Janji Atau Cinta Sejati

Janji Atau Cinta Sejati
Kembali Ke Menara Putih


__ADS_3

3 Minggu Berlalu


“ Iya aku sangat mencintai Reza. Bukannya kamu juga akan menikah dengan David satu minggu lagi. Abaikan saja Reza jika datang kepadamu lagi.” Ucap Laura di panggilan teleponnya kepada Aria.


“ Aku tahu, tidak mungkin aku mempermainkan hati dan ketulusan David untuk menikahiku. Kamu tenang saja, aku tidak akan kembali kepada Reza.” Ucap Aria dengan kesal lalu memutuskan panggilan tersebut.


Ananta mendengar ucapan puteri tunggalnya itu dari balik pintu. Hatinya tidak kalah kecewanya jika Reza dan Aria benar-benar tidak bisa bersatu lagi. Dia jadi merasa bersalah karena sudah meminta Aria segera menikah untuk membahagiakannya.




Saat ini Aria bersama dengan Davi dan ayahnya kembali ke Berlian Memorial Park. Dan sudah berdiri di depan makam bunda nya yang sangat cantik dengan banyak bunga lily yang sudah memenuhi pot yang berada tepat di sebelah kanan dan kiri batu nisan mendiang bunda nya Aria.


“ Siapa yang habis dari sini?.” Tanya Ananta kepada pak Dimas, penjaga makam yang kebetulan sedang merapikan rumput disana.


“ Oh tuan Reza pak, tadi pagi.” Jawab pak Dimas.


David langsung melirik ke arah Aria yang masih memeluk buket bunga lily yang baru saja dibeli mereka di depan gapura pemakaman ini. Dari awal melihatnya Aria sudah yakin Reza yang meletakkan bunga tersebut disana.


“ Tapi tuan Reza memang sering datang kesini pak. Habis dari makam kedua orang tuanya dia ke sini dan mengganti bunga ini seminggu sekali.” Lanjut pak Dimas.


“ Oh ya tidak apa, terima kasih pak Dimas.” Ucap Ananta.


“ Ya sama-sama pak.” Pak Dimas pun beranjak pergi. Melanjutkan pekerjaannya merapikan rumput yang berada di sekitaran makam tersebut.


David mendorong kursi roda Ananta mendekati makam bunda nya Aria. Dan Aria menyusul mereka dari belakang. Aria meletakkan buket bungan yang dibawa nya tepat di atas pusara makam bundanya.


Mereka pun segera membacakan doa untuk mendiang Rianti.


Selesai membaca doa pandangan Aria beralih ke makam besar yang ada di blok sebelah. Makam berwarna putih dengan gazebo yang luas, disana lah mendiang ayah dan ibunya Reza di makamkan.


David yang sudah mengetahui banyak cerita masa lalu Reza dan Aria dari buku harian dan juga Tiara sudah paham apa yang dirasakan Aria saat ini. Bahkan David bisa melihat sebuah menara yang berdiri kokoh jauh disana namun menghadap ke makam yang sedang di tatap Aria tersebut.


^^^Mungkin itu adalah menara putih. Jika pagi tadi Reza kesini, dia pasti sedang istirahat disana. David^^^

__ADS_1


Selesai memandang makam tersebut, Aria juga memandang menara putih. Lalu kembali mengalihkan perhatian ketika dia sadar David sedang memperhatikan arah matanya.


^^^Maafkan aku isteriku, mungkin kehadiran kami sudah membuatmu kecewa. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku untuk menikahkan Aria dengan Reza. Ananta^^^


“ Ayah mau ke makam paman dan tante mu. Apakah kamu mau ikut atau menunggu disini?.” Tanya Ananta ke Aria.


“ Iya aku ikut.” Jawab Aria.


“ Itu adalah makam ayah dan ibunya Reza.” Ucap Ananta kepada David.


“ Oh, I see.” Ucap David, dia pun langsung mendorong kursi roda Ananta lagi menuju makam ayah dan ibunya Reza.


Dari atas menara Reza yang kebetulan sedang berada di atas menara dapat melihat ada banyak orang yang datang ke makam orang tuanya. Dia pun segera menggunakan teleskop untuk memastikan lagi siapa mereka.


^^^Mereka datang pasti ingin memberitahu atas rencana pernihakan Aria dan David. Reza^^^


Reza memfokuskan lensa nya kearah Aria. Menatap gadis yang dicintainya itu dari kejauhan. Dan saat itu juga Aria menengok ke arah matanya. Aria melihat walaupun tidak begitu jelas. Di atas menara itu ada yang sedang menyorotnya.


Tanpa sadar Aria malah meneteskan air mata. David sempat melihat tetesan air mata yang mengalir dipipi Aria sebelum gadis itu segera menghapusnya.


Reza membiarkan jendela di atas menara lantai tiga tersebut terbuka dengan lebar agar dia dapat merasakan tiupan angin yang masuk dengan kedalam kamarnya.


Tiga minggu ini dia sudah berusaha untuk kembali mendapatkan cinta Aria lagi. Dengan sering berkunjung ke rumahnya Aria walau dengan alasan menjenguk ayahnya Aria. Juga berusaha menyapa dan bicara dengan Aria. Namun saat itu juga Aria selalu menghindar darinya. Bahkan pernah sama sekali tidak keluar kamar ketika Reza datang.


^^^Mungkin cukup sampai disini. Aku tidak akan memaksa dan mengganggu kebahagiaan Aria dengan David lagi. Reza^^^


Selesai berdoa di makam sahabatnya, Ananta mengajak Aria dan David mampir ke menara putih. Dia tahu, Reza pasti masih ada disana.


“ Oh ya saya sempat melihat ada menara yang sangat indah itu. Menara itu punya siapa paman?.” Tanya David sambil melirik ke Aria.


“ Menara itu punya mereka.” Jawab Ananta sambil memandang makam Berliando dan isterinya.


“ Oh punya orang tuanya Reza ya paman. Mungkin Reza masih ada disana. Kalau begitu kita segera kesana boleh paman.” Ucap David dengan semangatnya. Aria hanya terdiam saja.


Mereka pun segera meninggalkan makam tersebut. Kembali masuk kedalam mobil dan menuju menara putih milik Reza.

__ADS_1


Debaran jantung Aria kembali berdetak kencang ketika dia kembali menapakkan kedua kaki nya di halaman menara putih itu. Tatapannya melihat sekeliling menara itu, dia tidak melihat ada motor ataupun mobil milik Reza.


^^^Dia pasti sudah pergi dari sini. Aria^^^


“ Pak Ananta...nona Aria...selamat datang di menara putih.” Sapa kang Herman yang ternyata masih mengenali Aria.


“ Kang Herman...bagaimana kabarnya?.” Tanya Ananta.


“ Baik pak...kabar baik. Oh iya kebetulan baru saja tuan Reza pergi dari sini.” Jawab kang Herman membuat Ananta kecewa.


“ Kemana dia?.” Tanya Ananta.


“ Sepertinya langsung ke bandara pak.” Jawab kang Herman.


“ Ke Bandara?.” Tanya Ananta dan Aria bersamaan.


“ Iya...tuan Reza kan minta di mutasi ke pulau X. Memang nya pak Ananta dan nona Aria belum mengetahui?.” Tanya balik kang Herman.


David dapat melihat kekecewaan dan kepedihan dari raut wajah dan tatapan nanar Aria ke kang Herman.


Mereka pun memilih kembali pulang tanpa masuk kedalam menara putih tersebut.


Di dalam mobil Ananta langsung memejamkan kedua matanya. Menahan perih yang terasa lagi dari dalam perutnya.


“ Pak Ananta benar-benar kuat ?.” Tanya seorang perawat yang sudah duduk di samping kursi David.


“ Ya...saya baik-baik saja.” Jawab Ananta. Aria menggenggam erat tangan ayahnya.


“ Aria...ayah minta maaf karena sudah memintamu menikah secepat ini. Tapi jika kamu masih belum merasa yakin kamu masih bisa membatalkan rencana ini.” Ucap Ananta.


“ Aku sudah yakin menikah dengan David. Ayahkan juga bisa melihat kesungguhan kami.” Ucap Aria pelan sambil melirik kearah David yang sedang fokus menyetir.


Ananta kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Merasakan permintaannya saat itu agar dia bisa tenang jika meninggalkan Aria malah membuatnya jadi bertambah gelisah.


Apalagi saat ini Reza memilih pergi dan merelakan Aria menikah dengan David.

__ADS_1


__ADS_2