
Sebuah plang nama Yayasan Cinta Kasih Khiana berdiri kokoh di depan gerbang. Aria melihat di sekeliling bangunan dua tingkat itu di penuhi banyak anak-anak yang sedang riang bermain. Ada juga yang asik baca buku bareng. Dan beberapa di antara mereka menyambut riang ketika mobil Reza melewati mereka. Mereka sudah hapal dengan mobil dan pemiliknya.
Reza tersenyum riang melihat mereka, dan Aria dapat merasakan kedekatan mereka saat ini.
“ Yuk sayang.” Ajak Reza kemudian turun dari mobilnya.
Baru turun dari mobil anak-anak itu sudah langsung menyambut dan memeluk Reza. Terdengar tawa riang dari mereka. Aria pun ikut turun. Anak-anak itu langsung melihat ke arah Aria.
“ Ayah peri...itu siapa?.” Tanya salah satu anak asuh menggetarkan hati Aria.
“ Oh iya ini namanya kakak Aria.” Ucap Reza mengenalkan Aria kepada anak-anak asuh.
“ Haiiiii kak Aria...” Sapa mereka ramah. Dan Aria membalasnya dengan senyuman.
Ayah peri...jika Reza adalah ayah peri, maka ibu peri nya adalah....Aria
“ Hai Reza...hai Aria...selamat datang di yayasan kami.” Sapa hangat Khiana, sambil menyalami Reza dan mengadu pipi kanan dan kiri Reza. Wajah Khiana ceria sekali, terlihat lebih cantik dengan gaun berwarna putih dengan renda pink nya.
Setelah menyapa Reza, Khiana memeluk Aria dan memberikan cupika cupiki juga ke Aria.
“ Ibu Peri...Ayah peri...hari ini kita mau ada games apa?.” Tanya anak-anak itu lagi.
“ Hari ini ibu dan ayah sudah berdiskusi, kita bermain mencari pasangan ya.” Beritahu Khiana dan disambut riang oleh anak-anak asuh tersebut.
Ayah dan ibu, mereka adalah anak-anaknya. Dan aku adalah sang kakak. Seperti itu kah?, Ah...mereka sangat bahagia, harusnya aku ikut bahagia. Tapi kenapa hati ini meringis sedih. Aria
“ Oh iya, kita juga bawa sesuatu untuk kalian. Tunggu yaa.” Ucap Reza sambil membuka bagasi mobil nya.
Ada tiga pelastik besar berisi bermacam-macam mainan. Di turunkan oleh Reza di bantu juga oleh anak-anak dengan riang dan seorang petugas keamanan.
“ Terima kasih ayah....” Ucapan tulus dari anak-anak asuh tersebut.
“ Sama-sama sayang, ini semua kak Aria yang beli.” Beritahu Reza mengejutkan Aria. Namun Aria hanya tersenyum membalas tatapan terima kasih dari anak-anak tersebut.
__ADS_1
Khiana sudah menyiapkan permainan cari pasangan untuk anak-anak asuhnya. Sandal-sandal milik anak-anak sudah tidak utuh lagi. Tugas mereka adalah mencari pasangan itu masing-masing. Siapa yang terbanyak mendapatkan pasangan dalam waktu yang sudah di tetapkan maka dia lah pemenangnya. Reza sudah menyediakan hadiah untuk mereka.
Setelah permainan usai Khiana mengumumkan pemenangnya dan Reza mempersilahkan Aria memberikan hadiahnya.
“ Senang sekali ya, mereka semua lucu-lucu banget.” Ucap Aria ketika Khiana bertanya tentang perasaan Aria bertemu dengan anak-anak asuh nya.
“ Iya, mereka adalah penyemangat aku. Bersama mereka aku belajar kuat dan bangkit dari keterpurukan.” Khiana.
“ Oh iya Khiana, maaf. Karena terpengaruh permainan tadi, aku jadi mau tahu. Apakah kamu sudah memiliki pasangan?.” Tanya Aria kini menggetarkan hati Khiana.
Reza yang mendengar ikut menoleh ke arah mereka. Aria melirik ke arah Reza dan mengernyitkan alisnya. Reza berbalik bercanda lagi dengan anak-anak asuh.
“ Hahaha aku enggak kepikiran untuk hal itu Aria, bagiku mereka semua adalah pasangan hidupku.” Jawab Khiana juga sambil melirik Reza.
Aria hanya tersenyum mendengar jawaban Khiana. Kemudian menghampiri Reza yang masih bercanda dengan anak-anak asuh.
“ Aku mau lihat-lihat sekeliling sebentar ya.” Beritahu Aria ke Reza.
“ Ok, aku temanin.” Reza.
“ Kok kak Aria menyebut ayah sayang sih?.” Tanya seorang anak asuh tiba-tiba.
Aria dan Reza saling bertatapan. Kemudian Khiana menghampiri mereka.
“ Iya, pasangan sesungguhnya ayah peri adalah kakak Aria. Jadi kakak Aria kelak akan menikah dan hidup bersama dengan ayah peri.” Beritahu Khiana.
“ Yaaaa, kok bukan dengan ibu peri sih?.” Pertanyaan protes dari anak asuh lainnya.
Kenapa juga Khiana memberitahukan hal itu kepada anak-anak asuhnya. Aku jadi merasa tidak enak kepada mereka. Pasti mereka sedih mendengarnya. Aria
“ Baik anak-anak, kalian bermain dulu ya dengan ayah peri. Ibu sama kak Aria mau jalan-jalan dulu.” Ucap Khiana lagi, lalu menggandeng tangan Aria keluar dari ruangan bermain.
“ Maafkan pertanyaan polos mereka ya Aria, kamu tidak tersinggung kan?.” Khiana.
__ADS_1
“ Ah enggak kok, nama nya juga anak-anak.” Aria.
Khiana mengajak Aria melihat-lihat ruangan yayasan miliknya. Menjelaskan satu persatu fungsi dari ruangan tersebut. Sampai pada suatu ruangan yang membuat Aria sangat tertarik. Ada sebuah patung yang hampir mirip dengan yang di miliki Reza saat dia ke menata putih saat itu.
“ Aku boleh melihat itu?.” Tanya Aria.
“ Oh iya boleh dong, itu salah satu hasil iseng-iseng aku aja sebenarnya.” Jawab Khiana.
“ Sama ya dengan yang dimiliki Reza?.” Tanya Aria lagi.
“ Oh yang di menara putih ya, memang sepasang. Satu untuk di menara putih, satu lagi untuk disini. Patung ini melambangkan cinta kasih orang tua ke anaknya aja sih, karna menurut Reza saat itu, yayasan ini seperti rumah dan keluarga yang dia rindukan.” Jawab Khiana lagi.
Sedekat itu ya, bahkan Khiana juga mengetahui keberadaan menara putih sebelum aku mengetahuinya. Pantas saja Reza seperti tidak menginginkanku menyentuh patung itu saat di menara putih, karena di patung itu juga pasti tanda tangan Khiana seperti ini. Aria
“ Oh begitu, seru ya...jadi kamu juga pernah ke menara putih ?.” Tanya Aria lagi.
“ Ya pernah, kalau Reza lagi sedih keingatan sama orang tua nya dia pasti kesana. Terkadang aku sekedar menemani aja. Oh iya termasuk saat dia menyanyikan puisi itu.” Khiana.
“ Hmm, menyanyikan puisi yang mana?.” Aria
“ Lagu mu, Aria. Hahaha sebenarnya aku menciptakan puisi itu karena Reza sangat sering menceritakan kisahmu kepadaku.” Jawaban Khiana membuat Aria lemas seketika.
Lagu itu pun...Khiana yang ternyata menciptakannya. Aku teringat semua yang aku lakukan dengan Reza di menara itu. Saat kami hanya berdua saja. Dalam pelukan hangat yang sepanjang malam. Aria
“ Khiana, mau tidak kamu menjawab dengan jujur? ada satu pertanyaan yang sangat ingin aku dengar langsung darimu.” Aria.
“ Hmm apakah itu, Aria?.” Khiana.
“ Apa kamu mencintai Reza?.” Aria.
Kenapa Aria menanyakan hal itu, aku harus jawab apa. Soal perasaanku yang sebenarnya ke Reza. Soal itu...haruskah aku katakan jujur kepada Aria. Khiana
“ Benar kamu mencintai Reza?.” Tanya Aria dengan menebak perasaan Khiana.
__ADS_1
Khiana meneteskan air mata di pipinya. Kemudian memeluk Aria dengan erat.
“ Aria...maaf kan aku, tentang perasaan ini. Hanya aku saja yang merasakannya. Karena bagi Reza, kamu adalah cinta sejatinya.” Bisik Khiana.