
Mata Aria sudah sangat sembab karena tangisan nya atas kepergian ayahnya untuk selamanya. Di sisi Aria, Reza terus menemani dan membelai dengan lembut punggung isterinya itu.
“ Jangan terus menangis seperti ini, ayahmu pasti sedih melihatmu seperti ini. Bukannya kamu sudah janji akan melepas kepergiannya dengan senyuman agar di tenang di alam sana. Ayahmu...ibu mu, juga kedua orang tuaku, mereka sudah bahagia disana sayang.” Ucap Reza kembali mengelap air mata Aria yang terjatuh di atas pipinya.
“ Tapi ayah belum menyaksikan kelahiran anak kita, bukannya dia sudah janji akan terus berusaha kuat untuk melihat cucu pertama nya ini. Hiksss.” Isak Aria dalam pelukan Reza.
“ Ayahmu sangat menderita selama ini karena sudah menahan semua rasa sakitnya. Kita sayang dengan beliau, tapi Tuhan jauh lebih sayang dengannya. Kita tidak boleh egois sayang, walaupun sudah tiada, aku yakin dia tetap bisa melihat anak kita dan selalu mendoakannya dari sana.” Ucap Reza lagi menenangkan isakan aria yang terdengar sangat pilu di telinganya.
“ Kamu harus kuat sayang, bukan hanya ayahmu yang akan sedih melihatmu seperti ini. Tapi juga anak kita, dia pasti ikut menangis di dalam sana.” Ucap Reza lagi membuat Aria menghentikan isakan tangis nya. Karena perutnya juga sedikit terasa kram.
“ Iya sayang, perutku juga...juga jadi sakit.” Ucap Aria.
“ Yasudah kamu istirahat dulu ya.” Pinta Reza sambil menuntun isterinya masuk kedalam kamar.
Reza meminta Aria tiduran di atas ranjang, kemudian mengecup keningnya.
“ Jangan menangis lagi ya sayang. Kasihan dedek bayi kita.” Ucap Reza sambil membelai lembut perut isterinya.
•
•
Aria menarik nafasnya dalam-dalam lagi, lalu mengeluarkannya secara perlahan dan mulai mengejan perutnya lagi untuk mengeluarkan bayi dalam kandungannya.
“ Oweeee oweeeee.” Terdengar suara tangisan bayi yang melengking di telinga Aria dan Reza yang juga menemani Aria didalam ruangan bersalin tersebut. Mereka pun tersenyum lega, seorang dokter kandungan yang membantu proses persalinan itu langsung megarahkan bayi yang masih merah itu kepada Reza untuk di azankan. Setelah selesai di azankan bayi tersebut di serahkan kepada suster yang membantu untuk di bersihkan.
Sementara dokter dan bidan yang membantu sedang merapikan jahitan Di bagian kewanitaan Aria, Reza terus menggenggam tangan Aria dan membelai nya dengan lembut. Berusaha memberikan dukungan untuk isteri tercinta yang baru saja mempertaruhkan hidup dan matinya untuk melahirkan putera untuknya.
“ Bayi kita sudah lahir, katakan padaku siapa nama nya?.” Tanya Aria pelan, Reza memang berjanji kepada Aria baru akan memberi tahu nama anak mereka ketika nanti di lahirkan.
__ADS_1
“ Namanya Rendra Berliando, Rendra aku ambil dari nama kita...Reza And Aria. Dan arti nama Rendra sendiri adalah cerdas dan beruntung, bagaimana sayang?.” Jawab dan tanya balik Reza kepada Aria.
“ Rendra....nama yang bagus, aku suka. Terima kasih ya sayang.” Ucap Aria.
“ Aku yang terima kasih kepadamu, terima kasih untuk semua cinta mu untukku, terima kasih sayang.” Ucap Reza kembali mengecup kening Aria dengan lembut.
•
•
Aria, Reza dan si kecil Rendra sedang berada di taman depan rumah mereka. Sambil menikmati udara di sore hari, mereka membiarkan Rendra merangkak diatas rumput.
“ Ayo Rendra sayang nya mama...kesini sayang, pelan-pelan ya.” Ucap Aria ketika si kecil Rendra anak pertama mereka sedang berusaha menapakkan kakinya perlahan ke arah Aria.
Reza menjaga Rendra dari belakang agar batita tersebut tidak terjatuh ke lantai.
“ Maaa maama mamaaa maaa.” Celoteh si kecil Rendra sambil melangkah ke arah Aria.
“ Abang Rendra?.” Tanya Reza.
“ Hahaha iya abang Rendra, aku sudah telat tiga minggu. Baru saja tadi pagi aku test pack dan hasil nya ini.” Jawab Aria sambil menunjukan hasil test pack yang dari tadi disembunyikannya di balik saku celananya kepada Reza.
“ Oh syukurlah...terima kasih sayang.” Ucap Reza sambil memeluk Aria dan Rendra yang masih dalam gendongan Aria secara bersamaan.
“ Wah...ramai sekali nih.” Ucap David yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
“ Haiii David, bagaimana kabarmu?.” Tanya Reza, dia pun langsung melepas pelukannya dengan Aria dan balik memeluk David.
“ Kabar baik brother.” Jawab David.
__ADS_1
Aria pun ikut memeluk David.
“ Hello my handsome nephew.” Sapa David sambil mengulurkan kedua tangannya ke arah Rendra yang masih dalan gendongan Aria.
Rendra pun meraih kedua tangan David.
“ Jadi mau sebar undangan nih?.” Tanya Reza sambil merangkul mesrah pinggang Aria.
“ Hahaha yes, akhir bulan ini kami akan menikah, aku harap kalian bisa hadir.” Jawab David.
“ Wooww, congratulation David.” Ucap Aria dengan riangnya.
“ Laura akan menjadi isteri baik untukmu.” Ucap Reza sambil menepuk punggung David berkali-kali.
“ Ya, dia terlalu baik untukku. Aku bersyukur sudah mendapatkan cinta nya. Akhirnya, semoga saja pernikahan kami berjalan lancar dan tidak ada yang merebut calon pengantinku lagi hahahaha.” Tawa David di ikuti oleh Reza dan Aria.
“ Hahaha waktu itu bukannya aku yang merebut calon pengantinmu. Tapi hatimu yang terlalu luas menyerahkannya kepadaku. Thanks David, semoga kali ini kamu dan Laura benar-benar bahagia.” Ucap Reza.
“ I Hope...thanks Reza and you...Aria, jika tidak kenal dengan kalian mana mungkin aku bisa mengenal Laura. Wanita cantik yang baik dan tangguh.” Ucap David lagi sambil tersenyum penuh kehangatan.
“ Yasudah, yuk masuk.” Ucap Aria mempersilahkan David masuk kedalam rumah.
Mereka pun masuk kedalam sana, sambil mengobrol dan tertawa ringan.
“ Btw...apa itu?.” Tanya David ke arah test pack yang ternyata masih di genggam erat oleh Reza.
“ Ini...kamu akan mendapatkan keponakan baru dari kami.” Tunjuk Reza dengan bangganya kepada David.
“ Wow, selamat yaa. Aku harus cepat mengejar ketertinggalan ini nih.” Ucap David.
__ADS_1
“ Ssst, kamu nikah dulu baru mikirin kejar tayang nya. Hahaha.” Ledek Aria dan mereka pun ikut tertawa lagi.
Terkadang cinta tidak berjalan mulus sesuai dengan yang kita inginkan. Kadang juga cinta mengajarkan kita arti ketulusan dari sebuah pengorbanan. Walaupun tidak selamanya cinta harus bersatu, namun selama masih ada kesempatan jangan sampai melepaskannya begitu saja tanpa perjuangan.