
David masuk kedalam apartemen milik Aria. Dia mengecek semua kondisi ruangan dan barang-barang disana dalam keadaaan baik semua. Ini pertama kalinya David masuk kedalam apartemen kekasihnya itu.
Setelah berkeliling di ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan dan dapur, David masuk kedalam kamar pertama yang di gunakan Aria untuk menyimpan tas, baju dan juga sepatu miliknya. Lalu beralih ke kamar kedua, kamar yang digunakan Aria untuk tidur dan menyimpan barang serta dokumen-dokumen penting.
Aria hanya menitip di bawakan laptop lengkap dengan tas laptop miliknya saja yang masih tergeletak di atas meja kerja nya. Info dari Aria didalam tas laptopnya ada flashdisk penting berisi data pekerjaannya. David pun mencari tas laptop tersebut di sekitaran kamar namun tidak dia temui. Pandangan mata David tertarik pada sebuah laci yang berada persis disamping ranjang Aria.
Karena penasaran David membuka laci tersebut. Yang ternyata hanya berisi pembalut serta chargeran ponsel.
David membuka lemari pakaian Aria yang masih tercium harum dan tertata rapi. Namun tidak ditemukan juga tas laptop yang dicarinya. Akhirnya David mengambil ponselnya dan menghubungi Aria.
“ Yes honey?.” Ucap Aris di sebrang sana.
“ Honey, kamu ingat ada dimana tas laptopmu?.” Tanya David.
“ Sepertinya terakhir ada di atas kasur.” Jawab Aria.
“ Oh aku cek lagi, tadi sih lihat di atas kasur tidak ada apa-apa. Nanti aku hubungi lagi ya...bye honey....miss you.”
“ Bye...”
Setelah mengkahiri pembicaraanya David mencoba mencari lagi tas laptop tersebut. Dia membuka bedcover, namun tidak ada. Lalu ketika dia mengambil bantal dan guling yang ada di bagian atas dia baru melihat ternyata tas laptop tersebut ada di balik bantal Dionne. Namun tas tersebut terjatuh ke lantai karena tarikan bantal David.
Tatapan mata David tertarik kepada sebuah buku besar berwarna hitam ada di bawah ranjang , dia melihatnya secara tidak sengaja saat mengambil tas laptop tadi di lantai.
David pun berhasil meraih buku tersebut. Buku tebal berwarna hitam itu adalah buku diary pemberian Reza saat ulang tahun Aria yang ke tiga belas tahun. Buku yang hanya berisi suara hati Aria dari sebelum mengetahui siapa pangeran yang sudah di jodohkan olehnya sampai Aria mengetahui ternyata Reza adalah pangeran itu.
...Ternyata kamu suka menulis diary juga ya honey...pasti kamu menulis banyak tentangku disana. Maaf honey...aku ingin membacanya tanpa izin terlebih dahulu kepadamu. David...
David mulai membuka halaman pertama di diary tersebut. Awalnya dia mulai tersenyum namun makin kesini wajahnya berubah jadi termenung. Sampai ke halaman-halaman selanjutnya disana, tidak ada satupun curahan hati Aria yang menulis nama David disana. Bahkan sampai di lembaran terakhir nya hanya ada suara hati Aria yang sangat merindukan Reza. Tulisan terakhir Aria di enam bulan yang lalu.
...Beritahu aku bagaimana caranya melupakan rasa cinta yang tak pernah terbalaskan...
...Bisikan padaku caranya mengobatkan...
...kerinduan yang selalu terabaikan...
__ADS_1
...Akankah selamanya aku menjadi pemimpi...
...Teriakan hati yang tak bisa aku ungkapi...
...Sejauh manapun aku pergi...
...Namun banyanganmu selalu menemani...
...Mungkin sampai nanti aku tiada...
...Di seluruh ruang hati ini hanya ada namanya...
...Entah ini karma atau jawaban doa ...
...Sampai aku tidak bisa mencintai yang lainnya...
...-Aria-...
David menutup kembali lembaran diary tersebut. Lalu meletakkannya di dalam koper bagasi yang sudah disiapkannya. David memasukan laptop yang di minta Aria kedalam tas yang dari tadi di carinya.
Matanya tiba-tiba saja terasa berat, entah karena dia merasa lelah atau karena tekanan di hati dan pikirannya setelah membaca buku harian Aria.
•
•
Didalam ruang penyidik, Reza mendapatkan laporan ada perampokan di sebuah kantor cabang sebuah bank. Dia pun langsung meminta Laura memimpin anggotanya untuk segera ke bank tersebut.
“ Siap komandan.” Teriakan para anggota team kepolisian yang di pimpin Laura. Mereka pun segera berangkat kelokasi kejadian.
Reza kembali keruangannya untuk membaca laporan lainnya. Namun hatinya tiba-tiba terasa gelisah.
^^^Kemampuan Laura dalam memimpin team tidak perlu di ragukan lagi. Kenapa aku jadi segelisah ini. Apa sebaiknya aku pergi saja. Reza^^^
Reza pun segera mengambil jaket hitam kesayangannya. Lalu berlari ke arah parkiran dan mengendarai motor nya dengan kencang.
__ADS_1
Sesampainya dilokasi kejadian Reza memantau dari jauh sikap Laura yang memimpin anak buahnya untuk membebaskan para nasabah dan karyawan yang jadi tawanan para perampok itu.
“ Aria...” panggil Laura setelah yakin dengan siapa yang dilihatnya. Ternyata Aria berada diantara mereka.
“ Oh haii Laura.” Sapa Aria masih mengenali dengan baik polisi wanita tersebut.
“ Bagaimana keadaanmu?.” Tanya Laura.
“ Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang tepat waktu menyelamatkan kita semua.” Jawab Aria.
Reza langsung mengambil nafas dalam ketika melihat Laura bersama dengan Aria.
^^^Apakah karena posisi Aria tadi yang sedang dalam bahaya. Jadi membuatku merasa tidak tenang. Bunda...apakah engkau yang membisikan padaku agar menyusul mereka kesini. Reza^^^
Baru saja Reza keluar akan beranjak pergi dari sana tiba-tiba salah seorang perampok berontak dan merebut senjata milik anggota kepolisian yang menjaganya tadi.
Perampok tersebut dengan cepatnya langsung menembakan sembarangan ke siapa saja yang dilihatnya. Reza yang melihat Aria dalam bahaya langsung berlari ke arah Aria untuk melindunginya. Dan Laura juga langsung berlari kearah Reza ketika dia melihat perampok tersebut mengarahkan senjatanya ke Reza.
DOR !!! DOR !!!
Peluru dari senjata Laura berhasil menghentikan kegilaan perampok tersebut. Namun Laura juga terkena tembakan di dada sebelah kanannya tepat di hadapan Reza yang sedang memeluk Aria.
Dalam sekejap anggota lainnya langsung membekuk perampok tersebut.
“ Kapten Laura...!!!” Teriak Reza ketika melihat Laura masih berusaha tersenyum memandang kearahnya.
“ Saya dapat menjagamu dengan baik kan lentnan...” Ucap Laura.
Reza melepas pelukan Aria yang juga masih syok dengan kejadian tadi. Lalu merangkul tubuh Laura yang tetap berusaha kuat tanpa jatuh sedikitpun.
“ Hai...aku akan baik-baik saja. Masih sanggup berjalan kearah mereka.” Tunjuk Laura ke para petugas medis yang sudah menghampiri mereka.
Reza tetap membopong Laura dan membawanya ke atas tenda yang sudah di siapkan para petugas medis.
“ Kamu harus kuat...harus kuat.” Ucap Reza berkali-kalo sambil menggenggam tangan Laura dengan erat.
__ADS_1
“ Tenang saja , aku pasti bertahan agar bisa bersama dengan mu lagi.” Ucap Laura membuat degupan kencang di jantung Aria semakin terasa kuat.
Sekilas Reza melirik kearah Aria, dan dapat melihat ketakutan serta kesedihannya disana.