Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Karena Aku Mencintaimu


__ADS_3

Meminta izin kepada semua temannya ingin pergi ke kamar mandi, tanpa ditemani. Gres keluar dari pintu kelas, MB mengikutinya dari belakang. Terlihat tenang dan tegar pada hal ia sangat rapuh, memegang dadanya dengan tangan kirinya. Ia berjalan mulai sempoyongan, menuju taman belakang sekolah. Semakin lama ia menarik kerahnya sendiri, rasanya bagaikan tercekik.


Langkahnya terhenti tangan kanannya memegang pohon besar, tangan kirinya masih menarik kerah seragamnya. Gres menundukkan kepalanya, lalu menjatuhkan dirinya ke tanah. Air mata mengalir deras melewati pipinya.


MB ingin sekali berada disampingnya. Tapi ia berpikir itu tidak akan mudah, cepat atau lambat gadis itu akan tetap seperti ini. Mereka saling bersandar dipohon yang sama, tanpa sepengetahuan gadis malang itu.


Pulang sekolah Gres membuat alasan ingin pergi kesuatu tempat, tanpa ditemani siapa pun. Latus mengerti dibalik alasannya dan membantu menjelaskan, kecuali Teri dan Tino tidak sedikit pun memahaminya. Maklum otak udang, jadi begitu bikin ngebatin semua sahabatnya. Kalau kamu punya sahabat kaya mereka cukup satu arti, yang sabar ya bos.


Setelah diberi penjelasan 1 setengah jam, barulah Tino dan Teri mengerti. Sampai mulut Latus hampir saja berbusa, untunglah ia termasuk gadis yang sabar. Mereka pergi dari sana, dengan raut sedih meninggalkan Gres.


'Maaf ya, aku gak bisa berbagi penderitaan sama kalian. Aku gak mau kalian mikirin aku, kalian harus tetap tersenyum jangan pikirkan aku.' Batin Gres.


Melewati gerbang sekolah sedikit lebih jauh mencari angkot, tidak sengaja melihat MB berdebat dengan salah satu lelaki yang entah siapa? Di sana. Dan tak lama kemudian di bawa masuk ke dalam mobil berwarna hitam oleh sekelompok siswa sekolah lain, mereka memperlakukannya secara kasar, dasinya ditarik, tangannya dicekal oleh dua orang yang memaksanya masuk ke dalam mobil.


Membuat Gres penasaran beraduk khawatir. Ia melihat tukang ojek sembari menghentikannya, naik lalu mengikuti mobil itu dari belakang.


Mereka membawanya ke rumah tua yang sudah lama tak di tempati, 1 km hampir sampai. Tukang ojek ditelpon istrinya untuk segera pulang, karena anak pertama mereka akan segera lahir. Mau tidak mau Gres harus merelakan kepergiannya, gadis itu diberi tumpangan secara gratis. Katanya sekalian mendoakan agar ketika anaknya lahir, mirip dengan Natasya Willona.


Gres cuma bisa nyengir, sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Terpaksa Gres harus lari menempuh jarak 1 km, kecepatan penuh.


Ketua dari kelompok itu menyuruh anak buahnya, mengikat seerat mungkin tubuh MB, tangan dan kakinya terduduk di bangku. Ferel kaka dari Alm. Ratih, yang dulu bunuh diri lalu meninggal di sekolah SMA BUBIN karena perbuatan Cery. Maka ia menganggap otak dibalik semua ini adalah pemilik sekolah itu, bagaimana tidak?


MB dikenal sebagai salah satu lelaki yang terkenal kejamnya, pada hal yang MB lakukan hanyalah arogan.


Menonjok pipi kiri dan kanan cowok yang terikat itu.


"Lo! Harus merasakan rasa sakit, adik gue," teriak Ferel. Ia menonjok perut MB dengan tangannya sekuat tenaga, sampai cowok itu mengeluarkan sedikit darah.


"Terima ini!" Ferel menendang perut MB hingga terpental ke tembok, terjatuh ke lantai darah mulai keluar dari pelipis kirinya.


"Ini akan jadi pukulan terakhir, dari seorang Kaka yang membalas dendam atas kematian adik kesayangannya," Ferel meminta tongkat besi dari anak buahnya.


Ia memukul MB dengan itu, tiba-tiba Gres datang.


"BERHENTIII!" Teriak Gres lari lalu berhenti melentangkan kedua tangannya, berdiri tepat di depan MB yang setengah sadar itu.


"Siapa lo!" Tanya Ferel.


"Bukan salahnya, dia tidak mengetahui apa pun tentang kejadian itu," ucap Gres berusaha meyakinkannya. "Dia sengaja melakukan semua ini, agar ia dapat melupakan cinta pertamanya untuk sejenak. Dia mengorbankan dirinya hanya untuk melupakannya, tapi- "

__ADS_1


"Di..a ber..bo..hong ... " kata MB bicara terbata-bata. "Bu..nuh gu..e, ya..ng me..nye..bab..kan adik- "


"Tidak! Aku mohon," Gres bersimpuh megang kaki Ferel dan memohon untuk MB. "Dia berbohong,"


Ferel hanya terdiam, mendengar perdebatan mereka.


"Cu..kup Gres! Ken..apa lo be..la gue," tanya MB sambil batuk-batuk.


"Karena ... Aku mencintaimu," kata Gres menatap MB. Ia mengeluarkan air matanya, duduk disebelahnya mulai melepaskan tali yang mengikatnya.


Lagi-lagi MB dibuat terkejut oleh perkataan gadis itu.


"Ferel, dia!" Teriak salah satu temannya.


TRANG! Cowok itu menjatuhkan tongkat besi, membelakanginya. Membuat Gres terkejut memandangnya.


"Kali ini, gue gak bisa berbuat apa-apa. Karena adik gue saat napas terakhirnya menulis surat, jangan bunuh MB. Tapi, gue gak percaya ... karena gadis ini semuanya jadi jelas." Ferel meninggalkan tempat itu.


Semuanya menjadi jelas, karena Ratih hanya jatuh cinta pada MB. Bukan membencinya, Ferel sebenarnya masih salah paham terhadap lelaki yang babak-belur itu. Gadis itu terlihat mirip adiknya sekilas, bukan wajahnya atau pun caranya menatap. Melainkan caranya melindungi seseorang yang sangat berharga baginya.


"Ayo berdiri," Gres membantunya berdiri. Namun terhuyung hampir terjatuh, sekuat tenaga ia menggendongnya.


Gres mengeluarkan handphone memesan taxsi online. Menuju rumah sakit, diperjalanan. Ia tak henti-hentinya menangis, sembari menidurkan MB dipangkuannya. Tidak sengaja memegang pelipis kirinya, yang terus mengeluarkan darah. Kepanikannya pun mulai menjadi, setetes air mata jatuh mengenai pipi cowok itu.


"Pak cepat!" Teriak Gres bergemataran.


***


Lupa membersihkan tangannya yang dipenuhi darah, semalaman berjaga dan tidak berhenti menangis membuat Gres tertidur duduk disamping MB, sambil memegang tangannya.


Membuka mata, menengok kesebelahnya. Terdapat seorang gadis yang terlihat kelelahan dan tangannya dipenuhi darah, cowok itu mulai menyalahkan dirinya.


"Lo ini gadis macam apa? Jelas-jelas gue udah bikin lo menderita, tapi ... Tetap mencintai gue." MB mengelus-elus lembut rambut gadis itu.


Dipagi hari Gres terbangun, melihat MB tidak berada di sana membuatnya khawatir. Ia mencari cowok itu ke berbagai tempat yang ada di rumah sakit, mencemaskannya bertanya kepada siapa pun yang berada di sana.


Setelah lelah mencarinya ke mana-mana, ia meneteskan air mata. Menyalahkan dirinya, seharusnya ia tidak tertidur. Tapi saat menuju halaman belakang rumah sakit, Gres berlari dan memeluk seseorang yang dianggapnya telah menemukannya. Menangis terisak-isak, saat membuka matanya.


MB berdiri dibelakang cowok yang sedang dipeluknya, matanya melotot, mulutnya hampir 2 cm membuka lebar.


Secepatnya melepaskan pelukannya, dan hanya ada sati arti. Tengsin, meminta maaf lalu mendekati MB senyum malu-malu. Tapi cowok itu tidak mempedulikannya, senyuman itu seketika jadi kikuk menekuk mulutnya. Manyun, memasang muka memelas dan saat itu pun ia menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Katakan sesuatu," kata Gres memasang wajah memelas.


"Kid's zaman now," kata MB singkat namun artinya sangat jelas.


"Apa! Aku tidak salah dengar, dia bilang aku anak kecil jaman sekarang. Iiiih kesel, dia gak tahu apa! Pengorbanan aku saat gendong dia, cape, lelah," ucapannya terhenti saat MB berada dihadapannya selangkah lebih dekat dengannya.


"Marah-marah mulu, ini makan. Lo pasti cape, lelahkan habis gendong gue tadi malam. Pinggang lo sakit, sini gue pijitin,"


MB akan menyentuh pinggangnya.


"Stop! Nguping mulu, udah kaya Tino si penggosip,"


"Gimana nggak nguping, lo sendiri yang bicaranya teriak-teriak,"


"Aku tadi teriak-teriak? Mana ada, yang ada kamu tuh dikit-dikit teriak nggak jelas."


MB menggelitikinya sembari tersenyum.


Mereka tertawa bersama, tidak sengaja Gres memeluk MB karena geli dan memegang tangannya. Agar dia tak menggelitikinya lagi, saat itulah cowok itu menatapnya mulai merasakan sesuatu. Senyuman gadis itu membuatnya memandang bibirnya lebih lama, namun ia segera menepis pemikirannya itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada apa?" tanya Gres sudah mulai terbiasa dekat dengannya.


"Jangan tatap gue kaya gitu, males tahu!" Pekik MB membuang mukanya dari Gres.


Gres menyipitkan matanya, alisnya ditekuk, lalu berkata, "mulai aja terus juteknya, senyum tambah mahal lagi, aku tunggu diskonnya bang," Gres memakan makanan yang MB belikan dari kantin belakang untuknya.


"Bicara apa sih?!" ucapnya kembali menatap wajah gadis itu.


Seketika rasa kagum cowok itu mendadak jadi senyuman, Gres makan dengan lahap karena marah. MB mendekatinya, ada secuil sisa makanan tertinggal disamping bibirnya.


"Apa liat-liat, udah diskon, apa tambah mahal ap- "


Menyentuh bibir Gres dengan ujung jarinya terasa sangat lembut, lalu membersihkan sisa makanan. Makanan yang sedang Gres genggam terjatuh. Saat melihat dan merasakan prilaku MB padanya, kini mereka saling bertatapan.


'Kemungkinan besar, ini pipi pasti berubah warna. Aduh jangan kaya bunglon dong, pipi harap kerja samanya ya?' Gres ngedumel sendiri di dalam hatinya.


Author :


Hay udah sampe mana bacanya? Hehehe penulis yang kaya gini cuma ada di sini, yaudah tahu ... kalau baca ini pasti udah baca sampai part ini ... Yaudah tahu ... hehe iya-iya, maaf deh.


Yaudah ya, yang penting kamu happy aja.

__ADS_1


See you, next part ➡


__ADS_2