Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Aku Mengerti


__ADS_3

Di perjalanan senyuman Gres terhenti saat memikirkan, masalah apa yang akan datang nanti jika Cery dan yang lainnya melihat ia berangkat bersama dengan MB. Mereka mungkin akan mencari tahu, ada hubungan apa di antara ia dan MB?


Terlihat gelisah dan ketakutan saat Gres melihat ke sekolah dari kejauhan. MB terus memperhatikan gadis yang berada di sebelahnya, wajahnya sedikit mencurigakan, tampak sedang mengkhawatirkan sesuatu.


Sepertinya MB mengerti, saat Gres melihat ke arah sekolah. Sebelum sampai depan gerbang sekolah. Ia menyuruh Pak Sopir memberhentikan mobilnya, beberapa detik setelah mobilnya berhenti.


"Turun!" Bentak MB sedikit kasar dengan nada suaranya yang meninggi.


Gadis yang kurang fokus pada MB. Alhasil Gres terlonjak kaget.


"Ba-baik," ucap Gres terbata-bata. Ia turun secara perlahan, kakinya mulai dapat berjalan meski sedikit pincang sebelah.


Saat itu pun mobil MB jauh dari pandangan Gres.


'Apa dia bisa baca pikiranku, ya?' menggeleng-gelengkan kepala. 'Duh, jangan sampai aku suka sama tuh cowok.' Ngedumel sendiri di dalam hati.


Datang seseorang dari belakang memegang tangan Gres, melipat tangan kanannya ke atas pundaknya. Saat ia memandang Gres terkejut, ternyata Tino.


"Kamu, kirain siapa?" Gres meliriknya agak malas.


"Kaki, kenapa tuh, kaki?" tanya Tino melirik ke arah kakinya yang sedikit pincang.


"Gue habis kepeleset tadi," jawabnya dengan wajah sedikit muram.


"Udah, ayo jalan. Lagian gak ada yang nyuruh lo jatuh, kaya gini, kan jadinya. Bla ... Bla ... "


Mendengar ucapan Tino tanpa ada peraturan titik komanya, membuat Gres membatin setengah mati mendengarkan celotehannya. Sampai di dalam kelas pun masih bicara, ia duduk tetap saja bicaranya masih semangat ngomong di sampingnya.


"Yaudah, gue izin ke toilet dulu. Nanti kita lanjutan lagi, belom selesai kata pepatah gue," ucap Tino pergi dari sana.


Gres tetap diam.


Tak lama kemudian kedua sahabat Gres datang, Esa dan Latus cengo memperhatikannya menatap kesal ke arah papan tulis. Mereka melirik ke arah papan tulis yang kosong bersamaan, mereka saling bertatapan satu sama lain menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan kode berpendapat bukan itu masalahnya, sebelum Esa dan Latus penasaran dan bertanya.


Tino datang duduk di sebelah Gres, nyerocos lagi tanpa henti. Akhirnya mereka tahu apa penyebab sahabatnya terdiam kesal seperti itu.


"Mangkannya kalau jalan tengok kanan," Tino menengok ke kanan ada Latus yang sedang mengangkat tasnya di atas kepalanya. "Tengok kir- " Tino menengok ke kiri terdapat Esa mengepalkan tangan kanannya.


"Oke piks, gue selesai." Melanjutkan perkataannya berdiri lalu lari keluar kelas.


Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala bersamaan, Latus duduk di sebelah Gres. Sedangkan Esa menarik dan memindahkan bangku, duduk di sebelah mereka.

__ADS_1


"Udahlah mukanya masih ditekuk gitu, kalau Tino ngomong lari aja. Jangan ditanggepin, Tino memang gitu orangnya," kata Esa sedikit menyemangatinya.


Latus menyenggol pundaknya dengan pundak kirinya. "Gue ajarin caranya, saat dia lirik lo itu tuh persiapannya, terus saat bibir doernya itu mulai terbuka ... lari secepatnya dan jangan sampai dia genggam tangan lo," Latus mempraktekannya dengan menggenggam tangan Esa erat.


Prektek! Karena terlalu keras dari ibu jari Esa terdengar suara.


"Aaaa!" teriak Esa. "Lo jahat banget, ini tangan belum disentuh sama pangeran impian gue," mengibas-ngibas tangannya. "Eeeh, lo perawanin duluan," sambil mengibas-ngibas tangannya di angkat ke atas.


"Ck, nih liat kaki ku," Gres menunjukkannya. "Mana bisa lari dari si pepatah Tino," kembali kesal sambil besedekap.


Secara bersamaan. "Ooh my got,"


Teri datang dari balik pintu, membawa kantung keresek plastik berwarna hitam. Anak-anak yang sebelumnya berada di kelas itu sudah tidak asing lagi, dengan tingkah teman sekelasnya.


Tapi Gres, Esa, Latus dan Tino begitu pun yang lainnya. Masih bertanya-tanya, karena mereka masih asing di kelas barunya.


Teri berdiri di atas meja mengumumkan. "Kawan-kawan sekalian, hari ini jangan lupain gue. Kalau ada salah mohon dimaafkan, intinya jangan lupain gue oke," ucap Teri bersemangat mengatakannya.


Krik, krik, krik.


"Lo tahu, dia siapa? Apa dia yang suka dipanggil si Teri itu," bisik Latus.


"Udah keliatan, kata Hafis kita harus hati-hati sama dia. Kalau gak mau dikerjain, soalnya jadi target dia susah buat lolos," bisik Esa menambah penjelasannya.


"Kalian lagi bisik-bisik, apa?" tanya Teri.


Serempak mereka bertiga mengangkat bahu ringan bersamaan.


"Gak!" Seru Gres, Latus dan Esa pura-pura baca buku secara bersamaan.


Si konyol Teri menjatuhkan isi kantung plastiknya, ternyata isinya ada lem anti Tikus, korek api, dan tepung. Ia menaruh tepung di atas pintu, dan lem anti tikus di bangku Tino. Ketiga cewek yang sedari tadi pura-pura membaca buku, kini menutup buku penasaran apa yang akan terjadi pada sahabatnya.


Selesai mengerjakan apa yang sedang direncanakan Teri, baru saja selesai tak lama kemudian Tino masuk membuka pintu. Tepung akan terjatuh dengan sigap Tino keluar menutup pintu.


Semua penonton sedikit kecewa, melihat seseorang yang baru saja berhasil menghindari jebakannya.


Mulai berjalan pelan, Tino merasa banyak yang mengawasinya. 'Gak beres nih.'


"Tino sini duduk," ajak Teri.


"Tunggu dulu, bukannya lo anak yang ngambil tahu bulat gue. Iya, iya, waktu itu kita masih duduk di kelas 3 SD. Gue inget, muka lo," Tino mendekati Teri, "lo tuker tahu gue diganti batu, inget, kan lo?" lanjutnya dengan tatapan lirih segan.

__ADS_1


"Wah, terus saking sukanya tahu bulat lo gigit itu batu. Terus teriak, BATU BULAAAT! Sambil nangis, kan?" Teri memeluk Tino. "Gue kangen sama lo,"


Melepaskan pelukannya kasar. "Gue masih waras kali, lo peluk-peluk gitu. Lo udah sering ngerjain gue. Jangan harap kali ini ... "


Hafis terlihat tersenyum, Cery memasang muka kesal dan MB bersikap seperti biasa tanpa ekspresi datang bersamaan. Suasana di sana menjadi hening, Gres menatap MB saat cowok cool membalas menatap. Ia memegang pundak kedua sahabatnya, bicara apa adanya sembari tersenyum salah tingkah.


Melihat tingkah aneh sahabatnya membuat Latus tersenyum datar, menepuk-nepuk pundak Gres. Meski sakit ia tahan sedangkan Esa tetap fokus menatap Hafis.


Sebagai ketua kelas dan perwakilan dari MB, dia maju ke depan berdiri di sana.


"Kelas kita akan tetap seperti ini sampai kita lulus, tidak ada perubahan, tetap saling bekerja sama dan mendukung satu sama lain," ucap Hafis menarik napas lega.


Tak lama kemudian.


"HOREEEE!" Sorak gembira dari teman-teman yang berada di sana.


Kecuali Tino hanya bungkam, saat ditatap Teri tersenyum licik padanya.


***


Secara diam-diam pelayan Elsa menyurh Gres melihat ke atas balkon, dengan teganya dia memaksa gadis pincang membersihkan balkon, meski dia tahu keadaan gadis ini.


Dengan sekuat tenaga Gres menaiki tangga atas menuju balkon, menyeret kaki kirinya yang pincang.


MB yang saat itu ingin mencari udara segar, tak sengaja melihatnya menaiki tangga, merasa kasihan ia mengambil kotak P3K. Mengikutinya dari belakang, saat sampai di atas pemandangan yang tidak layak pun dilihatnya.


Bagaimana tidak! Sampah berserakan di mana-mana, berbagai macam jenis sampai ada di tempat itu. Ia jalan menarik kakinya yang pincang sedikit demi sedikit memumut sampah satu persatu.


Ia hanya tak dapat mengerti bagaimana tempat ini dipenuhi sampah, istirahat sebentar duduk di lantai. Kedua telapak tangannya diletakan kesamping menyentuh lantai, sebagai penyanggah tubuhnya sedikit kayang ke belakang. Kakinya selonjoran, menutup mata kelelahan, langkah seseorang terdengar mendekatinya.


Membuat Gres terpaksa membuka matanya, menengok ke kiri MB berdiri tepat di sampingnya. Mereka sedikit lama saling pandang, keringat menetes dari dahi gadis yang kelelahan itu.


Langsung saja langkah kaki panjang MB semakin mendekatinya, ia jongkok tepat dihadapan Gres. Mengambil saputangan dari sakunya, mengelap pelan keringat didahi cewek itu.


Matanya mulai membulat melihat perilaku Tuan Mudanya itu, menahan napas, jantungnya berdetak cepat, pipinya memerah dan pikirannya ngelantur ke negeri dongeng.


Author :


Makin soswet, kan? nanti masih banyak lagi momen-momen yang gak terbayangkan.


Tenang aja, like, komen dan dukungan dari kamu sangat berharga dan berarti buat aku. serius lho...

__ADS_1


Aku tunggu ya, see you next part➡


__ADS_2