Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Masih Belum Waktunya


__ADS_3

Dor! Peluru itu tepat mengenai dada sebelah kiri MB. Sampai menembus ke arah jantungnya, Gres langsung berteriak.


BRUGH!


"Tidaaak!" Teriak Gres terbangun sambil terduduk dengan tangan kanannya terangkat.


"Ih Tino berisik banget sih, kasian kan Gres jadi kaget!" Pekik Esa memarahi Tino.


"Ya maaf, lagian buat nebus kesalahan gue juga kali," kata Tino menggosok-gosok jidatnya yang benjol.


Kata nenek moyang Tino kalau ke pentok terus jadi benjolan harus digosok-gosok, biar gak membekas item.


"Aku mohon lupakan masalah itu? Apa Haki baik-baik saja?" kata Gres memotong pembicaraan mereka.


Esa, Tino, Latus saling bertatapan.


"Gres kembali!" Sorak mereka mengucapkannya dengan sangat kompak sambil memeluknya.


Bukannya menjawab pertanyaan yang Gres ajukan, mereka malah tersenyum bahagia. Sedangkan Gres kebingungan dengan sikap mereka, setelah dipikir-pikir selama ini ia pura-pura hilang ingatan. Bahkan bicara kasar, juga sikapnya yang keterlaluan.


Tetapi mereka tetap menerima keberadaannya, apakah ini yang dinamakan sahabat sejati?


Gres hanya bisa menangis.


"Gres jangan nangis, gue minta maaf. Tadi gue yang udah bikin lo pingsan, jadi gini. Pas lagi hujan, gue bawa-bawa penggaris Pak Selamat buat di foto gaya batu diam. Terus lo lewat sambil lari, kepentok deh, pingsan deh. Terus, terus kuping gue lentur dijewer Esa," kata Tino menjelaskan panjang lebarnya jalan ceritanya.


"Itu benar Gres, lagian Si bego ini gak ada berhentinya bikin onar. Kesel gue jadinya," celetuk Esa memanyunkan bibirnya.


"Tapi, tapi karena gue. Gres jadi sadar, inget sama kita lagi. Sehat walafiat," timbun Tino dengan gaya sombongnya.


Latus terdiam sejenak, lalu bertanya pada Gres. "Lo kenapa bangun teriak panggil nama MB?"


"Itu karena, aku bermimpi buruk. Maaf ya? Sudah membuat kalian khawatir padaku," kata Gres menundukkan kepalanya.


"Tapi sumpah, gue kesel banget sama lo. Pas lo gak inget apa-apa sama kita, sikap lo bikin pengen bikin gue nabok tahu," timpal Tino memperkeruh suasana hatinya.


Satu pukulan melayang ke arahnya, betep.


"Aaaa!" Jerit Tino.


"Masih untung gue sabar, coba lo ngomong kaya gitu lagi. Tinggal pilih, tangan kiri masuk rumah sakit, tangan kanan masuk alam kubur," Esa marah, mengangkat kedua tangannya menyuruhnya memilih.


"Latus habis ini, aku mau bicara sama kamu. Hanya sama kamu," kata Gres membisikinya.


"Sekarang aja, mumpung mereka lagi ribut," kata Latus membalas ikut berbisik.


Akhirnya mereka berdua pergi dari sana, mereka kini berada di atap. Sebelumnya Gres melihat sekeliling, untuk memastikan tidak ada siapa pun di sana.


Apalagi tempat itu, tempat yang sering dikunjungi MB.


"Mau bicarain apa?" tanya Latus karena penasaran.

__ADS_1


Duduk di lantai atap, diikuti Latus.


"Aku bingung harus mulai bicara dari mana, tapi. Aku harus memberitahumu, kalau aku ini sebenarnya Kr- " kata Gres.


"Kris!" Latus memotong pembicaraannya seketika.


"Kok, kamu tahu?!"


"Ya tahulah, gue lagi foto-foto sama kupu-kupu. Terus ada seseorang yang memakai jaket bertudung hitam, tapi wajahnya sedikit terlihat. Gue zoom, dan hasilnya gue tahu siapa lo yang sebenarnya," jawabnya dengan santai.


Jika memang seperti itu jadinya, Gres terlalu khawatir. Sangat takut, jika identitas aslinya terbongkar. Maka apa yang ditakutkan akan segera terjadi, bagaimana pun juga ia harus tetap menutupi identitasnya.


"Lalu, apa kamu sudah memberi tahu yang lain?" Gres kembali bertanya dengan suara sedikit serak.


"Belum ada yang tahu, karena gue yakin lo memiliki alasan yang tepat untuk merahasiakan hal ini dari kami," jawab Latus mencoba menenangkannya karena wajahnya sangat terlihat khawatir.


"Syukurlah!" Gres sangat lega.


Dari mimpinya Gres merasa terselamatkan, kata-kata Latus hampir mirip seperti apa yang di dalam mimpinya. Ia berharap semoga saja itu tidak akan pernah terjadi, rela berkorban agar MB dalam keadaan baik-baik saja.


Meski ia tahu, hatinya akan terluka. Walau demikian, Gres percaya. Suatu hari nanti, ia dan MB akan menemukan kebahagiannya masing-masing.


"Cuacanya terlihat mendung, agak dingin ya di sini?" ucap Latus melipat kedua tangannya.


"Kamu mau turun?"


"Iya sih, tapi mau nemenin lo juga di sini," Timpalnya dengan senyuman.


"Sudah, gue tahu ini berat. Tapi lo bisa jadi Kris atau Gres, bagi gue dan yang lainnya. Kalian itu tetap sama, jadi jangan berpikir yang macam-macam,"


"Begini saja, jadilah Kris saat lo merindukan keluarga lo. Dan jadilah Gres ketika lo berada di dekat kita," lanjutnya menatap bola mata Gres dalam.


Kata-katanya sama persis dengan apa yang ada di dalam mimpinya, Gres kini semakin takut. Ia memilih untuk diam sesaat, lalu kembali menatap sahabatnya.


"Pada hal aku sudah membuat kalian kerepotan, mungkin juga kesal padaku. Kenapa, kenapa sampai lakukan itu?" menundukkan kepalanya.


"Lo ini bicara apa sih, ya lo sahabat kita. Bagian dari kita, sahabat yang sebenarnya gak akan meninggalkan lo walaupun dengan seribu alasan. Bagaimana pun lo, sejelek-jeleknya lo, di mata dunia. Gue dan yang lainnya gak bakal pernah melakukan hal itu," kata Latus mulai melepaskan pelukannya perlahan.


"Terima kasih, sudah mau mengerti diriku yang terkadang masih bimbang dengan keputusan yang aku pilih sendiri,"


"Masih mau dipeluk?" tanya Latus menatapnya dengan kata bergurau.


Gres mengangguk, pada saat mereka hampir berpelukan.


"Kalian sedang apa di sini?" tanya seseorang dibelakang mereka.


'Suara ini, jangan-jangan,' kata Gres di dalam hatinya.


Menghancurkan kebahagiaannya seketika, padahal masih ingin dipeluk sahabatnya. Ia sangat merindukan Latus, tapi harus berakhir dengan kedatangannya.


"Duh iya, Gres. Gue duluan ya, mau ke WC kebelet banget," kata Latus langsung meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Eeh- " kata Gres mencoba menghentikannya. Namun Latus sudah berlari kecil menuruni tangga.


Masih mengawasi, MB berdiri memasukan kedua tangannya ke dalam kantung. Sangat tak nyaman, akhirnya Gres turun dari sana. Sebelum ia melangkahkan kakinya, MB mengatakan sesuatu.


"Lo habis nangis?" kata MB bertanya padanya.


Mendengar pertanyaan itu darinya, membuat Gres ingin sekali mengatakan identitasnya. Ia tahan demi melindungi MB, takut apa yang terjadi di dalam mimpinya menjadi kenyataan, terdiam cukup lama.


"Cuma kelilipan doang, kok hehe," jawab Gres dengan sedikit gurauan lalu tertawa.


Tanpa mengatakan apa pun, MB terdiam di sana.


"Kamu sendiri ngapain di sini?" lanjutnya bertanya kembali.


"Hanya ingin melihat pemandangan dari sini," MB memalingkan wajahnya menatap ke arah bawah.


Tanpa sadar kedua kaki Gres berjalan berdiri disampingnya.


"Eh Tino balikin gak pulpen gue!" kata Esa berteriak sambil berlari dilapangan mengejarnya sambil membawa penggaris panjang cokelat gurunya.


"Nanti aja gue balikin, kalau udah lulus!" Teriak Tino dengan santainya berlari mengelilingi lapangan.


"Abis dong pulpen gue! Gak mau tahu balikin!"


"Kejar gue kalau bisa,"


Pak Selamat yang mengetahui hal itu, sebelum dia turun tangan menengok ke tempat penyimpanan penggarisnya. Didapati tidak ada, dia turun lapangan. Penggaris kesayangannya hilang ternyata dicuri, oleh anak didiknya sendiri.


"Heh! Kesini kamu!" Gurunya berteriak dari belakang.


Seketika membuat Esa terkejut, jika Pak Selamat mengejarnya itu berarti dia tahu kalau dirinya menyontek saat ujian. Begitulah sifat Esa mudah menyimpulkan sesuatu dengan mata telanjang, maka terjadilah kejar-kejaran.


Tino dikejar Esa, Esa mengejar Tino, Pak Selamat mengejar Esa. Terjadilah kejar-mengejar antar teman dan musuh, ditambah Guru.


Karena ketakutan kecepatan Esa dua kali lebih cepat dari biasanya, bahkan dia sampai bisa menyusul Tino. Kini mereka bersampingan.


"Gila lo! Gue kesusul," kata Tino menggenggam erat pulpennya takut tiba-tiba diambil olehnya.


"Masalah itu nanti aja, yang penting sekarang gue mau lari dari Guru killer!" Teriak Esa semakin menambah kecepatan larinya.


"Hahaha." Tak sadar MB dan Gres tertawa bersama di sana.


Saat menyadari hal itu MB memalingkan wajah ke arahnya, begitu pun Gres memandangnya. Mereka saling tatap sambil menikmati tawa, angin berhembus pelan menerbangkan rambut mereka.


Author :


Waduh Si Esa dan Tino bermasalah lagi dengan Pak Selamat, apa yang akan terjadi selanjutnya ya?


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.


See you, next part ➡

__ADS_1


__ADS_2