
Semua orang yang berada di kelas panik, tanpa mengetahui lokasi penculikan. MB nekat tetap pergi, langkahnya terhenti saat dilihatnya Kris berada dihadapannya.
"Aku tahu tentang keberadaannya, ikuti aku," ujar Kris melangkah pergi dari sana.
Tanpa bertanya cowok yang menghela napas berat mengikutinya dari belakang, Hafis ikut menaiki mobil MB. Sahabat Gres ingin ikut tapi Kris berkata, tidak ada yang akan bisa mereka lakukan selain menunggu.
Tino dan Teri hanya manggut-manggut tak mengerti.
***
Duduk disebuah bangku, dengan badan dan kakinya terikat. Tangannya di pindahkan ke belakang badannya, ikut terikat. Sebenarnya Ibu Cery adalah Ibu kandung Sarah, Gres membuka matanya.
"Akhirnya sadar, juga," ujar Ibu Sarah. Ia mendekati Gres dan memegang dagunya kasar. "Ini adalah hukuman, karena kamu berani-beraninya mengganggu rencanaku," melepas cengkraman nya secara kasar. "Cepat, beri dia minum,"
"BERHENTI!" Teriak Sarah lari menerobos masuk. Ia merebut minuman yang akan diberikan kepada Gres, langsung meminumnya.
"JANGAN SARAH!" Teriak Ibunya mendekatinya.
Sedangkan MB dan Hafis sedang menghadapi anak buahnya. Gres bisa melepaskan tali yang mengikat tangannya, Ibu Sarah lari ke dalam mencari penawar. Para penjahat itu berhasil dikalahkan, MB mendekati Sarah yang sedang sekarat.
Memindahkan kepalanya ketangannya, Sarah meliriknya.
"Aku baha-gia ... Disaat terakhirku kau ber-ada disam-pingku. Aku bukan Kris, di-a selalu ad-a untuk-mu, didekat-mu dia ad-ad-a ... " ucap Sarah terbata-bata darah keluar dari mulut dan hidungnya.
Gadis yang terikat itu terjatuh disamping Sarah.
"Di-a," lanjut Sarah melirik ke arah Gres. "Adalah ... "
Belum sempat dia menjawab, kedua matanya tertutup, MB mencoba menggerakkan badannya. Namun tidak ada tanda-tanda dia akan sadar, Ibu Sarah syok melihat putrinya sudah tak bernyawa ia langsung mengambil pistol.
DOR!
Menembak tong besar yang berada disamping Gres, cowok yang memegang Sarah secepatnya melepaskan tali yang masih terikat di badan Gres. Mereka lari keluar dari sana, Ibu Sarah terus menembak beberapa kali. Tidak dapat mengenai mereka, MB menggenggam tangan gadis yang sedang lari bersamanya.
Sampai dipenghujung pintu keluar, Ibu Sarah melihat mobilnya. Secepatnya ia menaiki mobil itu, menekan gas sangat kencang.
Mengetahui hal itu Gres mendorong MB kesamping tanpa berpikir panjang.
BRUKH!
Tubuh Gres terpental satu meter menjauh dari mobil, Ibu Sarah secepatnya meninggalkan tempat itu.
"GREEES!" teriak MB.
Lari mendekati Gres, ia memindahkan kepalanya ke pangkuannya. Menatapnya, memangkunya ditangan sebelah kanan. Darah keluar mengalir dari kepalanya, Gadis yang sedang sekarat itu memegang pipi sebelah kiri MB.
__ADS_1
"Aku per-nah bermi-mpi, kau mengatakan kau menyukaiku ... " kata Gres bicara terbata-bata. Tangannya dan tubuhnya bergemetaran. "Bisakah, ka-u ... mengucapkannya, aku ing-in deng-ar,"
Tetesan air matanya bercampur dengan darah yang terus mengalir, MB tampak tersedu-sedu bahunya ikut bergetar.
"Aku," menundukkan kepalanya. "Aku ... "
Melepaskan sentuhanya pada pipi MB, tangannya terjatuh ke tanah, kedua matanya tertutup, seketika cowok itu menangis memeluk Gres.
"GREEES!" Teriaknya kembali terdengar.
Membawanya ke rumah sakit terdekat, Gres memasuki ruang UGD. Hafis memberi tahu Esa melalui pesan, ia tidak sanggup bicara mengenai keadaan sahabatnya. Mengetahui hal itu secepatnya Latus, Tino, Teri, secepatnya menuju rumah sakit diikuti Cery dibelakang mereka.
Sesampainya di sana Latus melihat MB berdiri bersandar ke tembok samping ruang UGD, ia mendekatinya. Menarik kerah baju cowok itu dengan sekuat tenaga, membuat semua orang yang berada di sana menengok ke arahnya.
"Lo puas, kan? Liat sahabat gue, dalam keadaan sekarat ... Saat dia berusaha jauhin lo, lo malah muncul dan menarik tangannya kembali ke sisi lo tapi, di sisi lain ternyata lo ingin melepaskan dia. Lo egois! Lo naif!" Terus saja berteriak Latus terjatuh di lantai.
Tino berusaha menghentikan Latus, MB meneteskan air matanya. Hafis, Esa, Teri dan yang lainnya terkejut melihatnya. Ia menunduk, lalu memandang serius ke arah mereka.
"Jika terjadi sesuatu padanya, gue akan bunuh diri gue sendiri," kata MB menangis tersedu-sedu.
Tanpa meminta izin dari pihak dokter, MB memberanikan diri memasuki ruangan itu. Tidak berbasi-basi, seorang Suster menahannya.
NIIIT!
Nyawa Gres tak tertolong.
"Baik dok." Suster mengiyakan ucapan dokter.
Akhirnya suster memperbolehkannya masuk, langkahnya sedikit berat dan kaku. Tubuhnya bergemetaran, kedua matanya memerah. Memegang kedua pundak gadis itu, menunduk lalu menatapnya.
"Kau bukan gadis lemah, kau bilang padaku ingin mendengarkan perkataan bahwa aku menyukaimu ... Jadi dengarkan lah. Buka matamu, aku mencintaimu Gres, aku sangat mencintaimu." MB memeluknya.
Nut, nut.
Detak jantung Gres kembali berdetak meski lemah.
Dokter segera mengambil tindakan, MB disuruh keluar. Ia tersenyum, keluar dari sana tanpa paksaan.
Temannya yang sedang menunggu diluar ingin bertanya padanya, namun Hafis menggeleng-gelengkan kepalanya. Memberi isyarat jangan mendekatinya, membiarkan dia sendiri dalam beberapa saat.
Tiga jam telah berlalu, tinggalah MB yang masih menunggunya. Sahabatnya yang lain terpaksa harus pulang, karena Hafis memberi mereka pengertian untuk meninggalkannya sendiri. Latus terus melawan, Tino memegang tangannya dan mencoba membantu Hafis. Lambat-laun mereka mengerti, meninggalkan tempat itu.
Dokter keluar dari sana, MB langsung menanyainya.
"Apa operasinya berjalan lancar, dok?" tanya MB tergesa-gesa memegang tangannya.
__ADS_1
"Iya, meski tadi sempat jantungnya berhenti berdetak ... Tapi, berkat keajaiban jantungnya berdetak kembali meski lemah. Ini adalah hal yang ajaib, yang pernah terjadi," kata dokter bicara yang sebenarnya.
"Alhamdulillah, kapan saya boleh menemuinya dok?"
"Keadaannya masih dalam keadaan kritis, akan lebih baik jika dia memulihkan keadaannya dahulu. Tadi, dia hampir kembali koma. Bersabarlah sampai pagi, jika keadaannya membaik kami akan pindahkan dia keruang biasa dan kamu bisa menjenguknya, saya permisi,"
"Baiklah, dok."
Mendekati kaca, menengok ke arah Gres yang sedang berjuang melawan deritanya, antara hidup dan mati. MB membalikan badannya, perlahan menjatuhkan dirinya ke lantai. Tidak kuat menahan tangis, pertama kalinya ia mengeluarkan air mata setelah kepergian Kris.
***
Satu bulan kemudian semenjak kejadian insiden itu, setiap hari MB mengunjungi Gres tanpa sepengetahuan yang lain. Teman dan sahabat Gres datang bersamaan, termasuk MB. Mereka begitu sedih melihat keadaannya, Latus memegang tangan Gres tidak tahan menahan tangis. Air mata pun tumpah, Esa keluar dari sana tak kuat melihat kedua sahabatnya seperti ini disusul Hafis.
Memandang Latus yang sedang menangis memegang tangan Gres, Tino mendekatinya dan memeluknya di depan yang lain. Teri menyerngit, menyaksikan tingkah sahabatnya. Dia berpikir mencari kesempatan, dalam kesempitan.
Selama satu bulan terakhir Gres hanya sadar dua sampai tiga kali, lalu tertidur kembali. Keadaannya yang semakin membaik, perlahan ia membuka matanya, menoleh ke arah seseorang yang sedang menangis disampingnya.
Terkejut melihatnya, Tino lari memanggil dokter, sampai di depan menabrak pintu keluar.
"Aduh! Sejak kapan, gagang pintu ditaro disini coba." Tino mulai mengelus-elus bokongnya yang baru saja bergesekan dengan lantai.
Melanjutkan langkahnya memanggil dokter, dengan semangat.
"Gres, syukurlah," Latus memeluknya.
MB mendekatinya sembari menatapnya. Memegang pundak sebelah kiri Latus, memohon agar ia bisa di dekat Gres.
Latus mengerti permintaannya, wajah Gres pucat-pasi, bibirnya memutih, pandangan matanya kosong.
"Kau baik-baik, saja?" tanya MB memegang tangannya. "Apa masih, terasa sakit? Sebelah mana? Kau bisa melihatku kan? Apa kau masih merasa pusing? Biar aku pijat- "
Menghentikan tangan MB yang hampir menyentuh kepalanya, dengan tangan kanannya. Menurunkan tangannya perlahan, lalu berkata.
"Siapa kamu?" ucapan pertama Gres setelah satu bulan terbaring lemah dirumah sakit.
Menatap MB dengan tatapan bingung, seribu pertanyaan tertahan dikepalanya. Mengejutkan semua orang yang berada di sana.
Author :
Hay ketemu lagi, mudah-mudahan gak bosen ya? Di sini cuma mau ucapin banyak terima kasih sama kamu, yang masih setia baca cerita abal-abal ini.
Gres hilang ingatan??? Nantikan kejadian apa lagi yang akan mengejutkan kamu, MB mulai menyadari perasaannya. Hayo siapa yang mau ditembak, pesan ini berlaku buat jomblo hehe.
Bdw, aku minta vote dari kamu. Seberapa pun dukungannya sangat berarti untukku, mohon dipertimbangkan tinggalkan jejak kamu ya....
__ADS_1
See you, the next part ➡