menceritakan apa saja, yang menjadi beban pikirannya. Masalahnya ... Bahkan dia cerita tentang kau yang memaksanya untuk melupakanmu, sekarang aku kembalikan semua perkataanmu untuknya, kembali padamu ... Pikirkanlah Kak, aku yakin kau akan mengambil keputusan yang tepat."


"Aku ... Mencintainya?


Pertanyaan kini membludak di kepalanya, MB terus memikirkannya.


Author :


Hallo say, lagi pada ngapain nih? Yaudah aku cuma mau kasih tahu kapan ya ceritanya berakhir ...


Tapi kalau kamu mau aku perpanjang ceritanya, kasih aku semangat dong, komen, like dan sarannya ...

__ADS_1


Soalnya aku merasa gak layak jadi seorang penulis, tanpa dukungan dari kamu nih.


See you, next part ➡


__ADS_2