Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Arti Tatapan Tajam


__ADS_3

Tatapan tajam, gak akan bikin aku takut.


-Gresnalia Putri-


Kesal, amarah, benci semuanya menjadi satu namun Gres tahan demi teman barunya, peraturan tetap peraturan yang melanggar hukuman menanti.


Semua sahabat barunya hampir menangis, Gres secepatnya mengganggu Tino membuka topik pembicaraan yang lainnya. "Tino, mengapa kamu ada di sini?"


"Gue langgar peraturan yang ke-3 bikin MB bosan sama gue," Tino menunjuk kecil kepapan peraturan yang lainnya mengikuti arah Tino.


"Bener banget, orang MB lagi diam aja disamperin. Terus berjam-jam lagi nyerocos kek burung Pipit gak ada akhlak," gerutu Latus.


"Iya lah! Mesin aja kenal kata berhenti dan lelah, lah dia! Malah diceramahin sama si bodoh Tino, apa aja diomongin. Sampe celana dalem dia warna apa ditanya, kan bego," tambah Esa ketus.


Gres tertawa mendengar penjelasan Esa. "Benci kamu Sa kayanya?"


"Bukan kayanya lagi, sangat, sangat, tambah benci. Tuh orang kalau kecil gue pites kali ya!" Bergumam tanpa henti Esa menatap Tino.


"Lo kira gue kutu, dipites," balas Tino menyeringai.


"Gue panggil Harry Potter ya?" tanya Esa menatap sahabatnya semangat.


"Buat apa?" Latus kembali bertanya.


"Minta tolong sihir si bodoh Tino jadi kutu, biar gampang dipitesnya," Esa memperaktekan saat memites kepala Tino di atas meja.


"Hahahah." Semuanya tertawa kecuali Tino.


"Yang sabar, ya bosss!" Teriak Latus memegang pundak Tino.


"Ya Sopo." Tino memanyunkan mulutnya untuk kesekian kalinya.


Bagi Gres kelas mulai suntuk, ngantuk, bosan, lelah semua orang yang di dalam ruangan mulai menurun semangatnya, dia keluar dari sana melangkah kebelakang taman sekolah.


"Sebenarnya ini sekolah apa istana, tamannya saja sangat luas, lebih luas dari lapangan sepak bola." Gres bergumam sendiri.


Melirik ke sana kemari Gres mulai menatap bangku taman, melangkah tanpa ragu. Terlalu asyik dengan apa yang sedang ia perhatikan, duduk diam menutup mata merasakan kesejukan angin lewat.


NYEK!


Merasakan sesuatu yang aneh bokongnya menduduki sesuatu yang empuk, Gres mengangkat kedua tangannya melirik perlahan kesamping bawahnya.


Matanya membulat, hidungnya berkembang, dan mulutnya ternganga. "Astaga!" ucap Gres pelan sembari berdiri. Ia menjatuhkan diri ke tanah yang dipenuhi rumput hijau.


Melihat cowok cool, tampan, keren, sedang tertidur di atas bangku taman?


Gres menghela napas lega. "Alhamdulillah, dia gak bangun, tetapi ... "


Mendekati, duduk disamping kepala cowok itu berada, terdiam menatapnya tanpa berkedip. 'Sumpah, ganteng banget.'


"Bukannya minta maaf, malah menatap!" Sindir MB terbangun lalu duduk membalas tatapan Gres dengan tajam.


'Tatapannya terlihat tajam dan mengerikan, tetapi dibalik itu mengapa aku merasa terdapat kesedihan.' Batin Gres terdiam membalas tatapannya sedetik.


Menatap MB seluruh tubuh Gres mendadak merinding secepat kilat membelakanginya, memegang pipinya sendiri. "Anu ... "


Untuk yang kedua kalinya MB meninggalkan Gres.


"Astaga naga! Dia melakukannya lagi, ninggalin orang yang sedang bicara padanya ... " ngedumel sendiri sembari mengepalkan tangannya, "sudahlah, yang penting bukan urusanku."


***


Lestoran Happy tempat di mana Gres mencari nafkah, mendongak ke atas langit yang biru, akankah dia terus bernasib seperti ini atau kebalikannya? tetapi begitulah takdir.


Gres masuk ke dalam lestoran hari pertamanya bekerja, tanpa disuruh dia bergerak membantu pelayan yang lainnya.


Lelah memang sangat melelahkan, dia pulang sekitar jam 10 malam memasuki rumah, menatap dinding rumah catnya yang mulai mengelupas.

__ADS_1


"Apa nasibku akan seperti ini terus?" Gres teringat pesan terakhir dari kakeknya. "Tidak, kalau begitu aku harus mengubahnya."


***


Di atap rumah MB menatap langit dipenuhi bintang dan ditemani bulan, berharap semuanya seperti dahulu lagi saat bersama cinta pertamananya.


"Bun, Kaka di mana, Kaka Bun?" tanya Fajar Adik MB.


"Mungkin ada di kamar," jawab Ibunya sembari mengganti sarung bantal.


"Udah Bun, tetapi gak ada," wajahnya mengernyit, "aku cari dahulu lagi aja."


Naik ke atap ternyata Kakanya sedang berdiri memegang bahu atap.


"Mengapa mencari, Kaka?"


"Sial! Tadinya aku ingin bikin Kaka terkejut, Kak, main yuk?" ajak Adiknya Fajar.


"Jam segini main, yang ada ditemenin tuyul yang lagi nyari nafkah, yaitu duit," ucap MB dengan nada bergurau.


"Hehehe, buruan turun udah malem juga besok kesiangan gimana?"


"Umur kita berbeda jauh, tetapi sikapmu hampir menggantikan posisiku saja,"


"Aku harus lebih dewasa daripada Kaka, soalnya setiap hari Kaka murung terus. Nanti gimana sama bunda kalau orang yang lebih tua sikapnya seperti, ini?" ucap Fajar tertawa kecil.


"Hmmm," MB menghela napas lelah diceramahin sama Adiknya.


"Mood on! Oke Kakaku sayang." Seru Fajar menyemangatinya.


Tanpa menjawab Adiknya yang bawel turun ke bawah. Karena ketenangan jiwa dan pikirannya kacau balau, diganggu Adiknya. Mereka memiliki sikap yang berbeda.


***


Keesokan harinya.


Sampainya di dalam kelas ia memanyunkan mulutnya. "Aiiish."


Ia duduk lelah, semua sahabat barunya mendekat.


Latus bertanya. "Kenapa, lo?"


"Aku kira telat, ternyata ... " Gres mendengus kesal.


"Yaampun gara-gara itu, lo lupa kita kan nanti belajarnya pas kelas lain istirahat kita belajar," ucap Esa.


"Pulang sekolah main yuk?" ajak Tino sumbringan.


"Main ke mana?" Latus menjenggut kepala Tino dengan tangan kanannya.


"Ke rumah sahabat baru kita," Tambah Tino mengusap-usap kepalanya kesakitan.


"Paling juga numpang makan," pekik Esa.


"Kok tahu, hehehe," menggeplak kepala Latus.


"Aduh! Sakit nih!" Latus akan segera membalas tetapi pintu kelas terbuka.


Seisi kelas terdiam seribu bahasa menatap ke arah pintu yang hampir terbuka, anak baru kah? atau Cery yang akan membuat mereka ketakutan? Rasa tegang, cemas, beraduk menjadi satu.


CKLEK!


Pintu terbuka perlahan semua mulai membulatkan matanya, mulut mereka ternganga-nganga.


MEONG, MIOOONG


Hahahahaha.

__ADS_1


Semuanya tertawa tanpa henti setelah melihat yang masuk keruangan hanyalah seekor kucing betina yang akan melahirkan di tempat, tawa mereka terhenti saat kucing itu mulai terkapar di lantai Gres secepatnya mengambil kardus bekas air minum. Yang suka dimainin sama Tino kalau lagi gabut dipojokan kelas.


Membawa kucing itu pergi dari sana berlarian ke sana-ke mari mencari tempat yang cocok menaruhnya ditaman belakang sekolah.


Di bawah pohon besar dekat belakang taman sekolah MB duduk di atas bangku mengangkat kedua tangannya memegang leher sembari bersandar, menutup kedua matanya inilah kebiasaan baru jika terganggu banyak cewek mendekatinya, waktu belajar ia meninggalkan demi ketentraman pikirannya.


Tapi ia tetap belajar sendiri, yap! Cowok pintar.


"Tidaaak!" Jerit seorang anak kecil.


"Maafkan Ibu, Nak," ucap seseorang paru baya memeluknya.


Anak ini bernama 'Muhammad Baehaki' saat itu berusia 8 tahun, ditinggalkan teman hidupnya membuat sikap anak ini berubah dingin, cuek, kejam, benci cinta dan tidak akan pernah membiarkan wanita menyentuhnya.


Kebiasaan dari sifatnya berlanjut sampai dia dewasa, hari harinya kacau balau dalam sesaat peristiwa itu mengubah seluruh hidupnya.


"Tidaaak!" Jerit MB terbangun dari tidurnya, sambil mengangkat tangan kanannya, tampak ingin meraih sesuatu.


Seketika mengingat cinta pertamanya.


'Tanpamu hanya akan ada kesedihan.' Batin MB.


Dia mengusap keringat, serta mencoba menenangkan dirinya kembali. Sempat beberapa hari tidak bisa tidur dengan pulas, karena selalu saja memimpikan kejadian hari di mana cinta pertamanya meninggal tepat di depan matanya sendiri.


Sering kali terpikirkan dibenaknya cinta pertama pada anak kecil yang cantik dan manis, ia sangat menyayanginya melebihi dirinya sendiri.


Takut kucing itu akan segera melahirkan, Gres melangkah tanpa melihat ke depan.


BRUGH!


Tidak sengaja Gres menabrak MB kardus yang di bawanya hampir ikut terjatuh tetapi MB memegang kardus juga tangannya, ia terdiam seribu bahasa mereka bertatapan cukup lama pipi Gres mulai terlihat memerah.


MEONG, MEONG, MEONG.


"Syukurlah sudah lahir," ucap Gres tersenyum.


"Anak kucing, kah?!" Tanya MB melepaskan pegangannya secara kasar hampir terjatuh.


Lari meninggalkan Gres bersama anak kucing yang sedang di bawanya, ia terdiam tanpa berkedip. Cengo dengan apa yang baru saja terjadi, memandang MB meninggalkan Gres tersenyum menahan tawa.


"Ternyata dia bisa takut juga, seorang yang terkenal dengan kata kejam takut sama kucing?" ucap Gres tertawa geli. "Meski begitu, mengapa aku merasa dia menyembunyikan kesedihan dibalik tatapan tajamnya itu?"


Menaruh kardus itu pada satpan setelah tugasnya selesai kembali ke kelas tapi pikirannya tidak pernah berhenti memikirkan MB, lari ketakutan saat melihat kucing.


Sedari tadi senyum-senyum sendiri, Latus mendekatinya. Duduk perlahan di sebelah Gres yang sedang asyik dengan dunianya sendiri, Latus menatap Esa bingung.


Esa membalas tatapan Latus mengkedipkan matanya memberi isarat kepada sahabatnya.


"Dari tadi senyum-senyum melulu, ada apa sih?" tanya Latus penasaran sendiri.


"Apa jangan-jangan karena anak kucing, yang berkelamin cowok kali, ya?" Tino berbalik bertanya.


GEPLAK!


Esa menepis kepala Tino menggunakan buku yang dia pegang, "lo kira, dia jatuh cinta sama anak kucing?" suaranya terdengar memekik ke seluruh penjuru kelas.


"Sembarangan, aku tadi pegangan tangan sama MB," sahut Gres tersenyum membanggakan dirinya sendiri.


Serempak mengatakan. "APA!"


Author :


Gimana tuh ceritanya???


Like, Komen, masukan ke menu favorit. Jangan lupa tinggalkan jejaknya, apalagi sampai promosiin keteman-teman yang lain. Sangat membantu saya, terima kasih.


See you, next part ➡

__ADS_1


__ADS_2