Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Baiklah Menyerah Saja


__ADS_3

Tidak bisa tinggal diam, MB harus bertanya padanya siapa dia yang sebenarnya. Melangkahkan kakinya, seseorang merangkul Gres dari belakang. Orang itu adalah Will, ia diam mengurungkan niatnya bertanya padanya.


Mengalihkan pandangannya pada Will, sebisa mungkin Gres harus tetap tenang. Ia mencoba berbincang-bincang dengannya, sampai pada akhirnya MB pergi dari sana. Barulah Gres mencoba mengakhiri perbincangannya dengan Will.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Gres seketika mendorongnya menjauh dari tubuhnya.


"Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu bisa melakukan perlawanan, pada seseorang yang nggak sopan terhadapmu," sosor Will mendadak mengatakan hal itu padanya.


"Terima kasih, tapi apa pun alasannya. Tindakanmu barusan tetap nggak sopan, jadi untuk kedepannya jangan lakukan hal itu lagi." Meninggalkan Will di sana.


"Gue yakin, lo suka sama MB. Kenapa lo harus jatuh cinta sama anak pelakor, harusnya lo jatuh cinta sama gue." Rintih Will dengan bibir yang sedikit bergetar karena kesal.


"Tapi pada kenyataannya, aku tak bisa marah padamu, karena aku sungguh menyukaimu." Lanjutnya mengelus-elus tangannya yang diberban lalu menciumnya.


Bagaimana pun tangan dilukanya telah dibalut perban oleh Gres, seperti hatinya telah terselamatkan olehnya.


Gadis itu hanya terus mencoba berlari mengejarnya, ketika MB menyadari akan hal itu. Ia berhenti diam di tempat, menatap gadis yang mengejarnya.


Hanya menatap sebentar Gres terdiam sesaat lalu berbalik arah lari dari sana, sedangkan MB hanya memasang wajah bengong lalu mengejarnya.


"Ngapain berhenti, aku cuma mau kejar doang, seperti biasa. Tapi- " kata Gres ngedumel sendiri tetap pada posisinya membalikan wajahnya dari lelaki itu.


"Tapi apa?" tanya MB berada disampingnya sambil berjalan.


"Kok bisa, aneh aja tahu. Biasanya kamu gak perduli mau aku kejar sampai mana pun, kamu itu tetep gak akan berhenti," Gres merajuk mencoba menjelaskan dengan bibirnya sedikit maju ke depan, kedua pipinya terlihat berisi, kedua alisnya ditekuk.


Melihat ekspresi gadis itu sangat lucu, membuat MB tak bisa menahan tawanya.


"Haha, semua orang bisa berubah, termasuk aku," celetuk MB sambil sedikit tertawa.


Aneh, baru kali ini Gres merasa hangat. Hanya dengan mendengar dan melihat tawanya saja, pertama kali ia memasuki sekolah. Langsung berurusan dengan Cery dan juga MB, karena perilaku mereka mengerjai Latus. Berani melayangkan satu tamparan padanya, dihari yang tak bersahabat itu.


Mulai tersenyum sendiri membayangkannya. MB melambaikan tangannya beberapa kali, namun gadis itu tetap tersenyum menatap ke depan dengan tatapan kosong.


***


Istirahat.


"Siapa yang mau makan dikantin?" kata Tino berteriak sampai terdengar keseluruh ruang kelas.


"Katanya mulai hari ini dan seterusnya, kita diwajibkan makan di kantin. Alias makan gratis, untuk beberapa bulan ke depan," pangkas Teri ikut berteriak serta menjelaskan.


"Serius Lo?!" Pekik Latus bertanya.


Tino dan Teri akan menjawab pertanyaan Latus kalah telak dengan Esa yang memotong pembicaraan mereka.


"Emangnya bener Fis?" tanya Esa bertanya pada Hafis.


"Iya." Jawab Hafis singkat.


Hanya makanan saja yang kedua orang konyol itu pikirkan, bahkan sebelum Hafis ketua kelas memberi tahu. Mereka sudah tahu duluan, jadi untuk apa adanya ketua kelas?

__ADS_1


Entahlah?


"Yaudah gas ken atuh gera," kata Latus bersemangat bisa makan gratis sepuasnya.


"Yuk!" Teriak semuanya secara bersamaan ramai.


Mereka akan berjalan keluar kelas.


"Tapi tunggu dulu! Sejak kapan Latus bisa ngomong bahasa Jepang?" tanya Teri berteriak seketika menghentikan langkah mereka yang sedang berjalan keluar kelas.


"Bodoh!" Jawab Tino menggeplak kepalanya. "Mana ada Jepang, dia tuh tadi ngomong bahasa Sun, sun, Stunade hokage ke 5 ya, kan dicerita Naruto?" Tino malah mengalihkan pembicaraan karena lupa.


PLAK! Esa langsung menggeplak keduanya, menyuruh teman-teman sekelasnya pergi secepatnya ke kantin. Dia rela berkorban untuk menampung orang-orang bodoh itu.


"Sunda!" Teriak Esa. "Tetap diam di sana, kalau gak, kalian gue tabok.


Sedangkan yang lain sudah duluan.


"Kebiasaan, ditinggal lagi!" Tino berjalan dengan lemah.


Tiba di kantin, suasananya mulai berubah. Tino berlarian mencari tahu bulat, beberapa saat kemudian dia melihat tahu bulatnya. Berpikir Tuhan masih menyayanginya, melangkah dengan sangat bahagia.


Mengambil garpu, JLEB. Seseorang ternyata ikut menancapkan garpu tahu bulat super Krispy nya itu, mengangkat wajah. Ternyata Teri, mereka berdua pun saling tatap dengan tatapan membunuh.


"Gue yang duluan nemuin ini tahu!" Sungut Tino sedikit berteriak.


"Gak jelas banget si lo, ini garpu gue satu detik lebih cepat menancap. Daripada garpu lo, paham!" Keluh Teri menjelaskan.


Mereka berdua pun langsung mengadakan pertandingannya, semua orang yang berada dikantin ikut menyaksikan. Tim Tino berada di sebelah kiri, sedangkan tim Teri berada disebelah kanan.


"Tino, Tino,Tino!" teriak tim dari pihaknya.


"Teri, Teri, Teri!" teriak tim dari pihaknya juga.


Tangan keduanya mulai saling menggenggam.


"Gue gak akan kalah, karena tahu itu hanya layak dimiliki gue," kata Teri memprovokasinya.


"Apa? Maksud lo gue gak layak dapetin tahunya, pertandingan Panco Super Maco ini hanya akan dimenangkan oleh Tino si Maco. Jangan ngarep makan itu tahu ya, haha," Tino membalas, ikut memprovokasinya.


"Aaaa." Tangan keduanya mulai berotot. Menunjukkan keram, mata melotot, tatapan saling benci.


Ditengah sengitnya pertandingan antara Tino dan Teri. Seorang mahasiswa berbadan besar nan tinggi mendekati mereka, JLEB. Ia menancapkan garpu ketahu bulat sebagai taruhannya, langsung memakannya begitu saja. Tanpa bertanya terlebih dahulu.


KRESS, KRESSS, KRIUK, KRIUK.


"Suara itu- " Tanya Teri.


"Gak mungkin, tahu gue- " kata Tino.


Mereka berdua menengok secara bersamaan.

__ADS_1


"Dimakan?!" Teriak Tino dan Teri bersamaan.


Mereka berdua menghampiri seseorang yang telah menyambar tahu bulatnya. Berencana memukulnya, tangan keduanya terkepal ingin secepatnya menonjok perut yang super buncit itu.


Ketika melihat wajah orang itu, Tino pura-pura buta. Teri bernyanyi lagu balonku ada 10, sambil tepuk tangan. Tentu saja harus pura-pura bodoh, agar mereka berdua selamat wal'afiat dari Si Gendut yang suka memukul dengan perutnya, bila berurusan dengan makanannya.


Latus dan Esa yang melihat mereka tertawa.


"HAHA!" Tawa yang lain pun ikut meledak.


Diamatilah sekitar kantin, tapi tidak ada MB di sana. Gres memutuskan pergi mencarinya, berkeliling mencarinya di kelas. Ia mencarinya ke taman, di sana terdapat Will yang sedang duduk dengan tatapan kosong ke depan.


Sepertinya Will hanya ingin sendiri, Gres tak bisa mengganggunya. Krek! Ia malah tak sengaja menginjak sisa botol air mineral, terkejut Will menengok ke belakang.


"Gres!" Panggil Will berteriak memanggilnya.


Terlambat baginya untuk pergi dari sana, mau tidak mau ia harus membalas sapaannya.


"Iya, ada apa?" kata Gres menjawabnya.


"Aku mohon temani aku, untuk hari ini saja," pinta Will menatapnya dengan wajah sedih.


Cukup membuat Gres tersentuh, ia duduk di sebelahnya sedikit jauh.


"Kamu gak ikut makan, di kantin?" Gres menengok ke arahnya mencoba bertanya padanya.


"Aku sedang gak nafsu makan," kata Will sambil membalas tatapannya.


"Kenapa? Kamu merasa gak enak badan, kalau gitu ke uks aj- "


Will menyandarkan kepalanya di pundak kiri Gres, seketika gadis itu terkejut.


"Aku pinjam dulu pundak kamu, sebentar aja," kata Will memotong perkataannya kembali meminta.


Gres hanya terdiam. Sungguh ia ingin menolak Will, yang tiba-tiba bersikap seolah-olah dirinya adalah kekasihnya. Jika tetap diam, mungkin akan membuatnya salah paham, akhirnya memutuskan untuk bertanya padanya.


"Hari ini adalah hari kematian ibuku, Gres," lontar Will setelah beberapa saat terdiam.


Terkejut, dengan hal itu. Gres mengurungkan niatnya untuk bertanya, seperti mengerti perasaannya saat ini. Ia tak ingin nafsu makan itu wajar saja. Will pasti sangat merindukan ibunya, tapi apa yang bisa ia lakukan agar membuatnya jauh lebih baik.


Mencari cara menenangkannya, Gres mengangkat tangannya hampir meraih kepala Will. Ia merasa ada yang sedang memperhatikannya, betapa terkejutnya ia saat melihat MB menatapnya dari atap.


'Haki... ' kata Gres di dalam hati.


Author :


Waduh apa yang akan terjadi, jika MB salah paham?


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.


See you, next part ➡

__ADS_1


__ADS_2