Janji Atau Cinta Sejati

Janji Atau Cinta Sejati
Akhirnya...


__ADS_3

Laura mengetahui keputusan Reza yang minta di mutasi ke pulau X langsung menyusul Reza ke bandara bersama dengan paman nya.


“ Kenapa paman memberikan izin kepada Reza untuk dinas disana?.” Protes Laura kepada pamannya.


“ Tenang saja, belum pasti disana kok. Biarkan dia menenangkan pikirannya dulu. Jika nanti Aria sudah menikah dengan kekasihnya, kamu bisa masuk lagi pelan-pelan ke kehidupan Reza. Sabar saja Laura.” Ucap jendral Panji.


Jendral Panji sebenarnya kenal baik dengan ayahnya Aria dan mendiang Berliando. Ketika dia mendapatkan informasi mengenai hubungan sebenarnya antara Aria dan Reza maka dia meminta izin kepada Ananta untuk mendekatkan Reza dengan Laura.


“ Aria sudah memiliki kekasih dan mereka sepakat akan menikah dalam waktu dekat ini. Jika memang keponakan mu sangat mencintai Reza, silahkan...saya sudah ikhlas mereka memilih jalan hidupnya masing-masing.” Ucap Ananta saat itu kepada jendral Panji.




Reza baru saja sampai di bandara. Drrtt...drttt getaran ponsel disaku jaketnya membuatnya sejenak menghentikan langkah dan segera mengeceknya.


“ Halo...” Sapa Reza pada panggilan di nomer asing tersebut.


“ Halo Reza...ini David. Paman Ananta tadi pingsan dan sekarang beliau ada di ICU rumah sakit X.” Ucap David membuat degupan jantung Reza berdetak dengan kencang.


“ Saya akan kesana.” Ucap Reza langsung menutup panggilan telepon tersebut dan berlari untuk kerumah sakit X.


“ Letnan...mau kemana ?.” Tanya jendral Panji sejenak menghentikan langkah Reza. Disana juga ada Laura yang sengaja datang untuk mengantar kepergian Reza.


“ Selamat sore komandan...kapten. Saya harus segera ke rumah sakit X. Mohon maaf sekal.” Jawab Reza dan berlalu pergi lagi dari mereka.


“ Tunggu...siapa yang sakit?.” Tanya Laura menghentikan langkah Reza lagi.


“ Paman Ananta. Maaf Laura, aku harus segera kesana.” Jawab Reza dan kembali berlalu darinya.


^^^Paman Ananta...apakah dia ayahnya Aria. Laura^^^


“ Tunggu Reza. Bareng kami saja. Kami akan mengantarmu ke sana.” Ucap jendral Panji.


“ Baik.” Reza pun menyetujuinya.




__ADS_1


Di luar ruang ICU David sedang memeluk Aria yang sedang menangis sedih. Keadaan ayahnya semakin menurun.


“ Selamat sore nona Aria...pak Ananta memanggil.” Ucap seorang perawat.


“ Ayah...apakah dia sudah sadar?. Baiklah.” Aria dan David segera masuk ke ruang ICU tersebut. Dengan menggunakan pakaian apd mereka segara mendekat ke Ananta.


“ Ayah...” Aria langsung memeluk ayahnya.


“ Aria sayangku...maafkan ayah ya. Sepertinya ayah sudah tidak kuat lagi.” Ucap Ananta dengan sedikit terbata.


“ Tidak boleh ayah...ayah pasti kuat. Ayah harus kuat. Aku tidak mau ayah pergi...aku ingin selalu bersama ayah.” Ucap Aria sambil menggenggam dan mencium tangan ayahnya.


“ Ayah hanya ingin kamu bahagia...harapan ayah bisa melihatmu menikah terlebih dahulu sebeluk ayah meninggal. Cuma...ayah...ayah takut tidak kuat untuk menunggu dihari itu.” Ucap Ananta lagi.


“ Aku dan David akan menikah satu minggu lagi. Ayah pasti kuat...bahkan setelah kami menikah. Ayah pasti kuat seratus tahun lagi. Hiksss.” Isakan tangisnya mulai terasa sesak di dada.


“ Bagaimana jika pernikahannya di majukan jadi hari ini...apakah paman dan Aria menyetujuinya?.” Tanya David dengan pelan.


Debaran jantung Aria kembali berdegup. Dia tahu akan segera menikah dengan David ceoat atau lambat. Hanya saja ketika David berkata seperti itu bayangan Reza kembali menghantuinya. Dadanya lebih terasa sesak.


“ Jika kalian siap...a..ayah masih bisa menjadi wali nikah untuk Aria.” Jawab Ananta.


“ Baik...saya akan keluar sebentar. Harus ada penghulu dan saksi lain untuk pernikahan ini.” Pamit David. Dia pun segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Air mata Aria kembali mengalir di kedua pipinya. Membayangkan ayah tercinta nya akan pergi dan dia juga harus menikah dengan David disaat seperti ini.


“ Ayah mau tidur dulu ya nak...nanti bangunkan a..ayah jika David..sudah kembali.” Ucap Ananta. Aria pun mengangguk setuju. Dia terus membelai tangan ayahnya. Berharap ada keajaiban yang bisa memberikan kesempatan hidup untuk ayahnya lebih lama lagi.


Sekian lama menanti akhirnya David kembali. Tanpa di bangunkan oleh Aria, Ananta terbangun sendiri, dia menatap penuh haru ke arah David dan dua pria berbadan tegap yang ada di belakangnya.


Aria mengikuti arah tatapan mata ayahnya. Lagi-lagi jantung nya berdegup dengan kencang ketika melihat kehadiran Reza dan jendral Panji bersama dengan David.


^^^Bukannya Reza seharusnya sudah pergi. Kenapa dia ada disini sekarang. Kenapa harus ada dia disaat aku harus menikah dengan David. Kenapa hati ini jadi bertambah sakit. Aria^^^


“ Re...Reza...kemari nak.” Panggil Ananta penuh haru. Reza pun segera menghampiri Ananta dan memeluknya dengan lembut.


“ Paman...paman akan baik-baik saja.” Bisik Reza di telinga Ananta.


“ Maafkan paman nak...maafkan paman...maaf.” Ucap Ananta berkali-kali.


“ Maaf untuk apa paman? Aku yang banyak salah ke paman. Aku yang seharusnya minta maaf..” Ucap Reza. Ananta pun melepas pelukannya dan memegang wajah Reza dengan keharuan.

__ADS_1


“ Apakah kamu siap menyaksikan pernikahan Aria dan David saat ini?.” Tanya Ananta dengan nada yang sangat berat.


Aria hanya menunduk sama sekali tidak berani menatap wajah siapapun yang ada disana.


“ Paman...bukan dengan saya...hari ini Aria akan menikah dengan Reza.” Ucap David memberikan kejutan kepada Aria dan ayahnya. Saat itu juga Aria langsung mengangkat wajahnya dan melihat kesungguhan David dalam bicara dan melihat Reza masih tertunduk memegang tangan ayahnya.


“ Da...David...kenapa?.” Tanya Aria tidak percaya.


“ Kalian saling mencintai. Sudah saatnya kalian bersama. Walaupun bukan di hari ini...satu minggu lagi pun aku akan mundur agar kalian dapat bersama. Aku yakin...paman pun akan jauh lebih bahagia jika kamu dan Reza menikah.” Jawab David sambil tersenyum kepada Aria.


Aria kembali terdiam. Jantung nya masih berdetak dengan kencang.


“ Re...Reza, apa kamu mau menikah dengan...Aria?.” Tanya Ananta.


Reza menatap Aria dengan tajam. Aria pun membalas tatapan mata Reza.


“ Iya paman. Saya sangat mencintai Aria. Tentu saya mau menikah dengannya. Tapi...bagaimana dengan Aria?.” Tanya Reza masih dengan menatap mata Aria yang sudah menunduk lagi.


Aria tidak menjawab, dia malah kembali menangis.


“ Aria...aku ikhlas. Jangan berat kepadaku lagi. Kalian harus kembali bersama. Aku akan baik-baik saja.” Ucap David sambil menenangkan Aria.


“ Ayahmu...membutuhkan jawabanmu secepatnya.” Bisik David lagi di telinga Aria.


Aria mengangkat wajahnya.


” Iya...aku...aku bersedia.” Ucap Aria. Mereka pun langsung tersenyum puas.


David membawa Aria mendekat kepada Reza dan menyerahkannya kepada Reza.


Jendral Panji pun segera memulai ijab kabul. Dia bersedia menjadi penghulu dan David sebagai saksinya. Sedangkan Ananta langsung mendapatkan tenaga lebih untuk bangun dari tidurnya. Dengan bersenderan di kasur Ananta siap menjadi wali nikah untuk puteri satu-satunya itu.




Di luar kamar Laura menjerit sekencang-kencangnya. Menangisi pernikahan Aria dengan Reza dan menyesalkan keputusan pamannya yang bersedia menikahkan mereka.


“ Reza bukan jodohmu...paman yakin, kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik darinya. Seorang pria yang mencintaimu dan di cintai olehmu dengan sepenuh hati.” Ucap Jendral Panji sambil memeluk keponakan kesayangannya.


...🙏🏻TAMAT🙏🏻...

__ADS_1


__ADS_2