Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Jangan Percaya Apa Yang Dia Katakan


__ADS_3

Dengan melihat MB sedikit malu padanya, membuat Gres semakin yakin. Kalau lelaki itu sebenarnya menyembunyikan sesuatu, atau mungkin ia telah menyukainya.


Jika semua itu benar, bukankah akan menjadi hal yang sangat membahagiakan untuknya. Bukankah Gres sangat hebat? Hanya dengan satu langkah saja, bisa menaklukan seorang MB yang dingin sedingin batu es Kutub Utara itu.


Mereka tiba di depan rumah sakit. MB menanyakan pada resepsionis tentang diruang berapa teman-temannya dirawat, ia disuruh mencatat ruang berapa saja. Namun ia menolaknya, menyuruh Mba resepsionis itu mengatakannya.


"Tapi nanti lupa kan bisa repot," kata petugas rumah sakit kurang mempercayainya.


"Coba katakan saja," kata MB sedikit menantangnya.


"Dengan nama tuan Tino, diruang 12 melati. Nona Lailatus Sukriyah, diruang 9 mawar, tuan Hafis diruang 15 melati. terakhir Nona Esa Kuswanda, diruang 17 melati. Coba anda ulangi?" kata petugas itu menantangnya, benar-benar tidak percaya.


"Tino ruang 12 melati, Lailatus ruang 9 mawar, Hafis ruang 15 melati dan Esa ruang 17 melati. Apa ada yang salah?" kata MB kembali bertanya dengan sedikit sombong, karena meremehkannya di depan Gres.


"Ti- tidak, semuanya benar. Hebat sekali!" Sambil bertepuk tangan.


"Keren sekali, aku suka, aku suka kamu," kata Gres semangat mengatakannya.


Lelaki itu hanya menatapnya di sana. Menyadari ada yang salah dengan perkataannya Gres langsung membekap mulutnya sendiri.


Gadis itu mulai lagi membuat suasana di antara keduanya canggung, MB bertanya padanya. "Mau keruangan yang mana dulu?"


"Ke Lailatus dulu kali ya?" kata Gres ragu.


"Yasudah," MB berjalan menuju lift.


"Tunggu dulu, kamu yakin mau ke sana bareng aku?" tanya Gres kembali ragu, hanya sedikit takut jika dia malu datang bersama.


"Memangnya kenapa? Kamu gak suka bareng sama aku?" tanya MB sedikit kesal.


"Enggak kok, bukannya gitu. Cuma aneh aja, seorang Haki yang cueknya super bebek mau nemenin aku, yang selembut kapas," tersenyum memuji diri sendiri.


Tanpa menjawab MB pergi lift. Gres menyadarinya berlari menyusulnya, teringat kejadian di mana MB melindunginya saat terjatuh dari tangga.


Lalu petugas resepsionis memberi tahu ruangan yang salah terhadapnya, membuatnya begitu khawatir.


"Masih inget gak? Pas aku lari-larian sambil nangis. Terus tiba-tiba aja aku peluk kamu, di sini?" tanya Gres mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya sambil tersenyum.


"Lupa!" Jawab MB dengan tegas, singkat dan juga padat.


Menghancurkan senyuman Gres seketika, mulutnya merosot ke bawah. Alisnya ditekuk, menatap ke arah MB tajam.


Ekspresinya begitu imut, MB tak tahan menahan senyuman diwajahnya.


"Haha." MB tertawa pelan agar tak dapat didengar olehnya.


Tiba di lantai 12, Gres masih dengan keadaan wajahnya yang dianggap MB imut.

__ADS_1


"Gres, MB," sapa Latus, Esa, Hafis dan seharusnya Tino. Berhubung Tino masih dalam keadaan mati, maksudnya pingsan, jadi tak disebutkan.


Terkejut bukan main. Gres melotot, MB hanya mengangkat sebelah alisnya. Bukannya, seharunya ruangan mereka berbeda-beda. Kenapa jadi satu ruang? Bahkan barisan?


"Ruang kalian kok sama?" tanya Gres bingung.


"Tadinya memang beda, semua ini dikarenakan oleh satu orang yang keras kepala. Bahkan dia maksa banget, terlalu agresif sama dokter," jawab Hafis menceritakan hal yang sebenarnya.


"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Gres semakin penasaran.


Lelaki yang berada disampingnya hanya terdiam sambil menyimak, MB sebenarnya sudah menebak-nebak siapa pelakunya.


"Lo bayangin aja, itu orang sampe naik ke jendela mengancam dokter dan suster mau terjun ke bawah. Cuma gara-gara kita gak boleh dipisah ruangannya, harus disatuin. Gila kan? Pala ****** emang," ketus Esa bersemangat menceritakannya.


"Terus ni ya, pas dia duduk di atas jendela. Dia beneran kepleset dong. Ditangkap dong, sama dokter dan suster dong. Bukan tangannya yang ditangkap, tapi kaki sebelah kanannya yang ditangkap, kita yang lagi nahan sakit perut. Harus turun tangan bantuin dia, saling tarik menarik dong kita," tangkas Hafis semakin bersemangat menceritakan kisahnya.


"Terus, terus. Habis naik ke atas, udah selamat tuh orang, dia pingsan. Kata dokter mati rasa. Haha." Imbuh Esa tertawa.


Gres ikut tertawa. "Lalu siapa dia?"


MB hanya berpikir orang itu adalah.


"TINOOO!" Teriak semua orang yang berada di sana menatapnya.


Belum selesai dengan obrolan mereka. Tino bikin ulah lagi, setelah bangun dari pingsannya. Ia makan buah palsu yang luarnya dicat sedangkan dalamnya hanya gabus kecil.


"Lo pikir buah asli? Kemakan sendiri kan kata-katanya," sambung Esa menghakiminya.


"Maksud gue tuh bae, kasih kode sama MB dan Gres bawa makanan kek. Ya gue makan, menghormati, tapi malah mereka gak bawa apa-apa," seloroh Tino berwajah sedih tapi datar.


"Itu ya, aku sangat mengkhawatirkan kalian semua. Jadinya gak kepikiran kesitu, maaf ya? Lain kali deh," kata Gres tersenyum malu.


"Kalau lo?" kata Tino menunjuk MB dengan beraninya.


"Apanya?" tanya MB santai.


"Kenapa gak bawa apa-apa ke sini?" lanjut Tino bertanya dengan nada suara sedikit tinggi. Mungkin ia jengkel sendiri, karena makan buah palsu sendiri tak ada yang menemani.


"Males." Jawabnya singkat, berarti dan padat.


"Jahatnya," tukas Tino pingsan kembali.


"Udah abis tuh batre," sindir Hafis mencoba menghakiminya.


"Sialan! Gue belum tanya ke dia, kenapa ruangan kita harus disatuin," protes Esa ngegas.


"Sudahlah, jangan terlalu berisik. Kita sedang berada di rumah sakit, takut ganggu yang lain. Kasian kan? Kalau ada pasien yang sakitnya lebih parah dari kita, harus istirahat yang cukup." Imbuh Latus dengan kata-kata bijaknya.

__ADS_1


"Iya sayang akooh," kata Esa.


Sampai disitu, cukup sampai disitu. Esa mencoba menceritakan apa saja yang ia alami bahkan terus menjelek-jelekkan Tino. Sampai semua orang tertawa terbahak-bahak.


Mereka terus saja bercerita tentang si bego Tino, belum sampai satu jam. Tino mendengkur, membuat mereka tertawa bersama. Esa sampai ingin turun tangan, mengambil bantal.


"Mau ngapain?" tanya Latus menatapnya.


"Gak sabar lagi, kesabaran gue udah ada pada batasnya. Habis sudah, kehilangan kesabaran. Si kutu Tino harus segera kita basmi, sampai keakar-akarnya." Esa memencingkan mata nekatnya.


"Jangan! Kalau dia gak ada, dunia akan sepi," kata Gres mencoba menghentikan niat Esa.


"Alasannya kurang tepat," kata Esa tetap melangkah kesana.


"Aduh apa ya? Esa kan orangnya nekat. Gimana kalau kelas tiba-tiba jadi angker gara-gara Tino mati, terus kalau dia sampai jailin orang, apalagi nakutin serem dong." Usul Latus menakutinya.


"Masih kurang kuat," Esa melangkah melewati keranjang Latus.


"Tarik Mas," kata Hafis menyalakan musik di handphone nya.


"Semongko!" Teriak Esa langsung joget-joget gak jelas. Mengurungkan niatnya untuk menyingkirkan Tino dari dunia ini.


Mereka semua kembali tertawa, termasuk pasien yang lainnya. Esa menarik tangan Latus dan Hafis menari bersama. Hafis menarik tangan pasien lainnya, dari sanalah mereka saling tarik menarik untuk berjoget.


Saking semangatnya senggol dan adu bokong pun tak dapat dihindarkan, mengakibatkan MB ikut tersenggol sampai pasrah dipojokan. Tempat yang aman baginya, agar terhindar dari senggolan bokong maut mereka.


Gres ikut berjoget, melihat MB hanya berdiam diri dipojokan gadis itu menangkap kedua tangannya. Menariknya dari sana, spontan membuat MB terkejut. Ia memutar-mutar tubuhnya sendiri, MB ikut berputar.


Rok pendek sedikit menutup lututnya itu, berputar-putar, rambutnya yang terurai juga ikut terbang ke atas, bibirnya begitu indah bila terus dipandang, apalagi saat dia tersenyum.


"Cantik." MB mengatakannya begitu saja tanpa sadar dengan sangat pelan.


"Apa?" tanya Gres berhenti berputar, tak dapat mendengar dengan jelas suaranya. Sungguh sangat berisik di sana.


Menyadari hal itu, MB mendekatkan bibirnya ke telinga Gres lalu membisikinya. "Jelek." MB tersenyum menatapnya.


Kesal dibuatnya, Gres menginjak kaki MB sampai lelaki itu berteriak kesakitan.


"Aaaa!" Teriak MB.


Menghentikan semua orang yang berjoget, menatap ke arah mereka.


Author :


Parah ya Si MB ngatain gadis seimut itu jelek?


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.

__ADS_1


See you, next part ➡


__ADS_2