Jatuh Cinta Pada Om Majikan

Jatuh Cinta Pada Om Majikan
Mencari Jawaban #2


__ADS_3

"Bisakah Mas jelaskan siapa aku sebenarnya? Jadi aku ini istrinya Mas Herman atau Mas Dennis?" tanya Nisa berharap Herman berkata sejujurnya.


Herman terdiam sejenak, tetapi pikirannya dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tak asing.


"Rima!" Celetuk Herman.


"Halo, Herman." Sapa Rima dan berjalan mendekat ke meja Herman.


Kini Rima dan Herman duduk saling berhadapan. Herman melirik Nisa dan terlihat gadis itu masih menatap Rima.


"Ada apa kamu kesini?" tanya Herman dingin.


"Aku mau ajak calon suami aku makan siang." Jawab Rima.


"Hmm.. Kalo gitu Nisa pamit dulu ya." Ucap Nisa dan bangkit dari duduknya.


Rima yang sedari tadi tak melihat Nisa pun terkejut dan bertanya,


"Sejak kapan kamu disini?"


"U.. udah dari sebelum Mbak masuk kesini." Jawab Nisa dan beranjak pergi keluar dari ruangan Herman.


"Dia masih hidup? Kok bisa balik kesini lagi sih." Celetuk Rima.


"Jaga ya omongan kamu. Pernikahan kita batal dan jangan anggap aku calon suami kamu lagi." Ucap Herman dengan nada tinggi.


"Mana bisa gitu dong. Kamu enggak bisa mutusin sepihak gini. Aku bakal aduin ini ke Papa." Sahut Rima.


"Oh silahkan. Aku enggak takut dengan ancaman kamu." Ucap Herman.


"Silahkan, pintu keluarnya di sebelah sana." Tambah Herman seraya menunjuk kearah pintu.

__ADS_1


"Awas kamu Nisa, aku akan balas semua ini." batin Rima geram.


Rima menatap Herman tajam lalu beranjak pergi keluar dari ruangan Herman.


Sementara Herman memijit perlahan keningnya yang mulai berdenyut. Papa Rima memang salah satu investor di Perusahaan Herman, tetapi hanya 10%. Jadi Herman tak terlalu khawatir akan hal itu. Yang membuat kepalanya berdenyut yaitu karena kedatangan Nisa mendadak siang ini.


**


Hari demi hari berlalu, hingga kabar bahagia datang. Malam ini Dennis baru keluar dari pintu bandara, bergegas ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Halo, Sayang." Sapa Dennis pada Nisa diseberang sana.


"Kamu bisa datang ke apartemen kita? Aku sudah minta tolong Pak Budi untuk jemput kamu. Tolong kamu siap-siap sekarang ya." Ucap Dennis.


"Oiya, aku juga menitipkan kejutan buat kamu. Tolong kamu pakai juga ya. See you, Sayang." Tambah Dennis dan mengakhiri panggilannya.


Dengan perasaan berbunga-bunga Dennis memasuki Taxi menuju Apartemennya.


Sementara itu, tak lama Dina mengetuk pintu kamar Nisa dan menyerahkan paperbag berwarna putih. Didalam kamar, Nisa takjub pada sebuah dress seukuran lutut dengan lengan pendek berhias manik berkilau. Mengingat ucapan Dennis di telepon tadi, Nisa pun bergegas bersiap untuk menuruti perkataan Dennis.


"Permisi, Ma." Sapa Nisa mengalihkan pandangan Yuyun dan Herman.


"Wahh.. kamu cantik sekali. Mau kemana sih?" tanya Yuyun.


"Hmm.. Mas Dennis minta aku untuk datang ke apartemen, Ma." Jawab Nisa gugup.


Herman masih menatap Nisa tak berkedip.


"Biar aku antar." Sahut Herman dan bangkit dari duduknya.


"Ahh tidak perlu, Mas. Mas Dennis sudah mengirimkan Bapak Budi untuk jemput aku jadi.. "

__ADS_1


Belum selesai Nisa berbicara, Herman memegang tangan Nisa.


"Ma, aku antar Nisa dulu ya." Ucap Herman dan menarik tangan Nisa hingga membuat gadis itu tidak sempat mencium tangan Yuyun.


Di dalam Mobil, Herman duduk di kursi belakang bersama Nisa. Pria itu menatap keluar jendela dengan melipat salah satu kakinya keatas dan melipat kedua tangannya. Nisa yang melihat posisi Herman seperti itu hanya bisa terdiam dan menjaga jarak dengan Pria itu.


"Nanti kamu bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaan kamu selama ini." Ucap Herman mencoba memecah keheningan.


Nisa hanya mengangguk mendengar ucapan Herman. Suasana kembali hening hingga mobil berhenti di parkiran apartemen.


"Nis, apapun kenyataannya kamu harus siap terima resikonya. Tapi kalo kamu enggak siap, jangan tanyain sekarang." Ucap Herman sebelum keluar dari mobil.


Nisa pun mengangguk dan menatap kearah Herman. Kini mereka berdua turun dari mobil dan berjalan bersamaan menuju lift. Pintu lift mulai terbuka, Nisa dan Herman melangkah masuk ke dalam lift namun tak lama beberapa orang ikut masuk ke dalam lift hingga ruangan lift penuh sesak. Herman membalikkan badannya kearah Nisa untuk mencegah orang-orang mendesak Nisa lebih terpojok.


Nisa yang melihat perlakuan Herman sontak menatap pria di depannya dengan tatapan kagum. Namun sayangnya, tubuh Herman ikut terdorong hingga kini kepala Nisa menempel di dada bidangnya. Nisa dapat mendengar degup jantung Herman dengan jelas.


"Perasaan apa ini? Kenapa sepertinya tidak asing." batin Nisa.


Perlahan kilas memori terputar diotaknya, memori saat seorang pria memeluknya erat di sebuah kamar. Sayangnya wajah pria itu tak terlihat jelas.


"Ting!" Pintu Lift terbuka dan semua orang di dalam lift keluar kecuali Nisa dan Herman yang masih harus menunggu untuk naik ke 2 lantai lagi.


Herman menjauhkan dirinya dari tubuh Nisa dan suasana menjadi canggung. Tak lama akhirnya mereka sampai juga di lantai apartemen Dennis. Sepanjang perjalanan menuju kamar apartemen, Nisa menjadi semakin gugup dan takut akan kenyataan yang terjadi. Seketika ia mengingat perkataan Herman di mobil.


"Nis, apapun kenyataannya kamu harus siap terima resikonya. Tapi kalo kamu enggak siap, jangan tanyain sekarang."'


Sesampainya di depan pintu kamar, Herman memencet bel beberapa kali dan Dennis keluar wajah sumringah berbalut setelan kemeja beserta rompi berwarna hitam. Namun senyum diwajahnya perlahan memudar saat melihat Herman ada di samping Nisa.


**


Kira-kira Nisa mau Nikah sama siapa nih?

__ADS_1


Jawab di kolom komentar yaa 🤭



__ADS_2