
*AREA 21+*
WARNING!! BOCIL DILARANG BACA ❌
Khusus usia 21+, Terima kasih 🙏😊
"Sekarang aku yang akan menjaga, Nisa." Ucap Herman seraya melepas pelukannya.
"Maksud, Mas?" tanya Dennis cemas.
Di sisi lain hatinya takut dengan jawaban Herman selanjutnya.
"Sebenarnya aku berniat untuk melamar Nisa, aku sudah memikirkan ini matang-matang dan tekadku sudah bulat. Tetapi dengan kondisi Nisa seperti ini, rasanya aku harus menunggu terlebih dahulu." Jawab Herman.
Jawaban dari Herman membuat Dennis terdiam seketika. Hatinya seperti tersayat-sayat. Lagi, Herman juga menyukai seorang perempuan yang juga ia sukai. Dennis teringat saat masa kuliahnya dahulu, dimana ia akan menyatakan perasaannya kepada teman dekatnya ternyata perempuan itu sudah menjadi kekasih kakaknya. Sejak saat itu Dennis tidak ingin menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Tetapi kini saat ia mulai mengijinkan sosok Nisa untuk mengusik kehidupannya, lagi Herman juga menyukai gadis itu.
"Apa kalian sudah pernah melakukan hubungan itu?" tanya Herman membuyarkan lamunan Dennis.
"Herman! Jangan mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh." tegur Yuyun.
"Aku akan kembali ke kamar untuk mengecek keadaan, Nisa." Pamit Dennis dan berjalan dengan langkah lemah.
Yuyun dapat merasakan apa yang dirasakan putranya itu. Perempuan paruh baya itu cemas karena kini kedua putranya menyukai gadis yang sama. Tetapi di sisi lain, ia tidak tega jika melihat Dennis harus mengalah untuk kedua kalinya.
"Herman, sebaiknya kamu mencari perempuan lain. Mama takut kalo kamu memaksa untuk menikah dengan Nisa, itu akan berpengaruh pada kesehatannya." tanya Yuyun mencoba merayu Herman.
"Tidak, Ma. Mama kan tahu bagaimana perasaan aku saat ini sama Nisa. Aku akan sabar menunggu dia kembali menjadi dirinya yang dulu." Jawab Herman.
"Mama, tenang aja. Aku tidak akan memaksa Nisa. Tapi aku akan menjaga calon istriku." tambah Herman seraya menatap teduh kearah Yuyun.
Yuyun hanya menghela napas panjang dan beranjak meninggalkan Herman sendiri di ruang tamu.
**
Malam hari sebelum tidur, Nisa sengaja membuatkan susu cokelat hangat untuk Dennis. Dengan balutan dress tidur berwarna merah seukuran lutut dilapisi blazer longgar menampakkan leher jenjang Nisa. Tentu saja pakaian yang dikenakan Nisa menarik perhatian Herman saat melewati dapur. Ingin rasanya ia memeluk gadis yang kini berpura-pura jadi istri adiknya.
__ADS_1
Herman berjalan mendekati Nisa dan duduk di kursi dapur.
"Eh Mas, belum tidur?" tanya Nisa sedikit terkejut.
"Mendadak perutku lapar, jadi aku kesini." Jawab Herman.
"Mau aku masakin nasi goreng?" tanya Nisa.
"Boleh." Jawab Herman.
"Oke. Mas Herman tunggu saja di meja makan, nanti aku akan antarkan." Ucap Nisa.
Herman pun mengangguk. Setelah beberapa saat, Nisa pun berjalan menuju meja makan dengan membawa nampan berisi nasi goreng dan 2 gelas susu cokelat hangat. Tapi sayangnya gadis itu tidak menemukan Herman di meja makan.
"Apa Mas Herman ke kamarnya ya?" gumam Nisa.
Gadis itu pun memutuskan untuk membawa nampan itu ke kamar Herman. Sesampainya dikamar, ia tak menemukan Herman disana. Nisa pun berjalan masuk dan meletakkan nampan itu ke meja dekat ranjang Herman. Nisa terkejut saat Herman baru keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah dan hanya mengenakan celana pendek.
"Ma.. maafkan aku, Mas sudah lancang masuk ke kamar Mas Herman. Nasi gorengnya aku letakkan di meja ya, aku permisi dulu." Ucap Nisa tertunduk tetapi dengan cekatan Herman menarik salah satu tangan Nisa hingga membuat gadis itu terjatuh menabrak dada bidang Herman.
Kini pandangan Herman dan Nisa pun saling bertemu. Herman dapat merasakan detak jantung Nisa yang berpacu dengan tepat. Nisa seolah merasa dejavu, perasaan yang sepertinya pernah ia rasakan sebelumnya.
"Apa kamu masih ingat momen dimana aku mulai jatuh cinta padamu?" tanya Herman dengan salah satu tangannya memegang dagu Nisa dan perlahan jarinya mengelus bibir Nisa.
Nisa yang mulai ketakutan mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari pelukan Herman namun sayangnya tenaganya masih kalah kuat. Saat dirinya akan berteriak, seketika itu Herman membungkam bibir Nisa dengan bibirnya. Nisa kian ketakutan dengan apa yang dilakukan Herman. Pria itu tidak memberikan cela sedikit pun untuk Nisa bisa lepas. Herman mulai menuntun langkah Nisa tanpa melepas ciumannya hingga gadis itu berjalan mundur dan jatuh ke ranjang empuk Herman.
"Ja.. jangan.. tolong jangan." Racau Nisa ketakutan.
"Sayang.. Yang.. Sayang bangun." Ucap Dennis seraya menepuk pelan pipi Nisa.
"Jangann.. tolong.." Nisa masih mengigau dalam mimpinya.
Dennis pun kembali berusaha menyadarkan Nisa. Tak lama Nisa terbangun dengan napas terengah-engah. Tetapi ia lebih terkejut saat tubuhnya hanya berselimut bedcover warna putih tanpa sehelai benang. Nisa juga menoleh kearah Dennis yang bertelanjang dada dan tengah bersandar di sandaran ranjang.
Tampak noda bercak darah ada di beberapa bagian selimut. Namun noda itu mulai mengering.
__ADS_1
"A.. apa kita semalam.. " tanya Nisa tak melanjutkan perkataannya.
Dennis pun mengangguk dengan senyum.
"Terima kasih untuk malam pertama kita." Ucap Dennis dan mencium kening Nisa.
Entah hantu darimana semalam Dennis menuruti egonya. Mungkin kalo Nisa sudah pernah tidur dengannya, maka Kakaknya akan meninggalkan Nisa dan ia bisa menikah dengan Nisa, begitu pikir Dennis. Nisa masih kepikiran dengan mimpinya semalam. Padahal semalam ia tengah menikmati malam pertama bersama Dennis, tetapi kenapa ia bermimpi menikmatinya bersama Herman. Semua ini membuat Nisa bingung dan pikirannya kacau. Sebenarnya apa hubungan ia dengan Herman sebelumnya, pikir Nisa bingung.
"Maafkan Aku. Aku akan bertanggung jawab apapun yang terjadi." Ucap Dennis seraya merangkul Nisa.
"Kenapa meminta maaf? Sudah menjadi kewajibanku untuk melayani suamiku dan kelak menjadi Ibu dari anak-anak kita." Sahut Nisa.
"Aku akan segera mengurus pernikahan kita." Batin Dennis.
Tak lama Nisa melepas rangkulan Dennis, mencoba meraih bajunya yang berserakan dan berlari kecil ke kamar mandi setelahnya Dennis bergantian mandi dengan Nisa. Seusai mandi, Dennis membantu Nisa mengeringkan rambutnya. Dan setelahnya Nisa membantu Dennis mengenakan baju Dinasnya. Dennis harus kembali bekerja sore ini, jadi pagi ini ia harus segera berangkat.
Setelah semua perlengkapan siap, Dennis berpamitan kepada Nisa dan keluarganya. Ia terpaksa harus melewatkan sarapan karena waktunya dihabiskan bersama Nisa pagi ini.
Setelah mengantar Dennis sampai depan gerbang rumah, Nisa, Yuyun dan Herman beranjak menuju meja makan. Acara sarapan kali ini terasa canggung bagi Nisa karena tanpa kehadiran suaminya.
"Makan yang banyak, sayang." Ucap Yuyun seraya mengambilkan lagi sepotong ayam kecap dan meletakkan di piring Nisa.
"Ma.. makasih, Ma." Ucap Nisa.
"Jangan sungkan-sungkan ya. Anggap saja ini rumah kamu juga." Ucap Yuyun dan menyuapkan satu sendok kedalam mulutnya.
Herman tak dapat menikmati sarapan pagi ini dengan tenang lantaran penampilan Nisa pagi ini mengusik perhatiannya. Sejak daritadi Herman memandangi Nisa dan hatinya cemas melihat rambut Nisa yang setengah basah.
"Apa mereka berdua semalam.." batin Herman.
Herman sibuk dengan pikirannya sendiri, begitupun dengan Nisa yang cemas memikirkan suaminya yang saat ini dalam perjalanan.
***
Semoga enggak bosen ya sama jalan ceritanya 😊
__ADS_1
Author Terima kasih sekali sudah menyempatkan mampir untuk membaca cerita ini, jangan lupa like, share dan favoritkan cerita ini ya agar tidak ketinggalan episode terbaru
Mau komen juga boleh, Terima kasih 🙏😊