Janji Atau Cinta Sejati

Janji Atau Cinta Sejati
Menara Putih


__ADS_3

Reza sedikit mempercepat laju kendaraannya. Sambil beberapa kali melirik ke arah gadis cantik yang tertidur pulas di samping kursi nya.


Aria pasti masih sangat lelah, tapi tetap ngotot ingin tahu seperti apa menara putih itu. Sesekali Reza memegang telapak tangan Aria ketika mobil nya berhenti karna lampu merah. Sambil tersenyum dan mengelus lembut rambut calon isterinya tersebut.


“ Aria...” Panggil Reza pelan.


Aria membuka kedua mata nya. Dilihatnya mereka sudah sampai di halaman sebuah bangunan yang tidak begitu besar namun sangat tinggi. Walaupun hari sudah gelap. Tapi dapat dilihatnya jelas seluruh hampir bangunan itu berwarna putih.


“ ini kah, menara putih ?” Tanya Aria


“ Iya sayang, ini menara putih yang aku maksud.” Jawab Reza sambil mengelus kembali kepala Aria.


“ Sudah siap?” Tanya Reza kepada Aria sambil melirik ke arah menara putih.


“ Iya.” Jawab Aria penuh semangat.


Mereka segera turun dari mobil, di sambut oleh kang Herman. Salah satu penjaga di menara putih.


“ Selamat malam tuan muda.” Sapa kang Herman sambil menunduk dan sedikit melirik ke arah Aria.


“ Ini nona Aria kang.” Beritahun Reza sambil tersenyum.


“ Oh...ini nona Aria.” Ucap kang Herman antusias membuat Aria jadi penasaran lagi.


“ Selamat malam kang...hmmm, apa kang Herman pernah mendengar atau mengenal aku sebelumnya.?” Aria


“ Hahaha gak usah di pikirkan sayang, nanti kang Herman bingung jawabnya. Kita segera masuk kedalam ya.” Ucap Reza sambil menggandeng tangan Aria dan menuntun langka kaki nya memasuki bangunan tersebut.


Aria memandang pemadangan di sekitaran lantai 1 bangunan itu. Di lantai tersebut ada dua buah sofa di dekat televisi, kitchen set yang menyatu dengan tempat makan. Aria melihat jarak antara lantai dan atap sangat tinggi sekali.


“ Berapa meter ini.?” Tanya Aria penasaran

__ADS_1


“ Kurang lebih 15 meter sayang.” Jawab Reza


Aria melihat tangga yang menghubungkan lantai tersebut ke beberapa lantai di atas sana. Pasti akan sangat melelahkan jika menaiki tangga tersebut untuk sampai dipuncak menara putih tersebut.


“ Berapa lantai ?” Tanya Aria lagi penasaran kepada Reza. Sambil membayangkan harus berapa kalori yang dia habis kan untuk menaiki tanggat tersebut.


“ cuma 3 lantai aja kok sayang, lantai dua ada ruangan keluarga dan minibar juga. Di lantai 3 ada sebuah kamar yang biasa aku gunakan kalau aku meluangkan waktu menginap beberapa hari disini.” Beritahu Reza sambil lagi.


“ jadi kurang lebih 45 meter ya tinggi menara ini.” Ucap Aria sambil melihat lagi ke arah tangga.


“ Ya, siap untuk naik ke atas puncak nya.?” Tanya Reza lagi sambil sedikit menahan tawa.


“ Hmm ya, pelan2 pasti sampai yaa.” Jawab Aria ragu dan Reza tak bisa lagi menahan tawanya.


“ Hahaha, tenang aja sayang. Papa ku gak bakal se tega itu membangunkan bangunan ini tanpa akses kemudahan menuju atas menara ini. Di sama ada lift kok .” Reza merangkul Aria dan menuntun langkah nya menuju pojok ruangan di balik kitchen set. Disana ternyata ada sebuah pintu lift.


“ Hahaha bagus lah.” Aria merasa lega.


Sesampainya di lantai 3 langsung terasa angin bertiup sangat kencang. Di tengah-tengah lantai tersebut ada sebuah kamar yang dimaksud Reza di kelilingi oleh halaman kosong seperti balkon yang dapat melihat pemandangab dari segara penjuru di sekeliling menara ini.


Aria melihat ada sebuah teleskop di salah satu sudut lantai tersebut. Di samping teleskop ada sebuah kursi ayun dan meja kecil.


“ Ini adalah spot favoritku di lantai ini.” Beritahu Reza sambil membuka jaket yang di kenakannya dan meletakkan di punggung Aria.


“ Gunakan ya, disini angin nya sangat kencang.” Pinta Reza dan Aria hanya mengangguk mengikuti arahan Reza untuk menggunakan jaket tersebut.


“ Lalu kamu...” Aria


“ Aku sudah terbiasa .” Bisik Reza di telinga Aria, kembali menambah berdiri bulu kuduk nya.


Aria melangkahkan kaki nya menuju spot favorite Reza tersebut. Dan melihat ke pemandangan jauh di bawah sana yang terlihat sangat gelap hanya ada sedikit cahaya.

__ADS_1


“ Kalau malam seperti ini biasanya aku gunakan alat ini hanya untuk melihat ke arah langit di atas sana. Sambil berharap ada bidadari-bidadari yang lewat di antara bintang-bintang.” Beritahu Reza dengan senyuman manis nya.


“ Woow, bidadari.” Aria hanya fokus pada ucapan tersebut.


“ Tapi sekarang tanpa alat itu aku sudah sangat bisa melihat bidadari di sini.” Ucap Reza sambil memegang lembut wajah Aria yang kini berasa hangat di tengah - tengah hembusan angin.


“ Gombal.” Aria mengalihkan pandangannya kembali ke arah teleskop.


“ Apakah di arah sana komplek pemakaman nya ?” Tanya Aria penasaran.


“ Iya sayang, tapi kamu tidak akan dapat melihat jelas malam ini. Takutnya malah melihat penampakan hahaha. Besok pagi aja ya, malam ini kita nikmatin aja pemandangan bintang-bintang dan bulan di atas sana.” Ucap Reza. Kemudian dia berjalan membuka pintu kamar nya, masuk kedalam kamar tersebut dan menyalahkan lampu.


Aria dapat melihat jelas apa aja isi di dalam kamar tersebut, karna sekeliling nya hanya di tutupi sedikit tembok dan selebih nya kaca tembus pandang.


Reza membuka semua hordeng yang masih menutupi kamar tersebut. Di dalam sana ada sebuah ranjang tidur yang cukup besar, sebuah lemari di samping kamar mandi, sebuah sofa, meja dan hambal. Terlihat juga Reza sedang mengambil sebuah gitar yang tergantung di salah satu dinding kamar.


Aria ingat gitar itu, gitar yang sama persis dengan gitar yang ada di youtube lagu Aria. Dia melihat sekeliling kamar tersebut juga sama persis dengan yang ada di youtube tersebut.


“ Reza...ini semua seperti mimpi saja.” Ucap Aria ketika Reza sudah berada di dekatnya lagi.


“ Kita di dalam saja ya, di sini dingin sekali.aku gak mau kamu jadi sakit.” Pinta Reza menarik tangan Aria. Namun Aria segera melepaskan nya dari Reza.


“ Aku mau menikmati nya dulu...please.” Aria merengek menolak masuk kedalam kamar.


“ Oke, tapi kamu gunakan ini juga ya.” Reza sudah meletakkan mantel hangat yang cukup menutupin sebagian tubuh Aria dari hembusan angin.


Mereka duduk di kursi ayunan yang cukup untuk berdua. Kemudian Reza mulai memetik gitar yang dari tadi di bawa nya.


“ Kamu tahu, aku beberapa kali berkhayal menyanyikan lagu ini langsung di depan kamu di sini...dan malam ini menjadi nyata.” Beritahu Reza memulai memetik gitar nya dan menyanyikan sebuah lagu yang sudah sangat tidak asing di telinga Aria.


“ Kamu tahu, lagu ini aku juga sempat berkhayal di ciptakan dan di nyanyikan oleh pangeran yang akan menjadi suami ku kelak. Dan....” Ucapan Aria terputus karna kedua bibir nya kini sudah di tutup oleh kedua bibir Reza.

__ADS_1


__ADS_2