Janji Atau Cinta Sejati

Janji Atau Cinta Sejati
Mentari Pagi


__ADS_3

Aria terbangun dari tidur nya, di rasakan tubuhnya cukup hangat dengan sentuhan cahaya mentari pagi yang menyelinap masuk ke dalam kamar di lantai 3 tersebut. Aria mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya dan melihat Reza yang masih tertidur pulas di atas sofa.


Seketika dia teringat lagi kejadian semalam saat Reza menyanyikan lagu Aria untuk nya, kemudian mereka beberapa kali berciuman dan saling berpelukan. Sampai akhirnya Aria tertidur di atas pangkuan Reza.


Aria turun dari tempat tidur nya dan mendekati Reza yang masih terlelap sambil memeluk selimut.


Dia menyentuh pelan wajah Reza dan sedikit memberikan kecupan di bibir nya Reza.


“ Bagaimana kalau kita segera menikah saja.” Ucap Reza tiba-tiba mengejutkan Aria yang jadi terjatuh ke lantai.


“ Aduh...” Gerutu Aria kesakitan.


“ Astaga, maaf sayang...” Reza mengangkat tubuh Aria kembali ke atas tempat tidur.


“ Kamu tidak apa-apa kan ?.” Tanya Reza khawatir.


“ Kenapa sih tiba-tiba kamu bangun, kaget tahu...” gerutu Aria kembali.


“ Iya maaf, sebenarnya aku mau langsung menarikmu malah.” Reza.


“ Menarik kemana ?” Aria masih kesal.


“ Hahaha sudah lah, sepanjang malam ini aku cukup pusing menahan semuanya.” Ucap Reza kemudian terbangun dan melihat sekeliling nya cahaya mentari yang semakin memasuki ruangan mereka.


“ Menahan apa ?” Tanya Aria masih penasaran.


“ Menahan rasa ingin lekas-lekas menikahimu sayang. Hahahaa, sebentar ya aku minta kang Herman mengantar sarapan dulu. Kamu mau langsung mandi atau nanti aja?” Reza


“ Aku penasaran sekali dengan pemandangan apa yang bisa di lihat alat itu.” Tunjuk Aria ke arah teleksop


“ Baiklah...” Reza.


Reza menuntun Aria menuju alat tersebut. Dan sesampainya disana dia mengarahkan pandangan Aria menuju sebuah pemandangan yang tidak asing lagi.


Itu adalah makam ibu nya.


“ Ibu...” panggil Aria pelan.


Reza membiarkan Aria menggunakan alat tersebut ke arah manapun sesuai kemauan nya.

__ADS_1


Reza menghubungi kang herman untuk membawakan sarapan.


“ Dan apakah itu adalah makam mama dan papa mu.?” Tanya Aria dan Reza mengangguk tanpa ikut melihat alat tersebut. Namun ke arah mana alat tersebut menuju Reza sudah paham apa yang dapat di lihat disana.


“ Aku ingin segera kesana.” Ajak Aria sambil mendekati Reza.


“ Sabar ya sayang, kita sarapan dulu. Abis ini mandi, ganti baju...baru kita ke sana.” Reza.


Reza kembali merangkul pinggang Aria dan mengajaknya duduk lagi di atas kursi ayun.


“ Kita nikmatin dulu aja mentari pagi ini disini, aku yakin ibumu...papa dan mamaku, mereka sangat bahagia melihat kita sekarang ini ada disini.” Reza.


“ Bagaimana rencana mu ke depannya ?” Tanya Aria.


“ Rencana apa ?” Reza bingung.


“ Katanya mau secepatnya menikah...” Ucap Aria sambil tertunduk malu.


“ Hahaha, emang kamu udah siap ?, aku sih mau nya ya cepet-cepet. Tapi kan ayahmu mau nya kamu fokus kuliah dulu...tapi kalai kamu udah siap sih gak apa, pulang dari sini aku mau kok langsung melamar.” Reza


“ Ih...apaan sih, hmmm...aku rasa gak secepat itu juga kali. Ayah benar, aku mau fokus kuliah dulu.” Aria


“ Iya, makanya sebenarnya aku niatnya mau menampakan diri di depan kamu sebagai calon suami ketika sudah tiba waktunya kita sama-sama siap menikah. Tapi ternyata Tuhan menginginkan kita bertemu lebih awal...aku sempat berpikir apakah memang aku harus menikahimu lebih awal saja ?” Ucapan Reza ini hanya di jawab cubitan kecil dari Aria di tangannya Reza.


“ Udah.” Jawab Aria singkat mengejutkan Reza.


“ Bener nih? Kamu yakin gk mau fokus kuliah dulu...” Reza


“ Kan bisa menikah sambil kuliah.” Beritahu Aria sambil tersenyum se akan meledek Reza yang sedang berusaha menenangkan debaran jantung di dada nya.


“ Kamu serius, sayang ?” Tanya Reza lagi di jawab dengan ketawa lepas dari Aria.


Tidak lama kang Herman datang dengan dua orang pelayan yang masing-masing membawa nampan berisi berbagai macam makanan dan minuman hangat untuk Reza dan Aria.


“ Terima kasih .” Ucap Aria.


“ Sama-sama nona, tuan mudah...selamat menikmati .” Ucap kang Herman sambil pamit kembali turun bersama dengan kedua pelayannya.


Reza memakan roti bakar favorite nya dengan lahap. Kemudian meminum coklat hangat dengan beberapa kali tegukan.

__ADS_1


Aria malah melihat calon suaminya itu seperti sedang di bawah tekanan.


Bukannya sebelumnya dia yang mengatakan ingin segera menikahiku, kenapa kini malah dia jadi tertekan seperti itu sih. Aria


“ Siang ini aku harus harus segera balik ke markas. Aku mandi duluan ya sayang, jam 8 kita ke makam dan langsung jalan pulang ya.” Ucap Reza kemudian langsung bangun dari duduk nya menuju kamar tanpa menunggu jawaban dari Aria lagi.


Aneh...padahal aku juga becanda aja kok ngomong seperti itu. Siapa juga yang mau menikah muda sekarang, umurku aja belum 20tahun. Apa jangan-jangan sebenarnya kapten Reza tidak benar-benar ingin menikahiku...apa karna ada wanita lain yang masih di cintainya...apakah dia, Khiana. Aria


Aria memakan beberapa sendok nasi goreng dan meminum susu hangat.


Nasi goreng nya enak, tapi aku tidak sanggup lagi memakannya karna merasa perasaanku jadi tidak enak...ada apa ini. Aria


Aria bangun dari duduknya dan melihat-lihat lagi kembali pemandangan di sekitaran lantai tersebut. Dia kembali menggunakan teleskop dan pandangannya beralih ke salah satu patung yang sangat indah di halaman taman menara putih.


“ Sayang...mau mandi ?” Tanya Reza tiba-tiba mengejutkan Aria dari pandangannya ke arah patung tersebut.


“ Iya...” Aria langsung berjalan menuju kamar mandi.


Duh, kenapa jadi terus-terusan berdebar seperti ini ya. Jika memang Aria sudah siap aku nikahi...tapi dia kan harus menyelesaikan kuliah nya dulu. Bagaimana pun, salah satu di antara kita harus ada yang melanjutkan memimpin Berlian Group. Reza


**


Aria sudah rapi, dan berjalan mendekati Reza.


“ Kita ke makam sekarang .” Ajak Aria tanpa melihat Reza.


Reza tersenyum, lalu melingkarkan kan tangannya di atas pinggang Aria kemudian menuntun Aria menuju lift.


Di dalam lift beberapa kali Reza mengelus kepalanya Aria. Namun Aria masih terdiam memikirkan perubahan sikap Reza tadi.


Sesampainya di lantai dasar, Aria langsung menghampiri sebuah patung yang menarik perhatiannya dari atas tadi.


Reza berusaha mencegah Aria setelah tahu Arah Aria akan kemana dan melakukan apa.


“ Sayang, kita ke makam sekarang ya. Mereka pasti sudah menunggu kita.” Ajak Reza berhasil menghentikan langkah Aria.


Dia pun menuruti permintaan Reza dan segera masuk kedalam mobil menuju komplek pemakaman.


Aria beberapa kali masih menatap patung tersebut. Sebuah patung seorang ibu yang sedang menggendong bayi dan di peluk oleh seorang ayah dengan posisi tangan sisuami merangkul pinggang isterinya. Persis seperti yang di lalukan Reza saat merangkul pinggang Aria.

__ADS_1


“ Patung itu...apakah patung kamu, papa dan mama mu?” Tanya Aria penasaran.


“ Iya sayang.” Jawab Reza langsung mengendarai mobil nya meninggalkan menara putih.


__ADS_2