Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Kamu Tidak Akan Pernah Mengerti


__ADS_3

Membalas pelukan Gres dengan tangis dan haru, perlahan gadis itu melepaskan pelukannya. Menatap segan ke arah gadis itu, tidak menyangka wanita setengah parubaya yang sedang ditatapnya tersenyum dipenuhi kebahagiaan. Namun ia juga merasa aneh dengan sikap yang diperlihatkan, seseorang yang sangat ia rindukan.


Setelah menatapnya begitu lama, barulah Gres angkat bicara.


"Mama, apa yang terjadi padamu. Mengapa bisa jadi seperti, ini? Katakanlah, Mah?" berbagai pertanyaan Gres ucapkan. Ia sangat penasaran kenapa Ibunya harus berpura-pura menjadi gila.


"Saat Mama mengetahui kamu baik-baik saja, setelah kejadian itu. Bahkan Putri Mama hilang ingatan jadi ... Mama putuskan, berpura-pura menjadi gila. Lalu jika tiba saatnya nanti, dan kamu mengingat sesuatu ... " ucap Ibunya memegang pundak Gres. "Kita akan membongkar kejahatannya ... "


"Ibu tiriku," ucap Gres menatap Ibunya.


"Bagaimana- "


"Aku tahu Mah, bagaimana Mama bisa melewati semua ini ... Pasti beratkan Mah, aku pasti banyak menyusahkan Mama. Aku Putri Mama, seharusnya aku dapat membahagiakan Mama. Aku- " setetes air mata membasahi pipinya.


"Jangan bicara begitu," Ibunya mengusap air mata Putrinya. "Kamu juga banyak melewati kesulitan, bahkan Mama tidak sanggup jika harus membayangkan kamu telantar di luaran sana,"


"Mama ... " Mereka berpelukan.


Menjelaskan segalanya pada Putri kesayangannya, akhirnya Gres dapat mengerti mengapa Ibunya tetap tinggal di rumah sakit jiwa. Ternyata Ibunya merencanakan sesuatu, yang dapat membongkar topeng siapa sebenarnya ibu tirinya.


Gadis itu pergi menuju taman, duduk di bangku taman sembari menangis terisak-isak. Will sedang mengendarai mobil, tak sengaja melihat Gres yang sedang terlihat tidak dalam keadaan baik-baik saja. Menghentikan mobilnya, mendekati gadis yang sedari tadi menangis tanpa henti. Mengambil saputangan, dan menyodorkannya pada Gres.


Melihat saputangan yang dihadapannya, Gres mendongak ke atas memandang cowok yang sedang menatapnya serius. Tanpa bicara gadis itu membuang mukanya tak mengambil saputangan yang diberikan Will, duduk disebelahnya. Memegang dagunya, sampai menatapnya serius dan mengusap air matanya.


Mereka saling bertatapan satu sama lain, selesai mengusap habis air matanya. Tinggal ketegangan di antara mereka terjadi, Will menyadari tatapannya bukanlah tatapan yang biasa.


"Kenapa menatap gue kaya, gitu?" tanya Will menaikkan sebelah alisnya.


"Gak!" Teriak Gres pipinya memerah karena malu sembari membuang muka. "Siapa juga, ada juga lo. Dateng-dateng maen usap-usap pipi gue aja, lo pikir gue ini jin yang ada di dalem lampu ajaib ... Digosok keluar," Gres memasang muka sewot.


Tersenyum menggoda Gres. "Yaudah, sebagai permintaan maaf dari gue. Lo harus ikut gue!" Ajaknya tiba-tiba menarik tangan Gres.


"Iiih, ogah. Ke mana?" mencoba menahan langkannya.


"Pokoknya ikut aja, gak usah banyak tanya."

__ADS_1


Cowok itu hendak membuka pintu mobilnya, tapi seseorang menghentikan Will. Menutup kembali mobilnya, Gres terkejut saat melihat siapa yang telah menghentikan langkahnya.


"Jangan paksa dia, kalau gak mau ikut lo," ucap MB santai.


"Apa urusan lo? Emangnya lo siapanya dia? Pacar, pasti bukan," ucap Will menatapnya tajam.


"Gue– " ucapan MB terpotong saat Gres pergi dari sana.


Mereka yang sedang berdebat menatap Gres melangkah tanpa menoleh sedikit pun, dari arah berlainan dengan gadis itu. Teman-temannya berjalan ke arahnya, Latus memegang lengannya tersenyum penuh arti. Begitu pun Tino, Teri, Hafis dan Juga Esa. Tapi ia malah memutar bola matanya malas, seakan-akan tidak mengenal mereka.


Membanting tangannya yang sedang dipegang Latus secara kasar, membuat teman-temannya terkejut melihat prilaku Gres yang tidak biasanya. Esa marah ingin mengejar gadis kasar itu, namun dihentikan Latus secara tiba-tiba menghalanginya. MB pun akan mengejarnya teman yang menghalangi Esa juga menghalanginya.


"Biarkan dia, pasti ada masalah yang dia sembunyikan dari kita. Gue mohon, biar dia sendiri dahulu ... " Latus menatap teman-temannya mencoba memberi pengertian kepada mereka.


"Tapi aneh juga sikap tuh anak, semenjak hilang ingatan gue rasa dia bukan Gres yang gue kenal," ucap Hafis.


"Mungkin karena ke pentoknya terlalu keras sehingga partikel-partikel yang ada dalam otaknya tergeser," kata Teri kedua tangannya lurus ke depan seperti seorang ahli pakar.


"Apa jangan-jangan karena ... Kepentoknya pas bertemu Alien, dihapus ingatannya," ucap Tino mengangguk-angguk sendiri.


"Aduuuh! Bisa gak sih? Kalian itu serius dikit, ini bukan waktunya bercanda." Dengus Esa kesal menghadapi dua orang bodoh itu.


"Tunggu, kita ikut ya? Biasanya lo cek rekaman CCTV. Siapa tahu kita bisa bantu ...  " kata Hafis menawarkan diri.


"Hmmm." MB mengangguk. Ini kali pertanya ia membiarkan teman-temannya masuk ke dalam makam.


Memperhatikan dengan saksama video yang sedang diputar itu, tidak terasa sudah 5 jam berlalu. Tino dan Teri tak mampu menahan kantuk, akhirnya mereka tertidur pulas. Esa sedang sibuk membuat Teri dan Tino terbangun, dengan cara mengambil bulu-bulu halus yang berada dipulpennya berwarna ungu sebagai hiasan. Mencabut bulu dari tempatnya, dengan hati-hati gadis itu memasukannya ke dalam hidung Tino.


Menggelitiki hidungnya, dan ke hidung Teri. Mereka mulai menggoyang-goyangkan hidungnya seperti Inul Daratista, kempes lalu terbuka lebar.


Esa cekikikkan sendiri, saat melihat mereka hampir bersin bersamaan. Sedangkan. MB, Latus dan Hafis sedang fokus memperhatikan rekaman CCTV. Sampai terlihat seseorang bertudung jaket hitam menutupi wajahnya, memasukkan kata sandi, lalu memasuki ruang makam Kris.


"Itu!" Teriak Latus spontan mengejutkan semua orang yang berada di sana.


Membuat Tino, Teri tak jadi bersin tapi langsung melotot dan Esa terkejut mendekati layar monitor bersamaan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Esa syok.


"Ada maling ya?" tanya Teri.


"Maling apa dia?" tanya Tino.


"Jangan berisik! Perhatikan saja, siapa dia?" kata Hafis kebingungan menatap MB.


Tatapan MB serius saat melihat orang yang bertudung itu menatap foto-foto yang ada di sana, dia terjatuh sembari menangis. Menggenggam kalung berbentuk bintang, saat itu MB ada di sana. Orang itu bersembunyi dibalik bangku, saat cowok itu pergi dari sana. Orang bertudung hitam itu menangis kembali menatap kepergian dia, menggenggam erat kalung bintang.


Rambut panjang lurusnya keluar dari tudung itu, MB terjatuh membuat semua orang yang berada di sana panik menatapnya. Hafis membantunya berdiri, tidak mampu berpikir secara tenang.


"Dia cewek, tadi gue liat rambut panjangnya keluar," kata Teri.


"Tapi, bukankan. Yang tahu kata sandinya hanyalah MB, tentang gadis itu ... MB juga belum pernah sedekat itu dengan gadis mana pun, mustahil dia mengetahuinya," kata Latus menatap MB.


"Gue yakin ... Dia itu Kris," kata MB matanya memerah saat menatap layar cctv.


"APA!" Teriak semua orang yang berada di sana.


"Tapi bagaimana- " Tanya Esa terpotong saat MB berdiri.


"Benar apa yang dikatakan Latus, mustahil seseorang mengetahui sandinya, " MB menatap kelayar monitor itu kembali. "Hanya gue, dan Kris yang dapat mengetahuinya, gue dulu pernah janji sama dia ... Menjadikan tempat pertama kali bertemu sebagai tempat hanya ada kita berdua,"


"Tapi bagaimana lo asal menyimpulkan sesuatu gitu aja, siapa tahu seperti Sarah yang sudah membohongi lo dan kita. Pasti dia tahu masa lalu kalian, gadis itu licik," bentak Hafis menahan amarah merasa perasaan sahabatnya dipermainkan.


Menunjuk ke arah monitor. "Coba kalian liat kalung yang dia pegang, kalung itu gue yang kasih ke Kris. Sehari sebelum terjadinya kecelakaan, liontin berbentuk bintang berinisial M nama gue. Sedangkan yang gue pakai ini, berbentuk bulan berinisial K namanya," MB memperlihatkan kalung yang ia pakai. "Sekarang ... Kalian mengerti, alasan kenapa gue yakin kalau dia itu Kris?"


Semua orang yang berada di sana terdiam seribu bahasa, mendengar penjelasannya.


"Jika dipikir-pikir, Sarah sudah tiada. Yang satu-satunya masuk ke dalam makam ini, jika itu memang benar. Maka kita harus mencarinya," ajak Hafis menatap ke arah mereka.


Author:


Teka-tekinya semakin menjadi saja ya?

__ADS_1


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih


See you, next part ➡


__ADS_2