
Ibu MB, Fajar dan Kepala Pelayan mendekati mereka, Gres tergeletak di atas tubuh MB. Sedangkan cowok yang ditindihnya banyak mengeluarkan darah dari kepalanya, mereka berdua secepat mungkin di bawa kerumah sakit.
Keadaan Gres setelah pingsan 3 jam lebih, kini mulai tersadar. Membuka mata pelan, masih terasa pusing, dan pandangannya masih terlihat kabur. Mengucek-ucek kedua matanya, perlahan pandangannya semakin jelas lalu melihat Suster berdiri dihadapannya. Mengingat-ingat mengapa dia berada di rumah sakit.
Air matanya tanpa meminta izin dari pemiliknya jatuh seketika, saat membayangkan dirinya jatuh dari tangga. Yang membuatnya lebih sakit ialah MB memeluknya dan badannya menjadi pelindungnya. Panik, cemas dan khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk padanya.
"Suster, saya haus. Tolong ambilkan air minum," ucap Gres memberi alasan.
"Baiklah," ucap suster pergi dari sana.
Gres mulai beraksi, pergi dari ruangannya.
Merasa bersalah membuatnya tidak bisa tinggal diam, ia nekat menemui MB meski keadaannya belum stabil. Turun ke bawah bertanya pada resepsionis berjalan sempoyongan, tetapi ia mencoba untuk kuat agar orang-orang yang berada di sana jangan sampai mencurigainya. Bahwa dia salah satu pasien yang kuat dan dalam keadaan baik-baik saja di sana.
"Pasien yang bernama Muhammad Baehaki, dirawat diruang berapa?" tanya Gres.
Mata Ibu Parubaya itu sedikit kabur. "Ruang 102."
Gres lari menuju kamar yang ditujunya, saat dekat dengan ruangan itu. Banyak dokter dan suster berlarian ke sana-ke mari, dia bertanya tetapi tidak ada satu orang pun yang meresponnya. Akhirnya dengan modal nekat dia memberanikan diri menerobos masuk ke dalam ruangan UGD, salah satu suster gemuk nan tinggi melihatnya.
Suster itu memegang pundak Gres mencoba mengusirnya dari ruangan, tetapi saat Gres berusaha melihat pasien itu terdengar suara.
NIIIIIT!
"Dok, detak jantungnya berhenti," ucap suster menutupi tubuh dan wajah pasien dengan kain putih.
"Kita tidak memiliki harapan, catat hari, tanggal dan tahun kematiannya." Jelas dokter pasrah.
Suster yang menghalangi Gres berhasil mendorongnya keluar dari ruangan, ia lemas seketika, mukanya pucat, dan air mata terus mengalir membasahi pipinya. Ia turun menaiki life, tanpa bertanya apa pun berusaha mengusap air matanya beberapa kali. Ia merasa pusing, pandangannya tiba-tiba memudar, lambat laun pandangannya kabur seketika memutih, lalu berubah menjadi abu-abu.
Sampai akhirnya gelap gulita tak terlihat apa pun, pintu dari life terbuka hampir tumbang. Seseorang menangkapnya dari depan, mengakhiri rasa ingin pingsan saat menatap siapa yang menangkapnya.
"Ha-ki!" Terbelalak menatap MB. Refleks tanpa sadar ia memeluknya, dengan sangat erat.
Untuk pertama kalinya MB terkejut. "Lo, habis dari mana?"
__ADS_1
MB melepaskan pelukannya secara kasar hampir membuat Gres terjatuh, seketika wajah gadis yang tadinya khawatir mati-matian kini berubah menjadi murung.
"Ruang 102, tadi kata suster kamu berada di ruangan tersebut. Aku juga denger jantungmu berhenti berdetak, jadi aku pikir kamu udah ... "
"Meninggal, maksud lo. Ruangan gue 12 udahlah, mungkin matanya bermasalah,"
Kelopak mata Gres sedikit berair. MB cukup lama memandanginya. 'Sepertinya dia habis menangis.'
"Hmm, tapi ... kamu akan naik life, mau ke mana? Ruanganmu, kan ada di lantai ini," tanya Gres suaranya terdengar serak.
"Bukan urusan lo!" Bentak MB kasar menutupi alasannya.
Padahal ia pergi ingin melihat keadaan Gres. Dia juga bertanya pada orang yang salah.
Gres hanya bisa memanyunkan mulutnya sembari sedikit tersenyum, melihat keadaan MB baik-baik saja lalu senyumannya terhenti saat melihat perban di pelipis cowok yang sudah menyelamatkannya.
'Dia mulai bicara padaku, padahal sebelumnya dia selalu diam tanpa mengatakan apa pun.' Batinnya sedikit tersenyum.
Semua kekhawatirannya dia tepis sampai keakar-akarnya, tersadar saat memeluknya. Gres merasa gatal garuk-garuk ke sana-ke mari.
Memandang kebelakang MB merasa risih melihat tingkah cewek yang berada dibelakangnya, garuk-garuk hanya satu yang dipikirannya. 'Dia pasti gak pernah mandi.'
Mengapa harus mempedulikannya? MB melangkah secepat mungkin, ingin segera meninggalkan gadis gila itu. Gres tidak henti-hentinya merasa geli, sampai semua orang memperhatikannya. Dia segera menyusul cowok angkuh dan arogan itu, memanggilnya tak digubris atau pun menoleh sekali pun.
Ibu MB menunggu di depan pintu ruangannya, tatapan Ibunya sangat tajam. MB tersenyum ketakutan, tidak lama kemudian Ibunya melayangkan tangannya ke arah putranya. Dia pasrah, tetapi malah menepuk pelan pipinya. Senyuman terukir di mulut MB, sedari tadi Gres menatapnya tanpa berkedip sekali pun.
Menatap MB yang baru pertama kali tersenyum, meski bukan kepadanya setidaknya Gres merasa cowok itu bukan orang yang kejam. Tetapi kebalikannya, karenanya ia selamat dari marabahaya.
Fajar Adik MB mencolek pinggangnya. Gres terlonjak kaget.
"Ehmmm," Fajar berdehem melirik Gres tersenyum datar.
Pipi Gres berubah warna seperti bunglon, merah muda mulai muncul di kedua pipinya. Ia menutup pipi itu segera, sebelum di lihat MB dan kembali dibuat malu.
Dihari minggu adalah giliran Gres membujuk tuan muda makan pagi, dia membawa nampan berisikan piring berisikan daging, air putih segelas dan susu beserta sendok dan garpu. Dia disuruh menuju kamar tuan muda oleh kepala pelayan di sana, melangkah pelan kaya siput.
__ADS_1
Sreeek, sreeek!
Kakinya terseret-seret. Gres sedikit demi melangkah, pikirnya supaya mengulur waktu. Kedua kakinya hanya tergeser sedikit demi sedikit. Kepala Pelayan menggeleng-gelengkan kepalanya, mengambil sesuatu yang berada dikantongnya.
PRIIIIT!
Kepala Pelayan meniup peluit, Gres terlonjak kaget. Melangkah cepat masuk ke dalam kamar MB, kakinya terhenti saat sadar dia berada dalam ruangan penyiksaan anggapannya seperti itu.
Kamarnya tertata rapi, wangi ruangan itu cowok banget, dan terdengar suara kericikan air dari dalam kamar mandi. Gres melihat buku dan pulpen dimejanya, menulis sesuatu. Selesai dengan pesannya ia menyobek kertas itu, lalu menaruhnya di atas meja. Dia bergegas keluar dari sana, membulatkan ketiga jarinya menandakan 'oke.'
Percaya atau tak percaya, Kepala Pelayan yang mengawasinya mengangguk paham. Bergegas pergi dari kamar penyiksaan, lari kecil menyusul Kepala Pelayan berjalan dibelakangnya.
MB selesai mandi memakai pakaiannya, memandang ke arah meja. Terlihat selembaran kertas di sana, dia mengambilnya membaca secara teliti.
'Yang terhormat, tuan muda. Makanan adalah sebuah kebutuhan, anda termasuk orang yang beruntung. Bisa makan-makanan yang lezat dan bergizi setiap harinya, tapi jika anda menyia-nyiakan makanan ini ... sungguh makhluk yang kejam. Kenapa? Banyak anak-anak dan orang miskin yang membutuhkan makan diluaran sana, hargailah makanan.'
"Siapa yang menulis ini, kok gue benar-benar tersentuh membacanya. Jadi sedikit merasa bersalah." MB bergumam sendiri sambil tersenyum.
Melangkah kesana-kemari tanpa henti dilorong ruangan dapur, memikirkan MB akan membacanya? atau malah menyobek kertas itu menjadi serpihan atau membakarnya jadi debu. Pikirannya terasa kurang tenang, melihat ke jendela, menatap ke bawah. Ternyata tuan muda akan pergi ke suatu tempat, kini kesempatannya untuk memastikan sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Sampai di depan pintu kamar MB, menutup kedua matanya. Menghitung mundur dari angka 10, membuka mata secara perlahan. "WOAAAH!"
"Yaampun, dia benar-benar menghabiskan makanannya. Hebat, aku pasti satu-satunya cewek yang mampu membujuknya makan, yes, yes!" Gres tersenyum dengan penuh semangat.
"Mari kita lihat ke tong sampah, tuhkan bener gak dibuang tapi dimakan." Dengan bangga keluar dari kamar MB.
Pelayan yang lain kagum, tetapi tidak dengan pelayan salah satu wanita yang waktu itu menangis saat keluar dari kamar MB. Menatap sinis ke arah Gres, yang sedang tersenyum manis meraih keberhasilan.
Author:
Apapun alasannya makanan itu dimakan, bukan untuk dibuang.
Beri penulis semangat! Like, Kritik dan Komentar. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡
__ADS_1