
Sebelum Kevin bertemu MB di rumah sakit. Saat itu MB sedang memegang tangan Gres. Ia mencium keningnya, Kevin langsung masuk. Dia memaki-maki dirinya dengan kata-kata kasar.
Menarik tangan MB. Mereka keluar dari ruangan Gres, dia memakinya sambil memegang kerahnya. Sampai Pak Satpan mencoba memisahkan.
"Cari kesempatan dalam kesempitan kan lo!" Pekik Kevin memelototinya.
"Gue bisa jelasin ... " kata MB mencoba menjelaskan. Namun tak diberikan kesempatan oleh Kevin untuk bicara, ucapannya terpotong.
Mendorong MB sampai tersungkur di lantai.
"Ini terakhir kali gue liat lo, mending lo pergi!" Pekik Kevin meninggalkannya dan pergi ke dalam ruangan.
Di depan rumah sakit.
Jika ada hal yang harus ditanyakan. MB ingin bertanya padanya, namun ia melihat wajah Kevin sangat kejam. Tatapan matanya bukanlah tatapan kecemburuan, melainkan kebencian yang nyata bersatu dengan amarahnya.
Seketika langkah MB berhenti. Menengok sebentar ke arah rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya lo rahasiakan?" ucap MB berbicara sendiri dengan seribu pertanyaan.
***
Hari yang begitu cerah dan indah, tapi tidak dengan suasana hati Gres. Ia berada di rumah sakit, Hafis berada di sana. Awalnya Hafis tidak ingin ikut campur dalam masalah keduanya, namun jika dia hanya diam saja tanpa melakukan apapun bukankah rencana yang telah mereka buat sedemikian rupa akan sia-sia?
Gres yang saat itu mulai tenang membaca buku, tiba-tiba Hafis datang dengan tergesa-gesa berlari kedepannya. Tentu saja ia bingung, mengapa dengan sikap Hafis? Apa ada masalah?
"Gres apapun yang terjadi, lo harus bisa menghentikan MB. Lo suka kan sama dia?" tiba-tiba saja Hafis mengajukan pertanyaan yang tak mampu dijawabnya.
Apa maksud dari pertanyaannya?
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, jika masih ingin bicara mengenai MB, aku minta maa- "
Kedua tangan Hafis memegang pundaknya dengan tatapan serius. "Jika lo gak hentikan dia sekarang, MB akan benar-benar pergi ke Singapura. Dan entah kapan dia akan kembali, atau mungkin tidak akan pernah kembali," Hafis mencoba menjelaskan.
Gres tertergun dengan perkataannya. "Lalu di mana dia sekarang?"
"Ikut," ajak Hafis menarik tangannya.
Infusan ditangannya sudah dilepas shubuh tadi, padahal dokter menyarankan untuk istirahat seharian. Karena penyakit mah kronis yang dideritanya, jarang sekali makan dengan teratur akhir-akhir ini.
Ibunya hanya memperhatikan dari kejauhan, banyak sekali lelaki yang datang menjenguk putrinya. Apakah putrinya salah satu wanita tercantik di sekolahnya?
Di tengah perjalanan menaiki mobil, Hafis menyuruhnya untuk menghubungi MB, namun beberapa kali tak diangkat atau pun dibalas.
"Gimana Gres?" tanya Hafis yang sedang mengendarai mobilnya.
__ADS_1
"Gak ada jawaban Fis." Jawab Gres tetap mencoba menghubunginya.
Sesampainya dibandara, Tino sedang mencoba mencegah kepergian MB. Dengan cara yang dapat menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali, bagaimana tidak? Tino mengambil koper yang akan dibawanya.
MB yang saat itu malas untuk berlari, harus memaksakan kedua kakinya berlari kecil mengejar orang bodoh yang satu itu. Apakah Tino takut padanya? Tentu saja takut, tapi ini adalah cara terbaik baginya untuk bisa membantu Gres.
"Balikin gak koper gue!" Teriak MB berlari kecil ke arahnya.
"Dengerin gue, mending lo tetep di sini jangan ke mana-mana," jawab Tino tetap dengan pendiriannya, tak ingin mengembalikan koper ditangannya.
Tino melihat adanya tangga eskalator yang menurun, banyak sekali orang yang berada di sana. Lari tidak mungkin, apalagi sampai memaksakan diri saling mendorong dengan orang-orang yang berada dibawahnya.
Langkah MB semakin mendekat ke arahnya. Mencoba mencari jalan keluar supaya tak tertangkap, sialnya tidak ada jalan keluar hanya tersisa eskalator itu saja. Muncul Office boy yang membawa berbagai barang kerjanya, tak sengaja Tino yang sedang berdiri didepan eskalator.
Set! Pel yang sedang dipegang OB tiba-tiba terdorong oleh seseorang, sehingga Tino terdorong oleh ujung pel, maksudnya OB sampai terjungkal ke atas koper. Turun ke bawah sampai terdengar suara gemuruh, der, der, der.
Menabrak tong sampah, sampai isinya keluar, dan tongnya secara sempurna masuk ke dalam kepalanya.
"Waduh! Mamaeee!" Jerit Tino mengelus kepalanya yang benjol.
Dia secepatnya melepaskan tong itu dari kepalanya, andai saja kepalanya yang dilepas. Maaf mari lanjutkan, jadi MB sudah berada dihadapannya.
Kedua mata Tino terbelalak. "Hallo tampan," ucap Tino dengan sangat polos, menganggap tak ada dosa padanya.
"Jika ulangi hal ini lagi, sesuatu hal akan terjadi padamu." Geram MB mengancamnya.
begitu kesalnya dengan ulah temannya yang satu ini MB pun langsung mengambil tong sampah, lalu memasukkan kepalanya ke tong sampah. Sampai Tino meraung-raung di dalam sana.
Tetap tidak menyerah demi janjinya pada Lailatus, untuk mendapatkan hatinya akhirnya Tino memohon sampai memegang pergelangan kakinya. sampai MB menengok dengan tatapan yang begitu sangat tajam tatapan yang dingin serta ingin membunuh orang.
'Kalau bukan demi kamu aja mending milih selamet dan kabur daripada di sini.' Pikir Tino di dalam hatinya.
"Tino lo bisa nggak sih nggak ganggu hidup gue, sedetik aja," tanya MB menarik-narik kakinya agar terlepas dari genggamannya.
Pusing memikirkan cara agar bisa menghentikan MB, untuk pergi ke Singapura akhirnya menemukan ide yang sangat masuk akal yaitu memberi tahu bahwa terjadi sesuatu hal pada Gres.
"Begini MB Gres ... "
Karena dia tidak melanjutkan perkataannya membuat MB khawatir apa yang akan terjadi?
"Maksud lo? Katakan sama gue, apa yang terjadi sama Gres?!" tanya MB dengan wajah sangat khawatir.
"Gres kecelakaan di depan sekolah kita, katanya dia masih tergeletak di sana sambil mengeluarkan banyak apa tuh yang merah-merah?"
"Darah?"
__ADS_1
"Iya itu namanya darah yang merah-merah, katanya keluar dari otaknya,"
Kepalanya serasa berkabut. Tidak bisa berpikir apapun. Ia langsung lari pergi keluar untuk secepatnya pergi ke tempat kecelakaan itu terjadi, tanpa memikirkan apakah itu berita sungguhan atau hanya berita hoax dari mulut Tino?
Saat itupun Tino menggigit jarinya melotot dirinya sendiri di depan kaca kamar mandi, tiba-tiba rencana mereka semuanya berubah. Dia secepatnya menghubungi Lailatus dan juga yang lainnya.
"Hallo, bodoh gimana?" tanya Esa.
"Lah, kok lo yang angkat teleponnya? Ayang gua ke mana?" tanya Tino sedikit kesal.
"Udah buruan kasih tahu, gimana MB nggak jadi pergi kan?"
Esa langsung menyalakan speker.
"Gue bingung harus cari cara kayak gimana, terus gue bilang aja sama MB kalau Gres kecelakaan di depan sekolah, dan sekarang MB lagi menuju ke tempat kejadian,"
"Tino pokoknya lo ke sekolah sekarang juga, kita semua bakal nyusul ke sana, karena semua rencana berubah jadi lo yang harus tanggung jawab!" Teriak Esa bicara ditelepon dengannya.
"Lagian salah lo sendiri, otak gue disuruh mikir padahal, otak gue kan gak bisa muter."
Nit, nit, tuuut. Seketika Esa mematikan teleponnya, Tino ikut berlari menuju ke sekolah.
***
"Rencana kita gagal total nih, kita harus gimana?" tanya Esa mengatakannya begitu panik.
"Mending gini kita hubungi Gres sama Hafis, secepatnya untuk menuju ke sekolah. Gue punya rencana," ungkap Latus untuk menenangkannya.
Semua ini gara-gara satu orang, siapa lagi kalau bukan Tino. Tapi setidaknya dengan kegagalan rencana ini, masih ada tingkat keberhasilannya MB tidak jadi pergi ke Singapura karena sudah tertinggal pesawat.
Begitu mendengar berita itu Hafis banting setir putar balik ke sekolah, sedangkan Gres ingin bertanya tetapi wajah lelaki itu begitu sangat menyeramkan. Sehingga membuatnya tetap terdiam dengan 1000 pertanyaan.
MB sampai di sana, ia melihat Gres terbaring di depan jalan sekolah. Dengan banyaknya darah yang keluar dari kepalanya, baru berjalan beberapa langkah, langsung menjatuhkan dirinya ke tanah.
Mencoba bangkit, berlari ke arahnya memangku kepalanya di atas pahanya.
"Gres beneran kecelakaan, berarti mulut gue ... " kata Tino membekap mulutnya sendiri.
"Gres bangun," papar MB menepuk-nepuk pelan pipinya.
"Lo bisa denger gue kan? Bangun, gue gak mau kehilangan lo, jangan pergi ... "
Author :
Jadi Gres meninggal gitu?
__ADS_1
Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡