
Ananta meletakan sebuah dokumen diatas meja kerja nya. Kemudian mengambil salah satu hp yang tergeletak di atas meja tersebut. Ada banyak sekali pesan, salah satunya dari Aria anak kesayangannya.
“ Ayah, pulang jam berapa?.” Tanya Aria dalam pesan singkatnya
“ Seperti biasa, sayang.” Jawab Ananta
Dia melihat ke layar hp nya lagi. Belum ada jawaban lagi dari anak kesayangannya itu. Ananta meletakan kembali hp nya dan memandang sebuah foto yang terpajang rapi di salah satu lemari kaca.
Sebuah foto mesrah dirinya yang sedang memeluk isterinya dari belakang. 18 tahun lebih sudah berlalu. Kepergian Rianti untuk selama-lamanya 3 hari sehabis melahirkan Aria menjadi kenangan terburuk namun juga anugerah terindah dalam kehidupannya.
5 tahun mereka menjalankan pernikahan tanpa memperoleh keturunan merupakan kesedihan yang sangat menyakitkan bagi Rianti. Ananta melihat kesehatan Rianti semakin memburuk setelah dia mendonorkan salah satu ginjalnya kepada Berliando. Sebenarnya saat itu Ananta sangat keberatan saat Rianti meminta izin kepadanya memberikan donor ginjal kepada Berliando. Namun dari sekian banyak calon pendonor yang rela memberikan salah satu ginjalnya hanya ginjal milik Rianti yang cocok. Berliando sedang dalam kondisi yang sangat kritis saat itu, sakit gagal ginjal kronis yang di deritanya mengharuskan nya harus segera melakukan transplantasi ginjal.
Yang satu isteri tercinta, yang satunya lagi sahabat terbaiknya. Dengan hati yang besar dia menandatangani surat pernyataan persetujuan transplantasi ginjal antara Rianti dan Berliando.
Satu tahun setelah proses transplantasi ginjal tersebut berhasil, mereka mendapatkan kabar gembira. Rianti sangat bahagia mengetahui dirinya hamil. Begitupun dengan Ananta. Sebelumnya Ananta sudah bertekad akan tetap setia bersama dengan Rianti walaupun tidak memiliki keturunan. Oleh sebah itu kehamilan Rianti adalah anugerah terindah bagi mereka.
Kehamilan dengan satu ginjal masih aman menurut dokter specialis SPOG yang memeriksa kandungan Rianti saat itu, banyak kelahiran yang berhasil walaupun hanya dengan satu ginjal. tapi ada beberapa resiko berbahaya juga yang harus di perhatikan dengan kondisi seperti itu, salah satunya peningkatan aliran plasma ginjal dan GFR. Kondisi ini secara teori dapat mengubah hemodinamik ginjal dan meningkatkan risiko hipertensi, yang berujung pada preeklampsia. Tapi itu hanya salah satu resiko saja, bukankah semua kehamilan juga memiliki resiko. Disanalah letak muliah nya menjadi seorang ibu. Berjuang sampai titik darah penghabisan demi melahirkan anak tersayang ke dunia ini.
Rangkaian pemeriksaan rutin terus dijalankan Ananta dan Rianti saat itu. Terakhir ketika Berliando dan putra tunggal nya ikut menemani ke RS untuk kontrol kehamilannya. Saat itu usia kehamilan baru berusia 7 bulan.
“ Putri cantik ibu...masih didalam kandungan saja sudah ada pengeran tampan yang melamar...” ucap Rianti sambil mengelus lembut perutnya.
“ Hahaha itukan cuma gurauan anak kecil saja. Gak usah terlalu di pikirkan. Jodoh di tangan Tuhan.” Ananta
“ Gak apa sayang, kita bisa benar-benar serius menjaga putri kita untuk nandaku tersayangku. Aku akan berdoa setulus hati setiap waktu agar anak kita ini berjodoh dengan tuan muda nandaku.” Ucap Rianti sambil memegang tangannya Ananta. Nandaku adalah sebutan sayang Rianti kepada putra tunggal Berliando tersebut.
__ADS_1
“ Bantu aku menjaga Aria ya sayang...jangan biarkan dia direbut laki-laki lain. Nandaku pasti sangat sedih kalau itu sampai terjadi.” Pinta Rianti saat itu
“ Iya...iya sayang, aku janji.” Ucap Ananta sambil menyium kening Rianti.
Janji yang di ucap Ananta adalah janji seorang suami kepada isteri tersayangnya. Ananta berharap janji tersebut akan di jalankan bersama dengan Rianti nantinya. Tapi ternyata takdir berkata lain. Tengah malam ketika mereka tertidur dalam lelapnya. Rianti terbangun karna ingin buang air kecil. Ketika bangun kepalanya terasa sangat pusing. Tapi karna sudah tidak dapat di tahan lagi dia tetap berjalan pelan masuk ke dalam toilet. Selesai membuang air kecil Rianti mencuci tangannya. Kemudian di tatap wajahnya di pantulan cermin. Berbayang dan terus berbayang...Rianti memegang perutnya yang tiba-tiba terasa kontraksi.
“ Sayang...” Teriaknya kencang membangunkan Ananta yang masih tertidur lelap.
“ Sayang...” teriaknya lagi, kemudian semua menjadi gelap.
Ananta yang terbangun terkejut saat mendengar Rianti teriak dan tidak ada Rianti di sampingnya. Dia langsung turun dari ranjang nya menuju kamar mandi. Dibawah sana Rianti sudah tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengalir dari kedua kakinya.
Ananta segera membawa isteri tersayangnya itu ke rumah sakit. Sesampainya di IGD dokter jaga langsung membawa Rianti masuk ke ruang tindakan.
“ Kondisi ibu sangat lemah, tekanan darah sangat tinggi. Jantung janin pun juga ikut melemah.” Beritahu salah satu dokter kandungan kepada Ananta
“ Selamatkan anakku...” suara parau Rianti terdengar pelan. Ananta memegang dengan erat jari-jati isterinya
“ Kalian akan selamat sayang, kalian berdua akan selamat.” Ucap Ananta menguatkan Rianti.
Rianti tersenyum menatap suaminya, kepalanya kembali sakit. Tidak lama kemudian Rianti kejang.
2 minggu di rawat intensive di RS keadaan Rianti membaik, sesuai rencana operasi caecar pun di jalankan. Satu-satunya cara untuk mengobati eklamsia yang di derita Rianti adalah dengan melahirkan bayi yang dikandungnya.
Ananta menunggu dengan cemas di bangku depan ruangan operasi. Berliando dan puteranya juga duduk di sebelah Ananta. Hampir 2 jam operasi berlangsung, lampu di atas ruangan operasi sudah meredup. Terdengar suara tangis bayi yang membuat Ananta tersenyum. Seorang suster membiarkan Ananta melihat Aria bayi sebentar. Kemudian langsung membawanya ke ruangan perawatan khusus bayi di karenakan Aria bayi terlahir premature. Rianti masih tertidur karna anestesi.
__ADS_1
3 hari setelah proses operasi, Rianti meminta Ananta mengantarnya ke ruangan perawatan Aria bayi.
Sesampainya di ruangan nicu Aria bayi berada Rianti memegang lembut tangan kecilnya Aria. Tetesan air mata bahagia mengalir di kedua pipinya. Aria bayi terlihat tersenyum merasakan kehadiran ibu tercinta di sisinya. Sekian lama ibu dan anak tersebut bersama, Rianti diantar kembali ke kamar perawatannya.
“ Dia sangat cantik, aku ingin menjaga, merawatnya dan menemaninya sampai aku menua dan bisa melihat cucuku dari Aria dan Nanda.” Ucap Rianti di atas ranjang nya. Ananta tersenyum dan mencium kening isterinya
“ Aku mau istirahat dulu ya...I Love You.” Rianti
“ Iya istirahat sayang, besok pagi kita ke main sama Aria lagi ya.” Ananta kembali mencium kening isterinya.
Rianti memejamkan matanya, namun sejak itu dia tidak pernah bangun lagi.
**
Ping...sebuah tanda pesan masuk bunyi kembali. Bunyi yang sangat special pasti dari Aria anak kesayangannya.
“ Ayah, aku coba resep baru. Cepat pulang yaa..dan ajak kapten Reza mencicipi kue buatan ku ini.” Jawab Aria dengan tambahan emoticon love berkali-kali.
Emoticon love nya banyak sekali, tidak biasa-biasanya Aria mengirim pesan dengan tambahan emoticon seperti itu sebelumnya.
Apa Aria sudah jatuh cinta kepada Reza?...bagaimana ini. Ananta
Dia membuka pesan lain yang juga masuk secara bersamaan
“ Paman, aku baru saja balik dari makam papa dan mama. Aku sudah memikirkan baik-baik. Sudah saat nya kita bicarakan rencana kedepannya dengan Aria. Dalam satu atau dua minggu kedepan.”
__ADS_1
Ananta menatap lama ke arah pesan tersebut, sebuah pesan dari calon menantunya. Putra tunggal Berliando, sahabat dan juga pemilik Berliando Group yang sesungguhnya.
“ Ayah, jangan lupa ajak kapten Reza ya...love u so much” pesan Aria kembali masuk.