Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Malam Terakhir


__ADS_3

Usai kejadian di kamar mandi, Nisa berusaha menjauh dari Herman. Setelah melakukan tugasnya, Nisa akan mencari cara untuk menjauh dari Herman. Sekeras apapun Nisa menjauh, Herman selalu punya cara untuk membuat Nisa berada di dekatnya.


Sesuai janjinya pada Dennis, Nisa selalu mengantarkan susu cokelat hangat setiap pagi dan malam selama satu minggu. Seperti malam ini, sebelum tidur Nisa menyempatkan mengantarkan susu cokelat hangat ke kamar Dennis. Nisa pun mengetuk pintu kamar Dennis, tetapi tak ada jawaban. Perlahan ia membuka pintu kamar Dennis dan menemukan Dennis berdiri di dekat jendela kamarnya.


"Mas Dennis." Panggil Nisa seraya berjalan masuk ke kamar Dennis dan menutup pintu kamar Dennis.


Suara Nisa membuyarkan lamunan Dennis dan ia berjalan mendekati Nisa.


"Terima kasih ya." Ucap Dennis seraya mengambil segelas susu dari tangan Nisa.


"Ayok duduk sini dulu, Nis." Ajak Dennis dan menarik tangan Nisa untuk duduk di sofa kamarnya.


"Mas Dennis, kenapa? Habis diputusin sama pacarnya?" tanya Nisa khawatir begitu melihat ekspresi wajah Dennis yang muram.


"Jadian aja belum, gimana bisa diputusin hehe.. " Jawab Dennis diiringi tertawa saat mendengar pertanyaan Nisa.


Pria itu meneguk habis segelas susu cokelat dan meletakkan gelas di meja didekatnya. Kini Dennis menatap kearah Nisa dan memegang kedua tangan gadis itu hingga membuatnya terkejut.


"Kamu yakin besok mau jadi pendonor buat Mas Herman?" tanya Dennis.


"Aku yakin kok. Mas Dennis jangan khawatir. Kata Dokter Ridho kondisi aku sehat. Percaya deh sama aku." Jawab Nisa dan kini tangannya menepuk kedua tangan Dennis.


Sontak Dennis pun memeluk Nisa hingga membuat gadis itu melotot karena terkejut.


"Enggak sih Om, enggak adeknya selalu suka meluk tiba-tiba. Hadeh.. ada apa dengan cowok di rumah ini?" batin Nisa.


"Aku khawatir sama kamu." Ucap Dennis seraya mengelus rambut Nisa.


"Mas, aku enggak apa-apa kok. Bisa nggak tolong lepasin aku." Celetuk Nisa.


"Enggak. Tolong sebentar aja, Nis." Ucap Dennis.


"Mas Dennis tenang aja, aku aman kok. Sekarang tolong lepasin aku ya, nanti enggak enak kalo ketahuan Om Herman." Ucap Nisa sambil menepuk pelan punggung Dennis.


Dennis pun menurut dan melepaskan pelukannya. Saat menatap Dennis, Nisa melihat mata Dennis basah.


"Mas, nangis?" tanya Nisa kaget.


"Ahh.. enggak. Ini cuma kelilipan aja." Jawab Dennis seraya menghapus air matanya.


Nisa mengambil tisu di meja dan menyeka air mata Dennis.

__ADS_1


"Masak udah gede nangis sih, enggak malu sama aku?" goda Nisa seraya menyeka air mata Dennis.


Dennis pun tertawa dengan pipi bersemu merah.


"Kak Rima udah pulang?" tanya Dennis memulai pembicaraan.


"Sudah Mas, tadi Mbak Rima kayak buru-buru gitu." Jawab Nisa.


Dennis hanya manggut-manggut.


"Oh ya Mas, tolong jangan kasih tahu siapa-siapa ya soal pendonor itu. Aku juga sudah ambil cuti seminggu buat pemulihan." Ucap Nisa.


"Tapi aku boleh kan mengunjungi kamu?" tanya Dennis.


"Boleh, tapi jangan sampai ketahuan ya." Jawab Nisa.


"Hmm.. Yaudah Mas, kalo gitu aku pamit balik ke kamar ya karena mau beres-beres buat besok." Ucap Nisa.


Dennis pun hanya menggangguk. Pria itu tetap fokus memandang kepergian Nisa hingga hilang dari balik pintu. Sesampainya di kamar, Nisa terkejut seorang Pria tengah tertidur nyenyak di ranjang empuknya.


"Hmm.. si Om, kebiasaan suka pindah kamar." batin Nisa.


Sejak sikap Nisa yang mulai menjauh darinya, Herman selalu mencari cara untuk dekat dengan Nisa, salah satunya dengan berpindah tempat tidur. Nisa pun bergegas menuju kamar mandi sebelum bersiap tidur. Saat keluar dari kamar mandi, Nisa terkejut karena Herman sudah terduduk di ranjangnya.


"Darimana aja kamu? Kenapa baru kembali? Bukannya kamu keluar dari kamarku sudah 2 jam lebih?" tanya Herman bertubi-tubi.


"Aku masih ada pekerjaan, Om. Kan sekarang aku enggak cuma menyiapkan keperluan, Om." Jawab Nisa.


"Ayok Om, aku antar kembali ke kamar. Besok Om harus bangun pagi karena pelangi akan datang besok." Tambah Nisa.


"Enggak. Aku mau tidur disini." Celetuk Herman.


"Hmm.. yasudah kalo itu mau, Om." Balas Nisa seraya beranjak menuju lemarinya.


Nisa mengambil tas besarnya dan mulai mengemasi pakaiannya. Herman hanya menjadi penonton apa yang dilakukan Nisa.


"Kamu cuti selama satu minggu tapi seperti pergi dari rumah." Sindir Herman.


"Hehe.. Tidak apa Om, aku hanya mempersiapkan semuanya saja." Jawab Nisa.


"Maafkan Aku Om, karena tidak jujur kalo malam ini hari terakhirku bekerja disini." batin Nisa.

__ADS_1


2 HARI SEBELUMNYA


"Apa kamu sudah mempertimbangkan semuanya, Nisa?" tanya Yuyun.


"Iya Ibu, saya minta maaf sebelumnya tidak bisa melanjutkan bekerja disini. Terima kasih karena Ibu sudah memberikan kesempatan kepada saya. Terima kasih banyak Ibu, saya menganggap Ibu seperti Ibu saya sendiri." Jawab Nisa.


Yuyun pun memeluk Nisa, rasanya tidak rela melepas pegawai yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.


"Lalu kamu mau kemana setelah ini, Nis?" tanya Yuyun setelah melepas pelukannya.


"Hmm.. Maaf Ibu, saya belum kepikiran mau kemana." Jawab Nisa.


"Jangan lupa kalo kamu ke Jakarta lagi, kabarin Ibu ya. Kalo bisa mampir kesini aja enggak apa-apa." Ucap Yuyun.


Nisa hanya mengangguk. Dengan alasan kembali ke kota tempat tinggalnya di Surabaya, Nisa mengundurkan diri dari tempat kerjanya. Alasan sebenarnya, Nisa tidak mau menjadi orang ketiga dalam perjodohan Rima dan Herman.


KEMBALI DI KAMAR NISA.


"Kenapa melamun?" tanya Herman membuyarkan lamunan Nisa.


"Ahh.. enggak kok, Om. Oiya selama aku pergi Om harus akur sama Mbak Rima ya. Om harus mencoba buka hati buat Mbak Rima. Jangan kecewain Ibu Yuyun, Om. Aku juga udah kasih tahu ke Mbak Rima mulai dari jadwal minum obat Om, keseharian Om, kesukaan dan hal yang Om enggak suka, dan.. " Nisa tidak melanjutkan perkataannya.


"Dan apa?" tanya Herman.


"Aku ngajarin Mbak Rima cara nyiapin keperluan Om mandi." Ucap Nisa lirih dan mengedipkan salah satu matanya.


"Huh.. Dasar yaa.. Kamu cuma pergi selama seminggu aja kan? Tenang aku bisa melakukan sendiri tanpa bantuan Rima." Celetuk Herman seraya melipat kedua tangannya.


Setelah siap dengan 2 buah tas ranselnya, Nisa duduk di tepi ranjangnya dan memegang salah satu tangan Herman.


"Om, mulai sekarang Om harus buka hati buat Mbak Rima. Ibu Yuyun pasti pilih Mbak Rima karena Mbak Rima yang terbaik buat Om." Ucap Nisa.


"Kamu yang terbaik buat aku, Nis. Kamu udah ngisi kekosongan hidupku semenjak ditinggal Lala. Dan perlahan aku bisa melupakan Lala. Tolong cepat kembali." Jawab Herman seraya menggenggam tangan Nisa.


"Maaf Om, tapi aku minta tolong untuk Om lupain perasaan Om sama aku. Kita kembali ke awal Om, anggap saja kita enggak pernah ketemu." Ucap Nisa.


"Enggak Nis, aku cuma mau kamu. Kalo aku sudah sembuh, aku akan bilang sama Mama yang sebenarnya dan kita akan menikah." Ucap Herman penuh makna.


***


Terima kasih atas dukungannya ❤

__ADS_1


Jangan lupa klik favorit ya agar dapat notifikasi update episode terbaru 😊


Mohon bantuannya untuk klik Vote juga ya, mau isi kolom komentar juga boleh 😁


__ADS_2