Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Cemburu


__ADS_3

Meski sudah tahu Gres menyukai MB, akan tetapi Will masih sangat berharap padanya. Entah bagaimana dia memikirkan sesuatu untuk mendapatkan wanita yang dicintainya, dia hanya terdiam menatap Gres dari kejauhan yang sedang tersenyum bersama sahabatnya.


Entah, tapi perasaannya terhadap Gres semakin menjadi saja. Alasannya tersenyum karena MB, adik yang sangat dia benci. Karena ibunya MB, Will harus kehilangan ibunya sendiri. Dia pergi dari sana, duduk sendirian di dalam kelas kosong.


Mengingat kejadian 6 tahun yang lalu.


......Flashback on......


Waktu itu umur Will 9 tahun, dia sedang digandeng oleh ayahnya juga ayah MB. Bersama ibunya pergi ke taman yang dipenuhi permainan. Saat itu mereka berada di Singapura, bahagia dengan hal itu.


Melupakan tentang penyakit yang diderita oleh ibunya sendiri, ibunya merahasiakan hal ini darinya. Begitu pun suaminya, saat sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Ibunya membawa mangkuk berisi lauk-pauk, pusing yang tak tertahankan.


Ibunya terjatuh tergeletak di lantai. Will yang mengetahuinya langsung menelpon ayahnya, dia menangis disamping ibunya.


Ayahnya secepatnya membawanya ke rumah sakit, Will ikut bersamanya.


Segera diperiksa dan diberi penanganan khusus oleh dokter, beberapa jam kemudian keluar dari ruangan unit gawat darurat.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Ayahnya Will.


Melihat anaknya masih kecil ada di sana. Dokter menyarankan ayahnya ikut dengannya keruangannya, Will ditinggal sendiri di sana bersama salah satu suster di sana.


"Silakan duduk Pak," kata dokter menyuruhnya duduk.


"Sebenarnya, bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Ayahnya Will kembali dilontaran karena sangat penasaran dengan keadaan istrinya.


"Istri Bapak menderita penyakit tumor ganas yang berada di kepalanya," kata dokter.


"Dok, saya mohon. Sembuhkan istri saya, berapa pun biayanya akan saya tanggung," Dia memohon untuk kesembuhan istrinya sendiri.


"Masalahnya ini bukan dibiayanya. Terdapat benjolan besar di dalam kepalanya, yang saat ini hampir memakan otaknya. Entah bagaimana pasien bisa menahan rasa sakitnya selama itu, apa Bapak sudah mengetahuinya sejak lama? Kenapa anda tidak secepatnya membawanya kemari?"


"Saya tidak tahu dok, saya juga baru mengetahuinya," katanya dengan suara rendah dan sedikit putus asa.


"Saya hanya bisa meminta maaf sebagai seorang dokter, dan sebagai seorang ayah. Saya tidak bisa menjamin keselamatan istri anda, ibu dari anak anda." Dokter hanya bisa mengatakan hal yang sebenarnya dengan wajah pasrahnya.


Ayahnya Will menangis, saat ditatapnya Will memandanginya dibalik pintu mendengar semua percakapannya. Dia secepatnya mengusap air matanya, mendekati putranya.


"Ayah, aku mau melihat ibu," Pinta Will merengek pada Ayahnya.


"Besok ya nak, sekarang kita pulang dulu," ajak Ayahnya menarik tangannya keluar rumah sakit.


"Gak mau, aku maunya sekarang. Kasian ibu ditinggalkan sendirian, di rumah sakit, Ayah. Ayah jahat!" Pekik Will dengan suara seraknya menangis.


Tetapi Ayahnya malah memaksanya pulang, sampai di rumah Will mengunci dirinya di kamar.

__ADS_1


Keesokan harinya. Will bangun pagi-pagi sekali, tanpa menunggu ayahnya bangun. Dia pergi sendiri ke rumah sakit, sesampainya di ruang Ibunya. Baru saja menggenggam gagang pintu, matanya membulat, mulutnya ternganga, alisnya terangkat.


Ibunya tergeletak di lantai dengan perut tertancap pisau, seorang wanita seusia Ibunya memegang pisau yang tertancap diperutnya. Dia beranggapan wanita itu menusuk Ibunya, banyak sekali darah yang keluar dari sana.


Berlari ke arah Ibunya. Mendorong wanita itu hingga terjatuh di lantai, dokter dan suster secepatnya menangani keadaan pasien.


Ayahnya baru saja tiba di rumah sakit, melihat putranya dipenuhi darah membuatnya khawatir. Karena Ibunya sudah dinyatakan tak bernyawa.


"Mas, sungguh aku gak melakukannya. Ini semua hanya salah paham, putra kita Baihaki telah menunggumu di sana," kata Wanita itu yang ternyata Ibunya MB.


"Aku percaya padamu, kau mana mungkin melakukan hal itu. Kita bawa putraku juga ya? Ikut bersama kita ke Indonesia," kata suaminya dengan penuh keputusan dan memikirkannya secara baik-baik.


"Baiklah Mas, aku ikuti semua keputusanmu," kata Ibunya MB menyetujui permintaannya.


Dia menggandeng tangan putranya, namun Will menolak untuk ikut bersamanya. Tak lama kemudian datanglah MB bersama dengan adiknya Fajar, Will menatap MB. Dia mendorong MB sampai terjatuh, lari memeluk neneknya yang berada di sana.


PLAK!


Nenek Will menampar Ibunya MB.


"Ibu hentikan, dia tidak bersalah!" Tegas menantunya berteriak.


"Tidak bersalah? Coba saja kalau perempuan itu, pelakor itu tidak hadir di dalam kehidupan rumah tangga kalian. Pasti semuanya akan baik-baik saja, tapi sekarang coba liat nasib putri dan cucuku menderita. Saya yang akan merawat Will, ayo nak," kata mertuanya pergi dari sana bersama putranya.


"Will!" Panggil Ayahnya dengan tatapan menerawang padanya.


"Kak Will ... " panggil MB tetapi kakinya sulit untuk digerakkan.


MB hanya terdiam melihat Will yang meninggalkan mereka di sana. Sedih melihat sahabatnya yang ternyata Kaka nya sendiri, kini pergi dari pandangannya.


Pada saat itu MB masih belum mengerti apa yang terjadi pada keluarganya.


Sebenarnya mereka berdua adalah teman baik di taman kanak-kanak, tapi setelah mengetahui bahwa MB adalah satu ayah dengannya. Will marah besar, hingga pernah ingin menenggelamkan MB ke dalam kolam berenang.


Bagaimana anak sekecil itu mengetahui urusan kedua orang tuanya, tentu saja karena neneknya yang beranggapan bahwa apa pun yang dilakukan putrinya selalu benar. Lalu memengaruhi cucunya sendiri untuk membenci.


...... Flashback off ......


"Aaaa! Sampai kapan pun, gue gak akan pernah memaafkan keluarga hina itu!" Teriak Will memukul pohon, sampai tangannya berdarah.


Gres dan Latus yang saat itu berjalan menuju ke dalam kelas terhenti, karena mendengar teriakan seseorang dari sana. Sama-sama kepo, mereka melihatnya bersama.


Will terus saja membenturkan tangannya ke pohon, sampai tangan kanannya dipenuhi darah.


"Latus, tolong ambilkan kotak p3k ya?!" Gres menyuruhnya mengambilkan kotak itu.

__ADS_1


"Sekarang?!" kata Latus bertanya.


Tatapan Gres menajam.


"I-iya tunggu di sini," kata Latus sedikit takut berlari kecil keruang UKS mengambil kotak p3k.


Secepatnya gadis itu mendekati Will. Ia mencoba menghentikan perbuatannya.


"Hentikan Will!" Teriak Gres.


Masih tetap membenturkan tangannya. Gres mencoba mendorongnya, tetap Will bangkit lagi ingin menonjok kayu. Nekat, gadis itu menutup matanya berdiri tepat di depan pohon yang akan dituju Will.


Saat dilayangkan tangannya, hampir mengenai wajah gadis itu. Barulah Will tersadar, siapa yang mencoba menghentikannya.


"Gres," ucap Will menurunkan tangannya.


"Kamu ini kenapa sih? Jangan melukai diri sendiri seperti ini, kalau ada masalah kamu bisa cerita sama aku," kata Gres membuka matanya perlahan.


"Jangan pura-pura peduli sama gue!" Bantah Will yang mengetahui sifatnya, mungkin bisa saja berpura-pura baik padanya.


"Aku gak ngerti apa yang kamu katakan, tapi apa yang kamu lakukan ini salah. Apa kah dengan melukai diri sendiri, masalah yang kamu hadapi dapat terselesaikan?" tutur Gres bertanya padanya.


"Lalu apa yang harus gue lakukan? Gue, gue ... " kata Will bingung harus mengatakan apa.


"Walau pun aku gak tahu masalah apa yang kamu hadapi saat ini, cobalah untuk menerima dan mengikhlaskan. Aku yakin itu akan membuatmu jauh lebih tenang, kamu bisa jadi sahabat yang baik kok." Gres mengatakan hal itu untuk menenangkannya lalu tersenyum manis padanya.


Memegang tangan Gres. "Terima kasih, Gres,"


Gadis itu tentu saja terkejut, mereka berdua saling bertatapan.


Latus yang berlari ke arah mereka mendadak direm, disebelahnya terdapat MB. Dia mundur beberapa langkah, karena MB sedang serius menatap ke arah Gres dan Will. Saat ini sedang saling tatap bahkan berpegangan tangan, Latus sedikit lega lelaki itu tak menyadari kedatangannya. Namun bagaimana dengan perasaannya?


Tatapan MB begitu tajam menatap mereka.


'Aneh! perasaan gue kok jadi gak enak gini, rasanya dada gue sesak, sakit.' Pikir MB meninggalkan tempat itu.


"Seandainya aja gue bisa kasih tahu MB tentang identitas Gres, pasti semuanya akan jauh lebih baik, tapi janji tetaplah janji. Nggak ada yang bisa gue lakukan." Latus berlari kecil ke arah mereka yang masih bertatapan.


"Ehem," kata Latus mendehem kecil.


Mereka langsung menjauh sedikit, pipi keduanya memerah.


Author :


Masalah itu memang berat, tapi jika kita mengikhlaskan pasti akan jauh lebih baik.

__ADS_1


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.


See you, next part ➡


__ADS_2