
Ananta sudah menyampaikan keinginannya kepada David. Dengan sepenuh hati David bersedia melakukan semua yang di inginkan Ananta. Dia bersedia menikahi Aria dalam waktu dekat ini. Juga bersedia pindah warga negara dan tinggal bersama mereka di Indonesia.
Melihat ketulusan dan semangat yang di sampaikan David kepadanya membuat Ananta sedikit merasa lega, walaupun di hatinya terdalam masih berharap Reza yang akan menjadi pendamping Aria sampai akhir hayat mereka. Namun dia sudah mencoba ikhlas menerima kenyataan. Bagaimana pun jodoh adalah takdir Tuhan.
Bukannya sekali, berkali-kali Ananta meminta Reza mengejar Aria ke Inggris. Namun Reza selalu mengingatkan Ananta akan keinginan kebebasan puterinya itu. Bahkan ketika tahu Ryan akan menikahi Khiana saat itu, Reza malah melarang Ananta menyampaikannya kepada Aria. Dari sana Ananta menjadi ragu atas perasaan Reza ke Aria. Tanpa di ketahui Ananta, Reza sudah terlebih dahulu mengunjungi Aria walaupun cukup melihatnya dari jauh.
“ Ayah, aku sama David ingin menjenguk Tiara dulu ya. Dia sudah pulang, aku juga sudah membeli kado untuk putera kedua nya itu.” Ucap Aria.
“ Ya, salam saja dari ayah untuk Bimo dan Tiara.” Ucap Ananta, matanya kembali menatap foto mendiang isterinya.
Bisakah aku memiliki waktu lebih sedikit saja, untuk menyaksikan Aria melahirkan cucu kita nantinya. Ananta**
“ Kalau begitu, aku pamit ya ayah. Tidak lama kok.” Aria mencium tangan dan memeluk ayahnya sebelum berangkat pergi. Di ikuti oleh David mereka segera keluar dari kamar Ananta yang sudah di penuhi alat-alat medis bersama dengan perawat dan dokter jaga nya.
Ananta tidak ingin di rawat di rumah sakit, dia ingin menikmati sisa-sisa hari nya hanya di rumah dan kamar nya saja. Sambil mengenang semua kenangan yang sudah di laluiny bersama mendiang isterinya di rumah ini.
Satu bulan lagi Aria dan David akan menikah. Dan dia berharap, tubuhnya masih kuat menahan sakitnya kanker yang sudah menggrogoti nya.
*
*
*
Di dalam mobil, Aria termenung oleh kesepakatan yang sudah di ucapkan ayahnya dan David. Aria juga sudah setuju menerima lamaran David yang di lakukan David langsung di hadapan Ananta tadi. Bahkan David sudah mempersiapkan sebuah cincin bermata berlian untuk Aria. Dan cincin itu sudah melingkar cantik di jari manis Aria.
“ Honey...besok aku akan kembali ke Inggris untuk mengurus semuanya. Apakah ada barang-barang penting yang mau kamu ingin ambil dari apartemen mu?.” Tanya David.
__ADS_1
“ Oh boleh honey, hanya laptop saja. Ada di laci kamarku. Nanti aku serahkan kunci nya ya.” Jawab Aria.
“ Oke honey.”
David menikmati pemandangan kota Jakarta yang panas dan terlihat ramai. Ini bukan kali pertamanya dia datang ke Indonesia, David sudah mencintai Indonesia dari dia kecil dulu. Ayahnya David keturunan Indonesia dan Inggris, jadi mereka sering datang ke Indonesia untuk menjenguk orang tua ayahnya.
“ Aria, 15 tahun yang lalu aku pernah berdoa di rumah kakek. Aku berharap Tuhan mengabulkan keinginanku untuk memberikanku seorang isteri cantik warga negara Indonesia. Aku pernah janji kepada kakek waktu itu, kalau aku akan menikahi wanita asli orang Indonesia. Kamu tahu, dapat menikahimu nanti adalah jawaban Tuhan atas doa ku selama ini.” Ucap David.
Aria jadi teringat dengan Reza kembali, bagaimana bisa kedua lelaki ini suka sama-sama berjanji di masa lalu dalam kehidupan asmara mereka.
Kenapa aku selalu ada di janji masa lalu mereka, harus terlibat dalam doa yang aku sendiri tidak pernah mengungkapkannya. Aria
Aria tidak menjawab perkataan David lagi. Dia kembali termenung. Sampai akhirnya mereka sampai di rumah Tiara dan Bimo.
“ Ah, aku jadi penasaran dengan Bimo dan Tiara.” Ucap David dengan semangat nya. Selama ini Aria memang sering menceritakan hubungan mereka ke David.
Sesampainya di halaman rumah Bimo sudah menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka.
“ Tiara ada di kamar nya, biar saya antar nona.” Ucap Bimo.
“ Ya, terima kasih Bimo.” Ucap Aria mengikuti langkah Bimo menuju kamar Tiara. David mengikuti mereka dari belakang.
Di dalam kamar nya Tiara dengan wajah yang sangat ceria langsung memeluk Aria dengan erat.
“ Ahhhh sayangku Ariaaaa. Kangen banget.”
“ Yaa sama, selamat ya udah jadi mommy.” Ucap Aria.
__ADS_1
Setelah selesai berpelukan mengungapkan kerinduang yang mendalamnya kepada Tiara, Aria melihat bayi kedua Tiara dan Bimo. Bayi kecil yang sangat lucu dan menggemaskan.
Di sisi lain Bimo sedang mengobrol dengan David. Ketika melihat David, Tiara langsung bisa menebaknya. Itulah kekasih Aria yang selama ini di curhatkan Aria ke Tiara.
“ Si kakak dimana?.” Tanya Aria.
“ Oh kayanya lagi bobo. Ada di kamarnya sama mba Yuni.” Jawab Tiara.
Tiara menggendong bayinya dan melihatkan lebih jelas kepada Aria.
“ Cepat dapatkan yang seperti ini.” Goda Tiara disambut cubitan kecil Aria di pipi sahabatnya itu.
“ Mau gendong?.” Tanya Tiara.
“ Hahaha jangan dulu, nanti saja kalau sudah lebih besar sedikit.” Jawab Aria.
David berjalan bersama Bimo mendekati Tiara dan Aria, dia menyapa Tiara dan bayinya dengan ramah. Dan setelahnya tatapan mata David tertuju pada sebuah foto yang merekat erat di atas dinding. Foto Tiara bersama dengan Bimo dan Aria dengan Reza. David dapat mengingat dengan baik wajah Reza.
“ Dia itu...bukannya seorang polisi yang kemarin di bandara?.” Tanya David membuat jantung Aria langsung berdegup kencang ketika ikut melihatnya.
Bimo melirik ke arah Tiara. Dia paham apa maksud Tiara sengaja memajang foto tersebut sebelum kedatangan Aria dan David.
“ Kalian pernah ketemu dengan kapten Reza?.” Tanya Tiara tanpa beban. Menambah rasa gelisah di hati Aria.
“ Namanya kapten Reza?. Kalian sudah saling mengenal rupanya...Kenapa kemarin tidak saling sapa?.” Tanya balik David ke Aria.
Tiara menatap mata sahabat baiknya itu.
__ADS_1
Maaf Aria, aku hanya ingin memanfaatkan kesempatan menyatukan kamu dengan Reza kembali. Kalian saling mencintai, tidak seharusnya kalian hanya tediam dan saling menyakiti perasaan masing-masing dengan kediaman itu. Tiara